System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 150 - Perangkap Bagi Berta


__ADS_3

‘Sepertinya, aku tidak bisa merahasiakan identitas terlalu lama.' Berta berkata di dalam hatinya. Ia jelas mengetahui ke mana dirinya akan dibawa.


Berta tidak memberontak, ia lebih tepatnya menunggu di mana dirinya akan diturunkan nanti.


Tak butuh waktu lama, taksi yang ditumpangi oleh Berta tiba di tempat tujuan.


Sebuah bangunan tua yang sudah tidak terpakai. Bangunan tersebut berlantai empat, tanpa ada dinding yang menutupi isi dari bangunan itu.


Taksi berhenti di dekat bangunan tua tersebut. Sopir sendiri berubah dari ramah menjadi dingin. "Turun, kita sudah sampai di tempat tujuan!"


Mendengar suara itu, Berta membuka matanya sedikit. Kilasan jejak niat membunuh terlintas di matanya itu.


Dia mendongakkan kepalanya, menatap ke arah sopir yang tengah memandang ke arahnya itu.


Selanjutnya, Sopir terkejut karena seluruh mata Berta berubah hitam dengan iris emas. Hal ini membuatnya merinding karena tidak pernah melihat mata seperti itu.


Berta yang melihat sopir tertegun, dengan cepat mengayunkan tangan kirinya ke depan. Kuku panjang melesat menembus tenggorokan sopir tersebut.


"Urk!" Sopir taksi tidak bisa berkata-kata kembali. Matanya perlahan mulai memutih dan akhirnya mati di tempat.


Berta yang sudah membunuh sopir tersebut, mulai menarik tangannya. Darah dalam sekejap keluar begitu deras sehingga membuat isi taksi menjadi merah.


Berta sendiri tidak terkena darah itu karena dia sudah keluar dari dalam taksi. Penampilan dirinya kali ini berbeda dari sebelumnya.


"Aku tidak menyangka harus menggunakan kemampuan ini. Sayang sekali, tidak ada pilihan lain." Berta menggelengkan kepalanya, kemudian dia melangkah masuk ke dalam bangunan tua tersebut.


Memasuki bangunan tua itu, Berta melihat ke sekeliling tempat. Dia sama sekali tidak menemukan adanya hal aneh lainnya. Meski area tersebut gelap, ia masih dapat melihatnya.


Berta mendongak, dia berkata dengan nada rendah. "Sepertinya, mereka berada di lantai dua sampai empat!"


Sudut mulutnya naik sedikit, kemudian dia melangkah menuju tangga penghubung lantai satu dan dua. Gerakan Berta sendiri sangat santai, bahkan tidak ada suara ketukan yang keluar.


Lantai 2.


Tempat ini sama dengan bagian bawah. Namun, perbedaannya ialah terdapat beberapa kotak kayu persegi yang tersusun rapi di setiap penyangga bangunan.

__ADS_1


Di atas kotak kayu, duduk masing-masing orang beranggotakan tiga. Mereka memiliki tato dan pakaiannya lusuh dengan jaket berbulu tebal.


"Apakah sopir taksi itu dapat diandalkan?"


"Ya, menurutku dia seharusnya sudah tiba. Kemungkinan besar, mereka sudah memasuki lantai pertama."


Dua orang yang duduk di atas kotak kayu. Saling berbicara bersama. Mereka tidak sabar ingin melihat wajah dari orang yang memiliki kekayaan sehabis malam pelelangan.


Satu sosok laki-laki berjalan menuju ke lantai tiga. Masing-masing lantai sendiri terdapat aturan. Hanya yang terkuat saja yang berdiri di atas yaitu lantai empat.


Namun, sebelum lak-laki yang sebelumnya berjalan ke lantai tiga. Berbagai teriakan terdengar keras di telinga lelaki tersebut.


"Apa yang terjadi!" Salah satu orang yang berada di lantai dua, berteriak keras. Ia memandang ke sekelilingnya. Namun, tidak menemukan sosok orang asing di tempat.


"Lapor, kami butuh bantuan. Lawan sangatlah kuat, bahkan mereka..,."


Belum sempat prajurit di seberang panggilan menyelesaikan kalimatnya. Lelaki yang mendapatkan panggilan itu, segera berubah menjadi suram.


"Amankan lantai dua, patroli dengan cara berkelompok!" Perintah lelaki tersebut, membuat seluruh tim yang berada di lantai dua mulai bergerak.


