System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 111 - Perang Laserd Guika 1


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Orang yang melaporkan keadaan terkejut, para pasukan segera merespons mendengar teriakan pemimpin mereka. Senjata terangkat dan membidik ke depan. Kemudian, tepat saat sosok hitam muncul. Rentetan peluru dan meriam terus bergema di seluruh medan perang.


Melihat serangan yang begitu banyak, ditambah ledakan yang begitu mengerikan. Banyak pasukan yang memiliki ekspresi semangat. Pikiran mereka hanyalah satu, bahwa orang yang dibombardir senjata tidak akan selamat.


Sementara di bangku para pemimpin, melihat serangan kejam dari para pasukan. Tidak bisa untuk tidak mengerutkan keningnya. Jelas mereka tahu bahwa lawan ialah orang cakap, akan tetapi di bawah rentetan peluru, apakah benar-benar masih selamat? Jika benar, maka lawan adalah orang sulit.


Tepat saat peluru seluruh pasukan habis. Asap di depan mereka semua begitu tebal. Bahkan hutan yang utuh sendiri, hancur di bawah rentetan peluru tersebut.


Para orang pemerintah yang melihat hal itu, seketika mengubah ekspresi mereka. Jelas, jika pihak mereka yang berada di rentetan tersebut. Sama sekali tidak ada yang selamat, kecuali orang-orang itu termasuk orang cakap tingkat yang lebih tinggi.


Banyak yang menonton siaran langsung, terutama orang-orang kalangan atas. Mereka semua tidak ingin melewatkan pertempuran yang akan mengubah pola nasib Negara Guika nantinya.


Tatapan seluruh orang terfokus ke arah asap tebal yang kian menghilang. Di dalam asap, perlahan-lahan mulai muncul bayangan hitam yang begitu besar.


Dalam sekejap, orang-orang yang melihat itu gemetar ketakutan. Terutama selepas mendengar suara sosok bayangan tersebut.


“Sambutan yang meriah!” Asap perlahan meledak dan menghilang dari tempat. Kini akhirnya nampaklah sosok Ryuto yang tengah menyeringai. Tubuh dan pakaiannya sendiri utuh, tidak ada kerusakan sama sekali.


Seluruh orang melebarkan mata mereka satu persatu. Jelas tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun, ketika mendengar suara orang tersebutlah mereka akhirnya tahu, bahwa semua itu bukanlah mimpi.


“Waktunya giliranku!”


Selepas mengucapkan hal itu, Ryuto melesat dengan cepat ke arah para pasukan. Ia tidak terlalu peduli dengan nyawa orang di depan. Seratus ribu orang, diantar menuju ke gerbang neraka.


Dalam sekejap, Ryuto tiba di salah satu prajurit. Ia menendang kepala orang itu, berharap dapat meluncur ke belakang. Namun, ia salah karena kepala prajurit tersebut meledak seketika.


Darah dan organ berceceran mengenai tubuh rekan prajurit tersebut. Seluruh pasukan gemetar ketakutan melihat kejadian itu. Namun, mereka tidak bisa linglung. Senjata kedua terangkat dan membidik kembali.


Rentetan peluru terdengar untuk kedua kalinya. Namun, kebodohan mereka adalah medan sekarang bukanlah area kosong. Melainkan area di mana teman mereka ada di sekitar.


Ryuto dengan halus menghindari seluruh peluru. Ia dapat melihat lintasan tembakan tepat mengenai rekan lawan sendiri. Jelas ini memudahkan dirinya untuk mengurangi para pasukan.


Para pemimpin yang duduk di barisan belakang, benar-benar terpana melihat beberapa pasukannya menembak ke rekan sendiri. Hal ini jelas merupakan kesalahan dan pembunuhan diri sendiri.


“Hentikan tembakan kalian!”

__ADS_1


Teriakan keras dilakukan oleh salah satu pemimpin pasukan, tetapi teriakan itu masih kalah dengan siulan peluru panas yang terus melesat keluar dari moncong senjata api.


Para pemimpin jelas geram melihat adegan di depan matanya itu. Sementara orang-orang pemerintah hanya tersenyum dan masih terkejut di dalam hati.


Semenjak awal pertempuran, mereka tidak bisa mengubah perasaan terkejut mereka. Jelas, apa yang dilihatnya sedikit mustahil, meski orang yang menjadi lawan ialah orang cakap.


“Sepertinya kita masih meremehkan orang ini!” Luck berkata dengan nada penuh kebencian, matanya memerah dan siap untuk terjun dalam medan perang.


Di sisi lain, peluru akhirnya berhenti dan teriakan pemimpin pasukan akhirnya terdengar. Namun, para prajurit masih dalam keadaan horor melihat rekannya sendiri terbaring lemah di tanah.


Jelas jumlah kematian prajurit sudah mencapai angka puluhan ribu. Hal ini perlahan-lahan membuat psikologis para prajurit mulai menurun.


“Semuanya menyingkir!” Mendengar teriakan tegas tersebut, para pasukan segera memandang ke belakang dan mata mereka melebar. Selepas itu, seluruh pasukan segera menyingkir dari dekat Ryuto.


Apa yang para pasukan lihat ialah meriam bertenaga nuklir tengah terpampang di belakang. Jelas, meriam tersebut dalam keadaan siap diluncurkan.


