System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 163 - Perang 9 End


__ADS_3

Mendengar sebutan dari Dei, Ryuto hanya tersenyum menyeringai. Dia tidak tersinggung karena sudah terbiasa mendapatkan sebutan seperti itu.


Dei menghela nafas beberapa kali, kemudian energi di dalam tubuh, seketika meluap dengan besar. Tentu ini berbeda dari energi biasanya. Energi yang sebelumnya hitam keemasan, kini sudah berubah menjadi merah keemasan.


Seluruh energi dalam sekejap menyelimuti tubuh dari lelaki tersebut. Hal ini tentu membuat Ryuto menaikkan alisnya, benar-benar tertarik dengan perubahan yang terjadi terhadap tubuh laki-laki tersebut.


“Datanglah, aku ingin melihat kekuatan penuh dirimu itu!” Ryuto berkata dengan lantang. Sementara Dei hanya menyeringai rendah karena melihat bahwa lawan tengah tertarik terhadap serangan miliknya tersebut.


Semenjak awal, Dei tidak pernah melihat Ryuto yang serius karena sejak bertarung dengannya. Lelaki tersebut hanya bermain, seolah-olah tengah melawan seseorang yang sangat lemah.


Tentu hal ini melukai harga diri Dei, dia juga merasa tidak nyaman karena tidak bisa menjadi lawan dari lelaki tersebut. Namun, sekarang dia akhirnya dapat menarik mata orang itu agar tertarik bertarung dengannya.


“Bersiaplah, Ryuto!” Dei melesat dengan cepat menuju ke arah Ryuto. Kecepatannya sama sekali tidak terlihat bagi para pasukan. Hal ini benar-benar membuat mereka tercengang apalagi orang yang menjadi pengamat.


Di tempat Ryuto sendiri, dia sedikit mengerut karena kecepatan Dei bertambah seperti layaknya orang yang berjalan lambat, kini tengah berlari maraton. “Bagus, kerahkan seluruh kekuatanmu!”


Ryuto mengepalkan tangannya, kemudian sejumlah energi hitam keunguan mulai keluar dari telapak tangan dan melapisi lengannya tersebut. Energi hitam tidak hanya melapisi saja, melainkan mengubah struktur lengan Ryuto itu.


Tentu hal ini membuat beberapa orang terkejut karena mereka merasa bahwa Ryuto seolah-olah menjadi seorang elemen yang tak dapat disentuh.


Dei tentu tidak panik, dia tetap melayangkan kepalan tangan, diikuti oleh Ryuto yang juga mengayunkan pukulan. Dua serangan saling bergerak bersama, kemudian keduanya bertemu yang mana menciptakan gelombang dahsyat.


“Boooom!” ledakan yang begitu kuat, membuat tanah membentuk kawah yang amat besar. Hampir seperempat kota berubah menjadi kawah akibat ledakan tersebut.


Para pengamat dan pasukan segera melindungi diri dari terpaan angin yang kencang. Mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi di sana karena debu terus bertebaran di udara tanpa henti. Namun, meski begitu masih ada orang yang tertiup angin karena kencangnya angin tersebut.


Tak butuh waktu lama, efek pertarungan mulai mereda. Debu yang menutupi kawah kini menghilang. Awan di langit mulai berkumpul membentuk cuaca hujan. Namun, semua itu tidak menjadi perhatian para pengamat. Mereka lebih memperhatikan kawah yang terbentuk itu.

__ADS_1


Mata mereka melebar satu persatu, efek yang dibawa akibat pertarungan besar itu benar-benar mengakar erat di hati mereka masing-masing. Tentu mereka semua merasa takut dan gemetar setiap saat.


Para perempuan Ryuto sama sekali tidak terkejut, mereka yang sudah mengikuti suaminya selama ini, tentu tahu kekuatan asli dari lelaki tersebut. Menghancurkan negara saja mudah bagi laki-laki itu, apalagi menghancurkan kota yang sedikit besar ini.


Ryuto yang berada di dalam kawah, tentu tidak berdiam. Dia terus bertarung dengan Dei. Mereka berdua saling menikmati pertarungan kepalan tangan. Bagaimanapun juga, pukulan adalah romansa bagi para pria.


“Boom! Boom! Boom!” ledakan demi ledakan tidak pernah berhenti, akan tetapi mereka segera menjaga jarak dan Ryuto segera menciptakan bola yang menyelimuti tangan.


