
Aku menggosok mata ku yang masih terasa berat karena mengantuk. Yah tadi malam aku bergadang karena ada beberapa kuitansi yang ku bawa pulang ke rumah yang harus ku input untuk keperluan laporan bulanan nanti.
Aku duduk dia atas kasur ku karena baru setengah sadar. Maklum lah mak orang baru saja bangun tidur kan dan masih ngantuk di bangun kan dengan paksa jadi yah seperti orang linglung jadi nya.
"Ya Allah bukan nya cepat bangun dan mandi malah masih juga melamun di tempat tidurnya" Tegur ibu ku.
Yah aku memang duduk di atas kasurku tapi mataku masih terpejam dan sulit untuk dibuka. Karena rasa ngantuk yang belum hilang.
"Cepat bangun!" Titah ibu ku bergelegar membuat mata ku menjadi terbuka lebar karena kaget mendengar suaranya yang nyaring memecah kesunyian di pagi itu.
Aku pun langsung bangun dari tempat tidurku dan mengambil handuk untuk pergi ke kamar mandi.
"Anak ini, jika tidak di bilangin tidak akan bangun pagi dia. Terus saja minta di bangunin. Sudah tahu kerja nanti malah terlambat kamu. Di denda cuci wc" Oceh ibu ku ketika aku lewat di hadapan nya.
"Ya Allah buk, aki sekarang sudah kerja lo. Bukan sekolah lagi kalau aku sekolah baru kalau terlambat dikasih hukuman cuci wc" Ujar ku berlalu dari hadapan ibu ku.
"Anak ini di hilangin ada aja jawab nya" Ujar ibu lagi.
"Sudah mandi saja kamu sana nanti malah telat ke kantor nya" Ucap ibu ku lagi.
"Ya buk" Jawab ku yang sudah berada di dalam kamar mandi.
"Ya ampun wanita paruh baya ini yang aku cintai dan aku sayangi. Ada-ada saja ucapan nya. Masa ia di terlambat ke kantor di hukum cuci wc? Emang anak sekolahan apa? Sedangkan anak sekolahan sekarang saja tidak ada hukum mencuci wc emangnya zaman dia dulu apa?" Ujar ku sambil tersenyum mengenang ucapan ibu ku tadi.
***
Aku berdiri di depan cermin untuk melihat keadaanku sudah rapi atau belum.
"Oke sudah sudah rapi saat nya untuk berangkat" Ucapku kepada diriku sendiri dan mengambil tas yang tergeletak di atas kasurku untukku bawa ke kantor.
Baru saja melangkah ingin keluar kamar tiba-tiba aku teringat dengan Dika yang ada di kantor nya.
"Ya ampun, si Dika sudah bangun belum ya? Jangan-jangan dia masih belum bangun lagi" Ujar ku. Aku pun langsung mengambil ponselku yang ada di dalam tas kerjaku untuk menghubungi Dika alias Dodi.
Terdengar suara nada sambung di ponsel ku. Namun tidak ada jawaban sama sekali dari orang yang berada di seberang sana hingga nada sambung itu terputus.
"Ya ampun, tidak dijawab apa dia masih tidur ya?" Batin ku bertanya-tanya.
Tidak berhenti sampai di situ, aku pun terus menghubungi Dika hingga dia menjawab telepon dariku.
Kembali terdengar nada sambung di ponselku. Hingga sampai nada sambung itu terputus.
"Masih juga tidak di angkat nya. Kemana ya dia? Apa dia pingsan ya. Atau jangan-jangan ada yang orang yang jahat sama dia? Yang tiba-tiba masuk ke dalam kantor nya dan mencelakai nya. Ya Allah apa yang harus aku lakukan? Secara dia tinggal sendiri di sana. Bingung deh jadi nya, apa aku harus kesana?" Batin ku gelisah takut terjadi hal yang tidak di ingin kan kepada Dika.
Untuk yang kesekian kalinya aku kembali menghubungi Dika memastikan bahwa dia baik-baik saja. kembali terdengar suara nada tersambung di ponselku.
"Hallo" Dika mengangkat panggilanku dengan suara yang masih berat.
