System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 79 - Sebelum Kembali


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Hotel Rasy.


Di dalam sebuah kamar, Ryuto tengah mandi sambil mrngingat beberapa istrinya yang belum di selamatkan.


"Enam yang sudah, Lilia, Amy, Yuna, Sayoko, Yui dan Yuka. Tinggal 34 lagi yang belum kudapatkan." Ryuto menghela nafas sambil membasuh rambut hitamnya.


Tak butuh waktu lama, Ryuto menyelesaikan mandinya. Kali ini, ia ingin melihat apa yang berubah dari sistem yang baru saja diperbaharui.


'Sistem, buka fungsi status.'


[+ Status.]


[- Nama : Ryuto Akugawa.]


[- Umur : 18 Tahun.]


[- Mata Mistik : Elang Bertanduk.]


[- Fisik : 2000.]


[- Uang : 100.000.]


[- Keterampilan Khusus.]


[1. Fisik Tidak Lelah. (Lv.Max.)]


[2. Poseidon. (Lv.01)]


[- Keterampilan.]


[1. Manual Tiga Fisik Super. (Lv.05)]


Ryuto yang melihat statusnya sedikit terkejut. Entah apakah ia yang salah lihat atau memang sistem yang salah.


"Keterampilan milikku berkurang?"


[Begitulah, Tuan. Jika Tuan ingin mengembalikan keterampilan sebelumnya, mohon tunggu di dalam check in selanjutnya.]


Ryuto memahami, ia kemudian mengingat hadiah dua puluh kali sebelumnya. "Nah, Sistem... Berarti fisikku sebelumnya hanya 100?"


[Itu benar, Tuan.]


[Tingkat Kekuatan Dunia.]


[- Kelas E : Fisik 1-10.]

__ADS_1


[- Kelas D : Fisik 11-100.]


[- Kelas C : Fisik 101-1000.]


[- Kelas B : Fisik 1001- 10.000.]


[- Kelas A : Fisik 10.001 - 100.000.]


Ryuto yang melihat daftar list tersebut sedikit terkejut, kemudian ia bertanya kembali kepada sistem.


"Kelas B, lalu siapa saja yang termasuk di kelas tersebut?"


[Tidak ada, Dunia kedua ini di bagi menjadi lima wilayah. Seperti pengenalan sebelumnya, Dunia tempat Anda berada lebih luas dari sebelumnya. Hal ini karena setiap ujung tempat akan ada dinding pemisah.]


[Dinding pemisah ini, ialah syarat untuk seseorang melaju ke tempat selanjutnya. Tidak ada yang mengetahui tempat ini, kecuali orang-orang dunia bawah.]


[Tempat ini dikenal sebagai awal, tempat khusus Kelas E, D, dan C saja. Jadi, untuk Tuan rumah sendiri sudah tidak ada lawan di tempat ini.]


Ryuto sedikit lemas, akan tetapi ia mengetahui satu hal, sehingga otaknya berputar dengan cepat. "Jika dibagi menjadi lima, artinya setiap tempat istriku ada di sana!"


[Itu benar, Tuan. Selepas diperbarui. Sistem sedikit mendeteksi bahwa ruang dunia buatan Tuan, telah musnah sepenuhnya. Mengikuti jejak perpindahan istri tuan. Sistem menemukan bahwa mereka dibagi menjadi lima kelompok. Satu kelompok terdiri dari delapan orang.]


Mendengar itu, Ryuto sedikit terkejut. Apa yang dikatakan sistem kemungkinan benar. Istrinya berada di tempat lain, di sisi lain dari dinding pemisah.


"Meski tidak ada lawan tanding, lebih baik terus meningkatkan diri. Inilah jalan satu-satunya yang harus kulakukan!" Ryuto mengepalkan tangannya, tidak peduli apa, ia harus meningkatkan kekuatan untuk melindungi keluarganya sendiri.


Selepas berbicara dengan sistem, Ryuto mulai memakai pakaian santai. Ia sendiri tidak sekedar mandi dan berganti pakaian saja, melainkan menyesuaikan postur tubuhnya untuk beradaptasi dengan cepat.


Ryuto tersenyum masam, ketika mendengar hal itu. "Sepertinya aku belum makan, lebih baik membeli makanan dan membelikan mereka juga makan."


Ryuto keluar dari kamarnya, ia turun dan beranjak pergi dari hotel.


Tak jauh dari tempatnya berada, ada toko serba yang menjual berbagai kebutuhan. Entah itu makanan ataupun peralatan semuanya ada.


Memasuki toko serba tersebut, Ryuto mulai memilih makanan yang akan ia serahkan kepada para istrinya nanti.


Selesai memilih, Ryuto berjalan menuju ke tempat kasir yang tak jauh dari pintu masuk. Membayar semua makanan yang dia beli, kemudian beranjak pergi dari toko serba.


Di sisi lain...


