System Rich : Authority

System Rich : Authority
Chapter 41 - Penginapan Sun


__ADS_3

Silakan Dibaca.


Ryuto telah tiba di penginapan yang disewa oleh dua pelayan pribadinya. Penginapan itu terlihat bagus dan memiliki nuansa damai. Hal pertama yang dilihat Ryuto ialah plakat penginapan tersebut.


“Penginapan Sun...” Ryuto menarik sudut alisnya, jelas ia tertarik dengan nama penginapan tersebut. Ia tidak menyangka bahwa dua pelayan pribadinya, benar-benar menemukan penginapan yang dapat membuatnya tertarik.


Tepat saat ia masuk, sosok perempuan cantik lugas dengan pakaian kimono dan rambutnya merah muda. Meski panjang, akan tetapi diikat membentuk sampul yang biasa dikenakan para perempuan Negeri Sakura.


“Selamat datang di penginapan kami...” Perempuan itu tersenyum dengan lembut. Inilah yang biasa dilakukan untuk menyambut tamu, yang ia temui. Acara seperti itu, tidaklah wajib. Hanya orang yang ingin saja menyambut para tamu.


“Un, terima kasih.” Ryuto berkata dengan sopan, kemudian ia memindai sekitar dan menemukan tempat konter berada. Di sana sudah ada resepsionis yang sedang memilah-milah beberapa dokumen.


Ryuto mendekatinya, tepat saat berjarak beberapa langkah. Resepsionis itu menyadari kehadiran Ryuto tersebut. Ia yang menundukkan kepalanya fokus ke arah buku, mulai beralih menatap ke arah Ryuto.


“Ada yang bisa kubantu, Kak?” tanya Resepsionis itu, ia melihat postur tubuh dan wajah tampan Ryuto. Benar-benar membuat dirinya sedikit linglung dan tersipu sebentar.


Ryuto sendiri mengetahui pemikiran dari resepsionis tersebut. Ia hanya mengeluh, baru saja keluar sebentar sudah ada dua perempuan yang terpikat lagi. Pandangan malu dan rona merah, juga muncul di perempuan berambut merah muda yang berada di pintu masuk.


“Bisakah aku mendapatkan informasi terkait dua pelayanku yang menyewa satu kamar sebelumnya?” tanya Ryuto, kemudian resepsionis segera tertegun dan melihat ke arah bukunya kembali.


Ia juga mengingat bahwa ada dua pelayan cantik tengah menyewa satu kamar. Mereka berkata hanya untuk tidur dua hari saja. Namun, uang yang diberikan sedikit lebih dan kedua pelayan itu berkata bahwa tidak masalah.


Resepsionis sendiri memiliki kesan baik kepada dua pelayan sebelumnya. Namun, untuk Ryuto ia sedikit terkejut ketika mendengar bahwa kedua pelayan itu ialah pelayan pribadi laki-laki di depannya.


“Mereka berada di kamar nomor 26, nama kedua pelayan itu ialah Megu dan Rias, bukan?” tanya resepsionis, lalu Ryuto mengangguk tanda bahwa pertanyaan resepsionis itu benar.


“Mereka berada di kamar nomor 26, juga apakah perlu seseorang untuk mengantar?” tanya resepsionis lagi, kemudian Ryuto berpikir dan menjawab dengan nada sedikit lembut.

__ADS_1


“Bisakah aku meminta peta denah tempat ini saja?” pinta Ryuto, ia lebih memilih untuk menjelajah sendiri dibandingkan meminta seseorang untuk memandu dirinya.


“Ada, ini dia.” Resepsionis mengeluarkan lembaran kertas yang berisi denah dari Penginapan Sun. Ryuto menerimanya dan mengangguk, kemudian ia mengucapkan terima kasih.


“Terima kasih,” kata Ryuto, kemudian berbalik dan memandang peta tersebut. Ia tidak melihat bahwa resepsionis yang ia ucapkan terima kasih, kini benar-benar linglung dan wajahnya memanas.


Bukan ucapan yang membuatnya tersentak. Namun, tubuh yang terlihat begitu keras dan panas. Apalagi ia dapat melihat bahwa tubuh laki-laki tersebut begitu terbentuk sempurna. Tanpa resepsionis sadari bahwa bagian bawahnya kini sudah mulai mengeluarkan cairan aneh.


Ryuto tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh resepsionis tersebut. Bahkan ia tidak tahu, apa yang sedang terjadi kepadanya. Namun, Ryuto jelas mencium aroma yang sudah menjadi rutinitas malamnya.


Ryuto menyeringai seketika, lalu pergi menuju ke lorong yang mana tempat menuju ruangan yang disewa oleh kedua pelayan pribadinya itu. Ryuto berjalan santai sambil memandang kedamaian tempat tersebut.


Lorongnya bukanlah lantai biasa. Di atas terdapat lampu yang terpasang berjarak sekitar tiga meter dari lampu lainnya. Mereka akan menyala otomatis ketika malam hari atau saat hujan akan datang.


