System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 126 - Selamatkan Sasha 2


__ADS_3

Silakan Dibaca.


"Ayah ...."


Mendengar sebutan dari anak kecil tersebut, Ryuto memahami bahwa anak itu ialah putranya.


"Ya," jawab Ryuto, ia tersenyum terhadap anak kecil itu. Kemudian, dirinya melambaikan tangan untuk menyuruh anak kecil tersebut untuk mendekat ke arahnya.


Kado yang masih dalam keadaan stagnan segera sadar. Dia memandang ke arah Ryuto, lalu terkejut karena lelaki tersebut memintanya untuk mendekat.


Anak kecil itu tidak menolak. Ia mendekat ke arah lelaki tersebut tanpa adanya kewaspadaan diri. Entah mengapa, dirinya tidak merasakan bahaya, melainkan ada kerinduan di dalam hati.


Tiba di dekat lelaki itu. Kado dalam sekejap terkejut dengan tindakan orang tersebut. Ia menutup mata dan merasakan perasaan hangat dan kehadiran aman.


"Meski aku sudah pergi jauh sebelumnya, kali ini kamu dan ibumu akan aman. Semua saudaramu sudah berkumpul dan memulai pelatihan mereka. Nanti seminggu kemudian kamu akan bertemu dengan mereka."


Kado yang mendengar perkataan lelaki tersebut, seketika tangannya bergerak memeluk laki-laki itu. Air mata dirinya sudah mengalir membasahi pipi. Bagaimanapun juga, ia adalah anak kecil dan pasti menginginkan pelukan dari seorang ayah.


"Ayah!" Kado akhirnya melepaskan seluruh pertahanan dirinya. Ia akhirnya bertemu dengan ayah yang selama ini tidak pernah dirinya ketahui.


Tangis yang begitu dalam dipendam oleh seorang anak kecil. Hanya memiliki seorang ibu selama empat tahun, meski ia pintar pun perasaan kosong tanpa adanya ayah adalah hal lain.


Ryuto yang melihat putranya menangis keras, tidak menyuruhnya untuk berhenti. Dia hanya menepuk pelan punggung anak kecil tersebut sambil mengelusnya dengan ringan.


Para perempuan yang mendengar suara tangisan tersebut, seketika merasa hati mereka tersayat. Lilia dan Amy saling memandang, kemudian beralih menatap ke arah Sayoko.


"Sayoko, bunuh dia. Lalu minta seseorang untuk mengirim potongan orang ini. Kita akan masuk, untuk melihat suara tangisan siapa ini!"


"Serahkan kepadaku, Saudari Lilia. Hanya butuh beberapa menit untuk menyelesaikan orang ini!" Sayoko menjawab dengan nada rendah.


Lilia mengangguk, kemudian ia dan semua perempuan pergi menuju ke dojo. Sayoko sendiri sudah mulai memotong tubuh lelaki di depannya menjadi berbagai bagian.


Selesai melakukan hal semuanya. Perempuan itu mulai membiarkan tubuh Ando terpapar sinar matahari. Dia ingin mengeringkan darah daging lelaki tersebut. Selepas dikeringkan, ia akan memasukkannya ke dalam kardus dan memberinya isolasi hitam. Lalu, minta kirim kepada petugas paket udara.


Serangkaian tindakan tersebut telah usai, tidak memerlukan banyak waktu. Hanya lima belas menit saja.


Sayoko yang telah menyelesaikan tindakannya tersebut, segera berlari menuju ke arah dojo. Namun, tepat tiba di sana ia melihat seluruh saudarinya tengah bersama seorang anak kecil.


"Kalian ...."

__ADS_1


Beberapa menit sebelumnya.


Ryuto yang tengah melihat bahwa putranya sudah selesai menangis, mulai melepaskan pelukan. Kemudian, menatap ke arah anak kecil tersebut.


"Jadi, siapa namamu?" Ryuto bertanya karena takut tebakannya salah, dulu ia menamai putranya bersama dengan Sasha. Namun, hal ini tidak bersifat permanen.


"Kado."


Mendengar nama putranya tersebut, Ryuto tersenyum. 'Aku tidak menyangka bahwa Sasha akan memakai nama ini. Namun, seluruh perempuan juga menamai anak-anak sama dengan percakapan dulu.


"Nah Kado, bagaimana kehidupanmu di tempat ini?"


Kado yang diberikana pertanyaan seperti itu, menundukkan kepalanya. Ia menggeleng dan berkata, "Nyaman."


Ryuto yang mendengar itu seketika menaikkan alisnya. "Mengapa kamu mengatakan nyaman?"


"Hal ini karena ada ibu. Meski tempat seperti apapun itu. Jika ada ibu, aku tetap akan merasa nyaman!" Kado menjawab dengan tegas dan serius.


Ryuto tersenyum mendengar hal itu, inilah putranya. Mirip seperti dirinya sendiri, tinggal di mana pun tempatnya, sama saja asal bersama dengan seseorang yang dapat membuat dirinya nyaman.


