System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 12 - Beruang Merah


__ADS_3

Silakan Dibaca.


“Baik, Tuan Muda!” Megu dan Rias berkata dengan nada senang. Entah mengapa sifat mereka berdua sedikit berbeda dari sebelumnya.


Ryuto sendiri belum menyadari akan hal itu, ia mulai naik ke atas kembali. Begitu juga kedua pelayan pribadinya tersebut. Ketiga orang tiba di atas kembali di tempat batu berbentuk manusia berada.


Tepat saat mereka tiba di permukaan atas, tanah yang hancur mulai pulih kembali dan seluruh batu berbentuk wajah manusia mulai berubah warna menjadi gelap.


Ryuto dan kedua pelayan pribadinya sedikit terkejut. Namun, mereka segera sadar kembali dan mulai menenangkan hati mereka masing-masing.


“Tuan muda, apakah kita akan bermalam di sini?” tanya Megu dan Ryuto membalas dengan anggukan.


“Ya, kita akan bermalam di sini. Seharusnya ada makanan yang cocok untuk kita makan saat malam hari,” jawab Ryuto sambil memandang ke arah sekitar.


Megu sendiri mengangguk dan ia memandang ke arah Rias. Sementara Rias yang dipandang, mulai memperhatikan Megu.


Keduanya mengangguk bersama, kemudian bergerak di padang rumput tersebut untuk mencari makanan berupa daging kelinci.


Ryuto sendiri tidak tahu apa yang sedang kedua pelayannya lakukan. Ia sekarang menyusuri hutan terdekat untuk mendapatkan kayu bakar. Levelnya kini meningkat dan ia bisa menguatkan tangannya tersebut.


‘Sistem, buka statusku.’


[Status.]


[- Nama : Ryuto Akugawa.]


[- Umur : 20 Tahun.]


[- Warisan :]


[Singa Merah.]


[Poseidon.]


[- Level : 1]


[- Kekuatan : 33.]


[- Ketahanan : 32.]


[- Kecepatan : 31.]


[- Kecerdasan : 32.]


[- Keuangan: 10.000.]


Dengan dua kekuatan tersebut, ia benar-benar menjadi kuat. Ryuto dengan cepat menebang lima pohon dan membawanya kembali ke tempat semula.

__ADS_1


Namun, di saat ia mengangkat salah satu pohon tersebut. Raungan yang menggelegar terdengar di seluruh pulau. Raungan itu begitu keras, membuat Ryuto memandang ke arah asal suara itu.


Terlihat beruang berwarna merah dengan cakar dan bulunya dilapisi oleh api yang berkobar setiap saat. Mata merah cerah beruang terlihat memadat dan penuh akan ancaman.


Ryuto sama sekali tidak peduli, ia sendiri sudah cukup kuat untuk bertarung melawan beruang seperti di depannya itu.


Ryuto menaruh pohon yang baru saja ia tebang tersebut, pandangannya terarah dan fokus ke arah Beruang Merah tersebut. Ia mengepalkan tangannya dan berikutnya ia melesat dengan cepat ke arah Beruang Merah berada.


Beruang merah memancarkan niat membunuh, ia juga dengan cepat melesat ke arah Ryuto. Tiba di tengah, Beruang merah menyerang dengan cakarnya.


Ryuto menghilang dalam sekejap, kemudian muncul di depan perutnya. Namun, cakar lain Beruang merah muncul menyerang ke arah Ryuto.


Ryuto tidaklah bodoh, ia segera melompat dan berputar di atas serangan Beruang merah. Detik berikutnya, tepat saat ia kembali mendarat, ia segera melesat dan memukul tepat perut dari beruang merah tersebut.


Bughh!


Beruang merah membuka mulutnya lebar-lebar, kemudian terbang terbalik ke arah belakang. Ia benar-benar tidak dapat bergerak dan terus terbang mengenai berbagai pohon.


Tujuh pohon tumbang dalam sekejap karena tabrakan Beruang Merah tersebut. Ryuto sendiri segera melesat, ia tahu bahwa serangan biasa seperti itu, tidak akan melukai Beruang merah begitu saja.


Tepat dengan perkataan Ryuto, beruang merah mulai bangkit kembali. Sinar cahaya melintas di matanya, niat membunuh mulai terpancar dan mengarah ke tempat Ryuto berada.


Ryuto menyadari niat membunuh tersebut, ia juga mengeluarkan niat membunuhnya yang lebih kuat dibandingkan milik beruang merah tersebut.


Beruang merah membeku di tempat, ia tidak dapat membalas paksaan mental dari Ryuto tersebut. Beruang merah meraung penuh akan rasa sakit.


Aura menyembur keluar begitu saja, tepat saat dirinya tiba di depan beruang merah. Ryuto mengayunkan kepalan tangan dengan cepat.


Boom!