"Baru bangun Tidur?" Tanya ku lagi.
"Iya cinta aku baru bangun tidur"
"Gak kamu aktifkan alarm?"
"Sudah kok cinta, tapi alarmnya berbunyi aku matikan terus aku tidur lagi" Ujar nya dengan enteng.
Aku menepuk jidatku mendengar kejujuran dari laki-laki yang ada di seberang sana.
"Sekarang kamu bangun terus mandi! Siap-siap untuk ngantor"
"Iya cinta"
"Jangan lupa sarapan juga ya"
"Iya cinta"
"Ya sudah aku ke kantor dulu. Jangan tidur lagi. Siapa tahu nanti bapak barat pergi ke kantor di sana. Terus kamu nya masih ketiduran bisa-bisa naik pitam itu orang tua" Ujar ku lagi.
"Iya cintaku, kasihku, sayangku, kamu hati-hati ke kantornya ya" Ucap Dika lagi kepadaku.
Kami pun mengakhiri percakapan kami di telepon. Aku pun langsung pergi ke kantor menggunakan sepeda motorku.
***
"Ramah, tolong kamu panggilkan Dewi untuk datang ke sini karena kita mau pesan sarapan" Ujar ibunya Nindi kepadaku untuk memanggil kak Dewi si pemilik kantin yang berada di pelabuhan penyeberangan yang tak jauh dari kantorku itu.
__ADS_1
"Baik bu" Ujarku langsung pergi memanggil orang yang dipinta oleh ibunya Nindi itu.
***
"Kak, di panggil ke kantor, mau pesan sarapan" Ujar ku kepada kak Dewi.
"Sebentar ya Mah,. Kakak masakin mie rebus untuk abang ini dulu ya" Jawab kak Dewi tadi terus mengaduk masakan nya.
"Oke kak, aku tunggu saja di sini ya. Mau cari angin sebentar" Ucap ku duduk di kursi yang tak jauh dari tempat kak Dewi masak itu. Tanpa sengaja aku melihat laki-laki yang memanggil ku tempo hari.
"Hai dek" Tegur nya kepada ku. Aku pun menjawab nya dengan senyuman kecut.
"Siapa nama nya?" Ucap nya.
"Kepo aja sih kamu Yung. Tidak boleh melihat orang yang bening sedikit ya" Ucap kak Dewi menyempeli.
"Iya dung, gimana tidak tertarik sudah cantik ada pekerjaan lagi. Yah kalau minta hantaran nya tiga puluh juta sih gak masalah untuk ku karena dia calon pegawai" Ucap nya lagi.
Deg....
Entah mengapa jantung ku berdetak cepat mendengar ucapan laki-laki yang bernama Buyung itu. Yah dia adalah duda beranak satu. Dia juga bekerja di pelabuhan penyebrangan itu sebagai kuli angkut atau kuli panggul.
"Kamu ini, seperti orang nya mau saja sama kamu. Jangan kepedean kamu" Ujar kak. Dewi lagi.
"Ya aku kan hanya berusaha kak. Jika ada jodoh alhamdulillah. Jika tidak juga nggak apa-apa. Yang penting aku sudah berusaha" Ucap nya sambil bermain mata kepadaku membuat aku menjadi salah tingkah karena tidak nyaman atas perbuatannya kepadaku.
"Iya kan dek?" Ucap nya lagi.
Aku hanya bisa menjawab pertanyaannya itu dengan senyuman kecut yang terukir di bibirku.
"Ini pesanan kamu. Sudah jangan menggombal anak dara ting ting orang. Ingat kamu itu duda beranak satu. Mana mungkin gadis seperti dia mau sama kamu punya anak lagi" Ucap kak Dewi sambil menyajikan mie rebus yang dipesannya tadi di meja Buyung tersebut.
"Kak Dewi ini sungguh tega kepada ku. harusnya kakak mendukung ku bukan malah mematah semangatku untuk mendapatkan dia"
"Sudah ah, jangan menghayal terlalu tinggi kamu. Ayo Mah kita ke kantor" Ajak kak Dewi kepada ku. Aku pun mengikuti jejak langkah wanita yang memiliki dua anak itu dari belakang.
