
Semua tamu yang hadir dalam acara pernikahan sederhana Bima dan Karina mulai pergi satu persatu meninggalkan mereka.
Memang tidak banyak yang datang dalam akad nikah itu karena Bima memang sengaja tidak mengundang orang lain selain keluarganya.
Begitupun Karina, perempuan itu juga tidak mengundang siapapun kecuali keluarga sang paman, lelaki paruh baya yang sedari kemarin menginginkan dirinya segera menikah.
Di samping itu, Karina juga mengundangnya karena wanita itu butuh wali untuk menikahkannya dengan Bima.
Biar bagaimanapun, Damar adalah adik dari papanya. Meskipun mereka tidak sedarah, tetapi mereka tetaplah kakak adik di mata semua orang.
Karina saat ini terlihat masih gugup. Dadanya sedari tadi berdebar-debar. Rasanya seperti mimpi.
"Bagaimana bisa tiba-tiba aku menikah dengannya? Aku bahkan sangat tahu kalau dia adalah pria beristri. Kalau istrinya tahu dia menikah lagi, lalu bagaimana denganku?' batin Karina.
Gadis itu mengusap wajahnya kasar. Karina benar-benar merasa bingung. Kejadiannya begitu cepat. Kemarin, saat dirinya dibawa pulang oleh Bima dan Aldrian dari rumah sang paman, gadis itu tidak sempat berbincang dengan lelaki yang sudah menyelamatkannya dari amukan Damar.
Karina hanya tahu kalau Bima akan menikahinya. Karina bahkan tidak berpikir dengan benar. Gadis itu mengira kalau Bima hanya membohongi sang paman untuk menikahinya agar pria itu mau melepaskannya.
Seandainya Karina tahu kalau pria itu benar-benar akan menikahinya, semalam sudah pasti dia akan berbicara dengan Bima dan menolak pria itu mentah-mentah, dan pagi ini, dirinya juga pasti tidak akan setuju saat beberapa orang tiba-tiba datang untuk merias wajahnya dan memakaikan baju pengantin padanya.
Biar bagaimanapun, Bima adalah pria beristri. Karina tidak mau merusak rumah tangga orang dan menjadi orang ketiga. Gadis itu tidak ingin menjadi istri kedua.
Istri kedua? Tubuh Karina merinding saat membayangkannya. Namun, bukankah sekarang semuanya sudah terlambat?
Karina mengusap wajahnya dengan kasar. Kepalanya mendongak, saat pintu kamar mandi terbuka. Bima muncul dengan wajah segar dengan handuk yang melekat pada tubuhnya.
Pria itu berjalan melewati Karina yang duduk di tepi ranjang dengan wajah terkejut.
__ADS_1
Bima benar-benar terlihat sangat sempurna. Sumpah demi apapun, pria itu terlihat sangat tampan dan begitu menggoda.
Karina bahkan melongo saking terkejut sekaligus terpesona. Merasa tidak percaya dengan pemandangan indah yang saat ini ada di hadapannya.
Biasanya, Karina hanya melihat tubuh menawan seperti itu di film atau drama-drama korea yang sering ia tonton. Namun, kini dirinya melihat dengan jelas bagaimana sosok tampan dan tubuh menawan itu berdiri di hadapannya dengan posisi membelakanginya.
Kedua mata Karina menatap penuh puja pada Bima. Seketika pikiran tentang istri kedua lenyap. Jangankan istri kedua, istri ke berapapun dirinya rela jika pria yang dinikahinya adalah dia.
Gila! Sepertinya aku sudah gila!
"Mandilah! Ganti bajumu. Setelah ini, aku akan bicara padamu." Suara dingin itu memaksa Karina terbangun dari khayalan indahnya.
"Aku akan menunggumu di ruang kerja," lanjut Bima. Pria itu berbalik, sorot matanya menatap tajam ke arah Karina yang masih menggunakan baju pengantin dan riasan di wajahnya yang membuat wanita itu terlihat begitu cantik.
Karina memalingkan pandangan matanya dari Bima. Gadis itu terlihat gugup, kemudian dengan segera wanita itu bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sial! Kenapa aku malah gugup di depan dia?
Napas Karina terengah seiring detak jantungnya yang menggila.
Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya 'kan?
***
Karina melangkah dengan pelan menuju ruang kerja Bima. Gadis itu baru saja berpapasan dengan Bi Santi yang mengatakan kalau sedari tadi Bima sudah menunggunya.
Perasaan Karina tidak menentu. Rasa gugup kembali menyerang. Semenjak pria itu resmi menjadi suaminya tadi pagi, detak jantungnya tidak bisa diajak kompromi. Wanita itu seketika gugup di depan Bima.
__ADS_1
Karina menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan.
Tenang Karina, dia hanya ingin berbicara denganmu.
Setelah beberapa kali menarik napas panjang, Karina dengan pelan membuka pintu ruangan itu. Suara pintu terbuka, membuat Bima yang sedang duduk dengan laptop di depannya menatap ke arah Karina yang kini berdiri di depan pintu.
Wajah gadis itu terlihat sangat cantik dan segar tanpa makeup. Rambutnya masih setengah basah, membuat wanita itu terlihat sangat mempesona.
Sementara itu, Karina terlihat sangat terkejut saat memasuki ruangan itu. Foto-foto wanita cantik dalam ukuran besar berjejer di dinding. Foto yang sama dengan foto yang terletak dalam ruangan yang tidak sengaja ia masuki dan membuat Bima sangat marah.
"Duduklah!"
Karina mengangguk kemudian duduk di depan Bima. Baru saja Karina duduk dengan sempurna, Bima menyodorkan sebuah dokumen padanya.
"Bacalah! Tambahkan saja jika ada beberapa poin yang tidak kamu setujui." Bima menatap Karina yang terlihat bingung.
Namun, detik berikutnya, kedua mata Karina membola saat dirinya membaca apa yang tertera di sana.
"Surat perjanjian pernikahan."
BERSAMBUNG ....
Maaf ya, teman-teman, baru sempat update hari ini 🙏
Sambil nunggu update, kepoin juga cerita keren milik temen Author yuk!
__ADS_1
"Kau adalah milikku, sebanyak apapun wanita yang berada disekitar ku. Kau adalah satu-satunya yang tak akan aku lepas sampai kapan pun," ketegasan dalam ucapan tersebut seolah menjadi bukti bahwa gadis yang kini berada dalam sangkar emas milik laki-laki yang tak lain adalah seoarang mafia tersebut adalah gadis yang begitu ia jaga. Dia, Eric Roymond. Laki-laki yang memiliki tatapan mematikan dengan aura penguasa. "Kau hanya menjadikan ku budak mu, lalu bagaimana bisa aku bertahan dengan segala rasa sakit yang aku rasakan?" wanita tersebut menatap penuh kebencian pada laki-laki yang telah dengan sengaja menjebak pamannya tersebut. Untuk mendapatkan gadis tersebut Eric sengaja menjebak paman gadis tersebut agar menjual gadis tersebut padanya. Dia,Evelyne Gregory. Gadis lembut yang penuh dengan keceriaan. Kedua orang tersebut malah terjebak dengan takdir yang membawa mereka untuk menjadi satu. Namun akankah mereka benar menjadi satu? atau justru semesta memiliki cara untuk menjadi pemisa?