System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 104 - Kekalahan Laserd Cabang Pertama


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Gambaran pertempuran itu membuat semua orang ngeri dan takut. Mereka baru pertama kali ini melihat pertarungan yang menghancurkan bumi dan langit.


Satu persatu polisi segera bertindak dengan tegas. Mereka menguatkan keseluruhan pelindung. Jelas keretakan yang dialami sebelumnya benar-benar besar dan hampir membuat pecah.


“Kuatkan pelindung kembali, jangan sampai kita kalah dengan gelombang kejut pertempuran mereka!”


“Siap, Pak!”


Bertha dan para polisi menggertakkan giginya. Mereka fokus memperbaiki pelindung yang telah mengalami kerusakan parah. Bagi para polisi, warga adalah terpenting untuk sekarang.


Di sisi lain, pertempuran Minato dan San terus berlanjut. Namun semakin dilihat semakin jelas, siapa yang tengah terpojok dan tidak.


San yang melihat dirinya telah terpojokkan, seketika menyusutkan matanya dan meraung dengan marah. Jelas lawan hanyalah anak buah organisasi kelas rendah, mengapa masih bertahan.


“Bajingan!” San menatap tajam ke arah Minato, kemudian dia mengepakkan sayapnya berkali-kali. Hal ini membuat berbagai bulu api melesat dengan cepat.


Minato yang melihat hal itu sama sekali tidak takut. Dia berdiri tenang sambil menunggu datangnya bulu api tersebut. Dalam persepsi dirinya, bulu api itu bergerak sangatlah lambat.


“Sepertinya kita tidak bisa bertarung berlama-lama! Jadi, matilah!”


Minato segera mengayunkan tangan kanan ke depan, lalu sejumlah air padat yang keras mulai muncul di udara. Air padat perlahan-lahan mulai membentuk sebuah tombak yang panjang.


San yang melihat hal itu, mengerutkan keningnya. Namun dia tidak terlalu peduli dan menambah bulu api serta kecepatan laju bulu tersebut.


Minato dan San saling mengerahkan kekuatan mereka masing-masing. Tepat saat serangan saling berbenturan, San terkejut ketika melihat bulu api terserap dan hanyut dalam tombak air milik Minato.


Bulu api yang terbakar kini padam dan menyisakan bulu hitam yang rapuh. San tidak bisa berkata-kata kembali. Namun, ia segera sadar ketika melihat lusinan tombak air melesat ke arahnya.


“Sial! Terpaksa aku harus menggunakan serangan itu!”


San menghirup nafas dalam-dalam. Kepakkan sayap kini mulai menutup, api yang menyala di bulu juga mulai padam. Kemudian, terlihat San menutup matanya.


Minato yang melihat itu sama sekali tidak peduli. Hal ini karena ia sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh San tersebut. Meski kekuatan lawan melonjak, tetapi masih di bawah dirinya.


San tidak memikirkan apapun, lalu dalam sekejap seluruh tubuhnya terbakar oleh api. Kicauan burung gagak terus terdengar dari dalam dirinya. Sorot mata San berubah menjadi tajam dan merah darah.


Minato yang menjadi fokus dari sorot mata tersebut, tidak bisa tidak mengerutkan keningnya. Berbagai pikiran mulai memasuki seluruh otaknya. “Apakah orang ini ingin melakukan bunuh diri?”


Minato tidak bisa untuk tetap diam dan mempertahankan serangan. Dia melihat seluruh tombaknya akan mencapai lokasi San berdiri. Minato dengan cepat menyatukan dua telapak tangannya dan berkata lantang.


“Bergabung!”


Seluruh tombak air padat mulai hancur membentuk genangan air. Selanjutnya, air tersebut menyatu menjadi satu dan berubah menjadi perisai yang begitu kokoh.


San melihat itu hanya mendengus ringan dan selanjutnya dia mulai membuka sayapnya lebar-lebar. Kobaran api kegelapan mulai terlihat begitu mengerikan.


“Dengan nyawaku, aku akan membawamu pergi dari Dunia ini!”