"Dek, doa kan kita berjodoh ya dek. Abang akan usahakan untuk mengumpul uang agar bisa melamar kamu dek" Teriak bang Buyung kepada ku.
Lagi-lagi apa hanya bisa tersenyum kecut membalas ucapannya itu tanpa mengeluarkan suara sepatah kata pun.
"Iya kak. Aku juga tidak terlalu memikirkan apa yang dia katakan tadi"
"Maklum saja dia itu sudah lama menduda. Jadi ya seperti itulah tingkahnya jika melihat yang bening sedikit"
Lagi-lagi aku hanya membalas ucapan dari kak Dewi itu dengan senyuman karena aku tidak tahu harus berkata apa.
***
Hari sabtu telah tiba. Di mana hari itu aku libur bekerja. Aku pun memutuskan untuk pergi ke kantor Dika untuk mengajarinya membuat laporan bulanan keuangan. Seperti biasa aku ke sana dengan ditemani oleh adik sepupuku yaitu Siti. Tentu saja seperti itu karena aku tidak mau orang-orang memikirkan hal yang aneh-aneh yang kami lakukan di kantor tersebut jika kami hanya tinggal berdua saja. Untuk menghindari dari omongan orang karena itulah aku mengajak adik sepupu.
Tak lupa kami mampir sebentar di minimarket yang ada di sekitar kantornya Dika itu untuk membeli beberapa cemilan dan minuman yang bisa menemani pekerjaan kami di sore itu.
"Cinta" Tegur Dika yang tampak kebingungan di depan komputer yang ada di kantornya itu. Karena tidak mengerti cara membuat laporan bulanan keuangan yang harus antar di kantor induk tempatku bekerja.
"Lagi ngapain?" Tanya ku masuk ke dalam kantor itu.
"Ini, lagi belajar buat laporan keuangan untuk bulan ini. Tapi aku bingung bagaimana caranya" Ujar Dika menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Mana?" Tanya ku melihat komputer yang ada di hadapan Dika itu.
"Oke sini aku ajari ya" Ucap ku, aku pun mengajari Dika cara membuat laporan bulanan. Sedangkan Siti sibuk menyodorkan makanan ringan yang kami beli tadi sebelum pergi ke kantor Dika itu.
"Sudah paham?" Tanya ku dengan Dika setelah panjang lebar aku menjelaskan cara pembuatan laporan bulanan itu kepadanya.
"Ngerti kok" Jawab Dika.
Akhirnya Dika mengerti juga dengan cara membuat laporan bulanan tersebut meski aku harus menjelaskan beberapa kali kepadanya.
"Nah, ini kamu tinggal menambahkan beberapa data kuitansi untuk kapal yang baru masuk"
"Oke aku paham" Ujar nya lagi.
"Eh, Ramah. Ada di sini juga?" Tanya pak Barat yang baru saja tiba di kantor itu.
"Iya pak, ini baru saja selesai ngajarin Dika untuk membuat laporan bulanan keuangan"
__ADS_1
"Wah, bagus-bagus, baru saja tadi bapak ingin meneleponmu untuk memintamu mengajarkan Dika membuat laporan bulanan. Ternyata kamu sudah mengajarinya tanpa bapak telepon" Ujar pak Barat senang.
"Ya sudah pak, hari sudah mulai gelap aku dan adik sepupuku pulang dulu ya pak"
"Dika pulang dulu ya" Ujar ku kepada Dika.
"Gak berpamitan dengan mencium tangannya dahulu?" Canda pak Barat kepada kami.
"Apaan sih pak, bukan juga jadi suami"
"Tapi kan bakal"
"Gak pak, belum tentu" Jawab ku.
"Doain aja pak" Dika menyempeli.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Dika barusan.
***
"Malam ini kita keluar yuk" Ajak Dika kepada ku melalui pesan singkatnya.
