System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 37 - Harapan Shina


__ADS_3

Ryuto yang kembali ke masa lalu, ia terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Jelas ia tidak menyangka bahwa dirinya sendiri akan kembali ke masa lalu. Namun, Ryuto mengingat bahwa ia bertemu dengan sebuah bola cahaya putih, lalu mengangguk mengetahui situasinya.


“Tempat ini, ingatan dari sosok bola putih itu. Bisa dibilang pemilik dari lantai pertama ujung kanan sendiri.” Ryuto memandang ke sekitar kembali dan melihat sosok perempuan cantik tersebut.


Perempuan yang menekan tombol panggil, segera mengangkat telepon genggam itu. Ia mendengar suara dari balik telepon, yang membuat dirinya menegang dan berkata dengan nada rendah.


“Baik... Akan kulunasi segera.” Perempuan itu menutup panggilan dan wajahnya berubah menjadi pucat, seluruh tubuhnya gemetar dan air mata yang terbendung mulai keluar.


Ryuto yang melihat itu sedikit mengerti bahwa ia kembali ke masa di mana, tragedi lantai pertama ini dimulai. Namun, ketika ia melihat kalender. Matanya menyipit seolah-olah menemukan sesuatu yang penting.


“10 tahun lalu, kemudian Apartemen lantai tiga, 9 tahun yang lalu. Apakah ini kejadian sebelum, lantai tiga di mulai?” Ryuto bergumam dengan penuh perhatian. Kemudian, ia melihat perempuan itu berjalan menuju ruang makan dan memulai makannya.


Selesai makan, wajahnya masih tetap murung. Namun, ia segera menjadi fit kembali selepas menampar pelan kedua pipinya. “Shina, kamu harus semangat demi Sherena. Aku harus mencari uang untuk membayar utang orang tua dan apartemen ini.”


Shina, itu adalah nama dari kakak perempuan Sherena. Ia berdiri dan mulai berjalan menuju ke kamar. Ryuto sendiri sudah jelas mengetahui masalah yang dihadapi oleh Shina tersebut.


Ryuto melihat Shina turun dan seluruh tempatnya berada mulai berubah. Kali ini di sebuah toko, ia melihat Shina di terima kerja. Namun, Ryuto melihat sekilas bahwa orang yang berada di tempat kerja, memandang Shina dengan seringai.


“Jadi begitu...” Ryuto memandang ke arah label toko tersebut. Ia menyipit dan mengangguk, ia sendiri sudah menghafal nama toko tersebut. Tinggal menunggu dirinya menyelesaikan seluruh ingatan perempuan bernama Shina tersebut, untuk berurusan dengan mereka.


“Nona Shina, untuk merayakan hari pertama kerja Anda. Bagaimana kalau kita semuanya pergi makan-makan?” tanya seorang pria gemuk dengan kepala botak, ia adalah bos dari toko serba tersebut.


“Eh, apakah itu wajib?” tanya Shina, ia sendiri bingung dan sedikit waspada dengan bosnya. Bagaimanapun juga, firasatnya mengatakan bahwa bos tersebut selalu memandangnya dengan aneh.


Ryuto memahami dari situasi tersebut, bahwa Shina sudah mengetahui niat bosnya. Namun, ketika sudah bekerja tiga puluh hari. Shina yang sudah mendapatkan gaji pertama, ingin mengajukan pengunduran diri.


“Apa, kamu ingin mengundurkan diri?” Bos Shina memiringkan kepalanya, jelas sedikit tidak senang dengan pilihan dari Shina tersebut. Namun, ia menyeringai dan mengangguk dengan ringan.

__ADS_1


“Baiklah, semoga kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik!” Bos tersebut menandatangani surat tersebut dan Shina menghela nafas lega bahwa ia sudah lepas dari bayang-bayang firasat buruk itu.


Ryuto kemudian, beralih ke Apartemen lantai pertama lagi. Di mana Shina memberitahu Sherena bahwa dirinya mengundurkan diri. Namun, Sherena terlihat linglung, kemudian sadar kembali.


“Eh... Apakah begitu, kakak! Ah, maaf aku kurang sehat kak.” Sherena berkata dengan nada rendah, seolah-olah ia menyembunyikan sesuatu. Ryuto sendiri mengetahuinya apa yang disembunyikan oleh adik Shina tersebut.


“Jadi, tidak mendapatkan kakaknya. Ia memaksa adiknya ternyata...” Ryuto matanya berkilat penuh dengan cahaya niat membunuh. Apa yang dilihat Ryuto ialah, sebuah mainan yang dikunci dengan beberapa perekat di area milik Sherena.


Ryuto jelas tahu siapa yang melakukan hal itu kepada Sherena. Hal ini karena perekat itu memiliki tempat di mana toko tersebut berada. Ryuto menghela nafas dan mengetahui kejadian selanjutnya.


