
Kaizen, seorang pria tua yang merupakan pemimpin pemerintah, akhirnya terjun ke bawah. Banyak pihak lawan yang melihat hal itu dengan saksama.
Namun, yang paling bersemangat ialah Lilia. Lawan yang telah dirinya tunggu akhirnya terjun ke bawah. Hal ini membuatnya segera mengayunkan tangannya dan pedang muncul tepat di tangan kanan.
“Aku akan pergi terlebih dahulu!”
Mendengar perkataan Lilia, semua perempuan mengangguk dan memberinya semangat. Meski mereka tahu bahwa Lilia tidak akan kalah, akan tetapi mereka tetaplah khawatir.
Terjun ke bawah, Lilia dalam sekejap menjadi sorotan berbagai mata pengintai. Mereka semua melebarkan matanya karena melihat perempuan yang sebelumnya pernah bertempur kini ikut turun dalam medan perang.
“Perempuan itu, apakah istri dari Ryuto?” tanya San kepada rekannya.
“Ya, menurut informasi. Perempuan itu kuat dan tidak pernah lelah dalam bertempur.”
Mendapatkan jawaban dari temannya, San menjadi serius. Dia ingin membalaskan dendam dengan membantai para perempuan tersebut segera.
Sementara itu, di tempat para petinggi pemerintah berada. Juga terkejut melihat Lilia turun ke bawah. Mereka tidak menyangka bahwa Ryuto akan memberikan izin untuk istrinya terjun ke medan perang.
“Apakah dia meremehkan Kaizen?”
“Kemungkinan besar begitu! Bajingan itu benar-benar meremehkan kami!”
Pria tua botak dan pria tua tubuh kekar, benar-benar tidak senang dengan sikap yang ditunjukkan oleh Ryuto itu. Namun, berbeda dengan Pria tua bertopeng.
Dia sedikit menyusutkan matanya. Entah mengapa, dia tidak bisa mengukur kekuatan dari istri Ryuto tersebut. ‘Apakah mereka menggunakan aksesoris penghilang deteksi?’
Namun, semakin dirinya mencari. Semakin dia menyadari bahwa kekuatan lawan benar-benar tidak bisa dideteksi dengan mudah.
Hal ini tentu ada tiga sebab. Pertama, lawan tidak memiliki kekuatan. Kedua, kekuatan lawan sudah berada di tingkat atas. Ketiga, penggunaan aksesoris anti deteksi.
Kali ini pria bertopeng menjadi serius karena dia pernah mendengar bahwa Istri Ryuto juga merupakan Red Scarlet yang dulu aktif melawan banyak orang kuat.
‘Sepertinya aku sudah melihat akhir dari pertarungan ini.’ Pria bertopeng sudah mengamati seluruh hal dan dia menghela nafas panjang, seolah-olah membuang masalah di benaknya segera.
Di sisi lain, Kaizen yang sudah melesat ke arah Pasukan Chrono. Dia merasakan kehadiran kuat dalam sekejap. Refleks dan instingnya bekerja cepat, sehingga dia menarik pedang tepat ke arah depan.
“Ding!” Benturan dua logam terdengar sangat nyaring. Kaizen mengerutkan keningnya ketika melihat sosok perempuan cantik tepat berada di depannya itu.
__ADS_1
Tentu pria tua itu mengenal sosok perempuan tersebut, bagaimanapun juga dia telah membaca beberapa laporan tentang lawan.
Mundur dengan cara melompat, Kaizen berdiri tepat di atas reruntuhan rumah. Pedang terhunus ke bawah, kemudian tatapan tajam terarah tepat ke arah depan.
“Apa maumu, Dasar *******!”
Lilia yang menghentikan Kaizen, sedikit tersenyum. Namun, alisnya mengerut tanda tidak senang. Meski dia dulunya ialah pemain artis dewasa, akan tetapi di dunia baru ini statusnya berbeda lagi.
“Lawanmu ialah aku, Pak Tua!”
Lilia tetap tenang, dia juga membalas sapaan dengan setara. Hal ini tentu membuat Kaizen menjadi hitam dan muram.
“Dasar anak zaman sekarang, tidak memiliki tutur kata yang bagus!”
Kaizen mengeluarkan energi berwarna merah. Pakaian yang dia kenakan terlihat berkibar dengan bebas, kemudian energi menyelimuti pedang miliknya.
Mata Kaizen tertutup. Tepat saat dia membukanya kembali sudah berubah menjadi merah. Entah mengapa, pria ini yang sebelumnya yakin dapat mengalahkan Lilia, kini harus menjadi serius.
“Oh, langsung menggunakan Mata Mistis ternyata.” Lilia sedikit tertegun, akan tetapi dia segera menyeringai ketika mengetahui hal itu. Meski dirinya tidak memiliki Mata Mistis, akan tetapi kekuatan serangannya saja sudah cukup untuk mengatasi pria tua itu.
