
Aku tidak mengerti kenapa aku
ingin sekali menonton dia tampil jangan-jangan aku yang sekarang mulai suka
dengan dia, tidak ,,,,,itu tidak, sudahlah ini kan Cuma acara perlombaan yang
mewakili sekolah wajarlah aku menonton
ini juga sekolahku. Aku datang telat, apakah sih Freda itu sudah tampil “
baiklah kita saksikan finalis ke 10 oleh Freda Deshi Fawnia dengan tema mimpi
tak terbatas” tema yang dia ambil bagus
dan dia juga terlihat cantik, aku terkejut akan gerakannya bukan karena
terpesona atau apalah itu namun gerakan itu mirip bidadari yang tidak asing
bagiku dari berbagai penari balet yang aku lihat gerakannya mirip bidadari baru
dia, apakah dia dulu murid bidadari tapikan
sejak dulu mungkin sampai sekarang bidadari masih di Amerika tapi aku yakin
sekali kalau itu gerakan bidadari meskipun ada beberapa gerakannya yang berubah
atau pun di tambah.
Apa Freda tau tentang bidadari aku sangat penasaran hingga aku ingin bertanya namun jika
jawaban yang akan aku dengar adalah tidak dia akan ikut campur dan ingin tau
lebih banyak tentang keluargaku lebih baik aku tahan dan perlahan aku akan
cari tau apa hubungan Freda dengan bidadari ? Tapi untuk sekarang lebih baik
aku pergi saja dari sini dari pada aku tanpa sadar menanyakan ini padanya dan
aku juga butuh rencana kedepan. Pagi harinya di sekolah aku mendengar isuh-isuh
yang lagi hot di bicarakan “ Freda dapat juara 1 ya, gue yakin dia pasti bisa
menang nanti antar provinsi tapikan syarat selanjutnya harus berkolaborasi
dengan penari laki-laki, itu pasti susah nyarinya apa lagikan gak bisa ajak
laki-laki yang bener-bener gak tau kan bisa repot ,,,,ya bisa sih kalau cari di
__ADS_1
klub sanggar balet pasti ada” dari apa
yang aku dengar sepertinya aku mendapat ide yang muncul dengan
sendirinya. Pulan sekolah di jalan menujuh rumah “ Freda ! (di menoleh ke
belakang tepat mengarahku) Panca ... kau memanggilku ? ( aku mendekat
memperpendek jarak kami yang
sebelumnya memang jauh ) iya aku memanggilmu ada sesuatu yan mau aku bicarakan
“ kau mau membicarakan apa ? atau kau membicarakan kekecewaanmu akan
kemenanganku, jika aku benar cepat katakan agar aku tidak membuang waktu dengan
percuma di sini banyak yang harus aku urus” tidak bukan itu yang ingin aku
bicarakan karena kita di jalan seperti ini tidak nyaman bagaimana kita bicara
di bukit kecil itu sambil mengunggu matahari terbenam itu lebih nyaman untuk
bicara diapun menjawab dengan angukan. Sekarang silakan ungkapkan apa yang
ingin kau sampaikan
oke....oke sabar-sabar tujuan aku mau
menawarkan sesuatu dan ini bisa sangat menguntungkan kedua belah pihak
( raut muka yang curiga denganku ), tapi sebelum itu bukanya kamu berhutang suatu
permintaan maaf kamu iya?
Okeoke maaf kejadian yang saat kamu latihan itu aku
akui kamu memang berbakat. Oke aku maafkan karena aku lihat kamu cukup tulus
baiklah sekarang teruskan. Gini ! akukan
tadi dengar dari yang lain kamu lagi mencari pasangan untuk kolaborasi dalam tarianmu dan kebetulan aku
cukup mengerti dasar-dasar balet, beruntungkan kamu karena aku secara langsung
menawarkan ke kamu. Tunggu dulu kayaknya aku mencium hal yang mencurigakan, gak
mungkinkan kamu nolong aku yang sebenernya bisa dikatakan musuh apalagi kalau
__ADS_1
diingat-ingat saat itu kamu dengan muda menghina diriku tapi mengapa kamu
sekarang nolong aku ? hey....hey... kapan aku mengiyakan kalau kita musuh ?
Memang sih kata-kataku padamu
tempo hari sedikit lebih tegas tapi semua yang aku katakan memang jujur menggambarkan kenyataan. Ahh...tegas ! kayak gitu yang dikatakan tegas lalu kemana ya yang termaksud katagori kasar (
melotot mengarah Panca ). Udah...udah nih kita berantem terus gak bahas topik
kita tadi ? oke iya udahlah kembali ketopik, jadi intinya kamu mau menjadi
pasangan kolaborasi aku di perlombaan selanjutnya ?
iya itu sih kalau kau mau dan juga tawaran ini tidak gratis sebagai imbalan kamu ajarkan aku matematika,
kalau dilihat-lihat kau sedikit lebih unggul dariku lagi pula ini menguntungkan
kita berdua. Kalau dipikir-pikir kata-katamu ada benarnya juga iya sudah kita
sepkat berarti besok kita mulai latihan dong ! oke semakin sepat semakin baik
balik sekolah langsung ke rumahku ! ahhh ( terkejut )
kok rumahmu kenapa tidak di sekolah ? ehhh kalau di sekolah tidak biasa leluasa kalau di rumahku tempat
di halaman depan rumah luas tidak ramai, ribut dan disana mbok yang nanti bisa
bikini minuman dan makanan ingat kita gak Cuma latihan balet kamu jugakan harus
ngajari aku matematika, gimana setujuh apa tidak dengan tawaran aku ? okelah
besok kita mulai pulang sekolah.
Sebenarnya aku masih curiga kenapa dia tiba-tiba
begini tapi iya sudahlah jangan berpikiran negetif terus, aku mau pulang ( aku
beranjak dari tempat dudukku). Freda ! mau kemana ? tidak sebentar lagi ! kenapa tidak kita tunggu matahari terbenam bagus loh ( dia memandang ke depan ) iya ...yah tinggal beberapa menit lagi
( duduk kembali ) dan kami berdua hanya diam duduk memandang langit sore, udara
segar yang perlahan-lahan mulai memudar menjadi angin dingin dengan disertai
datangnya malam setelah itu kami pulang bareng tanpa ngobrol hingga sampai
rumah masing-masing. Di sekolah kami seperti biasa saling tidak peduli, tidak
__ADS_1
dekat dan berbicara kalau perlu saja