Hari demi hari, Shina sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus. Namun, tepat saat itulah ia mendapatkan pesan dari nomor yang tidak diketahui. Di saat ia membuka pesan itu, ponselnya jatuh ketika melihat pesan tersebut.


Hanya sebuah gambar, akan tetapi di sana terlihat adiknya diikat dengan keadaan yang mengenaskan. Seluruh tubuhnya penuh coretan, seperti layaknya perempuan sehabis di aniaya secara fisik maupun mental.


Shina menangis keras, ia jatuh depresi dan ia akhirnya mengetahui mengapa adiknya tidak pernah pulang selama ini. Adiknya hanya meminta untuk bayar sekolahnya saja.


Namun, tepat saat ia selesai menangis. Shina sudah tidak memiliki cahaya di matanya, ia tidak tahu siapa pelaku yang melakukan hal itu kepada adiknya sendiri. Ia ingin balas dendam tapi tidak tahu di mana ia balas dendam.


Ryuto menyusutkan matanya, hal ini ia jelas mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Shina selanjutnya. Ryuto menghela nafas dan ia melirik nomor yang mengirimkan pesan gambar itu. Ia juga melihat gambarnya, semuanya direkam dalam ingatan.


Kemudian, perubahan terjadi. Di mana Ryuto berada di suatu tempat yang gelap. Selepas itu sosok Shina muncul di depannya, dengan ekspresi sedih dan penuh akan rasa bersalah. Ia terus berjalan ke arah Ryuto dan menggumamkan kata maaf.


Meski ia depresi, akan tetapi Shina tahu bahwa dirinyalah penyebab dari segalanya. Jika ia selalu ada di dekat adiknya. Jika ia mengetahui keanehan adiknya, ia akan menghentikannya lebih cepat.


Sekarang hanyalah penyesalan, adiknya telah rusak dan tidak diketahui tempatnya di mana sekarang. Mungkin sudah menjadi pemain film dewasa atau dibunuh dan dibuang di lautan.


Ryuto merentangkan kedua tangannya, ia segera memeluk Shina tersebut. Ia paling mengetahui apa yang dibutuhkan perempuan ketika mereka sedang menurun. Itu adalah sebuah dukungan dan sebuah pelukan agar tenang.

__ADS_1


Shina yang tengah berjalan berhenti ketika dipeluk Ryuto. Ia tidak melawan melainkan, membalas pelukan Ryuto dengan lemah. “Semua ini salahku, aku tidak ada di saat dia gelisah. Aku tidak ada di saat dia pergi. Mengapa aku begitu sebodoh ini!”


Ryuto menepuk punggung Shina tersebut. Ia menenangkan perempuan itu dengan lembut. Kemudian, setelah jiwa Shina tenang. Ia baru sadar bahwa ia sekarang berada di pelukan seseorang.


‘Siapa orang ini, juga aku sudah mati dan ia menyelamatkan jiwaku dari kegelapan hati. Namun, pelukannya benar-benar menenangkan. Jika saja aku masih hidup, aku ingin bersamanya.’


Ryuto yang melihat bahwa tempatnya kini bukan lagi kegelapan, melainkan tempat yang memiliki permukaan rumput rendah dan berbagai bunga di sekitarnya. Hal ini membuat Ryuto tersenyum dan tahu bahwa perempuan yang ia peluk sudah tenang.


“Bisakah aku berada di pelukanmu untuk beberapa menit berikutnya... Aku sudah mati dan aku ingin perasaan ini menjadi yang terakhir kalinya kurasakan.” Shina berkata dengan pelan dan malu-malu.


Ryuto tersenyum, akan tetapi ia tertawa kecil ketika melihat bahwa perempuan di pelukannya itu berkata dengan malu-malu. “Jika kamu diberikan kehidupan baru, apa yang akan kamu lakukan?”


Shina memandang ke arah Ryuto, ia melebarkan matanya karena melihat sosok laki-laki yang begitu tampan baginya. Jantungnya berdebar-debar ketika melihat laki-laki itu, ia segera memalingkan wajahnya.


‘Laki-laki ini benar-benar pembunuh wanita!’ batin Shina, kemudian ia mengingat perkataan Ryuto kembali dan menjawab dengan serius. “Aku ingin membalaskan dendam dan menarik adikku kembali. Juga, aku ingin kembali tinggal di Apartemen Ringo.”


‘Sistem, apakah ada sesuatu yang dapat membantunya bangkit?’ Ryuto mengingat bahwa sesuatu yang berada di luar perhitungan dapat dibangkitkan kembali, hal ini juga terjadi di istrinya dulu.


[Sistem mendeteksi adanya keabnormalan di dekat Tuan Rumah.]


[Misi dipicu.]


[Selesaikan masalah Shina dan bangkitkan.]


[Misi : Bantu Balas Dendam Shina.]


[Hadiah : Ramuan Kebangkitan Shina + Kotak Misterius.]

__ADS_1


[Gagal : Dibunuh.]


[Durasi : 5 Hari.]


__ADS_2