
Silakan Dibaca.
Mendengar perkataan Ryuto, mereka sama sekali tidak bergerak. Bagaimanapun juga, niat membunuh Ryuto terlalu besar untuk mereka terima. Hal ini membuat para preman bergidik ngeri dan ingin berbalik pergi.
Bos preman sendiri menggertakkan giginya dan ia berteriak dengan kencang. “Jangan takut semuanya! Kita akan ada banyak! Lebih baik, segera serang saja! Orang ini hanya menakuti saja!”
Para preman segera tergerak. Mereka meraung penuh semangat. Kemudian dua puluh preman melesat bersama dengan Bos preman sendiri.
Ryuto yang melihat itu menanti kedatangan para preman tersebut. Ia sendiri mengepalkan tangannya, lalu otot-otot miliknya mulai mengeras. Ia berdiri tegak dan menyambut para preman.
Para preman segera tiba dan mereka mengayunkan pedang dan berbagai senjata tajam dengan kejam. Namun, tepat saat senjata tajam mengenai tubuh Ryuto. Suara benturan logam terdengar begitu nyaring.
Dingg!
Para preman melebarkan matanya, begitu juga Bos preman. Mereka tidak menyangka bahwa senjata tajam tidak dapat menembus tubuh Ryuto. Namun, pemandangan yang mereka lihat, benar-benar membuat hati satu persatu preman gemetar.
Apa yang mereka lihat ialah sosok laki-laki yang terlihat seperti monster yang tengah terbangun dari tidurnya. Nafasnya membentuk asap imajiner yang hanya mereka saja yang dapat melihatnya.
Horor, itu jelas. Hal ini karena tatapan mata setajam pisau terarah kepada mereka semua. Otot-otot yang sudah mengeras, mulai bergerak. Suara remukkan tulang terdengar sangat keras dan kuat.
Bagi Rias, pemandangan Ryuto melakukan hal itu. Benar-benar mengingatkan dirinya akan hubungan badan sebelumnya. Ia merasa panas sekarang, entah mengapa tangannya ingin menggelitik bagian bawahnya sendiri.
Reina sendiri juga merasakan hal itu, akan tetapi ia sangatlah polos dan tidak tahu perasaan apa itu. Hanya gatal di bawah, ia ingin menggaruknya agar dapat menghilangkan rasa gatal tersebut. Namun, perasaan itu tidak akan hilang selama ia memandang Ryuto sekarang.
Mio relatif tenang, ia sama sekali tidak berfluktuasi. Bagaimanapun juga, ia sendiri ialah anak kecil. Namun, matanya sendiri bersinar ketika melihat tubuh otot Ryuto yang begitu kuat.
Namun, bagi para preman sendiri. Otot-otot Ryuto yang bergerak jelas itu bukan gertakan semata. Satu ayunan pukulan pasti mereka akan hilang. Hal ini jelas di pikiran mereka masing-masing.
__ADS_1
Para preman melompat mundur, Bos preman sendiri mengeluarkan keringat dingin yang begitu deras. Jelas ia ketakutan, karena baru kali ini melihat orang yang begitu kuat.
“Oh, apakah hanya ini saja?” Ryuto bertanya dengan suara yang begitu kuat, nafas para preman tertahan dalam sekejap. Mereka serasa dicekik oleh udara sendiri.
“Maka sekarang, giliranku!” Ryuto menghilang dari tempatnya. Kemudian, ia muncul di depan salah satu preman yang dekat dengan dirinya. Ryuto mengepalkan tangannya dan berkata, “Satu!”
Boom!
Preman yang terkena pukulan Ryuto terlempar kuat menuju ke arah hutan yang berada di dekat rumah sakit. Entah orang itu akankah masih hidup atau sudah mati. Hal ini tidak ada yang mengetahui.
Para preman yang melihat rekannya diterbangkan, hanya bisa terdiam. Hanya butuh satu detik untuk menerbangkan rekannya itu. Para preman sendiri berpikir, ‘Siapa monster yang di provokasi Bos ini!’
Belum sempat mereka berpikir lebih lanjut, Ryuto terus bermunculan dan menghancurkan seluruh tubuh orang-orang tersebut. Ia hanya butuh dua puluh detik untuk menghancurkan para preman.
Kali ini ia berdiri tepat di depan Bos preman, tatapannya tajam dan bertanya dengan dingin. “Siapa yang memberimu perintah?”
