
Dika alias Dodi sekarang sudah bekerja di kantor wilker yang berada di desa Lubuk Muda. Yah tidak jauh dari rumah abang ku.
Aku juga senang karena pada akhir nya aku bisa membantu nya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.
Setidak nya dari seluruh saudara nya, dia lah yang dapat pekerjaan enak dan bisa membantu kedua orang tua nya kelak.
"Sudah makan?" Tanya ku kepada Dika yang malam ini adalah malam pertama nya menginap di kantor nya itu.
"Sudah kok, ada pak Barat juga di sini menemani ku" Jawab nya.
"Pak Barat tidur di sana juga?" Tanya ku.
"Gak tahu juga sih. Tapi seperti nya tidak deh. Mana mungkin dia mau menemani ku dan meninggalkan istrinya sendirian di rumah" Balas pesan dari Dika lagi.
"Ya, siapa tahu saja dia mau menemani mu kan. Secara kamu sendirian di sana baru lagi pertama kalinya menginap di sana. Sedangkan istri nya masih ada anak-anaknya yang menemani dia di rumah" Ujarku.
"Nggak mungkin lah dia mau menginap di sini menemani aku, kamu ini ada-ada aja"
"Siapa tahu saja dia mau"
"Engga cinta. Oh ya kamu sudah makan belum"
"Sudah kok, Ya sudah nanti aja kita sambung Chatting nya karena masih ada pak Barat di sana takutnya malah mengganggu lagi"
"Oke deh cinta. Nanti ketika pak Barat sudah pulang, aku akan menghubungimu ya" Ujar Dika.
"Oke. Kamu hati-hati di sana. Kunci pintu kantor nya baik-baik" Pesan ku lagi.
"Oke cinta"
***
"Ramah. Sini sebentar" Panggil pak Barat meminta ku datang ke ruangan nya.
"Iya pak ada apa?" Tanya ku masuk ke ruangan nya.
"Tolong ajar kan Dika untuk membuat laporan keuangan ya" Pinta pak Barat kepada ku.
"Oke pak, nanti akan aku ajarkan dia untuk membuat laporan keuangan nya. Bapak tenang saja" Jawab ku dengan semangat nya.
"Bapak mau tanya deh sama kamu. Sebenar nya kamu dan Dika itu ada hubungan apa? Kalian pacaran?" Tanya pak Barat kepo dengan hubungan kami.
"Emangnya Bapak sudah tanya ke sama dia tentang hubungan kami ini seperti apa?" Aku balik bertanya.
"Sudah kok, katanya kalian pacaran"
"Jika dia mengganggap seperti itu, maka itu lah dia pak" Ujar ku seenak nya.
__ADS_1
"Lo kok gitu sih"
"Ya aku harus bagaimana pak. Aku juga gak tahu hubungan kami ini seperti apa. Sedangkan dia sudah mempunyai pacar di sana" Jelas ku. Aku juga tidak tahu kenapa aku malah curhat tentang hal pribadi ku dengan lelaki paruh baya itu.
"Jadi dia sudah mempunyai pacar?" Pak Barat kaget.
"Iya pak"
"Terus kenapa kamu mengajak nya kerja di sini. Jika kalian tidak berjodoh bagaimana?"
"Ya itu sudah takdir pak. Kita tidak bisa mengubah takdir kehidupan kita. Yang jelas saat ini aku ikhlas membantu nya sebagai seorang teman. Lagian kemaren ibu nya juga meminta ku untuk membantu anak nya mencari pekerjaan jika ada pekerjaan yang enak. Karena itu aku mengajak nya di sini yang kebetulan ada lowongan kerja nya" Jelas ku lagi.
"Wah sungguh besar hati mu"
"Ah, bapak jangan terlalu memuji ku seperti itu" Ujar ku lagi.
"Dek" Terdengar suara kak Rika memanggil ku di ruangan nya. Dimana ruangan atara bendahara meterial dan bendahara pemasukan serta bendahara pengeluaran saling berdampingan.
