
Silakan Dibaca.
Selepas mengucapkan perpisahan kepada anak-anak, Ryuto melangkah masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ke dapur.
Sebagai koki yang memiliki masakan bagus. Ia mulai menyiapkan sarapan untuk para istrinya yang masih sibuk tidur di atas ruang.
"Bubur saja mungkin." Ryuto mulai mempersiapkan bumbu masakan dan bahan lainnya. Ia segera membuat bubur ayam yang dulu dirinya sukai.
Beberapa menit telah berlalu, proses demi proses dilalui olehnya. Ryuto pada akhirnya telah menyelesaikan masakan bubur ayam.
Membawa nampan berisi sebelas mangkuk bubur. Ia naik menuju ke kamar tidur. Tak butuh waktu lama dirinya tiba di depan kamar.
Ryuto membuka pintu kamar tidur dan melihat seluruh istrinya masih terlelap dengan selimut menutupi seluruh tubuh mereka kecuali kepala.
Melihat hal tersebut, lelaki itu mulai berjalan menuju ke meja yang tak jauh dari ranjang. Ia meletakkan nampan, lalu membangunkan satu persatu istrinya.
"Bangun, aku sudah buatkan makanan untuk kalian." Ryuto menepuk lembut para istrinya, kemudian semua perempuan yang berada di ranjang mulai bangun sambil meregangkan tangannya ke atas.
"Ini makan, berhubung masih hangat. Jika dingin makanan ini nanti tidak enak." Ryuto menyerahkan satu persatu mangkuk kepada para istrinya.
Menerima bubur ayam buatan suaminya. Entah mengapa, perasaan hangat menyelimuti hati para perempuan masing-masing. Mereka menatap ke arah lelaki tersebut dan berkata secara bersamaan.
"Terima kasih, Sayang!"
Ryuto mengangguk, kemudian ia melepas seluruh pakaiannya dan berjalan menuju ke kamar mandi. "Jika sudah selesai, taruh jadi satu mangkuk itu, Oke?"
Para perempuan tidak bereaksi. Mereka masih memerah karena berpikir bahwa suaminya ingin melakukan lagi. Namun, mereka segera sadar dan mengangguk sambil tersenyum.
Satu persatu perempuan mulai makan bubur ayam, tepat saat Ryuto memasuki kamar mandi. Mereka memakan bubur ayam dengan senang karena rasa bubur tersebut benar-benar nikmat.
Ryuto yang berada di dalam kamar mandi, mulai menatap ke arah sistem yang mengambang di depan matanya.
[Sistem mendeteksi bahwa Tuan Rumah belum melakukan Cek In harian.]
[Apakah Tuan Rumah ingin melakukan Cek In?]
Ryuto yang mendengar bahwa ia belum melakukan cek in, segera menjawab. "Sistem, lakukan cek in harian!"
[Cek in telah dilakukan.]
[Selamat, Tuan Rumah mendapatkan Uang sebesar 1 Milyar.]
Mendengar jumlah dari uang tersebut, Ryuto sama sekali tidak tertarik. Ia sendiri memiliki perusahaan besar, sementara uang-uang yang dirinya dapatkan lebih dari 1 milyar.
__ADS_1
"Sistem, adakah informasi terkait dua istriku yang lain?"
[Sistem mendeteksi bahwa istri Tuan Rumah masih berada di lingkungan yang kurang nyaman. Mereka berdua berjuang di sebuah kota untuk mencari uang.]
Mendengar hal itu, Ryuto mengerut. Namun, ia segera disuguhkan sebuah peta tiga dimensi. Dirinya dengan cepat menemukan tempat istrinya tersebut berada.
"Jadi tempat ini." Ryuto mengangguk penuh dengan semangat, akan tetapi ia segera berbalik karena mendengar suara pintu terbuka.
Lelaki itu memiringkan kepalanya, kemudian ia melihat para istrinya tengah masuk ke dalam kamar mandi.
"Apakah kalian sudah sembuh?" Lelaki tersebut bertanya dengan penuh rasa penasaran. Sementara itu, Megu yang mendengar kekhawatiran suami barunya itu, mengangguk.
"Kami sudah sembuh, Sayang. Bubur ayam yang kamu buatkan enak dan memiliki efek menyembuhkan."
Mendengar jawaban dari Megu, Ryuto sedikit terkejut. Ia tidak menyangka bahwa makanan yang dirinya buat dapat memulihkan kondisi para istrinya tersebut.
Apa yang tidak diketahui lelaki itu ialah, efek dari tenaga tidak terbatas ialah dapat membuat makanan menjadi penyembuhan bagi dari sendiri.
Para perempuan yang melihat suaminya membeku tidak terlalu peduli. Mereka satu persatu mendekat dan mulai membantu suaminya membersihkan tubuh.
Ryuto tidak terlalu masalah, kemudian mereka berendam di dalam bak mandi. Para istrinya mendekat dan lelaki itu memeluk mereka dengan ringan.