Lilia dan yang lainnya tengah menunggu kedatangan suami mereka. Semenjak awal, mereka sedikit curiga mengapa suaminya pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Apalagi sekarang, sudah memasuki malam hari, yang mana menambah kekhawatiran para perempuan tersebut.


"Saudari Lilia, apakah benar Dia pergi membeli makanan? Mengapa begitu lama, hanya untuk membeli makanan saja?"


"Aku tidak tahu, akan tetapi kita tunggu saja dirinya sampai tiba di mari. Juga, tidak perlu khawatir, karena Dia lebih kuat dari sebelumnya."

__ADS_1


Kepercayaan Lilia hanyalah terlihat di mata semua orang. Namun, dalam hati. Dia benar-benar tidak bisa tenang.


Kecemasan mereka mereda ketika melihat sosok kekar yang tengah membawa makanan penuh di tangannya. Hal ini jelas membuat para perempuan terkejut dan tersenyum tanpa sadar.


'Kami terlalu khawatir.' Inilah pikiran para istri Ryuto sekarang. Entah apa yang mempengaruhi hal itu, hanya satu yaitu trauma akan kehilangan sosok orang penting kembali.


Ryuto memasuki ruang tempat Ash dan Nora di rawat. Dia memandang ke arah para istrinya, lalu alisnya sedikit mengerut. Jelas, dia merasakan para istrinya itu tengah menghela nafas lega.


Serangkaian tindakan tersebut, membuat Ryuto tidak hisa untuk tidak bertanya.


"Mengapa kalian seperti, orang yang akan kehilangan sesuatu?"


Lilia dan yang lainnya menggelengkan kepalanya, mereka tidak ingin merepotkan Ryuto kembali terkait tentang kekhawatiran mereka masing-masing.


"Tidak ada, Sayang. Hanya saja apakah itu makanan untuk kami?"


"Oh, itu benar. Ini makanan untuk kalian semua. Aku hanya membeli bento dan beberapa makanan ringan lainnya."


Ryuto meletakkan plastik yang dia bawa. Kemudian, sorot matanya tertuju ke arah putranya yang tengah duduk di ranjang pasien.


"Makanlah, besok kita akan pergi ke rumah baru." Ryuto memberikan isyarat kepada anak-anak untuk makan. Dia lebih mementingkan anak kecil terlebih dahulu, sebelum istrinya.


Hanya butuh beberapa menit, seluruh makanan habis. Ryuto tidak terlalu terkejut, bagaimana pun juga istrinya pasti akan banyak makan. Sementara anak-anak, mungkin sedikit makan karena mereka masihlah belum cukup untuk makan banyak.


Selepas makan, anak-anak mulai tidur masing-masing. Sementara, para wanita ada yang sebagian berbaring tidur di ranjang rumah sakit. Ada yang berjaga bersama dengan suaminya.


"Nah, Sayang ... Apakah rumah yang akan kita tempati, begitu besar?" Lilia bertanya dengan penuh rasa penasaran. Meski dia menunduk, tetapi Ryuto mengetahui sesuatu hal yang terjadi kepada wanitanya itu.


"Ada apa dengan dirimu? Mengapa kamu bersedih?" Ryuto tidak menjawab apa pertanyaan Lilia, melainkan dia mengajukan pertanyaan balik terhadap wanita tersebut.


"Tidak apa-apa, hanya saja ... Setiap aku tidur. Kejadian itu akan menjadi mimpiku terus-menerus!"


Lilia memandang ke arah Ryuto, air matanya keluar dan suaranya begitu serak dan lirih. Jelas kejadian yang dia alami di dunia buatan benar-benar dalam, sehingga menimbulkan perasaan trauma.


Ryuto menyadari hal itu, dia segera memeluk istrinya itu dan memenangkannya. "Bukankah aku sudah mengatakan untuk tidak terlalu memperdulikan hal itu ... Ada pun, masa depan. Kalian tidak akan merasakan perasaan ini kembali!"


Lilia memeluk erat suaminya, kemudian tenggelam dalam pelukan hangat, sehingga nyaman dan terlelap dalam tidur.


"Apakah Dia sudah tidur?"


"Ya ... aku tidak menyangka efek penyerangan terhadap kalian begitu dalam bagi Lilia."


"Itu wajar, Lilia adalah hal pertama dalam menjadi saudari. Dia memikul tanggung jawab selepas dirimu. Meski kita selalu mengatakan setara, akan tetapi kami memahami urutan."


"Jadi begitu, sepertinya aku tidak akan membuat kalian sendirian kembali. Juga, di tempat ini hanya tersisa dua saudari kalian saja."


Amy yang mendengar itu terkejut, dia tidak menyangka bahwa Ryuto menyadari akan keberadaan saudari lainnya. "Di mana mereka? Biarkan kami yang datang menjemput keduanya!"

__ADS_1


"Tidak perlu, dua perempuan ini ... Akan kutemukan segera!"


To be Continued.


__ADS_2