Bendahara meterial adalah bendahara yang memegang peralatan kantor seperti kertas HVS, sepidol, pena, dan lain-lain sebagainya pokok nya alat untuk keperluan kantor. Jika bendahara pemasukan itu bagian penerimaan uang dari pembayaran pajak kapal-kapal yang hilir mudik di wilayah yang mencangkup kawasan itu. Dan bendahara pengeluaran adalah bendahara yang mengeluarkan uang untuk keperluan kantor. Seperti biaya untuk service ac, bayar wifi, bayar listrik dan lain-lain sebagainya.
Nah sekarang aku bekerja di bagian bendahara pemasukan. Karena bendahara pemasukan yaitu kan Rika mengalami penyakit yang mencangkup ginjal nya. Sehingga dia tida terlalu bisa kerja terlalu keras dan duduk lama-lama. Bahkan dia sering meminta izin untuk cuti karena sakit nya. Dia juga sudah melakukan operasi kemarin dan memasang selang di bagian perut nya. Aku juga tidak tahu pasti untuk apa selang itu. Karena itu lah kak Rika meminta bapak kasubag TU untuk mencarikan orang untuk membantu nya dengan pekerjaan nya.. Sehingga aku yang sedang magang di sana lah di tarik langsung untuk bekerja.
"Iya kak" Sahut ku.
"Sebentar ya pak, kak Rika sudah memanggil ku" Ujar ku langsung keluar dari ruangan itu dan menuju ruangan kak Rika.
"Tolong dek buatin simponi keuangan untuk kakak. Nanti kakak mau pergi nyetor uang di bank" Ujar kak Rika. Yah Sistem Informasi PNBP Online (SIMPONI), merupakan sistem billing yang dikelola oleh DJA untuk memfasilitasi pembayaran/penyetoran PNBP dan penerimaan non anggaran. SIMPONI memberi kemudahan bagi Wajib Bayar/Wajib Setor untuk membayar/menyetor PNBP dan penerimaan non anggaran melalui berbagai channel pembayaran seperti teller (Over The Counter), ATM (Automatic Teller Machine), EDC (Electronic Data Capture), maupun internet banking. Dengan demikian, masyarakat bebas memilih berbagai alternatif metode pembayaran yang sesuai dengan kebutuhannya.
"Baik kak" Jawab ku langsung mengerjakan perintah yang di minta oleh kak Rika tadi.
"Ini kak sudah selesai" Ujar ku menyerahkan beberapa lembar simponi yang ku buat dari kepada kak Rika untuk diperiksa.
"Apa sudah benar kak?"
"Ini benar semua" Ujar kak Rika setelah memeriksa hasil pekerjaanku tadi.
"Alhamdullah jika benar semua" Ujar ku dengan perasaan lega.
"Ya sudah dek, ini ada beberapa kuitansi yang harus di input. Tolong di input ya dek" Pinta nya lagi
"Oke kak" aku pun langsung menginput beberapa data kuitansi yang ada di meja kak Rika itu. Karena kuitansi tersebut sangat berguna untuk membuat laporan keuangan di akhir bulan nanti. Melihat aku bekerja, kak Rika pun pergi keluar ruangan.
Ku lirik jam di tangan ku. Sudah pukul sembilan pagi namun tidak ada kabar sama sekali dari laki-laki itu. Apa dia masih tidur atau malah pingsan di sana. Secara dia tinggal sendirian di kantor tersebut. Aku menjadi cemas kepada nya. Yah walau bagaimana pun akulah yang membawanya bekerja di sini dan otomatis dia juga sebagai tanggung jawabku.
"Dika, sudah bangun?" Pesan ku. Yah semenjak pak Barat memanggil Dodi dengan sebutan Dika, semua nya termasuk aku malah memanggil laki-laki bocil itu dengan sebutan yang sama yaitu Dika.
Lama aku menunggu balasan pesan dari nya. Namun tidak ada jawaban sama sekali.
