
Silakan Dibaca.
Peperangan besar tersebut akhirnya sudah berlalu. Ryuto dan para istrinya kembali menuju ke kediaman mereka yang baru. Sementara para pasukan sendiri membersihkan pertempuran dan memperbaiki kota kembali.
Zero sendiri diberikan tugas untuk menjadi seseorang yang berkuasa di Kota Sinha tersebut. Ia juga diberikan tugas untuk merawat perusahaan yang baru saja dibeli.
Zero awal mendengar tentang perusahaan, ia terkejut. Namun, keterkejutan itu hanyalah awal karena perusahaan yang harus dirinya jalani adalah perusahaan yang cukup terkenal akhir-akhir. Bahkan untuk mendapatkan perusahan tersebut sangatlah sulit.
Semakin Zero mengikuti Ryuto, ia semakin memahami bahwa tuannya sendiri sangatlah misterius. Mulai dari pasukan ribuan yang semuanya memiliki mata mistis elemen dan sekarang perusahaan ternama dapat ia beli.
Sementara itu, di sisi lain. Ryuto sudah tiba di kediamannya tepat malam hari. Ia berjalan tenang memasuki area kediaman, lalu sejumlah pasukan yang berjaga mulai bermunculan satu persatu.
“Salam, Tuan!” Para pasukan menunduk, di mana depan sendiri ialah seseorang yang merupakan pemimpin pasukan.
“Berdirilah, kerja bagus. Juga, kalian dapat kembali ke Markas atau pergi ke Kota Sinoh maupun Kota Febra. Bantu beberapa rekan lain menempati wilayah tersebut.”
“Laksanakan!” Seluruh pasukan segera menghilang dari tempat. Mereka masing-masing melesat pergi menuju ke kota yang diperintahkan oleh tuannya tadi.
Ryuto sendiri memandang ke arah para istri-istrinya. Tentu para perempuan menyadari hal itu dan tahu maksud dari tatapan suaminya itu.
“Dasar licik, seperti biasanya. Namun, bagaimana kamu akan mengelabui anak-anak?”
Ryuto mendengar anak-anak seketika mengingat Ash dan anak kecil lainnya. Ia sebelumnya melupakan hal itu karena dipikirannya sekarang ingin bermain dengan seluruh istrinya kembali.
“Apa yang dipikirkan Tuan Muda, Saudari Lilia?” bisik Megu, ia tidak tahu apa maksud dari tatapan tuan mudanya tadi.
Lilia yang mendengar hal itu, mulai kembali membisikkan sesuatu terkait dengan Ryuto. Perlahan-lahan wajah Megu berubah menjadi merah dan ia mengeluarkan asap dari telinga, lalu menutupi wajahnya.
Rias tidak tahu apa yang terjadi. Ia memandang ke arah Amy yang berada di sebelahnya. Kemudian, perempuan yang ia tatap tersebut mendekat dan membisikkan sesuatu.
Mengetahui maksud tuannya, Rias seketika memerah. Ia tidak menyangka bahwa tuannya benar-benar berbeda dari kesan sebelumnya. Ia merasa seolah-olah telah memasuki kandang serigala.
Ryuto tidak tahu apa yang dibisikkan oleh Lilia dan Amy. Dirinya sendiri memikirkan bagaimana membuat para anak-anaknya keluar dari rumah agar dapat melakukan hal itu.
__ADS_1
Di tengah pemikiran Ryuto, para istri sisanya keluar bersama dengan para anak-anak. “Ayah, Ibu!”
Ash dan yang lainnya melesat berlari menuju ke arah Ryuto dan para perempuan lainnya. Mereka segera memeluk orang tuanya tersebut.
“Ash, ada sesuatu yang terjadi kah?” Ryuto terkejut melihat putranya yang begitu antusias. Ia sedikit khawatir jika sesuatu terjadi kepada mereka masing-masing.
Mendengar pertanyaan ayahnya, Ash menggelengkan kepalanya. Ia kemudian berkata, “Tidak ada, hanya saja kami ingin berlatih untuk menjadi lebih kuat.”
Ryuto mendengar hal itu menyusutkan matanya, ia sedikit terkejut dengan keinginan anak-anak tersebut. Namun, selepas mendengar kalimat Ace, ia membeku dalam sekejap.
“Itu benar, Ayah. Kami ingin menjadi kuat, sehingga Ayah dan Ibu tidak perlu bertarung dan fokus membuat anak!”
Semua perempuan tertawa pelan mendengar kalimat yang diucapkan oleh Ace tersebut. Apalagi melihat ekspresi polos Ace, mereka benar-benar tak tahan untuk tertawa.
“Pfft, ahahaha…”
Ryuto sendiri tidak bisa untuk tidak tersenyum canggung. Kemudian, ia mengingat bahwa para pasukan masih berkemas untuk pergi menuju ke kota yang akan mereka tempati.
