
Silakan Dibaca.
Kota Sinha.
Di dalam kawah yang besar. Ryuto tengah memandang ke arah mayat para pasukan Laserd. Ia hanya tersenyum santai dan berkata, “Tersisa beberapa pasukan yang berada di atas. Sekarang, waktunya untuk membuka penghalang!”
Penghalang yang terpasang di jurang, perlahan mulai menghilang. Hal ini menimbulkan sensasi di pihak Pemimpin Pasukan Laserd. Mereka secara cepat melihat apa yang terjadi di bawah sana.
Tepat saat satu orang pemimpin pasukan yang memiliki mata mistis pengindraan melihat di bawah. Ia membeku di tempat yang membuat mata seluruh pemimpin pasukan penuh akan rasa penasaran.
“Dolf apa yang terjadi di bawah sana!” Roy yang melihat ekspresi tak wajar dari Dolf. Seketika berteriak dengan keras. Hal ini bertujuan agar rekannya itu dapat bangun dari linglung.
Dolf yang membeku seketika sadar kembali. Ia memandang ke arah Roy dan rekan lainnya. Ekspresi wajahnya berubah menjadi pucat dan sedih. Hal ini membuat para pemimpin pasukan memahaminya.
“Semua … baik pasukan kita, Dai dan Max juga. Semuanya telah dibunuh oleh Ryuto seorang!” Dolf menyampaikan berita itu dengan berat hati. Jelas ia tidak tega mengatakan hal itu.
Ekspresi para pemimpin pasukan segera berubah. Semula yang penuh akan rasa penasaran, kini berganti menjadi kemarahan dan kesedihan.
“Sekarang pasukan kita tersisa 30.000. Banyak yang jatuh ke dalam kawah dan hanya tersisa pasukan pinggir kawah saja.” Sen mengatakan situasi pihak dirinya sekarang.
Roy yang mendengar itu sedikit tenggelam, jelas ia tidak menyangka bahwa 70.000 pasukan telah meninggal di dalam kawah besar tersebut.
“Seharusnya kita bisa menang. Ryuto ini sekarang kemungkinan besar telah kehabisan banyak energi.” Satu orang pemimpin pasukan bernomor tiga mengatakan kondisi yang seharusnya di derita lawan.
Roy yang mendengar hal itu, matanya seketika bersinar. Jelas apa yang tidak dirinya pikirkan adalah kondisi Ryuto. “Ya, itu benar. Rum apa yang kamu katakan ada benarnya. Seharusnya ia kelelahan dan ini adalah waktu yang cocok untuk mengalahkan dirinya.”
Roy benar-benar setuju dengan ucapan dari Rum. Namun, Dolf yang memiliki persepsi terkuat, hanya bisa menggelengkan kepala dan berkata dengan suara berat.
“Tidak mungkin!”
Perkataan Dolf tersebut membuat seluruh orang pemimpin pasukan memandangnya. Mereka mengerutkan kening ketika mendengar hal itu.
“Dolf, apa yang sebenarnya kamu lihat, selain kematian rekan kita?” Sen bertanya sambil memandang ke arah temannya itu.
Sementara itu, Dolf yang mendengar pertanyaan tersebut. Seketika ia menunduk dan berkata dengan suara berat. “Apa yang kulihat ialah Ryuto yang masih berdiri dengan tenang tanpa ada kekurangan apapun.”
__ADS_1
Mendengar hal itu, ekspresi setiap pemimpin pasukan menjadi stagnan. Mereka jelas terkejut dan tidak bisa untuk tetap tenang.
“Apa yang kamu katakan itu, adalah benar?” Sen sedikit gemetar, ia benar-benar terkejut selepas mengetahui hal itu. Dirinya bingung, mengapa orang yang sudah menghadapi begitu banyak orang masih tetap berdiri dan ekspresinya tenang.
“Ya,” jawab Dolf sambil memandang ke arah para pasukan yang tengah berkumpul di depan jalan masuk menuju ke kediaman.
Seluruh pemimpin pasukan menghela nafas berat. Kali ini lawan mereka tidak semudah seperti biasanya. Satu persatu saling memandang, akan tetapi tidak ada yang berucap kembali.
Di tengah kebingungan para pemimpin. Satu anak buah bergegas ke arah mereka dengan cepat. Terlihat dari langkah kaki orang itu jelas terburu-buru ingin menyampaikan sesuatu.
“Ketua! Ketua!”
Teriakan itu terdengar di telinga masing-masing para pemimpin pasukan. Kemudian, pandangan mereka satu persatu segera beralih ke arah sosok prajurit tersebut.