__ADS_1
"Ya Allah kemana dia? Harus bangun cepat dong, sudah tahu tinggal di kantor masa ia kantor nya tidak buka sudah pukul segini" Batin ku bertanya-tanya.
Aku pun mencoba menghubungi dengan menggunakan telepon kepada Dika. Nada tersambung nya aktif. Tapi teleponku sama sekali tidak diangkat olehnya membuat aku semakin cemas dengan keadaan si bocil itu. Aku pun tidak mau menyerah begitu saja untuk yang kedua kalinya aku mencoba menghubunginya lagi dengan menggunakan telepon.
"Hallo" Jawab nya dengan suara berat.
"Baru bangun tidur kamu?" Tanya ku.
"Iya, tadi malam aku nggak bisa tidur dengan tenang karena baru pertama kali aku tidur di sini. Sudah subuh aku baru bisa memejamkan mataku" Jelas nya.
"Kenapa? Apa tempatnya mengerikan atau bagaimana?"
"Gak mengerikan juga sih. Tapi ya maklum sajalah namanya juga baru pindah di kantor ini. Jadinya masih butuh beradaptasi untuk membiasakan diri di kantor ini" Jelas Dika lagi.
"Ya sudah, sekarang kamu mandi di sana Ini sudah pukul sembilan pagi. Masa iya kantor kamu belum buka juga jam segini. Nanti kalau para agen kapal meminta surat izin berlayar bagaimana?" Ujar ku lagi.
"Ini juga hari pertama mau bekerja bukan? Harus bisa disiplin dong" Tambah ku lagi.
"Iya, iya. Maaf ya cinta. Ini aku pergi mandi dulu ya. Aku benar-benar minta maaf karena telah kesiangan. Itu karena aku gak bisa tidur tadi malam"
"Iya gak apa-apa. Besok tolong aktifkan alarm di ponsel mu. Agar kamu bisa bangun tepat waktu dan tidak kesiangan lagi. Aku takutnya nanti ketika pak Barat ke sana untuk berkunjung, kamu malah masih ketiduran. Bisa-bisa kamu dimarah nya besar-besar sama dia" Nasehat ku lagi.
"Iya cinta, besok aku akan memasang alarm di ponselku agar aku tidak kesiangan lagi"
"Ya sudah mandi gih sana"
"Oke cinta"
Kami pun mengakhiri percakapan kami di telepon.
"Ya ampun Dika, untung saja kamu sendiri yang tinggal di kantor itu. Sehingga tidak ada yang melapor tentang kamu kepada orang kantor di sini. Jika kamu tinggal bersama temanmu yang juga satu profesi denganmu aku yakin pak Barat pasti akan mengamuk dengan kamu. Secara baru hari pertama kerja saja kamu sudah kesiangan seperti ini" Batin ku.
"Dek, sudah selesai kerja nya?" Tanya kak Rika yang baru masuk ke ruangan kami.
"Belum kak sedikit lagi" Jawab ku.
"Ayo sarapan dulu. Di ajak sama bapak Junaidi itu" Ujar kak Rika kepada ku.
"Oh oke kak" Jawab ku langsung pergi meninggalkan pekerjaanku sebentar untuk pergi sarapan bersama dengan karyawan kantor lainnya.
***
Kami pun memesan pesanan kami masing-masing setelah tiba di kantin yang berada di pelabuhan tempat penyeberangan yang tak jauh dari kantor kami itu. Setelah selesai menyantap sarapan kami kami pun kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan kami masing-masing.
"Adek" Tegur seorang buruh yang bekerja di pelabuhan tersebut kepadaku.
Aku hanya menjawab teguran itu dengan senyuman. Yah karena aku tidak mau nanti dibilangnya sombong karena tidak menjawab tegurannya.
__ADS_1
Melihat aku tersenyum dengannya dia pun bermain mata denganku. Karena takut aku pun melebarkan langkahku untuk segera tiba di kantor dan masuk ke kantor dengan perasaan yang takut.