"Boleh, boleh, tapi kamu harus meminta izin kepada orang tua ku" Jawab ku. Yah tentu saja kali ini aku berani membawa laki-laki ke rumah dan memperkenalkannya kepada keluargaku. Karena aku sudah bekerja dan tidak sekolah lagi seperti dulu. Jadi sudah waktunya aku mencari pasangan hidup.
"Baik lah aku akan ke rumahmu nanti malam. Karena aku merasa boring di sini sendirian tanpa teman" Ujar nya lagi. Yah memang mungkin seorang laki-laki yang bebas sering keluyuran malam jadi cepat merasa boring karena tidak bisa kemana-mana di sini. Secara di Bengkalis dia sering keluar malam bersama teman-teman nya untuk main PS, billiard, warnet, atau sekedar nongkrong. Bahkan dia terkadang juga keluar bersama kekasih nya. Sedangkan di sini, dia hanya duduk berdiam diri di kantor dan satu-satunya teman adalah aku disini.
"Oke aku tunggu ya kedatangan mu" Ujar ku lagi.
"Tapi untuk hari ini kita di rumah ku aja ya. Biar kedua orang tua ku kenal dengan mu. Besok-besok baru kita pergi keluar bersama" Saran ku.
"Oke tidak masalah. Aku juga belum kenalan dengan calon mertua ku. Kemaren waktu lebaran hanya ke rumah kakak mu dan kenalan nya sama kakak mu saja"
"Karena itu nanti malam kamu kenalan dengan orang tua ku ya" Ucap ku lagi.
"Oke"
"Buk, malam ini ada tamu" Ujar ku kepada ibu ku yang sedang masak di dapur untuk makan siang kami. Yah hari ini adalah hari minggu jadi nya aku libur dan tentu saja aku berada di rumah.
"Siapa?" Tanya ibu ku.
"Teman ku buk di sekolah kurus dulu buk. Dia kerja di sini. Dan hanya aku lah teman yang dia kenal di sini" Jelas ku lagi.
"Oh dia mau nginap di sini?"
"Ya gak lah buk. Dia hanya berkunjung"
"Laki-laki atau perempuan"
"Laki-laki. Aduh ibu banyak banget sih pertanyaan nya. Seperti di ruangan introgasi saja" Ujar ku lagi.
"Ya ibu hanya ingin tahu saja. Biar semua nya jelas"
"Sekarang sudah jelas ya buk"
"Belum, kamu dan dia ada hubungan apa?"
"Cuma teman buk"
"Jika hanya teman tidak mungkin kamu mau membawa nya ke rumah" Ujar ibu ku lagi.
"Aduh aku harus ngomong gimana ya sama ibu ku. Aku aja bingung dengan hubungan ku dan Dika ini seperti apa sebenar nya" Batin ku.
"Ha tuh kan diam. Pasti ada hubungan tersembunyi ini"
"Gak kok buk hanya temanan aja. Tapi untuk kedepannya sih aku nggak tahu hubungan kami ini seperti apa nantinya. Bisa saja lebih dari sekedar teman" Jelas ku lagi.
"Buk, nggak masalah kan jika aku pacaran saat ini. Karena aku sudah tidak sekolah lagi dan sekarang sudah mendapatkan pekerjaan" Ujar ku. Yah kali ini aku berani untuk mengungkapkan keinginanku karena aku tidak mau berpacaran seperti dulu lagi secara bersembunyi. Aku ingin keluargaku tahu siapa laki-laki yang sedang dekat denganku.
"Ya gak masalah, tapi acaranya harus yang sehat jangan berbuat yang aneh-aneh yang dapat memalukan orang tua. Ibu hanya menasehati kamu agar kamu tidak rugi nantinya. Karena sebagai seorang wanita jika satu itu sudah rusak maka Dunia ini terasa hancur. Jangan lah kamu pikirkan tentang berdosa nya lagi karena dosa itu gak kelihatan. Pikirkan saja rasa malu keluarga mu ini" Jelas ibu ku.
Deg....
Sontak perkataan Ibuku itu membuat aku tersentak karena ibuku berpikir bahwa aku masih suci. Sedangkan kesucian itu telah ada renggut oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab.
"Iya buk" Jawab ku tersenyum kecut.
__ADS_1