
Silakan Dibaca.
Ryuto dan Cohza melesat maju ke depan, ribuan orang melesat ke arah kedua orang tersebut. Ryuto dan Cohza mengangguk bersamaan, lalu kedua orang itu berpisah melawan lima ratus orang.
Melihat kedua orang berpisah dan menyerang. Para preman tak peduli dan mereka mengayunkan seluruh senjata tepat ke arah Ryuto yang berada di dekat mereka semuanya.
Namun, Ryuto mengepalkan tangannya dan ia mengayunkan kepalan tangan tersebut ke depan. Hanya berbunyi ‘klik’ salah satu senjata tajam yang ia pukul hancur.
Ryuto mengayunkan ke arah kepala orang tersebut, ia tidak menghindari seluruh tebasan para preman itu. Akan tetapi, apakah senjata tajam belaka dapat melukainya? Tentu tidak, tepat serangan mengenai tubuhnya.
Ding! Suara benturan layaknya logam terdengar sangat nyaring. Para preman tertegun dan akhirnya ia melihat, Ryuto mengayunkan jarinya, lalu menembus dari telinga kanan menuju ke telinga kiri.
Pemandang itu benar-benar horor bagi setiap orang. Jika itu batang besi mereka yakin, akan tetapi itu hanyalah lima jari yang terlihat lebih besar saja dari milik mereka masing-masing.
Ryuto tidak membunuh satu, ia mengayunkan orang yang ia bunuh ke arah empat orang yang tertegun, mereka yang menerima mayat. Seketika menampilkan wajah takut, akan tetapi sosok kaki besar melesat ke arah leher mereka masing-masing.
Jrsh! Suara yang begitu renyah terdengar, empat kepala terbang bebas keluar dari tubuh. Darah keluar dengan panik, membasahi tanah di sekitar tubuh tanpa kepala itu.
Melihat lima rekan mati secara brutal, mulai menunjukkan jejak ketakutan dalam. Namun, mereka terus menyerang dengan senjata. Mereka dengan cepat tiba di dekat Ryuto dan melompat sambil mengayunkan senjata tajam.
Ryuto mengangkat kedua tangannya, ia layaknya seseorang yang menunjukkan otot. Seluruh otot dalam tubuhnya mengeras dalam sekejap. Berbagai senjata menyentuh tubuh Ryuto, akan tetapi suara retakan terdengar.
Krak! Suara itu sangat jelas, mereka menduga bahwa tulang Ryuto remuk. Namun, apa yang mereka bayangkan hanyalah angan-angan semata. Kenyataan yang mereka terima sendiri begitu menakutkan.
Senjata yang mereka ayunkan hancur di bawah tubuh Ryuto sendiri. Tubuh para preman bergetar hebat, mereka mengandalkan senjata tajam, akan tetapi senjata itu sendiri tidak dapat menembus otot Ryuto.
“Mustahil... Daging maupun otot tidak mungkin begitu keras!” teriak salah satu preman, akan tetapi apakah ada yang peduli? Tentu, hanya ada sebagian. Namun, Ryuto sama sekali tidak peduli.
Orang yang berteriak itu, ia pegang dengan erat tepat kepalanya. Ryuto menekan otot-otot lengannya sehingga terlihat berbagai urat nadi yang begitu besar dan menakutkan.
__ADS_1
Mengapa menakutkan? Hal ini karena, urat-urat tersebut membentuk sebuah muka. Namun, muka itu ialah sosok iblis dengan dua tanduk dan seringai di wajahnya.
Para preman gemetar melihat urat-urat tersebut. Sementara preman yang ditekan Ryuto, meronta-ronta penuh akan rasa sakit. Ia ingin mencoba lepas dari tangan itu, akan tetapi tidak bisa sama sekali.
Ryuto menekan terus, sampai akhirnya kepala orang itu pecah. Darah berceceran di tanah dan otak ada di mana pun tempatnya. Para preman melihat hal itu, segera gemetar penuh akan rasa takut.
Para preman mundur beberapa langkah, meski jumlah mereka banyak. Namun, bercanda? Seorang yang begitu mengerikan apakah takut akan jumlah yang banyak. Tentu mereka tahu lebih, dibandingkan orang-orang biasa yang hanya mengenal masyarakat saja.
Bagi para preman yang sudah mengenal bawah tanah jelas tahu, bahwa orang-orang seperti lawan mereka ini. Bukanlah orang yang dapat mereka lawan hanya dengan jumlah saja.
Namun, para preman segera menyadari satu hal. Mereka satu persatu berteriak dengan keras. “Menyebar, buat ia kehabisan energi. Kita tidak bisa mengambil serangan secara beruntun!”
Itu benar, untuk mengatasi orang kuat. Hanyalah dengan mengandalkan kelelahan yang mereka miliki. Hanya itu saja cara yang cocok untuk mengalahkan orang yang kuat.