Raungan beruang merah memekik, kemudian matanya semakin buram dan tak butuh waktu lama. Matanya tersebut terpejam, lalu nafasnya semakin menurun dan berakhir hilang.


Ryuto terduduk di tanah, ia menghela nafas lega ketika melihat beruang merah terbunuh tepat di depan matanya. Ryuto tersenyum dan suara sistem mulai terdengar kembali.


[Selamat, Level Tuan Rumah meningkat.]


[Selamat, Level Tuan Rumah meningkat.]


[Selamat, Level Tuan Rumah meningkat.]


[Selamat, Level Tuan Rumah meningkat.]


[....]


Ryuto yang sedikit merasa kelelahan, mulai beristirahat sebentar. Kemudian, ia mendengar teriakan dua sosok perempuan dari belakangnya.


“Tuan muda!” teriak Megu dan Rias, mereka berdua benar-benar khawatir tentang ledakan sebelumnya, mereka yakin bahwa ledakan tersebut akibat pertarungan.

__ADS_1


Megu dan Rias tiba di tempat kejadian, mereka melihat Ryuto duduk di samping beruang merah. Kedua perempuan bergegas melesat ke arah tempat tuan mudanya tersebut.


“Tuan muda, apa yang terjadi dan mengapa ada beruang yang tertidur di tempat ini?” tanya Megu, ia bingung dengan apa yang terjadi di depannya tersebut.


Rias sendiri segera melihat ke atas tubuh beruang merah. Ia melihat kepalan tangan terbentuk di tubuh beruang merah itu. Rias segera menyimpulkan kejadian yang terjadi di tempat. Pandangannya segera terarah ke tuan mudanya.


“Tuan muda, apakah ini Anda yang melakukannya?” tanya Rias dengan tubuh yang gemetar. Ia jelas tahu kondisi fisik dari tuan mudanya itu, apalagi sekarang ia dapat melihat bahwa energi di dalam tubuhnya masih stabil.


‘Apakah beruang merah bukanlah lawan tuan muda?’ batin Rias dengan tatapan tak percaya. Beruang merah sendiri memiliki level sekitar dua belas untuk bayi kecil. Namun, untuk beruang merah dewasa levelnya berada di kisaran tiga puluh.


Tuan mudanya sendiri belum memiliki level, tetapi dapat bersaing dengan level tiga puluh. Hal ini jelas di luar nalar, tetapi fakta sendiri membuktikan.


Megu juga terkejut dengan analisa dari Rias. Ia tidak menyangka bahwa tuan mudanya sekarang berubah menjadi kuat. Megu segera memandang ke arah tuan mudanya itu, apakah analisa Rias itu benar?


“Ya, aku mengalahkannya. Namun, melawan orang besar ini harus langsung mengeluarkan banyak tenaga. Jika tidak begitu, sama saja aku akan kalah.” Ryuto sendiri sudah mengetahui level dari beruang merah.


Namun, fisiknya ialah Singa merah di mana. Kekuatan rendah Singa merah ialah level empat puluh, sementara untuk kekuatan puncak tidak terukur.


“Oh juga, daging beruang merah ini enak. Aku akan memasak untuk kalian malam ini.” Ryuto berkata dengan nada ringan, ia berdiri dan mengambil beruang merah tersebut dan menaruhnya di antara pohon yang ia tebang.


Melihat betapa kuat dan berototnya tuan mudanya, Megu dan Rias seketika memerah dan tubuhnya panas.


‘Tuan muda terlalu... Uh.’


***


Di dunia luar, portal merah di keluarga Akugawa menjadi perbincangan. Mereka merasa bahwa portal tersebut aneh karena tiga orang yang seharusnya mati, sama sekali tidak mati.


Ini merupakan penemuan baru dan berkah yang diberikan oleh tuhan.


Yuro dan Kyoka sendiri memandang ke arah portal merah itu. Kyoka masih tertekan dan ia tidak makan sehari pun, jelas ini membuat semua orang di rumah khawatir.


Professor yang ahli dalam bidang portal, mulai mencoba transmisi antar dunia. Terpenting ialah dapat berkomunikasi dengan Ryuto maupun kedua pelayan pribadinya tersebut.


Para ahli lainnya terus memutar otaknya dengan kencang. Tidak ada asap yang keluar dari otaknya, karena pemikiran mereka selalu di depan.


Tak butuh waktu lama, para ahli akhirnya sukses menemukan gelombang sinyal ponsel milik Ryuto.


Para professor segera mencoba menghubungi Ryuto tersebut. Mereka menunggu apakah ponsel tersebut berdering atau tidak.


Kyoka menatap ke arah alat transmisi dengan penuh harap. Ia ingin mendengar suara putranya tersebut.


Kemudian, panggilan segera diangkat. Suara yang begitu jelas dan berwibawa terdengar di seluruh ruangan.


“Halo, dengan siapa ini?”


To be Continued.

__ADS_1


__ADS_2