
"Surat perjanjian pernikahan?" Karina merasa tidak percaya dengan apa yang kini sedang dibacanya.
Sekali lagi, gadis itu menatap lembaran kertas yang kini dipegangnya. Karina tersenyum tipis.
Kenapa isi surat ini isinya sama persis seperti dalam novel-novel bertema pernikahan paksa yang sering dia baca?
Karina masih membaca beberapa poin yang tertulis di sana. Semua poin yang tertulis dalam surat perjanjian itu sama-sama menguntungkan.
Jadi, dia menikahiku karena kasihan? Dia ingin menolongku menjauh dari paman dan semua keluarganya. Dia bahkan menjamin kalau keluarga sang paman tidak akan mendapatkan sepeserpun harta milik kedua orang tuaku.
Karina membaca salah satu poin yang sangat menguntungkan dirinya sekaligus melukai hatinya. Bagaimana bisa pria itu dengan tanpa perasaan mengatakan dengan jelas secara tertulis kalau pria itu menikahinya karena terpaksa?
Pria itu bahkan dengan jelas mengatakan kalau dia ingin menikahinya karena ingin menolong Karina agar gadis itu segera terbebas dari paman dan bibinya.
Bima juga berjanji, akan mengurus perusahaan yang akan jatuh pada Karina. Bima berjanji pada Karina dalam surat perjanjian itu kalau dirinya tidak akan membiarkan laki-laki yang berstatus sebagai paman dan bibi Karina itu mendapatkan sepeserpun harta yang seharusnya menjadi milik Karina sedari dulu.
"Aku akan menolongmu mendapatkan semua hak yang seharusnya menjadi milikmu. Perusahaan itu, aku pastikan akan menjadi milikmu sesuai dengan keinginan mendiang papamu!" Suara Bima terdengar. Karina yang sedari tadi menundukkan kepala karena membaca surat itu berulangkali langsung mendongakkan kepalanya.
"Apa kamu benar-benar akan melakukannya untukku?"
__ADS_1
"Tentu saja. Aku akan menyingkirkan orang-orang yang selama ini menjadi benalu di perusahaan milik papamu. Aku sedang menyelidiki semua tentang perusahaan milikmu." Bima menjawab keraguan Karina.
"Apa kamu tahu? Belum sehari orang-orangku menyelidikinya, mereka sudah menemukan beberapa kecurangan yang dilakukan oleh paman dan bibimu.
Karina menatap Bima dengan tidak percaya.
"Bagaimana bisa?"
"Tidak ada yang tidak mungkin yang tidak bisa dilakukan oleh Pamanmu. Tua bangka itu sangat licik. Sepertinya dia sudah mempertimbangkan seandainya kamu menolak untuk menikah dengan pria pilihannya," jelas Bima.
"Maksud kamu?" Karina masih belum paham dengan apa yang dikatakan oleh Bima. Ia sungguh tidak mengerti apa maksud dari cerita Bima yang mengatakan kalau sang paman memang sudah memiliki rencana lain selain menikahkannya dengan pria pilihan Damar.
"Pamanmu memiliki rencana cadangan untuk menghancurkanmu!" ucap Bima penuh penekanan.
Mulut Karina terbuka mendengar ucapan Bima.
"Seandainya dia gagal menikahkanmu dengan pria pilihannya yang akan dia suruh mengambil alih perusahaan darimu, pamanmu berusaha membuat perusahaan bangkrut agar saat kamu menikah dengan orang lain, perusahaan itu hancur dan hanya tinggal namanya saja."
"Apa?" Karina sungguh terkejut dengan ucapan pria yang sudah sah menjadi suaminya tadi pagi itu.
__ADS_1
Bima mencibir Karina. Menertawakan kebodohan gadis itu.
"Kamu terlalu naif, Karina. Makanya mereka begitu mudah untuk membodohimu." Ucapan Bima membuat gadis itu kembali menatap Bima.
Kalimat yang keluar dari mulut pria di hadapannya itu menusuk tepat ke jantungnya. Bima benar, selama ini dirinya terlalu naif, hingga mengira kalau sang paman tercinta dan keluarganya menyayanginya dengan tulus.
Kini, Karina seolah baru tersadar. Paman dan bibi juga kedua putrinya, selama ini berpura-pura merawatnya di rumah besar itu karena ingin memanfaatkan kebodohannya.
"Tanda tangani surat perjanjian itu. Setelah semua harta yang diwariskan oleh kedua orang tuamu jatuh ke tanganmu, surat perjanjian ini akan berakhir." Bima menatap tajam ke arah gadis cantik yang tadi pagi ia nikahi.
"Tanggung jawabku berakhir setelah kamu mendapatkan semua yang seharusnya menjadi milikmu." Bima masih memindai wajah cantik Karina.
"Pernikahan kita berakhir setelah kamu mendapatkan hakmu."
"A–apa?"
BERSAMBUNG ....
Baca juga novel karya temen Author yuk!
__ADS_1