“Plasma Ball!” Dalam sekejap bola yang berada di telapak tangan Ryuto melesat ke arah Dei berada. Gerakan bola tersebut sangat cepat, akan tetapi Dei masih tetap dapat mengikutinya.


“Boom! Boom!” serangan bola milik Ryuto menghantam berbagai bangunan. Hal ini membuat bangunan yang semula utuh kini berubah menjadi debu.


Dei yang melihat Ryuto terus menyerang jarak jauh, dia tidak bisa mendekat dengan ceroboh. Namun, dirinya menyadari satu hal yaitu kekuatan miliknya tidak bisa bertahan lama.


Dengan cepat Dei memikirkan solusi untuk mengatasi serangan jarak jauh Ryuto itu. Dia memanfaatkan bangunan sekitar, sehingga bola-bola yang terbang tepat mengenai bangunan tersebut.


Dei tidak bisa melihat hal itu, dia segera melesat menuju ke arah Ryuto ketika merasa bahwa bola-bola sudah tidak menyerang dirinya lagi. Namun, saat dia melesat, dia melihat lawannya tengah melempar sebuah bola ke langit.


Tentu Dei penasaran, akan tetapi rasa penasaran tersebut membuatnya merasa krisis hidup akan segera datang. Dia segera menghentikan larinya. Namun, Dei menyadari bahwa dirinya tidak bisa menghindari serangan yang dilancarkan oleh Ryuto tersebut.


Terlihat bola yang terbang ke langit mulai bersinar dengan terang. Kemudian, Ryuto menatap ke arah depan di mana tempat Dei berada.


“Terimalah seranganku, Dei! Rain Of Death!”


Seketika langit berubah menjadi gelap. Berbagai tetesan hitam mulai turun ke tanah. Hal ini membuat semua orang melebarkan matanya, nafas mereka tercekat jelas merasa tak berdaya melihat pemandangan di depan mata mereka itu.


Dei yang berada tepat di bawah serangan tersebut, tidak berkutik lagi. Dia segera memasang posisi bertahan dan berharap dapat menahan serangan yang diturunkan oleh Ryuto tersebut.

__ADS_1


Energi merah keemasan naik membentuk sebuah pelindung menyelimuti Dei secara keseluruhan. Selepas itu tetes demi tetes serangan Ryuto mulai berjatuhan mengenai pelindung tersebut.


Namun, pelindung itu seketika menguap. Hal ini membuat semua orang tahu bahwa serangan Ryuto tidak bisa dihentikan meski sudah menggunakan pelindung sekalipun.


“Maaf, pelindungmu percuma karena apa pun yang tersentuh oleh serangan itu, akan terurai menjadi debu.” Ryuto berkata dengan rendah. Namun, suaranya terdengar jelas di telinga semua orang.


Tetesan keringat dingin mengalir deras di tubuh para orang-orang tersebut. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa serangan yang mirip seperti air, memiliki efek yang begitu mengerikan.


Satu persatu dari mereka menelan ludah masing-masing. Jelas takut akan keseriusan serangan tersebut.


Dei mendengar hal itu tentu terkejut, dia tidak menyangka bahwa serangan Ryuto begitu mengerikan. Pantas mengapa dia merasakan krisis hidup dalam sekejap.


“Bush! Bush!” Seluruh hal yang terkena tetesan gelap mulai menguap terus-menerus. Kepulan asap mulai membumbung tinggi ke langit. Tidak ada yang tahu nasib dari Dei tersebut.


Namun, semua orang yakin bahwa lelaki tersebut terbunuh akibat serangan Ryuto itu.


Ryuto sendiri tidak memiliki pikiran yang sama dengan para orang-orang tersebut. Dia bisa merasakan adanya suatu energi yang tengah bergerak di dalam pelindung. Hal ini membuat dirinya tersenyum dan berkata rendah.


“Orang yang memiliki kemampuan ruang dan waktu benar-benar curang.”


Seperti yang sudah Ryuto duga bahwa ada seseorang yang tengah ikut campur dalam pertarungan dirinya. Orang dengan kemampuan ruang dan waktu benar-benar merepotkan. Namun, tak akan lama untuk dirinya dapat mengatasi orang tersebut.


“Sepertinya, pertarungan ini telah usai dan Pemerintah Guika. Waktunya untuk tunduk di bawah perintahku!”


Kilatan cahaya melintas di mata Ryuto, kemudian dia turun ke bawah untuk menemui para istrinya tersebut.


To be Continued.

__ADS_1


__ADS_2