System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 141 - Apakah Itu Bom, Tuan?


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Perjalanan Ryuto dan Berta tidak memakan waktu yang begitu lama. Hanya beberapa jam, mereka tiba di sebuah tempat yang begitu ramai. Tempat ini adalah Pasar Lohan. Tempat yang berada di sebelah Kota Duino.


Pasar Lohan sendiri ialah pasar yang menyediakan berbagai kebutuhan hidup seseorang. Meski begitu, ada sisi lain dari pasar ini yaitu pasar gelap yang sangat tersembunyi di tempat tersebut.


“Ryuto, kita sudah sampai di pasarnya. Namun, hati-hati di sini banyak orang yang tengah berkumpul.” Berta mengatakan peringatan kepada temannya itu, kemudian ia melihat beberapa orang berkelompok mengenakan pakaian jubah putih.


Menatap ke arah kelompok tersebut, lelaki itu mengerutkan keningnya. Entah mengapa ia pernah melihat kelompok tersebut. “Siapa mereka, juga benda apa yang berada di punggung orang-orang itu?*


“Ryuto, kamu harus waspa-“


“Ohh, apa ini yang kalian bawa. Sepertinya mainan yang begitu menarik.”


Berta melebarkan matanya ketika melihat Ryuto yang sudah berada di dekat kelompok jubah putih tersebut. Ia tercengang dengan tindakan temannya itu, peringatan yang dirinya katakan sama sekali tidak didengar.


“Orang bodoh itu!” Berta ingin keluar, akan tetapi ia memilih tetap diam di tempat. Hal ini karena dirinya paling mengetahui seberapa kekuatan dari Ryuto tersebut.


Sementara itu, para orang jubah putih melihat Ryuto, seketika mata mereka melebar. Jelas orang-orang itu terkejut karena tidak merasakan sama sekali ada orang yang mendekat.


“Ini bukan urusanmu, Nak!” salah satu orang jubah putih segera berkata dengan dingin. Ia menatap dalam-dalam ke arah lelaki di depannya. Entah mengapa, dirinya merasa akrab dengan wajah tersebut.


“Pfft, aku hanya itu apa? Mengapa kamu begitu emosional. Apakah itu sebenarnya bom yang dapat meledakkan seisi kota?” perkataan Ryuto membuat seluruh orang pejalan kaki berhenti, mereka terkejut dan segera melihat ke arah orang jubah putih tersebut.


Para orang jubah putih mengerutkan keningnya. Mereka yang sebelumnya berjalan dengan lancar, kini tengah dihalangi seseorang. Hal ini membuat mereka marah tanpa sadar.


“Nak, pergilah! Jangan menghalangi jalan kami!” orang jubah putih mengeluarkan niat membunuh besar kepada Ryuto.


Hal ini membuat, Ryuto tersenyum dan bertanya dengan nada sedikit lebih keras. “Mengapa? Apakah itu sebenarnya bom dan kalian ingin menyembunyikannya?”


Berbagai orang berbisik satu persatu. Mereka semua mempercayai omongan dari Ryuto. Hal ini membuat para orang jubah putih tertekan dan salah satu dari mereka muncul tepat di depan pembawa masalah tersebut.


“Matilah!” salah satu orang jubah putih tersebut melesat kan pukulan ke arah perut Ryuto. Lelaki itu sudah tahu bahwa orang pembuat onar hanyalah orang biasa.


Hal ini membuat ia mencibir di dalam hati, akan tetapi saat pukulan mengenai perut lelaki tersebut. Ekspresi orang jubah putih menjadi terkejut.


“Bam!” Suara teredam terdengar di seluruh arah tempat tersebut. Hal ini membuat berbagai orang melebarkan mata mereka masing-masing. Jelas orang-orang itu terkejut karena tidak tahu ledakan dari mana berasal.


Sementara itu, para orang jubah putih melebarkan matanya karena melihat serangan rekan mereka, tertahan oleh tubuh seseorang. Jelas hal ini membuat mereka tidak bisa berkata-kata kembali.