“Menjadi kuat kah …,” gumam Ryuto, kemudian memandang ke arah satu persatu istrinya dengan serius. Hal ini membuat seluruh perempuan tersebut berhenti dan menaikkan alisnya sambil menatap ke arah suaminya itu.
“Kami menolak!” Seluruh perempuan menolak secara serempak. Mereka tidak ingin putra dan putrinya masuk ke dalam pasukan terlebih dahulu. Umur anak-anak sendiri masihlah tergolong terlalu muda.
Mendengar penolakan tersebut, Ryuto mengangguk. Ia sendiri memang membuat keputusan yang salah. Namun, anak-anak tersebut terduduk di tanah, tengah merajuk.
Hal ini membuat seluruh perempuan menaikkan alisnya. Lilia yang melihat Ash seperti itu, seketika berbicara. “Meski kalian merajuk, tidak tetaplah tidak. Umur kalian masihlah tergolong muda.”
“Tapi, Bu ….” Ash yang ingin membalas perkataan ibunya. Seketika terdiam ketika melihat tatapan ibunya tersebut. Ia segera menunduk dan ketakutan.
Ryuto sendiri yang melihat hal itu, mendekat ke arah seluruh istrinya dan menarik semua istri tersebut ke arah anak-anak. Kemudian, ia membuat seluruh orang tersebut terduduk di tanah membentuk lingkaran.
Perilaku yang dilakukan oleh Ryuto, membuat semua orang bingung. Mereka saling memandang, mencoba untuk berbicara kepada lelaki itu. Namun, melihat ekspresi Ryuto yang datar, membuat mereka terdiam dan menuruti.
“Oke, sekarang kalian sudah terduduk dengan rapi.” Ryuto memandang datar ke arah istri dan anak-anaknya. “Meski sebelumnya aku tidak masalah dengan kalian pergi ke kamp. Namun, melihat para ibu kalian menolak. Hanya satu jalan untuk situasi seperti ini!”
__ADS_1
Kilatan niat tertentu melintas di mata Ryuto. “Dapatkan persetujuan para ibu kalian masing-masing. Entah dengan cara apa, buat mereka tidak khawatir dengan kehidupan kalian nanti!”
Mendengar ketegasan ayah mereka. Para anak-anak tersebut seketika menunduk dan jejak niat kebulatan tekad terbentuk di dalam hati masing-masing. Satu persatu anak itu mengangkat kepalanya, mereka memandang ke arah ibu masing-masing.
Tentu para perempuan tidak kalah, mereka memiringkan kepalanya, meski mereka menolak, akan tetapi solusi yang dikatakan oleh suaminya itu adalah tepat.
Ujian.
Hanya dengan ujian tertentu, anak-anak dapat mengikuti para pasukan berlatih.
Lilia dan saudarinya yang lain saling memandang, kemudian mereka merembuka tes apa yang akan diberikan kepada anak-anak mereka itu.
Ryuto yang melihat hal itu, sedikit menarik sudut mulutnya naik ke atas. Sementara itu, para anak-anak juga saling berdiskusi. Namun, ujian maupun tes ini sepertinya akan tertunda karena hari sudah malam.
Ryuto yang merasakan perubahan waktu, ia segera memandang ke arah langit. Dirinya menepuk kedua tangannya. “Sudah malam hari, ujian atau tes yang kalian rencanakan. Lakukan saja nanti!”
Ash yang merupakan ketua dari para anak-anak, mengangkat tangannya. “Ayah, bisakah kami tidak tidur di satu rumah? Kami ingin tidur di rumah yang lain itu!” Ash berkata sambil menunjuk ke arah rumah yang tidak terpakai.
Ryuto yang melihat hal itu, hanya mengangguk setuju. Para istrinya sendiri tidak terlalu masalah dengan perpindahan tersebut.
“Terima kasih Ayah dan selamat malam Ayah, Ibu!” para anak-anak menundukkan kepalanya dan bergegas pergi menuju ke rumah yang tidak terpakai tersebut.
Ryuto sendiri merasa ada yang salah. Namun, ia hanya mengangkat bahunya dan memandang ke arah para istrinya tersebut.
“jadi, bagaimana?” Ryuto menyeringai, ia tidak menyangka bahwa putra-putranya mengajukan perpindahan rumah sehingga memudahkan dirinya untuk melakukan sesuatu.
Para perempuan seketika menyadari dan mereka tersenyum, kecuali perempuan yang baru masuk ke dalam keluarga.
“Kalau begitu mari kita mandi terlebih dahulu. Aku tidak ingin bercinta dengan aroma darah di tubuh!” Ryuto berkata dengan jelas, membuat semua perempuan menunduk dan tersenyum.
Mereka mulai masuk ke dalam rumah…
To be Continued.
__ADS_1