
Serbuan para bandit tidak membuat seluruh Istri Ryuto gentar. Mereka semua menatap ke arah hutan dengan senyum di wajah, kemudian mereka mendengar suara di belakang.
“Aku tidak menyangka kalian sudah berada di sini terlebih dahulu.”
Mendengar suara tersebut, para perempuan menatap ke arah belakang. Senyum mereka semakin melebar ketika melihat sosok yang paling dikenalnya itu.
“Sayang!”
Ryuto yang tiba membalas senyuman mereka, kemudian tatapannya tertuju ke arah hutan. Debu yang bertebaran kini sudah dekat, tanda bahwa para bandit hampir tiba sebentar lagi.
“Sepertinya mereka akan segera tiba. Persiapkan diri kalian, juga bunuh saja. Jangan sampai ada yang tersisa.”
“Kamu sendiri mau pergi ke mana, Sayang?”
“Markas mereka!”
Mendengar tujuan dari suaminya itu, para perempuan seketika mengangguk paham. Satu persatu dari mereka tahu bahwa ada sesuatu di markas para bandit yang membuat suaminya itu tertarik.
“Hati-hati.”
“Kalian juga, meski mereka lemah. Mungkin ada trik tertentu yang mereka lakukan. Jika, mereka menyandera seseorang. Abaikan yang disandera itu.”
Ryuto sudah memikirkan apa yang akan dilakukan oleh para bandit nantinya. Jika mengetahui bahwa diri mereka tidak bisa mengatasi para istrinya itu.
“Tenang saja, kami sudah memahami situasi yang akan terjadi nantinya.” Lilia berkata dengan percaya diri. Dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama kembali.
Ryuto yang melihat kepercayaan diri itu, tersenyum senang. Dia kemudian mengangguk dan melesat menuju ke dalam hutan sambil menggunakan kekuatan menghilang.
Tepat saat Ryuto menghilang, para bandit pun tiba. Mereka semua berhenti tepat di depan barisan para perempuan yang menghalangi pintu masuk menuju ke Desa Molov.
Bos bandit mengerutkan keningnya. Namun, satu orang berjalan dari belakang sambil berkata, “Mereka adalah istri dari Ryuto itu, Bos!”
Mendengar ucapan anak buahnya. Bos bandit menyeringai, kemudian dia menebak asal. “Apakah mereka menyerahkan diri begitu saja? Benar-benar sangat mudah.”
Para bandit sendiri tertawa keras ketika mendengar hal itu, mereka merasa bahwa para perempuan Ryuto tidak ada apa-apanya.
“Hahaha, jadi mereka menyerah begitu saja.”
__ADS_1
“Tidak sesuai dengan rumor yang katanya hebat!”
Mendengar apa yang dikatakan para bandit tersebut, semua Istri Ryuto mengerutkan keningnya. kemudian, Nanami yang malas mendengar tawa jelek mereka, seketika mengeluarkan belati dan melemparkannya ke arah kepala satu bandit.
“Jleb!”
Suara tusukan yang begitu renyah, terdengar di telinga seluruh bandit. Mereka semua benar-benar terkejut dan matanya melebar. Satu persatu menatap ke arah rekan yang tertusuk tersebut.
“Kalian semua banyak bicara, mengganggu pandangan saja.” Nanami berkata dengan dingin, sambil menatap ke arah para bandit tersebut. Dia sama sekali tidak peduli dengan bandit yang mati itu.
Dalam sekejap, para bandit menatap ke arah Nanami dengan marah. Mereka semua meraung keras sambil melesat maju untuk membunuh perempuan itu.
“Dasar *******!”
Para perempuan tersenyum ketika melihat hal itu, mereka semua juga melesat ke depan.
Bos bandit sendiri terkejut ketika melihat kecepatan dari tiga belas perempuan tersebut. Dia tidak menyangka bahwa perempuan-perempuan itu memiliki kekuatan yang besar.
“Sepertinya rumor itu tidak palsu.” Bos bandit memiliki wajah gelap. Dia tahu bahwa hanya ada satu jalan yaitu ancaman. “Bawa sandera yang terdapat di markas! Kita tidak bisa menghadapi peremp-“
Bandit lainnya juga terkejut akan kehadiran sosok perempuan itu. Mereka segera sadar dan mengayunkan pedang mereka masing-masing. Namun, gerakan bandit itu sangat lambat.