Sebelum lelaki itu bertanya lebih lanjut, langkah kaki tergesa-gesa terdengar di luar dojo. Detik berikutnya, beberapa sosok perempuan masuk ke dalam dojo.


"Sayang, siapa yang menangis?" Lilia bertanya segera, ia mengamati lingkungan sekitar dan menemukan adanya seorang anak kecil yang tengah menatap mereka dengan mata bengkak.


"Apakah dia anak dari Saudari Sasha?"


Mendengar pertanyaan Amy, Ryuto mengangguk dalam diam. Kemudian, sorot mata lelaki itu beralih ke anak kecil di sebelahnya.


"Perkenalkan, mereka adalah istriku semua. Bisa dikatakan mereka ialah ibu kamu yang lain."


Kado terkejut mendengar informasi tersebut. Meski ia sebelumnya tidak suka dengan menduakan para perempuan, akan tetapi untuk ayahnya sendiri ia tidak membencinya.


"Ibu?"


"Ya, kemarilah, Nak." Yui berjongkok dan memberikan isyarat untuk anak kecil tersebut mendekat ke arahnya.


Kado mendekat, ia benar-benar merasa bahwa hari ini banyak kejutan yang dirinya terima. Namun, kejutan itu bukanlah hal buruk melainkan hal baik.


Lelaki kecil itu tiba di depan Yui, kemudian ia dipeluk dan diangkat. Kemudian, para perempuan pergi dari dojo meninggalkan suaminya bersama dengan Sasha.

__ADS_1


Ryuto yang melihat tindakan para istrinya hanya bisa menghela nafas dan kini, ia menatap ke arah Sasha kembali.


Kembali ke awal, Sayoko yang melihat para saudarinya tengah bersama dengan seorang anak kecil di depan dojo, tidak bisa untuk tidak memiringkan kepalanya.


"Kalian, mengapa berada di luar? Juga, apakah anak kecil ini putra dari Saudari Sasha?"


Semua perempuan memandang ke arah Sayoko sambil tersenyum. Yuka menjawab pertanyaan dari saudarinya tersebut.


"Itu benar, sebenarnya pengalaman mereka hampir sama denganku. Namun, aku masih ada ibu dan saudariku. Sementara, Kado hanya bersama ibunya saja."


Sayoko sudah mendengar pengalaman Yuka, akan tetapi mengaitkan dengan kejadian yang dialami Sasha. Ia tidak bisa membayangkan betapa sulitnya saudarinya itu.


"Lalu, dimana sekarang Sasha?" Perempuan itu bertanya dengan nada rendah, kemudian Yuka menunjuk ke arah dalam dojo.


Sayoko mengangguk, kemudian ia memasuki dojo dan melihat suaminya tengah menunggu Sasha siuman.


"Sayang, apakah Sasha baik-baik saja?"


"Ya, tenang saja. Ia hanya kelelahan dengan tekanan yang selama ini dirinya alami." Ryuto menjawab tanpa melihat ke belakang. Ia lebih memperhatikan istrinya yang terbaring di lantai tersebut.


Sayoko perlahan mendekat, kemudian duduk di dekat suaminya. "Sayang, apakah saudari yang lain juga mengalami hal yang sama?"


Ryuto menghela nafas dan mengangguk. "Sebenarnya inilah kutukan yang diberikan oleh para dewa kepada keturunan Kurokami. Siapa pun yang berhubungan dengan Kurokami harus benar-benar kuat untuk melawan kutukan ini."


"Sasha sendiri ialah orang kuat, ia kuat dalam hal menjalani dojo ini. Meski sepi, akan tetapi dirinya terus mengancam siapapun yang ingin mengambil alih."


"Nah Sayang, bisakah kamu memberikan informasi terkait pemilik Dojo sebelumnya?" Sayoko bertanya dengan nada rendah, niat membunuh terpancar di iris matanya.


Mendengar pertanyaan perempuan tersebut, Ryuto sedikit memahami. Namun, menurutku ada sisi positif yang dapat diambil dari orang tersebut.


"Jika informasi pemilik dojo ini, aku akan meminta Zero untuk mencarinya. Namun, menurutku keputusan ceroboh lelaki pemilik dojo ini, juga menguntungkan bagi Sasha."


Sayoko yang mendengar hal itu, seketika merasa aneh. "Apa yang menguntungkan dari dojo ini?"


"Sasha dapat tempat tinggal, ia memiliki tempat untuk berteduh. Meski ia sudah memikirkan bahwa Dojo tempatnya sekarang tidak akan bertahan lama."


Mendengar penjelasan dari suaminya tersebut, perasaan amarah terkait pemilik dojo seketika sedikit surut.


Ryuto sendiri memikirkan sisi positif dan negatif. Namun, sebelum dirinya berpikir lebih jauh. Sasha yang terbaring tidur, perlahan menunjukkan tanda akan bangun.

__ADS_1


"Sayang, Sasha bangun!"


To be Continued.


__ADS_2