Orang jubah putih yang menyerang Ryuto, gemetar. Apa yang dirinya rasakan ialah rada sakit yang begitu kuat. Tangannya seolah-olah telah memukul berlian yang keras.

__ADS_1


“Sungguh, kalian benar-benar tidak sabar. Aku hanya bertanya, akan tetapi kalian semua menyerang.”


Mendengar suara Ryuto yang begitu rendah. Para orang jubah putih melebarkan matanya satu persatu. Mereka jelas mendengar hal itu, seolah-olah ucapan tersebut ditunjukkan untuk mereka.


“Semua lari! Orang ini berbahaya!” Orang jubah putih segera melesat pergi meninggalkan rekannya yang tengah berdiri tepat di depan Ryuto.


Pelarian orang jubah putih membuat semua orang terkejut karena kecepatan orang-orang itu melebihi dari seorang atlet terkenal di dunia. Bahkan tidak akan ada orang yang secepat itu.


Ryuto yang melihat pelarian orang jubah putih, sama sekali tidak mengejar. Ia melirik ke arah orang di depannya, kemudian berkata, “Terima kembali apa yang sudah kamu berikan!”


“Aku-“ belum sempat menyelesaikan kalimatnya, orang jubah putih melihat bahwa kepalan tangan besar tepat berada di depan matanya. Hal ini membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


“Boom!” ledakan keras terdengar. Seluruh orang menutup telinga mereka sambil menunduk. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi, akan tetapi mereka bersumpah bahwa ada ledakan keras seperti meriam.


Orang jubah putih yang terkena serangan Ryuto, terbang terbalik. Wajahnya benar-benar hancur dan darah terus keluar. Matanya sudah memutih dan jubah putih sudah memiliki puncak atas merah.


Ryuto memandang ke depan, seluruh area yang ia pandang membesar dan ia dapat melihat di mana orang-orang jubah putih tersebut berada. Dirinya tidak mengejar, akan tetapi mengambil senjata yang terjatuh di tanah.


Tepat saat para penonton membuka mata. Mereka melihat sama sekali tidak ada Ryuto maupun orang jubah putih. Hal ini membuat orang-orang tersebut, merasa aneh dan bergidik tanpa sadar.


“Apakah yang barusan ialah hantu?”


“Kemungkinan besar itu benar. Aku sama sekali tidak melihat kecepatan mereka datang dan pergi. Hanya satu jawaban yaitu mereka adalah hantu!”


Di sisi lain, para orang jubah putih berkumpul. Mereka juga membawa rekan yang terkena serangan Ryuto sebelumnya. Meski babak belur, mereka tetap membawanya karena di dalam tubuh orang itu ada sesuatu rahasia dari kelompok mereka masing-masing.


“Sial, orang itu benar-benar membuat kita gagal dalam misi! Senjata sudah menghilang dan transaksi gagal. Banyak peminat untuk senjata ini, meski di wilayah kedua senjata ini hanyalah rongsokan!”


“Ketua, lalu bagaimana kalau kita memanggil Pemimpin?” satu orang jubah putih bertanya kepada ketuanya yang tengah marah.


“Kita harus melaporkannya. Bagaimanapun juga, gagal tetap gagal. Kita bersiap untuk menerima hukuman dari organisasi nanti!”


“Baik, Ketua!” seluruh orang jubah putih berkata serempak ke arah lelaki yang menjadi ketua tersebut.


Orang jubah putih yang menjadi ketua mengeluarkan ponselnya dan memanggil pemimpinnya. Panggilan itu segera di terima dan terdengar suara orang dibalik ponsel tersebut.


“Halo, ada apa memanggilku, Ketua Corn?” suara dingin dan penuh tekanan, membuat ketua para jubah putih tersebut menelan ludahnya. Mendengar suara dari pemimpin yang dingin, ia tahu bahwa pemimpinnya sudah mendapatkan informasi kegagalan.


“Maaf, Pemimpin! Kami telah gagal membawa senjata itu untuk lelang nantinya!”


