
One dan Beard sama sekali tidak berhenti begitu saja. Masing-masing dari mereka menguatkan senjata dengan energi yang terkandung dalam tubuh.
“Terima ini, Ian Doom!” Beard melesat terlebih dahulu. Di tengah jalan, dia langsung melompat sambil mengayunkan palu dari belakang menuju ke depan secara vertikal.
One yang melihat hal itu, tentu memahami bahwa dirinya tidak bisa menghindar. Hanya ada satu pilihan yaitu melawan.
Dengan ringan, tangannya bergerak dari ujung bilah pedang menuju ke mata pedang. Dalam sekejap, Durandal bersinar biru cerah. Tanah di bawah One mulai membeku.
“Ice Reversal!” One mengayunkan Durandal lurus ke depan. Dia sudah tahu bahwa dirinya terpojok dan hanya ada satu-satunya cara yaitu melawan saja.
Dua senjata saling melesat satu sama lain. Percikan petir muncul di palu, sementara udara dingin keluar dari pedang. Kedua senjata tersebut, mulai berbenturan.
“Boooom!” Ledakan keras terdengar begitu jelas. Seluruh medan perang kini terguncang kembali. Gempa yang membuat beberapa pasukan pemerintah terjatuh ke tanah sehingga hal itu dimanfaatkan oleh para pasukan Chrono.
Bangunan-bangunan yang berada di dekat kedua orang itu, runtuh dalam sekejap. One dan Beard sendiri terhempas ke belakang. Senjata mereka tertinggal di tempat, lalu jatuh ke tanah secara bersamaan.
“Boom!” Dua senjata legenda itu jatuh, menghasilkan debu yang bertebaran di sekitar.
One yang terpental melakukan putaran belakang sekali. Kemudian, kaki berpijak pada tembok bangunan yang runtuh. Dia dengan cepat melompati satu tembok ke tembok lain.
Beard sendiri mendarat di tanah, dia memandang ke arah One yang terus naik ke atas. Pandangan pria itu segera tertuju ke arah senjata yang tergelatak di tanah.
Pria tersebut tidak bergerak maju, dia memandang ke arah One dan melesat ke arahnya itu. Bagaimanapun juga, lawan tidak menggunakan senjata. Jika, dia menggunakan sama saja melukai harga diri dan membuat nama pemerintah buruk.
One yang telah mencapai puncak tembok tertinggi. Dia menatap ke arah bawah, tepatnya Beard yang sedang melintasi udara menuju ke arahnya.
One tidak panik, dia sangatlah tenang seolah Beard bukanlah sesuatu yang begitu mengancam. Dirinya menanti momen yang tepat untuk melancarkan serangan balik.
Beard dengan cepat tiba di depan One segera. Dia melayangkan kepalan tangan ke arah lelaki tersebut. Tatapan Beard mengandung niat membunuh yang begitu dalam.
“Mati kau, Nak!”
__ADS_1
“Justru aku yang berkata itu, Sampah!” One melompat dan berputar di atas serangan Beard. Detik selanjutnya, dia mengalungkan dua tangannya secara terbalik tepat di leher Beard.
Hal ini tentu membuat pria tua itu terkejut karena gerakan One begitu cepat seolah-olah dia terkena ilusi. Seluruh tubuhnya lemah seketika karena perasaan dingin dari dalam tubuh.
Kecepatan jatuh One dan Beard perlahan-lahan semakin cepat. Udara di sekitar mereka terbelah akibat jatuhnya mereka. Tepat saat beberapa meter dari tanah, One menarik erat leher Beard.
Seluruh orang menyaksikan hal itu dan mereka terkejut melihatnya.
Para orang pemerintah menatap tak percaya, sementara petinggi pemerintah ingin melesat membantu. Namun, kecepatan jatuh tersebut melebihi dari kecepatan mereka.
“Booom!” Ledakan keras terdengar di seluruh medan perang. Angin bertiup dengan kencang ke segala arah. Kawah terbentuk besar dengan pusatnya tubuh seseorang yang terbalik.
Di pinggir kawah sendiri terdapat satu orang yang tengah berdiri dengan tenang. Dia adalah One, lelaki itu memandang ke arah pusat kawah tersebut dengan ekspresi serius.