__ADS_1


Pernyataan San membuat seluruh orang merasakan kejutan. Jelas-jelas ia mengumumkan jejak kematiannya segera.


Hal ini membuat Minato merasakan gelombang di hati ketika mendengar pernyataan tersebut. ‘Orang ini sepertinya apa yang ingin dirinya lakukan?’


Minato jelas bingung, tetapi ia sudah menyiapkan rencana cadangan untuk melawan rencana yang akan dilakukan oleh San tersebut.


Sayap terus bergerak, kemudian San melihat tombak sudah dekat dengan dirinya. Sorot mata lelaki setengah burung gagak tersebut berubah menjadi serius dan meluncur ke arah tombak berada.


Kecepatan melesat San benar-benar cepat layaknya roket. Siluet garis merah terbentuk di udara, lalu tombak dan San berbenturan satu sama lain.


San melaju dan menguapkan permukaan tombak air tersebut. Jelas ia tidak terganggu, melainkan kobaran api di tubuhnya semakin menyusut.


Minato yang mengamati serangan San, seketika menyadari apa yang ingin dilakukan oleh lelaki tersebut. Dia segera serius dan air yang berada di tanah naik menuju ke langit.


“Semuanya, gunakan elemen air kalian!”


Pasukan yang di bawa oleh Minato segera bertindak ketika mendengar perintah dari tuannya tersebut. Mereka segera mengayunkan tangannya dan sejumlah air muncul dari udara kosong.


Serbuan air yang naik ke atas langit benar-benar membuat para penonton terpana. Mereka jelas terkejut dengan pemandangan itu. Namun, bagi para polisi. Mereka jelas tertekan dengan keadaan tersebut.


Yan yang terengah-engah ketika melawan Yamato, tidak bisa untuk tidak beralih ke rekannya. Apa yang ia lihat kali ini benar-benar membuat matanya melebar.


Yamato menatap Yan dengan ekspresi tidak senang. Jelas lawannya ada di depan mata, melainkan lawan fokus ke arah lain.


Yamato sendiri tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi kepada Minato. Dia sudah menaruh kepercayaan kepada rekannya tersebut, sehingga tidak akan ada kecelakaan lagi.


“Beraninya kau mengabaikanku!” Yamato meraung marah dan berbagai kayu tumbuh dari dasar tanah melonjak ke arah permukaan. Jelas kekuatan kayu tersebut sangatlah kuat, sehingga dalam sekejap lingkungan berubah menjadi area hutan.


‘Apa yang sebenarnya terjadi? Sial, Aku lengah!’


Yan tidak bisa untuk tidak panik, ia segera menghirup nafas dalam-dalam. Namun, saat serangan akan disiapkan. Berbagai cabang lancip melesat cepat ke arahnya.


Cabang lancip menembus seluruh tubuh Yan. Hal ini membuat lelaki tersebut melebarkan matanya dan memuntahkan seteguk darah, sebelum tak sadarkan diri di tempat.


Yamato melihat hal itu mendengus ringan. Dia mengayunkan kembali tangannya dan menusuk kembali Yan dengan berbagai cabang yang lain.


Kali ini Yan sudah kembali ke dalam bentuk manusianya. Seluruh tubuhnya tertembus oleh cabang-cabang yang dikendalikan oleh Yamato. Darah segar menetes keluar dan jatuh ke tanah.


Di sisi lain, San yang melihat berbagai air melonjak naik ke langit, tidak bisa untuk tidak terkejut. Jelas dengan penambahan air tersebut, ia tidak mungkin akan selamat.


Ombak besar terus naik dan perlahan-lahan menyatu ke arah ujung tombak yang akan ditembus oleh San. Air memenuhi langit membentuk kubah yang begitu besar.


Di tengah kubah tersebut terlihat San yang masih melesat tak tentu arah dan api yang berkobar sudah menyusut kecil.


Minato yang melihat hal itu, menyeringai dan menggerakkan kedua tangannya untuk mengendalikan air menangkap San.


Merasakan bahaya mendekat, San tidak memiliki waktu untuk menghindar. Namun meski dia dapat menghindar, tetapi seluruh pelarian sudah ditutup oleh air, sehingga jalan melarikan diri sama sekali tidak ada.


