System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 133 - Cerita Sania 1


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Salah satu orang yang membawa sebuah kotak besi, mulai melangkah maju. Ia membuka kotak tersebut dan sederet obat hitam mulai terlihat.


Perempuan yang dijadikan eksperimen tersebut melebarkan matanya dan berusaha lepas dari ikatan orang-orang tersebut. Namun, semakin dirinya bergerak, tali yang melingkari dirinya semakin mengerat.


“Percuma kamu berusaha lepas, tali itu ialah tali khusus. Semakin kamu bergerak, maka semakin mengerat. Jadi, lupakan saja untukmu bebas. Terimalah nasibmu menjadi bahan uji coba kami.” Salah satu lelaki yang duduk di tengah lelaki lainnya berkata dengan jelas.


Perempuan yang menjadi uji coba tersebut, terus mencoba bergerak. Ia lebih baik mati daripada menjadi uji coba orang-orang tersebut. Namun, yang tidak dirinya ketahui ialah bahwa laki-laki yang membawa obat sudah berada di belakangnya.


Lelaki tersebut segera menekan hidung perempuan tersebut. Hal ini membuat perempuan itu terkejut dan mulutnya terbuka lebar.


Melihat hal itu, lelaki yang membawa obat dengan cepat memasukkan obat tersebut ke dalam mulut perempuan itu. Kemudian, ia memasukkan botol air agar obat cepat larut dan masuk tanpa ditelan.


Tindakan tersebut benar-benar kasar, akan tetapi obat berhasil dikonsumsi perempuan tersebut. Hal ini membuat perempuan itu, menatap ke bawah. Tatapannya kosong dan tubuhnya menjadi panas dalam sekejap.


Sania yang bersembunyi tak kuasa melihat hal itu, ia segera berlari keluar dari gang. Dirinya tidak ingin ditangkap oleh orang-orang tersebut.


Tidak ada yang menyadari kehadiran Sania, akan tetapi satu orang laki-laki yang peka terhadap suara pergerakan air hujan, seketika mengerut dan menatap ke arah jalan.


“Al, apakah ada sesuatu?”


“Tuan, aku merasa bahwa ada tikus yang telah kabur, selepas melihat kejadian sebelumnya.” Al menjawab dengan ringkas. Ia jelas yakin bahwa ada seseorang yang bersembunyi.


Lelaki yang merupakan pemimpin kelompok tersebut mengerutkan keningnya. Namun, ia tidak bertindak dan berkata, “Lupakan saja, kita tidak perlu mengejarnya. Lebih baik fokus ke perempuan yang menjadi uji coba kita.”


Di sisi lain, Sania terus berlari keluar dari gang. Ia melesat cepat menuju ke apartemen. Dirinya tidak berani menatap ke belakang karena dia benar-benar ketakutan melihat ekspresi perempuan yang diberikan obat tersebut.


Tiba di Apartemen, Sania segera masuk dan mandi, lalu tidur dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya yang gemetar. Ia terus mencoba untuk melupakan kejadian yang baru saja dirinya lihat. Namun, ekspresi dan hal lainnya terus terngiang di kepalanya itu.

__ADS_1


Keesokan harinya, Sania memiliki kantung mata hitam. Ia tidak bisa tidur dan pikirannya semakin tidak tenang. Hal ini jelas diketahui oleh Maru yang tengah duduk sambil makan.


“Apa yang terjadi, Sania? Mengapa kamu terlihat begitu lesu dan berantakan?”


Sania yang sudah duduk, segera memandang ke arah kakaknya tersebut. “Kakak. Kemarin ....” Sania menceritakan tentang apa yang dirinya temukan kemarin.


Sontak hal ini membuat Maru terkejut. Ia tidak menyangka bahwa adiknya menemui adegan kriminal tepat di depan matanya sendiri. “Tenanglah, mereka tidak akan mengejarmu. Meskipun, kamu dikejar kakak akan selalu berada di sampingmu!”


Mendengar apa yang dikatakan kakaknya tersebut, Sania perlahan mulai tenang kembali. “Baik, juga aku akan tidur dan kamu kunci dari luar. Aku akan mengunci dari dalam.”


Maru mengangguk dan ia tahu mengapa adiknya tersebut melakukan hal itu. Meski begitu, Maru segera berbalik dan mulai pergi bekerja.


Mereka berdua hidup bersama, tanpa ada orang tua. Meski kehidupan mereka relatif sederhana, akan tetapi kebahagiaan selalu mereka raih. Namun, selepas kejadian apa yang dilihat oleh Sania tersebut, mereka akhirnya hidup berubah.


Para lelaki yang melakukan eksperimen sebelumnya, mengetahui lokasi dan siapa yang telah mengintai mereka sebelumnya. Nama orang dan kaitan orang tersebut dengan siapa, mereka paham.