Berta sudah tiba lantai dua. Lelaki itu sama sekali tidak memperhatikan bentuk maupun keindahan dari bangunan. Hal ini karena baginya, semua bangunan ialah sama.


Pandangan Berta tertuju ke arah beberapa sudut ruangan. Ia melihat banyaknya laki-laki yang tengah berkumpul. Dirinya tahu, bahwa mereka semua ialah pembunuh bayaran.


"Aku tidak menyangka akan sebanyak ini. Kukira lantai tiga dan empat saja yang terdapat banyak prajurit yang tengah melakukan patroli."


Berta segera menghilang dari tempatnya berada. Ia muncul tepat di belakang empat orang yang tengah menatap ke arah pemimpinnya itu.


Tidak ada yang memperhatikan mereka, sehingga Berta memgeluarkan kilatan niat membunuh dari matanya tersebut.


Lelaki itu mengayunkan tangannya, kemudian darah bertebaran diikuti dengan kepala empat orang yang memiliki ekspresi terkejut.


Berta melihat keempat jasad tersebut, ia menyadari bahwa suara robekan daging sebelumnya, benar-benar keras. Hal ini membuatnya segera menghilang lagi.


Para kelompok yang berada di sebelah empat orang itu, menyadari akan suara tersebut. Namun, saat mereka berbalik ingin melihat. Pandangan satu persatu berputar, kemudian jatuh ke lantai.

__ADS_1


Ada berbagai kelompok memandang ke arah tempat tersebut. Ekspresi mereka satu persatu membeku penuh akan kejutan. Mereka tidak tahu siapa pembunuhnya karena pembunuh tersebut layaknya bayangan.


Berta yang merasa bahwa dirinya sudah ketahuan. Segera berubah menjadi bayangan dan mulai membantai kelompok yang tersisa.


Sementara itu, seluruh kejadian di lantai dua sudah didengar oleh para kelompok lantai ketiga dan keempat. Semua orang yang berada di lantai atas itu, mulai berkumpul menjadi satu.


Ada sekitar 25 orang beserta dengan pemimpin kelompok tersebut. Mereka tetap berada di lantai tiga. Menanti kedatangan pembunuh kelompok mereka itu.


Berta yang tengah menari di lantai dua, merasakan kedatangan seseorang dari belakangnya. Hal ini membuat dirinya menghindar ke samping dengan melakukan backflip empat kali.


"Lawanmu adalah aku!" Sosok yang menghentikan Berta tersebut, menatap dengan penuh amarah.


Dia memiliki pakaian layaknya preman, memakai topi bulat, serta fitur tubuhnya kekar dan penuh akan otot.


Ada luka lurus menembus alis dan matanya satu putih buta. Ia menggunakan knuckle emas di tangannya itu.


Berta yang melihat sosok tersebut, tersenyum ringan. Kemudian, nafas membunuhnya mulai keluar dan menerpa ke arah pria di depannya itu.


"Apakah kamu kuat menahan serangan yang akan kulancarkan?" Berta memiringkan kepalanya, jelas ia meremehkan orang di depan itu karena dirinya sudah tahu berada di mana tingkatan orang tersebut.


Mendengar ucapan dari Berta, pria itu tidak marah maupun tersinggung. "Bukankah lebih baik kamu melihatnya secara langsung."


Sudut mulut Berta naik ke atas. Apa yang dikatakan oleh pria di depannya itu benar. Kemudian, tangan kanan Berta naik. Kukunya menjadi panjang dan tatapannya menjadi serius.


Pria yang berada di depan Berta tentu tidak tinggal diam. Ia mengangkat kedua tangannya. Seluruh tubuh mulai mengeluarkan uap panas.


Tubuh pria tersebut memerah, alisnya menajam dan luka di bagian mata mulai menunjukkan pola aneh.


Melihat perubahan lawan, Berta sama sekali tidak terkejut. Ia mulai melangkahkan satu kaki di depan, akan tetapi selanjutnya berubah menjadi bayangan.


Berta dalam sekejap muncul di depan pria tersebut. Ia mengayunkan tangan ke depan, kilatan cahaya ungu melintas menuju ke arah kepala lawan.


Pria yang menjadi lawan Berta, menyadari serangan tersebut. Ia segera mengayunkan kepalan tangan ke arah tangan Berta.


Dua serangan saling bertemu dan berbenturan dengan kuat.

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2