Bos preman gemetar dan jatuh di tanah, ia ketakutan terhadap Ryuto tersebut. Rokoknya sendiri jatuh ke tanah, nyalinya kali ini menciut. Ekspresinya seperti orang idiot yang ketakutan.
“Angkat!” Ryuto berkata dengan dingin, kemudian Bos preman mengangguk panik. Ia segera meraih ponselnya dan mengangkat panggilan orang tersebut. Belum menjawab, Ryuto meraihnya dan berikutnya ia mendengar suara dari balik panggilan tersebut.
“Bagaimana hasilnya! Apakah keduanya sudah ditangkap? Aku sudah tidak sab-“
“Yo, apakah ini cecunguk sampah?” tanya Ryuto, hal ini membuat suara di balik panggilan berhenti dan berikutnya Ryuto berkata, “Duduklah di tempat, aku akan ke sana dan membantai seluruh keluargamu!”
Ponsel Bos preman diremukkan oleh Ryuto dalam sekejap. Kemudian, Ryuto dengan kejam menusuk jantung dari Bos preman itu. Hal ini membuat Bos preman melebarkan matanya.
“Mengapa...”
__ADS_1
“Yah, karena kamu pantas untuk dibunuh. Jadilah baik, di kehidupan selanjutnya.” Ryuto berkata dengan ringan, kemudian ia menendang kuat ke arah hutan. Selepas itu, berbalik dan melihat pemandangan aneh.
Rias dan Reina memerah karena alasan lain dan Ryuto tahu alasan itu karena ia mencium sesuatu di bagian bawah mereka berdua. Namun, Mio sendiri menatap dirinya dengan mata bintang, seolah-olah mengaguminya.
‘Sepertinya aku tidak perlu khawatir dengan mental mereka. Jelas-jelas mereka baru saja melihat orang membunuh, akan tetapi ekspresi mereka bahkan menikmati.’ Ryuto menggelengkan kepalanya dan ia meraih ponselnya, menghubungi seseorang.
Di sisi lain, Vila milik keluarga Argon. Terlihat laki-laki memakai Tuksedo merah tengah menghancurkan beberapa barang di sekitarnya. Ia meraung marah karena suatu hal.
“Bajingan! Berani sekali kau menghinaku!” laki-laki memakai Tuksedo merah itu duduk di sofa dan ia menghela nafas berat. Namun, matanya jelas penuh akan rasa amarah tinggi.
“Akan kutunjukkan apa itu kekejaman dunia kepadamu, Bajingan!” laki-laki memakai Tuksedo merah berkata dengan suara dalam, kemudian ia meraih ponselnya lagi. Namun, saat akan menghubungi seseorang, ada panggilan dari seseorang.
“Ayah?” tanya laki-laki itu, ia jelas bingung, mengapa ayahnya memanggil. Ia mengingat bahwa seharusnya, ayahnya tersebut masihlah bekerja dan tidak bisa diganggu sama sekali.
Laki-laki tersebut mengangkat bahunya dan mengangkat panggilan ayahnya itu. “Ayah, apakah ada sesuatu? Jarang kamu memanggil saat kamu sendiri sibuk.”
“Raul, apakah kamu baru saja menyinggung orang besar?” tanya sebuah suara dari balik ponsel dengan nada yang begitu serak dan dalam. Jelas ia menahan amarah tertentu.
“Menyinggung? Ayah, apa maksudmu?” Raul, laki-laki memakai Tuksedo merah terkejut dengan informasi yang diberikan oleh ayahnya itu. Ia tidak tahu, kapan dirinya menyinggung orang besar, bahkan hari ini ia tidak keluar sama sekali.
“Katakan, apa yang kamu lakukan hari ini!” Ayah Raul menaikkan suaranya, ia jelas mulai terlihat amarah.
“Aku hanya di rumah dan mendapatkan informasi terkait dengan Rias dan Reina, akan tetapi mereka bersama dengan seorang laki-laki...” suara Raul semakin mengecil dan dalam sekejap ia mengubah ekspresinya.
Ayahnya sendiri mengetahui situasinya sekarang. Ia kemudian berkata dengan penuh amarah. “Bajingan! Apakah kamu tahu, bahwa seluruh perusahaan Ayah ditutup karena tindakanmu itu!”
“Jangan pernah, kejar kedua perempuan itu lagi!” Ayah Raul segera menutup panggilan selepas memarahi putranya. Namun, ia tidak tahu bahwa putranya sekarang tengah ketakutan dan gemetar hebat.
__ADS_1
“Aku... Aku akan... Mati!”
To be Continued.