Ryuto terus berjalan, ia melihat bahwa dalam satu lorong terdapat lima pintu dan di depan pintu ialah dinding kaca, di mana menampilkan suasana keindahan dari alam yang dibuat oleh penginapan.


Ryuto mengikuti denah tersebut, ia terus berjalan dan di sana hanya ada furnitur seperti lukisan yang menceritakan sejarah-sejarah orang terkenal. Namun, Ryuto tidak peduli dan ia tak butuh waktu lama untuk tiba di ujung jalur.


Ryuto mengambil ke arah kanan dan ia menemukan ruang bertulisan nomor 26. Ia segera mengetuknya dengan ringan dan suara langkah kaki terdengar. Langkah kaki tersebut berasal dari dalam ruangan.


Pintu dibuka, akan tetapi hanya dari dalam ruangan, hanya terlihat sebuah kepala yang dikenal oleh Ryuto. Ya, kepala itu ialah Megu. Ia hanya menunjukkan kepalanya saja dan tersenyum ke arah Ryuto.


“Tuan Muda segera masuk!” Megu menarik Ryuto segera ke dalam. Ryuto sendiri tertegun, sampai akhirnya Megu menutup pintu. Ia mengerti mengapa Megu begitu terburu-buru.


Terlihat, Megu memakai celemek. Namun, yang membuatnya berbeda ialah ia tidak memakai pakaian apa pun, selain celemek. Ryuto tersenyum dan ia melihat Megu memandangnya sambil tersenyum malu-malu.


“Tuan Muda, apakah kamu akan mandi terlebih dahulu, apakah kamu akan makan dulu, atau.... Kamu ingin diriku?” tanya Megu, ia bertingkah layaknya istri yang menanti suaminya pulang.

__ADS_1


Ryuto menaikkan alisnya, ia kemudian tertarik dengan permainan pelayan pribadinya itu. Ryuto segera perlahan-lahan mendekat ke arahnya dan mencium keningnya dengan ringan.


“Aku akan mandi terlebih dahulu, sebelum makan. Juga, ada dua orang baru yang ingin kuperkenalkan kepadamu dan... Di mana Rias?” tanya Ryuto, kemudian Megu tersentak dan segera ia memerah malu.


“Tuan Muda, Rias masih berada di dapur. Ia mempersiapkan makanan untuk malam ini.” Megu berkata dengan malu, kemudian ia mengingat perkataan tuan mudanya tadi.


“Tuan Muda, siapa yang Anda maksud dua tamu baru?” tanya Megu, ia memiringkan kepalanya. Jelas dirinya bingung, mengapa tuan mudanya mengatakan akan ada tamu. Sementara sekarang sudah jam malam.


“Oh, kalian berdua keluarlah.” Ryuto berkata dengan ringan, kemudian dari dalam tubuh Ryuto muncul dua sosok perempuan cantik. Satu perempuan muda dan satu ialah wanita yang membawa anak.


Megu memucat dalam sekejap, ia tidak tahu harus bereaksi apa, lalu dirinya ingin berteriak. Namun, Ryuto menyeringai dan dengan cepat mencium mulutnya dengan kuat.


Megu tertegun, akan tetapi ia tanpa sadar mengikuti arah permainan tuan mudanya. Shina dan Sae yang melihat itu tertegun, ia tidak menyangka bahwa Ryuto melakukan seperti itu tepat di depan mereka berdua.


“Oke sudah, kenapa kamu seperti orang yang mes*um begitu?” tanya Ryuto, ia meletakkan jarinya di dekat mulut Megu. Ia membelai pipinya, membuat Megu semakin memanas.


Megu segera sadar dan tahu, ia digoda oleh tuan mudanya. Wajahnya memerah, tapi bagian celemek bawah terlihat menggelap seperti ada air yang membasahi tempat tersebut.


“Aku akan membantu Rias terlebih dahulu!” Megu berteriak dengan cepat, ia berlari menuju ke arah dapur. Shina dan Sae tidak menyangka bahwa pelayan pribadi tersebut begitu lucu.


“Baiklah, mari kita masuk... Aku tidak tahu apakah kalian memakan makanan manusia atau juga mandi aku tidak tahu.” Ryuto berkata dengan ringan, ia tidak tahu apakah Roh memakan makanan manusia.


“Ryuto, sebentar... Mengapa pelayan tadi mengetahui diri kita berdua?” tanya Sae, ia yang paling penasaran akan hal tersebut. Biasanya seseorang tidak akan pernah dapat melihat dirinya, kecuali beberapa orang yang sudah membuka indra ketujuh.


“Ya, mereka berdua sudah berhubungan Se*ks denganku. Jadi mereka menerima beberapa manfaat tertentu, salah satunya dapat mengetahui dan melihat hal yang berhubungan dengan roh.”


To be Continued.

__ADS_1


__ADS_2