System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 160 - Perang 6


__ADS_3

Melihat kekuatan yang dikeluarkan oleh Lilia, Kaizen tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jelas dia terkejut akan kekuatan yang begitu besar dan terus meningkat itu. Pria tua itu tentu menjadi lebih serius dari biasanya.


“Datang!” Kaizen segera melakukan kuda-kuda baru, tatapannya menjadi tajam tepat ke arah depan. Pedang sendiri dia pegang dengan kedua tangan. Kemudian, dirinya melihat Lilia yang tengah menghilang dari tempatnya berada.


Pria tua itu seketika menebas ke arah kanan, di mana dalam sekejap muncul Lilia di tempat tersebut. Namun, hal aneh terjadi ketika dirinya mengayunkan pedang tersebut.


“Ding!” pedang dalam sekejap tertahan oleh sebuah perisai bulat yang berada di sekitar Lilia tersebut. Kaizen dalam sekejap melebarkan matanya. Namun, itu percuma karena dia segera tertebas oleh serangan perempuan di depannya itu.


“Slash!” Kaizen terdorong mundur dan membentur dinding tepat di belakangnya itu. Darah dalam sekejap keluar dari mulut dan tubuhnya yang terkena tebasan itu.


Para pemimpin pemerintah melebarkan matanya ketika melihat hal itu. Mereka tidak bisa untuk tidak khawatir terhadap rekannya itu. Dua orang telah terjun, kali ini tersisa dua orang saja yaitu pria bertopeng dan pria berkepala botak.


“Kaizen!” pria kepala botak berteriak dengan keras. Namun, suaranya itu masihlah kalah dengan suara peperangan di depannya itu.


Pria bertopeng sendiri menatap dengan serius, apa yang dirinya khawatirkan ialah benar. Bahwa Kaizen kemungkinan besar akan kalah melawan Lilia. Hal ini dapat dirinya rasakan ketika mengukur kekuatan lawan tersebut.


“Sulit, perempuan itu bukanlah sesuatu yang dapat diselesaikan oleh Kaizen. Bahkan ditambah dengan kita, kemungkinan besar pasti akan kalah!” Raul mengatakan hal tersebut dengan jelas. Tentu Pria botak menaikkan alisnya ketika mendengar hal itu.


“Lalu, apakah kita tetap berada di sini dan menyaksikan dua teman kita terluka parah?” Pria botak tentu marah, bagaimanapun juga dia sudah menganggap tiga orang termasuk di sebelahnya itu merupakan keluarga dan harus dilindungi.


“Tidak. Aku tetap akan melaju untuk membawa mereka keluar dari pertarungan ini. Sudah dipastikan bahwa kita telah kalah dari mereka!”


Mendengar hal itu, membuat pria botak tidak ada pilihan lain selain setuju. Melihat situasi yang semakin parah, pria botak berkata, “Lebih baik, kamu menahan orang-orang yang masih belum terjun. Aku akan membawa mereka keluar. Selepas itu, kamu aktifkan gerbang teleportasi.”


Mendengar hal itu, tentu Raul tidak masalah. Kekuatan miliknya sendiri lebih besar dibandingkan ketiga pria tua lainnya. Mereka berdua segera terjun, bertepatan dengan para perempuan yang sudah mulai membantai pemimpin pasukan mereka.

__ADS_1


Di sisi lain, Ryuto dan Amy melihat orang yang ditunggunya telah turun. Mereka berdua tersenyum, lalu melesat bersama menuju ke arah dua petinggi pemerintah tersebut.


“Akhirnya mereka turun juga! Mari kita temui mereka segera!”


“Baik, Sayang!” Amy menjawab dengan penuh semangat. Keduanya melewati berbagai pasukan, sampai akhirnya dapat melihat sepenuhnya dua sosok petinggi pemerintah tersebut.


Raul dan pria botak terkejut melihat kedatangan Ryuto dan satu perempuannya. Mereka benar-benar tak menyangka bahwa kecepatan kedua orang itu sangat cepat, sehingga mereka tidak berhasil menjalankan rencana yang sudah disusun.


“Sial!” Raul berkata dengan kesal, dia segera melesat ke depan dan dalam sekejap muncul tepat di depan Ryuto sambil mengayunkan kepalan tangannya yang sudah terlapisi oleh energi hitam keemasan. “Mati kau, Ryuto!”


Melihat serangan tersebut, tentu Ryuto tidak berkata apa-apa. Dia segera mengepalkan tangannya. Bagaimanapun juga, gerakan dirinya lebih cepat dibanding lawan. Sehingga saat kepalan tangan musuh melayang, lelaki itu juga sudah melayangkan serangan.