"Selepas ini, kita akan menjemput saudari kalian yang lain. Dua orang ini ialah Nanami dan Sasha."
"Sayang, kita harus menyelamatkan mereka segera!" Sayoko mendesak suaminya untuk segera menyelamatkan Sasha. Ia tidak tahu keadaan sahabat sekaligus saudari baginya itu.
"Tenangkan dirimu. Aku sudah meminta Zero untuk mengumpulkan informasi. Kedua perempuan itu baik-baik saja. Hanya mereka berdua ditekan oleh beberapa perusahaan tertentu."
"Ditekan?" Lilia yang berada di sebelah Ryuto mengerutkan keningnya. Ia jelas kurang suka dengan seseorang yang menekan saudarinya sendiri.
"Begitulah, Sasha menjalankan dojo. Ia mewarisi dari kakek misterius, yang dimana hanya memberikan sertifikat, lalu pergi." Ryuto menghela nafas, kemudian berkata dengan serius.
"Awalnya dirinya senang karena mendapatkan tempat tinggal. Namun, tak disangka bahwa pemilik Dojo memiliki hutang yang besar. Hal ini membuat Sasha berjuang untuk menghasilkan uang."
"Sayang, bisakah kita segera bantu dirinya?" Lilia memandang ke arah suaminya dengan ekspresi memohon.
Ryuto mengangguk, bagaimanapun istrinya ditekan artinya orang tersebut benar-benar tidak menempatkan dirinya di mata mereka.
"Kalau begitu, beritahu siapa yang ikut. Jika, kita semua ikut. Rumah tidak ada yang menjaga. "
"Namun, bukankah lebih baik bersama. Toh, siapapun yang masuk ke dalam rumah tanpa izin kita. Mereka akan diburu segera, bukan?"
Mendengar Amy yang mengatakan hal tersebut, memang benar. Ryuto benar-benar terlalu banyak berpikir, sehingga membuat dirinya tidak memahami orang lain.
__ADS_1
"Kamu benar juga. Kalau begitu, ayo kita pergi!"
Kota Amsa, ialah kota di dekat Sinha dan Febra. Kota ini dikenal sebagai kota damai karena banyaknya pepohonan dan bunga yang tumbuh di sana.
Pepohonan dan bunga yang tumbuh, bukanlah sembarang. Sekali seseorang menghirupnya mereka akan damai dan merasa nyaman.
Kota ini juga dikenal kota masa tua. Di mana udara dan angin yang masih sejuk, bahkan air pun masih dari sungai yang jernih.
Kota Amsa sendiri tidak terlalu banyak kendaraan beroda empat maupun dua. Bagaimanapun juga, mereka paling suka bersepeda karena tidak ingin merusak pepohonan sekitar.
Di Kota Amsa sendiri terdapat satu dojo yang begitu sepi. Bagaimanapun juga, masyarakat modern lebih menyukai teknologi dibandingkan seni bela diri.
Dojo sepi itu, sebelumnya dimiliki orang tua yang tengah dililit oleh hutang. Ia pasrah dan ingin membuat seseorang bertanggung jawab, sehingga dirinya bisa kabur dari Kota tersebut.
Semua itu entah takdir atau tidak. Orang tua tersebut menemukan seorang perempuan dan anak laki-laki kecil. Ia segera membodohi kedua orang tersebut dan berujung berhasil.
Kini, Dojo yang memiliki nama Deshimaru. Berubah menjadi Dojo Sakando. Perempuan yang mengambil alih dojo tersebut telah mengubahnya.
***
Dojo Sakando.
Halaman luas dengan tumbuhan hijau bulat tumbuh di tepi jalan setapak menuju ke bangunan sederhana.
Tempat ini ada dua buah tempat lentera di ujung jalan setapak, digunakan untuk jalan masuk menuju ke bangunan tersebut.
Bangunan yang sedikit tinggi tersebut, benar-benar megah dengan plat yang bertulisan. 'Sakando Dojo.'
Di dalam bangunan itu, dua orang tengah bertarung. Satu orang perempuan dan satu anak laki-laki. Mereka berdua terus saling menyerang dan anak laki-laki terjatuh ke lantai segera.
"Kado, kamu kalah."
"Ibu, kekuatanmu sangat besar. Aku masih kecil tentu saja kalah darimu!" Anak kecil tersebut tidak terima ketika ibunya mengatakan dirinya kalah.
Melihat putranya merajuk, perempuan itu tersenyum dan menepuk kepala anaknya dengan lembut.
"Batasan usia bukanlah masalah, akan tetapi tekad dan jiwamu masihlah lemah."
Mendengar ucapan ibunya, anak kecil bernama Kado tersebut menunduk dan mengangguk setuju. Namun, momen itu hancur ketika mendengar suara tidak mengenakkan di pintu.
"Sasha! Segera bayar hutang itu! Sudah 4 tahun sesuai kesepakatan kita sebelumnya!"
To be Continued.
__ADS_1