“Apakah ada sesuatu?” Roy bertanya terlebih dahulu, ekspresi wajahnya yang kusut kini berubah menjadi serius. Dia sendiri ingin melihat apa yang ingin disampaikan oleh anak buahnya itu.
“Dari Hutan yang sebelumnya dilewati oleh Ryuto. Ada kelompok yang berjumlah ribuan orang. Mereka semua dipimpin oleh enam perempuan cantik!”
Seluruh pemimpin Pasukan Laserd melebarkan matanya. Jelas mereka terkejut akan kehadiran sosok aneh itu.
“Ya, jumlah mereka banyak. Namun, aku menemukan informasi terpenting!”
Dolf mengatakan dengan ekspresi keseriusan. Sepotong informasi lawan dapat membuat seseorang yang kuat akan tumbang dalam sekejap.
“Mereka semua berasal dari kelompok Ryuto!”
Seketika seluruh pemimpin pasukan melebarkan matanya. Mereka terkejut dengan informasi yang diberikan oleh Dolf tersebut.
Roy memandang jauh ke arah hutan yang sudah kehilangan pohon. Ia dapat melihat bahwa terdapat banyak sosok hitam tengah melintas menuju ke medan perang.
Seluruh pemimpin pasukan memiliki ekspresi tak wajar. Namun, Roy yang melihat para kelompok itu. Seketika ia merasa ada jalan untuk menuju kemenangan.
“Perintahkan seluruh pasukan, kini kita akan bertempur dengan mereka! Berikan pukulan paling fatal terhadap para perempuan itu!”
Perintah Roy tidak ada yang menantang. Entah itu orang yang menjadi anak buah maupun pemimpin. Semua tidak menentang dengan hal itu. Melainkan mereka mendukung dan segera bertindak.
__ADS_1
“Roy, kita akan pergi secara bersamaan.” Sen berkata dengan nada rendah dan Roy mengangguk paham.
Selepas semua orang telah bersiap. Pandangan mereka tertuju ke arah depan, di mana hutan yang gundul tersebut berada. Mereka harus segera membunuh kelompok itu, agar membuat Ryuto terlelap dalam kegelapan. Itulah tujuan dari Roy sendiri.
Di sisi lain, Ryuto yang tengah berada di dalam kawah. Juga merasakan kedatangan istri dan para pasukannya. Namun, ia mengerutkan keningnya ketika melihat reaksi dari lawan.
“Jadi begitu ... mereka tidak datang kepadaku melainkan ingin melenyapkan para istri dan pasukanku.”
Ryuto tersenyum ringan, ia tidak menyangka bahwa lawan akan menggunakan taktik serendah itu. Namun, dirinya juga tidak terlalu khawatir karena semua istri dan pasukan, telah dilatih sangat keras.
“Ya, kalau begitu saatnya keluar dan melihat pertempuran itu.” Ryuto memandang ke arah luar, kemudian matanya menyipit dan ia sudah menemukan tempat yang cocok untuk menonton.
Di sisi lain, hutan yang luas telah kehilangan banyak pepohonan. Hal ini karena rentetan peluru yang digunakan untuk mengatasi satu orang. Dampak dari peluru tersebut, sangat besar sehingga mempengaruhi sekitar.
Ada enam perempuan tengah melintas di ikuti banyak orang. Mereka semua menatap ke arah depan, di mana lubang layaknya jurang perlahan mulai terlihat.
Lilia yang memimpin seluruh orang, sedikit terkejut. Namun, tidak tampak di permukaan. Jelas ia bingung mengapa ada lubang yang begitu besar dan begitu dalam.
“Apakah Ryuto berada di dalam sana?” Lilia memiringkan kepalanya, kemudian ia menggelengkan kepala. Meski pikirannya benar, akan tetapi lebih baik fokus ke arah lawan.
“Zero, ada sekitar berapa orang di posisi lawan?”
Zero yang tepat berada di belakang Lilia, segera menjawab dengan serius. “Ada sekitar 30.000 orang. Namun, seharusnya mereka ada 100.000.”
Mendengar perkataan Zero, senyum indah terukir di wajah Lilia. Ia jelas mengetahui pelaku dibalik menghilangnya orang-orang tersebut.
“Yah, kemungkinan mereka sudah dihabisi oleh Ryuto.” Amy yang berada di dekat mereka menjawab dengan ringan. Ia sedikit tertekan karena lawan kecil tersebut telah diambil alih oleh suaminya.
Zero dan para pemimpin pasukan lainnya terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa istri tuannya memiliki penilaian yang begitu tinggi.
“Jangan terlalu dibawa pemikiran, kali ini kita akan berperang dan fokuslah!” Lilia berkata tegas kepada para pemimpin pasukan tersebut.
“Baik, Nyonya!”
To be Continued
__ADS_1