“Boom!” ledakan keras terjadi, kedua orang itu terdorong ke belakang. Mereka sama-sama berdiri dengan tegak, seolah-olah gelombang kecil tersebut tidak bisa membuat mereka berdua untuk berlutut kalah.


Sementara itu, pria botak tengah ditahan oleh Amy. Mereka berdua bertarung dengan kuat, masing-masing dari tidak memakai senjata melainkan hanya adu kepalan tangan.


Dua menit pun berlalu dengan cepat, Amy yang terus menyerang berhasil membuat pria botak melakukan kesalahan. Dia paling mengetahui kondisi tubuh lawan.


“Heh, apakah hanya ini saja kekuatan dari seorang petinggi pemerintah?” Amy mengejek pria botak tersebut. Dia tidak menyangka bahwa orang-orang seperti inilah yang berada di balik penindasan terhadap masyarakat sekitar.


Pria botak yang diejek tentu terpancing amarahnya. Dia menatap penuh akan kebencian terhadap perempuan di depannya itu. “Jal*ang beraninya kau menghina diriku!”


Pria botak dalam sekejap energinya meluap dengan cepat. Hal ini membuat Kaizen dan petinggi pemerintah lainnya melebarkan mata, tentu mereka tahu apa yang ingin dilakukan oleh rekannya itu.


“Ron!” Kaizen berkata dengan nada rendah. Dia tahu bahwa pria botak tersebut tidak bisa bertahan lama lagi. Dirinya juga merasakan hal itu. Kaizen dalam sekejap menyadari situasi yang sekarang dia hadapi.

__ADS_1


“Sepertinya dengan mengikuti jalan yang sama sepertimu, kita dapat menang, Ron!” Kaizen berkata dengan nada penuh rasa percaya diri. Kemudian, energi dalam tubuhnya meluap dengan cepat. Kekuatannya terus meningkat.


Lilia yang melihat hal itu, seketika berhenti dan memandang dengan penuh rasa penasaran. Jelas kekuatan lawan meningkat, akan tetapi dia juga merasakan bahwa orang di depan kelihatan benar-benar tidak bisa bertahan lama.


Ryuto tentu menyadari hal itu, kemudian dia berkata dengan nada rendah. “Mengorbankan diri untuk meningkatkan kekuatan sampai penuh. Orang-orang ini benar-benar terlalu berani.”


Ryuto memandang ke arah depan di mana salah satu dari mereka yang tengah bertarung dengan dirinya itu. “Apakah kamu tidak melakukan sesuatu seperti mereka?”


“Heh, apakah itu perlu. Aku bukan orang selemah mereka!” Raul menjawab dengan senyum seringai di wajahnya. Entah mengapa, dia berbeda dari ketiga pria tua itu. Seolah-olah dia tidak peduli akan nasib tiga rekannya itu.


“Kau memang berbeda dari teman-temanmu itu. Namun, semua itu hanyalah pujian semata.” Ryuto berkata dengan dingin. Meski dia tidak menyukai para pemerintah. Namun, ada yang paling tidak dirinya sukai, itu adalah seorang yang tidak peduli rekannya.


Raul merasakan adanya amarah dari Ryuto. Hal ini tentu membuat dirinya sedikit mengerut karena bingung mengapa lelaki di depan itu marah seketika.


Ryuto dengan keras mengepalkan tangannya. Energi hitam keunguan mulai menyelimuti tangan kanan itu. Lelaki tersebut menatap ke arah Raul dan kemudian melayangkan serangan dengan cepat.


“Boom!” Raul tidak bisa menghindar, dia terbang terbalik ke belakang. Topeng yang menutupi wajahnya seketika terbelah menjadi dua. Hal ini tentu membuat dirinya terkejut dan tahu bahwa wajahnya sudah tidak bisa ditutupi kembali.


Ryuto yang masih menatap ke arah Raul, seketika terpaku dan membeku. Dia tidak bergerak sama sekali karena tahu siapa petinggi pemerintah yang menggunakan topeng tersebut.


Kenangan masa lalu mulai melintas, awal dari pertemuan dengannya sampai menjadi sahabat yang saling percaya satu sama lain.


Ryuto yang tengah mencari sahabatnya itu, sama sekali tidak menemukan jejak dan dia berpikir bahwa teman akrab tersebut telah meninggal dunia.


“Raul...”

__ADS_1


To be Continued.


__ADS_2