
Panca kembali ke
Panca yang dulu yang songong, sombong dan dingin. Aku sudah berusaha semampu ku untuk mengertinya
dan mengatahui kenapa dia berubah menjadi semenyebalkan ini, emosiku menjadi
sejak dia usir aku dari rumahnya secara tidak baik padahal aku berniat menepati
janjiku.
Siang ini aku
berniat latihan di aula tempat biasaku dengan hansed sudah terpasang aku keluar
dari gedung kelas karena aula dan kelas letaknya berbeda tapi tak tau awalnya
Panca memelukku dari depan hingga kepalaku terdekap didadanya dan karena itu
sebelah hensetku jatuh dan terdengar bunyi brak,,,,, brakkk yang sangat kerat
membuat mencekram baju Panca. “
Freda...kamu gak papa “ dia melepas pelukkannya dan menatapku tapi tatapanku
teralih pada lengannya yang penuh dengan darah dan aku sentu dengan tangisanku yang pecah “ Pan,,,ca
lenganmu ehummm.... “ dia mencengkram lengannya yang darahnya terus
bertambah “ TOLONG.... TOLONG “ teriakku
hingga guru datang keseini “ Jangan nangis, aku gak kenapa – napa kok “
suaranya semakin lirih.
Datanglah para
guru dan mereka langsung melarikan Panca ke rumah sakit “ sudah Freda jangan
__ADS_1
nangis, Panca pasti gak kenapa- napa kok ayo kita kekelas “ menenangkanku tapi
dalam diriku masih taku tanganku bergetar melihat dara yang masi melekat di
tanganku aku gak tau harus melakukan apa kalau terjadi apa-apa pada Panca
“ aku masih menatap tanganku yang masih
basah karena darah Panca guru yang memandu perlombaan baletku memelukku dan
menenangkanku “ Gak Freda, siapapun yang melihat temannya dalam bahaya pasti
akan di tolong jadi itu bukan karena Freda tapi karena musibah saja jangan
salahkan dirimu “ aku tetap terdiam ibu itu menyugukan minum padaku agar aku
lebih tenang.
Aku ingin masuk ke
gedung area kelas tapi aku melihat ada pot bunga jatuh dan aku melihat tepat di
meneriakannya “ Freda awas...” tapi dia
tidak bergumik karena itu aku langsung
memeluknya dari depan agar kepalanya
terlindung di balik tubuhku juga karena hal itu pot yang harusnya kena di
kepalanya sekarang kena di lengan serta pundanya terasa luka yang besar hingga darah mengguyur
deras hingga membuat cewek rewel ini
ketakutan . Hal ini bukan hal besar
karena aku tau beberapa menit ini tidak akan jadi masalah tapi yang masalah
__ADS_1
karena teriakannya membuat aku harus di bawah ke RS “ gawat... gawat kalau ke
gini aku akan ketahuan “ gumanku dalam hati. Lenganku masih ku genggam erat
tanganku masih penuh darah yang tadi dimobi itu ada aku dan guru “ bu,,,,, boleh aku pinjam hpmu untuk
mengabarkan mamaku “ “ nanti aku saja yang menghubunginya “ “ gak usah bu aku
mau sekarang “ “ baiklah “ guru itu memberikan hpnya untung no hp mamaku hafal
aku belajar dari kesalahan yang terdahulu jadi bagaimana terjadi aku sudah menyiapakan solusinya termaksud menghapal no
mamaku. “ Hallo ,,, mama ini aku Panca” “ hallo kenapa kau menelponku dengan no tak dikenal nak “ “ mama aku
terluka, sekarang aku dilarikan dirumah sakit Cipto “ “ apa kau terluka, kenapa
bisa terjadi lagi oke mama akan menghubungi dokter Abi “. Mamaku juga sudah
menyiapkan segala sesuatu bila ini terjadi dokter Abi adalah teman ayahku dia
tau patologisku dan kelainanku sesampai disana dokter Abi menyambutkami dan
mengarahkan ke ruang dan yang lain tidak dipersilakan masuk hingga hanya kami
berdua yang ada disitu.
Kenapa kau
secerobo ini jika orang lain tau kau akan semakin berbahaya apa kak lukamu
sudah bergenerasi “ aku melepas cengkramanku yang dipenuhi warna merah darah
itu “ sudah sepenuhnya dok, tidak ada goresan sedikitpun “ iya kulitku
bergenerasi dengan cepat goresan yang tadi hanya menyakitiku sementara karena
luka itu akam tertutup dengan sendirinya tanpa meninggalkan jejak “ tapi kalau dilihat dari mukamu darahmu
__ADS_1
sudah banyak keluar, apakah kau butuh transfer darah “ “ tidak usah dok, perban saja daera ini agar
orang tidak curiga “ “ baiklah “.