Melihat seluruh pasukan sudah menghindar. Sepuluh prajurit yang menahan meriam tersebut, segera melepaskan tembakan.


“Mati kau!”


Sinar cahaya terkonsentrasi penuh ke arah dalam meriam. Selanjutnya, gemuruh listrik mulai terdengar. Diiringi dengan ledakan keras, cahaya biru melesat lurus ke arah Ryuto berada.


Seluruh pemimpin pasukan baik itu Laserd maupun Pemerintah terkejut melihat reaksi dari Ryuto. Mereka semua tidak menyangka bahwa meriam nuklir yang dapat menghancurkan seperempat negara, akan ditahan dengan sebuah kepalan tangan.


“Apakah dia benar-benar gila!” Salah satu pemimpin pasukan Laserd berteriak dengan keras. Jelas mereka menganggap Ryuto sudah gila karena menghentikan meriam dengan pukulan.


Di bawah tatapan ejekan dan hinaan seluruh orang. Ryuto mengayunkan kepalan tangannya ke arah Meriam Nuklir. Dua serangan saling berbenturan satu sama lain.


Boom!


Ledakan keras menggetarkan tanah medan perang. Seluruh pasukan dan para pemimpin menutup mata mereka masing-masing. Hal ini karena ledakan tersebut menghasilkan cahaya yang begitu menyilaukan.


Detik selanjutnya, cahaya perlahan meredup dan asap tebal membumbung tinggi ke langit. Di saat seluruh orang membuka mata. Mereka melihat kawah yang seukuran dengan ledakan batu meteorit.


Besar dan dalam, bahkan kedalamannya sendiri tidak bisa dilihat oleh mata mereka masing-masing. Namun, bagi orang yang memiliki mata mistis tipe pengindraan. Mereka dapat melihat ujung jurang tersebut.


Kali ini seluruh orang yang memiliki mata mistis pengindraan, segera melihat ke bawah dan seketika membeku di tempat. Ekspresi mereka yang bersemangat kian mulai berubah pucat.

__ADS_1


Jelas apa yang masing-masing orang itu lihat tidak sesuai dengan harapan dan tebakan mereka.


“Bagaimanapun hasilnya, pasti Ryuto itu telah mati. Aku tidak menyangka bahwa ia mati dengan konyol!”


“Pft, ahahaha. Kamu benar Noah. Aku tidak menyangka orang yang dijuluki berbahaya benar-benar mati konyol.”


Dua orang pemimpin pasukan pemerintah dan beberapa rekan lainnya juga tertawa. Namun, Luck sendiri tidak karena ia melihat ekpsresi tak wajar dari rekan yang memiliki indra tajam.


“Lim, apa yang kamu lihat di bawah sana? Apakah orang itu benar-benar mati?”


Lim yang merupakan orang memiliki mata mistis pengindraan, segera tersadar dari rasa takut. Ia memandang ke arah Luck dan rekan lainnya, kemudian sejumlah butir keringat dingin muncul di keningnya.


“Orang itu, tidak lebih tepatnya Ryuto. Ia benar-benar selamat tanpa ada goresan sedikitpun!”


Seluruh orang melebarkan matanya, jelas mereka tidak percaya mendengar ucapan dari Lim. Namun, Luck yang duduk di depan sendiri tetap tenang karena ia sudah mengetahui hal itu.


Luck dapat merasakan bahwa kekuatan Ryuto tidaklah mudah, hal ini karena di saat pukulan diayunkan. Ia dapat merasakan tekanan berat di kepalan tangan tersebut.


‘Entah mengapa, tekanan yang dibawa oleh Ryuto lebih tinggi daripada empat orang tua itu. Apakah kita dapat selamat akan pertempuran ini?’


Entah mengapa Luck memikirkan keberhasilan misi yang ia jalankan kali ini. Namun, beberapa saat kemudian. Luck menggelengkan kepalanya. Ia jelas tidak memiliki jalan untuk bertarung melawan monster nyata.


“Kita mundur, lawan bukanlah hal bagus. Namun, aku sarankan kalian untuk berpencar ke tempat lain.”


Mendengar ungkapan Luck, seluruh pemimpin pasukan pemerintah terkejut. Mereka tidak menyangka orang terkuat di kelompok mengatakan hal itu.


“Luck, apa yang kamu katakan barusan?”


“Luck, apakah ada sesuatu yang membuat dirimu mundur?”


Luck yang mendengar pertanyaan rekannya, seketika mengangguk. “Ryuto ini bukan orang yang dapat kita kalahkan untuk sekarang. Juga, jika kita mundur menuju ke Istana Pemerintah. Maka kita akan mati di sana karena gagal misi. Jalan satu-satunya ialah mengubah wajah dan pergi keluar dari wilayah ini.”


Para pemimpin pasukan pemerintah mengubah ekspresi mereka dalam sekejap. Tidak ada penolakan karena tahu bahwa diri mereka sendiri lemah dan tidak dapat melawan orang seperti Ryuto.


“Atau,” Luck memandang ke arah kawah, kilasan cahaya melintas di matanya. “Kita bergabung menjadi pasukan Ryuto dan menerima pelatihannya. Entah mengapa, aku merasakan masa depan tanpa batas di sana.”


To be Continued.

__ADS_1



__ADS_2