
Sesuai dengan janji Devan pada Renata, sebulan setelah Renata dinyatakan benar-benar pulih, Devan dan Iren memutuskan pulang ke negaranya. Mereka akan mengadakan pesta pernikahan Devan dan Renata di indonesia.
Setelah beberapa jam, mereka bertiga sampai di ibukota. Dika terlihat tersenyum bahagia saat menjemput anak dan istri serta calon menantunya. Setelah acara lamaran Devan malam itu, dua hari kemudian Dika kembali ke tanah air karena harus menyelesaikan pekerjaannya.
"Papa." Iren memeluk suami yang dirindukannya.
"Aku merindukanmu," bisik Dika membuat Iren mencubit pria itu.
"Genit." Iren ikut berbisik. Mereka berdua terkekeh kemudian saling melepas pelukan.
Pandangan Dika beralih pada putra semata wayangnya. Laki-laki itu kemudian memeluk Devan.
"Papa bangga sama kamu, Nak. Terima kasih karena sudah menjaga dua bidadari papa." Dika tersenyum saat Devan melepaskan pelukannya saat dirinya menyebut bidadari dalam kalimat yang diucapkannya.
"Bidadari Papa tuh mama. Kenapa bawa-bawa Renata juga?" kesal Devan. Pria itu tidak terima sang papa menyebut Renata sebagai bidadari papanya.
"Kamu ini. Renata itu sebentar lagi menjadi calon menantu papa jadi wajar kalau papa menyebutnya begitu.
"Papa--"
"Halo, Ren. Kamu apa kabar?" Dika mendekati Renata tanpa memedulikan ucapan Devan.
"Aku baik-baik saja, Pa." Renata meraih tangan Dika dan mencium punggung tangan lelaki yang sudah ia anggap sebagai ayahnya itu.
"Syukurlah!" Dika tersenyum sambil mengusap kepala Renata.
Tak berapa lama kemudian mobil yang dikendarai oleh sopir pribadi itu melaju meninggalkan Bandara.
__ADS_1
***
"Kau masih sibuk?" Karina mendekati Bima yang saat itu sedang duduk di meja kerjanya. Pria itu tampak serius menatap layar laptop di hadapannya.
Bima mengembuskan napas panjang. Pandangannya beralih pada wanita di hadapannya.
"Kamu belum tidur?" Bima memberikan kode pada Karina untuk mendekat.
"Aku belum mengantuk. Mau nungguin kamu sampai selesai." Karina meraih tangan Bima. Perempuan itu menurut saja saat lelaki itu mendudukkannya di atas pangkuan.
"Sebenarnya aku sudah mengantuk. Tapi kerjaanku masih banyak dan harus selesai besok pagi. Kalau kamu belum mengantuk kamu boleh temani aku di sini." Bima menatap Karina yang entah kenapa terlihat semakin menarik di matanya.
Karina tersenyum manis perempuan itu melingkarkan kedua tangannya pada leher Bima.
"Tumben minta ditemani. Biasanya aku dicuekin." Karina mengecup sekilas bibir Bima. Semenjak Bima resmi menjadi suami seutuhnya Karina sengaja bersikap agresif untuk menarik perhatian Bima.
Melihat tingkah laku Karina, Bima menyunggingkan senyum.
Karina tersenyum manis. Memindai wajah tampan itu dengan seksama.
"Nyuruh pergi tapi meluknya kenceng banget." Karina menyandarkan wajahnya pada ceruk leher Bima.
Bima tersenyum tipis. Lelaki itu mempererat pelukannya. Menghadiahi wajah perempuan itu dengan beberapa kali ciuman. Setelah itu, Bima melepaskan pelukannya. Pandangannya kembali fokus ke arah layar laptop.
"Tidurlah! Kamu nggak bisa tidur karena aku belum masuk ke kamar 'kan?"
"Kok kamu tahu?" Karina menuruti permintaan Bima untuk tidak bergerak. Perempuan itu duduk menyamping di pangkuan Bima. Sementara kepalanya menyandar di ceruk leher lelaki itu.
__ADS_1
Meskipun agak susah, entah mengapa, Bima sangat suka jika Karina dalam mode manja seperti ini. Lelaki itu kembali mengerjakan pekerjaannya. Sesekali, pria itu membenamkan bibirnya pada bibir Karina, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
Kalau sudah begini, bukannya mengantuk, Karina justru harus siap siaga saat bibir suaminya tiba-tiba mendarat dan mengulum bibirnya.
Karina sungguh sangat bersyukur, meskipun saat ini Bima belum mencintainya tetapi, pria itu selalu bersikap lembut padanya. Bima juga tepat waktu saat pulang dari kantor.
Lelaki itu lebih memilih membawa pekerjaannya pulang dan dikerjakan di rumah daripada harus lembur di kantor. Seperti malam ini.
Bima lebih memilih mengerjakan pekerjaannya di rumah daripada lembur di kantor sampai malam. Di kantor, ia hanya seorang diri. Sementara, di rumah ada sang istri yang bersedia menemani sampai pekerjaannya selesai.
Setelah pekerjaannya selesai Bima juga bisa langsung meminta bonus pada istrinya.
Bima mematikan laptopnya. Kemudian menatap Karina yang masih meringkuk di pangkuannya. Bima merubah posisi duduk Karina agar menghadapnya.
"Aku sudah selesai mengerjakan pekerjaanku." Bima menatap wanita itu sambil merapikan rambutnya.
"Kalau memang sudah selesai, ayo kita tidur. Kamu pasti lelah 'kan?"
"Hmm." Bima mengangguk.
"Ya udah ayo kita ti–" Karina tidak bisa melanjutkan ucapannya saat bibir pria itu mendarat di bibirnya.
"Aku lembur mengerjakan berkas-berkas perusahaan milikmu, dan kamu tidak mau memberikan aku imbalan?"
"Imbalan?"
Bima mengangguk. Laki-laki itu mendekap erat tubuh Karina.
__ADS_1
"Puaskan aku malam ini."
BERSAMBUNG ....