Namun, Ryuto menggelengkan kepalanya ketika melihat mereka maju satu persatu. Ia hanya mengayunkan lengannya dan jari-jari yang tajam memutuskan hubungan antara kepala dengan tubuh.
Di sisi lain, Cohza membantai dengan buas. Ia layaknya singa yang ingin keluar dari pengepungan yang dibuat oleh seorang penjaga. Hal ini benar-benar membuat para preman ketakutan.
Secara bertahap keduanya semakin meliar, terutama Ryuto. Ia benci melihat seluruh orang menyebar, ia dengan gerakan cepat membantai sepuluh orang dalam sekali gerak.
Hal ini membuat para preman ketakutan. Jelas mereka ingin menggunakan penyebaran agar energi terkuras. Namun, mengapa lawan sama sekali tidak terlihat lelah. Mereka semua hanya menangis tanpa air mata.
Ryuto dan Cohza sudah mencapai jumlah 250 orang. Mereka tidak peduli dengan lingkungan yang awalnya bersih kini berubah menjadi merah karena darah para preman tersebut.
Para preman sendiri sebagian sudah terduduk lemas di tanah, mata mereka kosong seolah-olah telah kehilangan harapan. Ryuto dan Cohza tidak membunuh orang yang berlutut, mereka mengincar yang berdiri.
Polisi sendiri sudah tiba di kejauhan, mereka tidak berani masuk terlalu dalam. Hal ini karena melihat pembantaian brutal seribu orang, jelas membuat mereka gemetar.
“Siapa yang keluarga Wany ini singgung?” Kepala Polisi Duino bertanya dengan rendah, ia jelas tahu bahwa kedua orang yang bertindak algojo itu telah disinggung oleh Keluarga Wany.
__ADS_1
“Siapa pun itu, jangan sampai kita kepolisian menyinggungnya! Kita harus melaporkan ini ke pemerintah. Jika keduanya tidak diawasi dengan baik, aku takut Guika akan hancur dalam sekejap.”
Beberapa pejalan malam tidak kuat melihat itu, akan tetapi ada yang mencoba untuk merekam dan bertahan dengan kuat menahan adegan yang begitu mengerikan tersebut.
Beberapa menit kemudian, Ryuto dan Cohza selesai membantai sembilan ratus orang. Tersisa seratus karena orang-orang tersebut masihlah berlutut dengan gumaman rendah.
Jelas pembantaian itu membuat mental para preman terdistorsi. Ryuto dan Cohza menyeringai, kemudian keduanya saling memandang satu sama lain. Ryuto kemudian berteriak ke arah para preman yang sedang berlutut.
“Bangunlah kalian, kemudian pergi ke sisi jalan! Harus kuingat kan satu hal... Mulai sekarang, kalian akan menjadi pasukanku! Jika kalian ingin pergi, silakan. Namun, jika kalian ingin mengikutiku, berdirilah sesuai instruksiku!”
Para preman yang berlutut melebarkan matanya, mereka segera berdiri dan linglung sesaat. Namun, hati mereka memilih antara apakah ikut dengan orang kuat atau lari.
Namun, seratus orang itu melihat kekuatan Ryuto, segera mengepalkan tangannya. Mereka berdiri dan berjalan ke arah sisi jalan. Jelas mereka ingin mengikuti Ryuto sepenuhnya, entah mengapa dengan mengikuti tuan seperti Ryuto, mereka akan menemui sesuatu yang jauh di mata mereka sendiri.
Ryuto menyeringai, keputusan para preman ialah kokoh. Memperlihatkan kebrutalan dalam bertarung membuat mental musuh menurun. Inilah tujuan dari Ryuto sejak awal.
Ia kemudian memandang ke arah Cohza yang berada di depannya itu. Kemudian, Ryuto menyeringai dan berkata, “Pertempuran sebelumnya masihlah pembuka! Ayo, bukankah kita belum puas, Cohza?”
Cohza menyeringai, apa yang dikatakan Ryuto ialah kebenaran. Ia belum puas sama sekali hanya melawan kroco kecil. Keduanya saling memandang di bawah mata terkejut para penonton.
“Persetan! Pembantaian itu hanyalah pembuka!”
“Apakah mereka akan saling berbenturan satu sama lain?”
“Kemungkinan sudah jelas! Bagaimanapun juga keduanya maniak bertarung!”
Darah para penonton mendidih, inilah laki-laki sebenarnya. Romansa dalam pertempuran, daging dan daging saling berbenturan. Tidak ada yang mengetahui betapa hebat itu, sebelumnya.
Ryuto dan Cohza saling memandang dan keduanya bersiap dalam mode pertempuran mereka masing-masing.
__ADS_1
To be Continued.