“Kembalilah, tebus kesalahanmu itu dengan tugas lain dariku nanti.” Pemimpin orang jubah putih berkata dengan nada datar, kemudian panggilan ditutup segera.

__ADS_1


Entah mengapa mendengar instruksi kembali dari pemimpinnya. Ketua jubah putih sedikit berpikir karena jarang bagi pemimpin untuk memanggil untuk kembali segera. Apalagi ada misi baru secepat ini.


“Kita kembali, ini perintah Pemimpin mutlak!” ketua jubah putih mengatakan dengan jelas membuat orang-orang jubah putih mengangguk dan mereka segera melesat pergi dari Pasar Lohan itu.


Di sisi lain, Ryuto berada di dalam mobil segera melihat senjata yang ia rampas sebelumnya. Tepat saat senjata keluar, Ryuto mengerutkan keningnya karena entah mengapa ia merasa bahwa senjata tersebut buruk.


Senjata itu layaknya bazoka. Namun, ada huruf C besar di bagian badan senjata tersebut. Sementara peluru senjata itu memiliki corak warna ungu dengan lambang tengkorak.


“Senjata apa ini? Sistem, apakah kamu bisa mendeteksinya?”


[Tidak bisa, Tuan Rumah. Senjata ini bukan buatan Wilayah Pertama.]


[Namun, melihat seluruh strukturnya. Sistem dapat mengidentifikasi bahwa benda ini kemungkinan besar, Bazoka Ungu Soa.]


[Senjata ini diproduksi secara massal di Wilayah kedua. Meski informasi tidak jelas, ada satu kata yaitu senjata tersebut sampah.]


Mendengar kata sampah, entah mengapa Ryuto sedikit meragukan. Hal ini karena ia merasakan bahwa senjata itu mengerikan bagi orang-orang biasa.


“Lalu, apakah barang ini yang akan dilelang nanti, Berta?” tanya Ryuto membuat rekan yang berada di sebelahnya, mengangkat bahu dan menjawab ringan.


“Aku tidak mengetahui barang apa itu, akan tetapi banyak yang mengatakan bahwa barang tersebut ialah senjata kuat yang mampu membunuh orang tingkat B.”


Mendengar hal itu, tentu Ryuto mengerutkan keningnya dan tahu bahwa senjata yang ia pegang sama sekali tidak dapat membunuh orang-orang yang memiliki tingkat B.


“Sepertinya promosi barang ini dilebih-lebihkan. Senjata ini sama sekali tidak berbahaya bagi orang-orang tingkat B.” Ryuto berkata sambil mengamati lebih dalam bazoka tersebut.


“Bagaimana kamu tahu bahwa senjata itu tidak membunuh tingkat B?” Berta penasaran mengapa Ryuto dapat menilai senjata tersebut tanpa mencobanya.


“Feeling, akan tetapi aku pernah melihatnya dulu. Meski ini senjata berasal dari Wilayah kedua. Namun, menurutku produksi senjata ini hanya untuk pelatihan sehingga menjadi produk massal.”


Mendengar apa yang dikatakan Ryuto tersebut, Berta menyadari satu hal. Memang barang dijual massal hanya ada dua penyebab. Satu sampah yang masih bermanfaat, kedua baru pertama kali dirilis.


“Apakah kau merasa beruntung karena kepolisian tidak mengambil senjata ini?” Ryuto bertanya sambil tersenyum, jelas dirinya tahu akan informasi tersebut.


Berta tidak terlalu peduli melihat Ryuto sudah mengetahui informasi tersebut. Meskipun secara tertutup, rekan di sebelahnya itu sangatlah mudah untuk mengetahuinya.


“Begitulah, aku merasa beruntung karena uang yang dikeluarkan pasti akan banyak nanti.”


Ryuto yang mendengar hal itu, seketika memiliki senyum misterius. Kemudian, ia memandang ke arah Berta.


“Nah, teman. Aku ingin kamu melakukan sesuatu, jika berhasil kamu akan kaya dalam sekejap. Namun, jika tidak kemungkinan besar tidak terjadi apa-apa.”

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2