“Sania, ia ternyata adalah adik dari seorang Detektif polisi terkenal.” Salah satu lelaki menyerahkan berkas ke arah orang yang berbicaranya tersebut.


Hari demi hari berlalu, Sania dan Maru merasa aneh dengan warga sekitar. Biasanya mereka baik, akan tetapi sekarang berubah menjadi berbeda. Setiap menyapa tidak dibalas, setiap dibantu mereka melarikan diri.


“Kakak, mengapa para warga sepertinya membenci kita?” Sania bertanya dengan gelisah, ia takut sesuatu akan terjadi kepada kehidupannya sekarang. Bahkan di sekolah pun, ia dijauhi oleh teman-teman akrabnya.


“Kakak tidak tahu, Sania. Juga, kakak mendapatkan panggilan dari atasan. Ia mengatakan bahwa kakak dipecat dari kepolisian.” Maru menunduk dan ia benar-benar bingung harus melakukan apa.


Sania yang merupakan perempuan cerdas, seketika menyadari sesuatu. Ekspresi wajahnya perlahan-lahan mulai berubah pucat. “Kakak, apakah ini ulah mereka? Selama ini kita tidak mengusik orang-orang lain dan hanya merekalah yang kulihat saja.”


Mendengar perkataan adiknya, Maru mengerutkan keningnya. Entah mengapa apa yang dikatakan adiknya tersebut benar dan masih samar.


“Jika memang begitu, bukankah ini terlalu berlebihan. Apalagi orang-orang sekitar menatap kita dengan penuh kebencian aneh.” Maru jelas merasakan jejak kebencian warga. Ia paling sensitif akan hal tersebut.

__ADS_1


“Pikirkan saja nanti, aku akan pergi menuju ke minimarket. Semoga minimarket menerima seseorang.”


Sania mendengar hal itu tahu, bahwa kakaknya ingin bekerja untuk keberlangsungan hidup keduanya. “Baiklah kakak, aku akan di rumah. Cepat pulang, oke!”


Maru tahu bahwa Sania masihlah takut, akan tetapi ia tahu bahwa jika mereka berada di bayang-bayang ketakutan, mereka tidak akan bisa hidup terlalu lama karena kurangnya makanan.


“Tenanglah, aku akan pulang cepat.” Maru berkata dengan nada ringan, kemudian menepuk kepala adiknya beberapa kali. Selepas itu, keluar dari rumah dan pergi menuju ke minimarket.


Sania yang berada di rumah, segera mengunci seluruh pintu rumahnya. Ia benar-benar masih takut dan hanya bisa berharap kakaknya pulang.


Jarum jam terus bergerak, setiap ketukan menandakan satu detik terlewati. Sania yang masih duduk di ruang tamu, memiliki butiran keringat dingin di pelipis.


Tepat saat perempuan itu terlalu gelisah. Suara gelas pecah di dapur, terdengar oleh dirinya. Hal ini membuat Sania terlonjak dan berteriak keras. “Kyaaa!”


Tidak ada respons dari siapa pun, kemudian Sania berlari menuju ke kamarnya yaitu lantai kedua. Ia juga mendengar suara langkah kaki dari dapur yang mana membuatnya semakin ketakutan.


Tiba di depan kamar, ia segera masuk dan menutup pintunya. Kaki Sania seketika melunak dan ia jatuh ke lantai ketika melihat sosok beberapa laki-laki tengah duduk di ranjang miliknya itu.


Sania melebarkan matanya dan keringat dingin terus membasahi sekujur tubuhnya. Ia gemetar dan ingin segera pergi. Namun, tubuhnya benar-benar menolak untuk bergerak.


“Aku tidak menyangka kita akan bertemu kembali, tikus tersesat ... tidak lebih tepatnya, Sania.” Satu orang lelaki yang duduk di tengah menatap langsung ke arah perempuan di depannya itu.


“Mengapa kamu di sini!” Sania berteriak penuh horor, akan tetapi lelaki tersebut mengabaikannya dan ia tersenyum ringan.


“Bukankah seharusnya aku yang bertanya, mengapa kamu mengintip tindakan yang kami lakukan?” Lelaki yang duduk di tengah bertanya balik, ia masih santai.


“Aku ...” Sania bingung harus menjawab apa, memang ini merupakan kesalahan dirinya karena terlalu penasaran. Mentalnya kini roboh dan ia terjatuh tak berdaya di lantai.


Lelaki yang duduk di tengah menyeringai, ia kemudian menunjukkan taring yang sebenarnya.

__ADS_1


“Bukankah waktunya menyiksa perempuan ini? Ar, berikan perempuan itu obat kemarin, biarkan ia merasakan obat tersebut.”


To be Continued.


__ADS_2