TAKDIR

TAKDIR
Dia Terluka


__ADS_3

Panca kembali ke


Panca yang dulu yang songong, sombong dan dingin. Aku  sudah berusaha semampu ku untuk mengertinya


dan mengatahui kenapa dia berubah menjadi semenyebalkan ini, emosiku menjadi


sejak dia usir aku dari rumahnya secara tidak baik padahal aku berniat menepati


janjiku.


Siang ini aku


berniat latihan di aula tempat biasaku dengan hansed sudah terpasang aku keluar


dari gedung kelas karena aula dan kelas letaknya berbeda tapi tak tau awalnya


Panca memelukku dari depan hingga kepalaku terdekap didadanya dan karena itu


sebelah hensetku jatuh dan terdengar bunyi brak,,,,, brakkk yang sangat kerat


membuat mencekram baju Panca.  “


Freda...kamu gak papa “ dia melepas pelukkannya dan menatapku tapi tatapanku


teralih pada lengannya yang penuh dengan darah dan aku sentu  dengan tangisanku yang pecah “ Pan,,,ca


lenganmu ehummm.... “ dia mencengkram lengannya yang darahnya terus


bertambah  “ TOLONG.... TOLONG “ teriakku


hingga guru datang keseini “ Jangan nangis, aku gak kenapa – napa kok “


suaranya semakin lirih.


Datanglah para


guru dan mereka langsung melarikan Panca ke rumah sakit “ sudah Freda jangan

__ADS_1


nangis, Panca pasti gak kenapa- napa kok ayo kita kekelas “ menenangkanku tapi


dalam diriku masih taku tanganku bergetar melihat dara yang masi melekat di


tanganku aku gak tau harus melakukan apa kalau terjadi apa-apa pada Panca


“   aku masih menatap tanganku yang masih


basah karena darah Panca guru yang memandu perlombaan baletku memelukku dan


menenangkanku “ Gak Freda, siapapun yang melihat temannya dalam bahaya pasti


akan di tolong jadi itu bukan karena Freda tapi karena musibah saja jangan


salahkan dirimu “ aku tetap terdiam ibu itu menyugukan minum padaku agar aku


lebih tenang.


Aku ingin masuk ke


gedung area kelas tapi aku melihat ada pot bunga jatuh dan aku melihat tepat di


meneriakannya  “ Freda awas...” tapi dia


tidak bergumik karena itu aku  langsung


memeluknya  dari depan agar kepalanya


terlindung di balik tubuhku juga karena hal itu pot yang harusnya kena di


kepalanya sekarang kena di lengan serta pundanya terasa  luka yang besar hingga darah mengguyur


deras  hingga membuat cewek rewel ini


ketakutan . Hal ini  bukan hal besar


karena aku tau beberapa menit ini tidak akan jadi masalah tapi yang masalah

__ADS_1


karena teriakannya membuat aku harus di bawah ke RS “ gawat... gawat kalau ke


gini aku akan ketahuan “ gumanku dalam hati. Lenganku masih ku genggam erat


tanganku masih penuh darah yang tadi dimobi itu ada aku dan guru  “ bu,,,,, boleh aku pinjam hpmu untuk


mengabarkan mamaku “ “ nanti aku saja yang menghubunginya “ “ gak usah bu aku


mau sekarang “ “ baiklah “ guru itu memberikan hpnya untung no hp mamaku hafal


aku belajar dari kesalahan yang terdahulu jadi  bagaimana terjadi aku sudah menyiapakan solusinya termaksud menghapal no


mamaku. “ Hallo ,,, mama ini aku Panca”  “ hallo kenapa kau menelponku dengan  no tak dikenal nak “  “ mama aku


terluka, sekarang aku dilarikan dirumah sakit Cipto “ “ apa kau terluka, kenapa


bisa terjadi lagi oke mama akan menghubungi dokter Abi “. Mamaku juga sudah


menyiapkan segala sesuatu bila ini terjadi dokter Abi adalah teman ayahku dia


tau patologisku dan kelainanku sesampai disana dokter Abi menyambutkami dan


mengarahkan ke ruang dan yang lain tidak dipersilakan masuk hingga hanya kami


berdua yang ada disitu.


Kenapa kau


secerobo ini jika orang lain tau kau akan semakin berbahaya apa kak lukamu


sudah bergenerasi “ aku melepas cengkramanku yang dipenuhi warna merah darah


itu “ sudah sepenuhnya dok, tidak ada goresan sedikitpun “ iya kulitku


bergenerasi dengan cepat goresan yang tadi hanya menyakitiku sementara karena


luka itu akam tertutup dengan sendirinya tanpa meninggalkan jejak  “ tapi kalau dilihat dari mukamu darahmu

__ADS_1


sudah banyak keluar, apakah kau butuh transfer darah “  “ tidak usah dok, perban saja daera ini agar


orang tidak curiga “  “ baiklah “.


__ADS_2