Boom!

__ADS_1


Ledakan di dalam kubah sangatlah keras. San meledakkan dirinya dengan cepat, tetapi ledakan tersebut hanyalah bentuk keputusasaan dari San sendiri.


Minato menatap ke arah langit. Dia melihat bahwa ledakan sudah menghilang, kemudian mengangguk penuh arti.


Kali ini San dan Yan telah terbunuh oleh Minato dan Yamato. Sekarang mereka hanya tinggal menunggu kedatangan tuan yang tengah berada di dalam hutan.


***


Di dalam tubuh Han, Ryuto memandang ke arah gorilla yang tengah terkunci rapat oleh rantai yang memiliki simbol mata di tengah.


“Seperti dugaanku, kamu adalah orang yang mengendalikan tubuh orang ini.”


Gorilla memandang ke arah Ryuto dengan ringan, kemudian matanya menyipit dan jejak penindasan keluar dari tubuhnya.


“Hump, manusia seperti kalian layak untuk dikendalikan oleh kami!”


Ryuto mendengar itu, seketika tersenyum. Kemudian, ia duduk di genangan air yang padat tersebut sambil memandang ke arah gorilla di depan.


“Sebelumnya aku curiga dengan kebangkitan Mata Mistis. Apakah kamu dapat menceritakan apa itu Mata Mistis sebenarnya?”


Gorilla melebarkan matanya ketika mendengar pertanyaan tersebut. Sebelum-sebelumnya tidak ada yang pernah bertanya terkait asal usul dari Mata Mistis.


Tatapan gorilla menjadi serius ketika memandang ke arah Ryuto. Manusia laki-laki di depannya bukanlah sosok yang sama. Kemungkinan besar, hanya ada satu dari sekian banyaknya orang yang ingin mencari tahu akan sejarah kelam.


“Manusia, aku tidak tahu apa tujuanmu. Namun, bukan hal baik untuk mengetahui rahasia terkait Mata Mistis.”


“Mengapa hal itu bukan hal baik? Apakah ada sesuatu yang akan mengancam nyawaku?”


Gorilla itu memandang ke arah Ryuto penuh akan kerumitan. Dia sebenarnya ingin membuat manusia di depannya berhenti menyelidiki hal lama. Namun, melihat keteguhan dan ketegasan manusia tersebut, membuat gorilla tidak bisa untuk tidak tertarik.


“Lalu, selepas kamu mengetahui asal usul dari pembentukkan mata mistis. Apa yang akan kamu lakukan nantinya?”


Pertanyaan gorilla tidaklah berdasar. Dia tidak bisa menceritakan begitu saja sejarah lama, tetapi seketika pikiran gorilla menjadi jernih dan memandang waspada ke arah Ryuto.


“Manusia, bagaimana kau mengetahui bahwa aku masih mengingat sejarah lama?”


Ryuto yang mendengar pertanyaan bertubi-tubi, seketika mengerutkan keningnya. Dia memandang ke arah Gorilla dengan tatapan seolah-olah telah melihat orang bodoh di depannya.


“Bukankah sudah jelas. Han, ialah nama sebuah Kekaisaran zaman dahulu, lebih tepatnya di dunia atas. Kekaisaran ini sangatlah kecil, tetapi cukup untuk menampung lima puluh milyar makhluk.”


“Adapun dari mana aku mengetahui hal itu, kamu tidak perlu tahu. Cukup beritahu saja terkait pembentukan Mata Mistis tersebut.”


Mata gorilla memadat ketika mendengar Dunia Atas. Jelas hal itu tidak semua orang mengetahuinya kecuali sosok yang berasal dari atas.


‘Manusia ini … jangan bilang dia salah satu Dewa.’ Gorilla segera sadar selepas berpikir seperti itu, ia menggelengkan kepalanya dan mulai memikirkannya kembali. ‘Tidak mungkin, semenjak pembentukan Mata Mistis tidak pernah ada Dewa yang mati, kecuali …!’


“Apa yang membuatmu berpikir lama?”


To be Continued.

__ADS_1



__ADS_2