Lilia yang melihat serangan dari para bandit, hanya mengayunkan kaki dengan keras. Kemudian, seluruh pedang yang berada di tangan bandit patah seketika.
“Clang!”
Melihat tendangan yang begitu kuat, para bandit menelan ludah mereka masing-masing. Namun, sebelum mereka bersuara. Ayunan kaki lainnya datang dan memutuskan leher para bandit dari tubuhnya.
“Slash!”
Lilia benar-benar galak, dia tanpa ampun membasmi barisan belakang para bandit. Dia tidak segan-segan membunuh. Hanya butuh waktu sebentar, bagian belakang telah berubah menjadi lautan mayat.
Darah berceceran di mana-mana, kepala dan tubuh terpencar di mana pun tempatnya.
Bos bandit yang melihat hal itu gemetar ketakutan. Dia juga melihat sisi kanan dan kiri, bahkan sisi dekat dengan Desa Molov. Semua anak buahnya mati tanpa kepala.
“Bagaimana bisa begini....” Bos bandit memiliki ekspresi wajah pucat, dia tidak menyangka bahwa seluruh anak buahnya mati dalam sekejap.
__ADS_1
Semula mereka senang dan tertawa bersama, kali ini berbeda dengan pikiran sebelumnya.
Para perempuan saling memandang dan menghela nafas tak berdaya, Lilia sendiri menatap ke arah bos bandit itu dengan dingin.
“Aku tidak menyangka bahwa Desa Molov ternyata takut dengan sekumpulan sampah.” Lilia sendiri merasa tidak puas bertarung dengan para orang-orang yang lemah tersebut.
Seluruh perempuan itu juga merasakan hal yang sama. Mereka mengira bahwa para bandit dapat melakukan perlawanan yang bagus. Namun, sama sekali tidak ada.
“Matilah!” Lilia mengayunkan tangannya secepat kilat, dia memenggal kepala bos bandit itu tanpa ampun. Bahkan, bos bandit itu sendiri belum mengucapkan sepatah kata pun.
“Biarkan para warga Desa Molov yang membersihkan mayat-mayat ini.” Amy berkata sambil melirik ke arah para tubuh dan kepala yang terbaring di tanah.
“Itu benar, Sherena aku minta tolong kepadamu untukmu menemui kepala desa bersama dengan Sayoko dan Sasha.” Lilia berkata lembut, membuat ketika perempuan yang dipanggil namanya itu mengangguk.
“Selepas itu kalian menyusul kami ke markas atau tetap di desa, itu terserah kalian.” Amy melanjutkan ucapan Lilia.
“Ya, kami mengerti.” Ketiga perempuan tersebut segera menghilang. Sedangkan, Lilia dan perempuan sisanya berbalik pergi menuju ke tempat suaminya itu berada.
Di sisi lain, Ryuto yang tengah memasuki markas para bandit seketika mengerutkan kening. Hal ini karena bau yang terdapat di tempat itu begitu menyengat.
Ryuto dengan cepat mencari sumber dari bau tersebut, kemudian dia melihat berbagai sangkar besi berbentuk persegi. Ada yang ditutup oleh kain putih dan ada yang tidak ditutupi kain.
Lelaki itu memfokuskan diri terhadap sangkar yang tidak ada kainnya. Kemudian, matanya melebar karena di sana ada sekelompok perempuan yang tengah terbaring tanpa busana. Mata mereka semua kosong seolah-olah tidak ada kehidupan selanjutnya.
“Benar-benar tercela!” Ryuto menggertakkan giginya, dia segera melesat ke sangkar besi tersebut dan memotong jeruji besi tersebut.
“Slash!” Sekelompok perempuan yang berada di dalam terkejut akan hal itu, mereka segera menatap ke arah satu sosok laki-laki yang tengah berdiri tak jauh dari sangkar.
“Siapa kau! Pergilah dari tempat ini atau para orang-orang busuk itu akan kembali dan membunuhmu!” satu perempuan berteriak memperingatkan lelaki tersebut.
Namun, Ryuto merasa kasihan ketika mendengar hal itu. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Kalian selamat, para bandit itu sudah dibunuh. Jadi jangan khawatir.”
Mendengar hal itu, semua perempuan tentu memiliki ekspresi tak percaya. Namun, melihat kekuatan lelaki tersebut yang dapat menghancurkan sangkar hanya dengan tendangan saja. Entah mengapa, mereka mengubah ekspresi menjadi senang.
“Selamatkan mereka terlebih dahulu.”
__ADS_1