“Tidak mungkin hanya dengan serangan itu, dia sudah mati.” One tidak percaya bahwa Beard mati hanya dengan jatuh saja. Hal ini karena dia yakin bahwa pria tersebut bukanlah orang biasa.
Namun, apa yang tidak lelaki itu sadari. Bahwa Beard menderita luka yang cukup parah akibat posisi dirinya jatuh ialah terbalik dan mengenai tepat lehernya itu.
“Boom!” Kepala Beard akhirnya terlepas dari tanah, akan tetapi semua orang terkejut melihat wajah pria tersebut.
Terlihat seluruh kepalanya penuh akan darah dan kepalanya harus sedikit menurun karena tulang lehernya patah.
“Aku tidak menyangka, bahwa diriku terluka parah karena ceroboh.” Beard mulai berkata dengan tenang. Namun, orang-orang yang melihat ekspresi tenang tersebut, merasakan perasaan bahaya dalam sekejap.
Beard berdiri dengan santai, kemudian udara di sekitarnya menjadi lebih panas. Hal ini membuat angin menyebar ke segala arah.
One yang melihat itu tentu tidak tinggal diam saja. Dia mulai mengaktifkan mata mistisnya yang tak lain ialah elemen es. Namun, elemen dirinya berbeda dari es pada umumnya.
Hanya Klan tertentu yang memiliki asal es yang begitu beda tersebut. One sendiri memiliki karena ia merupakan suatu Klan yang telah musnah beberapa dekade yang lalu.
Klan milik One sendiri memiliki kemampuan es yang cukup berbahaya. Kemampuan itu ialah racun. Namun, bukan sembarang racun biasa karena sekali terkena racun tersebut. Tubuh lawan akan merasakan dingin di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Hanya orang dari Klan itu saja yang dapat menghilangkan es tersebut. Hal ini karena es racun itu memiliki keunikan tersendiri yaitu dapat membuat orang yang terkena racun, akan tersegel tanpa bisa dilepas.
Di sisi lain, Beard yang tengah duduk. Perlahan-lahan suara tulang bergeser terdengar di telinga semua orang. Gerakan tulang itu berada tepat di leher oleh pria tua tersebut.
Tubuh Beard mulai memerah, kemudian uap keluar dari seluruh tubuhnya. Hal ini membuat para orang-orang yang tengah mengamati terkejut.
One sendiri tidak peduli, kedua tangannya sudah terlapisi oleh energi biru dan tangan es. Meski begitu perasaan dingin dapat dirasakan oleh beberapa orang yang berada di jauh.
Udara panas dingin terasa di medan tempur tersebut. Banyak orang merasakan hal itu dan mereka memilih untuk mundur jauh-jauh.
Ryuto yang berada di tempatnya memandang penuh dengan keseriusan. Kekuatan One dia paling mengetahuinya. Meski itu sudah setengah dari kekuatan asli. Namun, sudah cukup untuk mengatasi kekuatan penuh dari Beard.
“Sepertinya, sudah waktunya untuk kalian berdua turun!”
Nine dan Eight yang mendengar itu seketika mendongak. Niat membunuhnya terpancar begitu jelas dan mereka berdua, mengangguk bersama. “Dimengerti, Tuan!”
Dua orang tersebut menghilang dari tempat dan mereka muncul tepat di dekat medan perang. Mereka berdua menatap sekilas, lalu mengeluarkan senjata masing-masing.
“Mari kita selesaikan segera, Minato.”
“Ya, Yamato!”
Keduanya bergegas menuju ke arah para pasukan, mereka segera membantu tanpa menunda waktu. Banyak pasukan Chrono yang benar-benar terbantu dan hampir seluruh pasukan pemerintah menderita.
Hal ini semua tentu diperhatikan oleh para petinggi pemerintah. Mereka geram dengan hal itu, sampai akhirnya pria tua yang memakai pedang berjalan di ujung bangunan.
“Kaizen, apakah kamu akan turun?”
“Ya, melihat situasi yang tidak menentu. Sepertinya aku perlu turun tangan.” Pria tua berpedang yang tak lain Kaizen melompat turun ke bawah.
Akhirnya satu orang lagi kembali terjun ke medan perang.
__ADS_1
To be Continued.