Kaizen tentu tidak menjawab, dia segera melesat ke depan. Tanah di bawahnya terkikis membentuk jalur yang begitu lurus. Udara di sekitar mengeluarkan percikan-percikan api.
Energi putih mulai terlihat, kemudian energi tersebut melapisi seluruh tubuh Lilia dan senjata yang dia kenakan. Tampilan perempuan itu semakin meningkat, kulitnya menjadi semakin cerah.
Tepat saat Kaizen tiba di depan Lilia, dia mengayunkan pedang secara vertikal. Hal ini dibalas lancar oleh Lilia.
“Boom!” ledakan keras terjadi, hal ini membuat kedua orang itu mundur beberapa langkah. Kemudian, melesat maju dan saling menyerang terus-menerus.
Percikan gelombang terus menyebar ke seluruh arah. Hal ini membuat bangunan utuh maupun reruntuhan bergetar hebat.
“Boom! Boom! Boom!” Ledakan demi ledakan terus terjadi. Keduanya tidak berhenti saling menyerang dan mengejar. Pertempuran mereka sangat sengit bahkan beberapa orang yang berada di sekitar keduanya, segera melarikan diri.
Kaizen dan Lilia mundur beberapa meter. Kemudian, Kaizen memasukkan pedangnya ke dalam sarung. Matanya terpejam dan selanjutnya, dia menarik pedang dengan cepat.
“Flame Slash!” Tebasan bilah merah melesat cepat menuju ke arah Lilia. Tentu hal ini tidak membuat perempuan itu panik, justru dia bersiap untuk membalas serangan tersebut.
Lilia mengatur posisi kuda-kuda seorang penyerang pedang. Bilah pedangnya tepat berada di sebelah kepala, dia menutup mata sebentar.
__ADS_1
Tepat saat dirinya merasakan suhu di sekitar meningkat. Lilia membuka mata dan mengayunkan pedangnya dengan cepat ke arah serangan tersebut.
“Light Saber!” Lintasan putih melesat cepat ke arah tebasan pedang merah Kaizen. Dua serangan saling berbenturan dengan cepat dan tepat.
“Boom!” ledakan keras terjadi, tanah di bawah pusat ledakan mulai terkikis membentuk sebuah kawah yang begitu lebar.
Kaizen dan Lilia sendiri mundur ke belakang tertiup oleh gelombang ledakan tersebut. Mereka menjaga posisi berdiri mereka karena hal itu merupakan dasar seorang pendekar.
Selepas itu, keduanya saling memandang. Namun, tepat saat ledakan telah selesai. Kedua orang itu melesat cepat sambil menghunuskan pedangnya masing-masing.
Merah dan putih melesat layaknya garis lurus. Dua cahaya itu berbenturan dengan kuat, kemudian kedua cahaya tersebut naik dan saling bertarung satu sama lain.
Kedua orang itu saling bertarung, mereka berdua saling bertukar serangan satu sama lain tanpa henti.
“Boom! Boom! Boom!” ledakan demi ledakan terus terdengar, bahkan hampir beberapa pasukan berhenti bertarung melihat pertarungan kedua orang itu.
Mereka tidak bisa melihat gerakan keduanya. Hanya bisa melihat ledakan yang mirip seperti kembang api di malam hari.
“Moon Slash!” Tebasan demi tebasan terus dilancarkan oleh Kaizen. Lilia tentu menghindar dan menangkis setiap tebasan yang ada.
“Light Saber!” Berbagai tusukan melesat dengan cepat ke arah Kaizen. Hal ini tentu membuat Pria tua tersebut meningkatkan kekuatannya untuk menghindar dan menyerang balik.
Beberapa menit telah pertarungan telah berlalu. Kaizen dan Lilia berada di jarak yang cukup jauh. Hal ini karena keduanya berada pada bangunan yang berbeda.
Kaizen sendiri sedikit terengah-engah, dia benar-benar mengeluarkan seluruh kemampuan yang ada. Nafasnya belum stabil dan dia masih terkejut melihat kondisi musuhnya.
“Bagaimana mungkin...”
Terlihat Lilia berdiri dengan tenang, dia sama sekali tidak terengah-engah. Bahkan kekuatan dirinya terlihat semakin meningkat.
Lilia sendiri tersenyum, kemudian dia memejamkan matanya dan mulai meningkatkan energi yang terkandung dalam tubuh.
“Bush!” Energi meluap dengan kuat, hal ini tentu dirasakan oleh beberapa orang kuat. Mereka semua merasakan hal itu karena pelepasan energi itu terlalu besar.
Lilia tidak peduli, kali ini tepat di sekitarnya ada bola putih transparan tengah melindungi dirinya.
Tatapan perempuan itu, seketika tertuju ke arah Kaizen. Kemudian dia menyeringai dan berkata ringan. “Mari lanjutkan putaran kedua!”
__ADS_1
To be Continued.