TAKDIR

TAKDIR
Part 31 KAMU HARUS TAHU BATASANMU!


__ADS_3

"Good job, Girl!" Devan tersenyum dengan penuh haru saat wanita di depannya itu berdiri dengan tegak.


Sementara wanita di depannya menangis. Kakinya gemetar, kedua tangannya yang awalnya bertumpu pada tubuh Devan ia lepaskan.


"Devan, aku–"


"Ya, kamu bisa. Kamu bisa berdiri, Ren, kamu berhasil." Devan meraih tubuh Renata yang terlihat gemetar ke dalam pelukannya.


"A–aku ...." Renata menangis dalam pelukan dokter Devan. Setelah perjuangan selama beberapa bulan, akhirnya ia bisa berdiri. Bangun dari kursi roda dan berdiri tegak.


"Selamat! Sebentar lagi, kamu pasti bisa kembali berjalan. Kamu hanya butuh berjuang sekali lagi." Devan melepaskan pelukannya kemudian kembali mendudukkan tubuh Renata pada kursi roda.


Dua orang berseragam snelli yang berdiri di samping Devan pun tampak bahagia. Mereka berdua sangat senang karena pasien yang sedang ditanganinya mengalami kemajuan pesat.


"Terima kasih," ucap Devan dalam bahasa Inggris. Pria itu menyalami kedua dokter yang menangani Renata.


"Sama-sama, Devan. Pasien mempunyai semangat yang tinggi untuk sembuh. Kami hanya melakukan apa yang kami bisa. Selebihnya, pasien sendirilah yang berusaha hingga akhirnya bisa mencapai kemajuan seperti ini. Kami berdua sungguh sangat senang." Kedua dokter itu menjawab pertanyaan Devan dengan bahasa asalnya. Kedua mata dokter itu bahkan berbinar, ikut bahagia dengan kemajuan yang dialami oleh Renata.


"Besok, kamu tinggal belajar berjalan saja lagi. Aku yakin, kurang dari satu tahun, kamu pasti sudah bisa berjalan."


"Terima kasih, Devan. Aku tidak tahu bagaimana caranya aku berterima kasih padamu. Terima kasih karena mau menolongku." Renata menatap pria di hadapannya dengan air mata yang mengalir.


"Kamu ini bicara apa? Kamu hanya perlu berada di sampingku, Ren, itu sudah cukup bagiku." Devan berucap pelan sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


"Bisa melihatmu bahagia dan membuatmu bahagia, adalah kebahagiaan buatku, Ren. Aku hanya ingin kamu bahagia. Lupakan dia, dan berbahagialah!"


"Devan ...." Mendengar ucapan Devan, air mata Renata kembali mengalir.


"Lupakan dia," ulang Devan. Laki-laki itu teringat dengan cerita Aldrian saat meneleponnya kemarin. Pria itu menyuruhnya menjaga Renata. Dia memberitahukan kalau Bima sudah menikah.

__ADS_1


Mendengar ucapan Aldrian, Devan tentu saja kaget. Ia sangat tahu bagaimana besarnya cinta yang dimiliki Bima untuk Renata.


Namun, saat mendengar cerita Aldrian tentang alasan Bima menikahi perempuan yang sekarang menjadi istrinya itu, Devan akhirnya mengerti. Sudah bisa ia duga sebelumnya. Bima tidak mungkin menikahi wanita lain karena cintanya yang begitu besar pada Renata.


Renata semakin menangis mendengar ucapan pria itu.


"Bukankah kamu bilang ingin sembuh?" Devan memindai wajah cantik Renata.


"Lupakan dia, fokus pada pengobatanmu, Renata." Devan kembali berucap. Ia tahu ini tidak mudah untuk Renata.


Seperti Bima yang akhirnya menikah dengan perempuan lain untuk berlari dari perasaannya pada Renata, seperti itu pula, yang seharusnya dilakukan oleh Renata. Menikah dengan pria lain yang mencintainya melebihi cinta yang dimiliki oleh Bima, mungkin jauh lebih baik daripada wanita itu terus mengharapkan cinta yang tidak akan pernah dia miliki.


"Aku mencintaimu, Renata. Maukah kamu memberi kesempatan padaku untuk memilikimu?"


***


"Bima, bukankah kamu bilang akan menyingkirkan foto itu semalam? Tapi kenapa kamu tidak jadi melakukannya?" Karina berucap dengan hati-hati. Menagih janji pria itu semalam. Sungguh! Rasanya Karina tidak tenang tidur satu ranjang dengan Bima. Apalagi, saat melihat wajah cantik wanita dalam bingkai foto berukuran besar itu.


Ya! Semalam dirinya memang mengatakan akan memindahkan foto itu dari kamar. Akan tetapi, saat ingin melakukannya, hatinya merasa berat. Ia merasa tidak sanggup menurunkan bingkai foto yang terpajang di dinding kamarnya sejak Renata memutuskan bercerai dengannya.


Foto itu ia temukan di kamar Renata setelah kepergian perempuan itu.


"Bima, aku tidak merasa nyaman tidur di sini jika foto itu masih berada di sini. Aku–"


"Diam, Karina! Sebaiknya kamu cepat tidur. Besok pagi, kamu harus ikut aku ke kantor," sela Bima cepat.


"Kalau begitu, aku tidak mau tidur di sini selagi kamu belum memindahkannya!" seru Karina kesal.


Bima menatap tajam ke arah Karina. Perempuan di hadapannya itu mengingatkannya pada seseorang yang begitu sangat keras kepala di masa lalu.

__ADS_1


"Dengar, Karina! Kamu harus tahu batasanmu!" Bima meraih lengan Karina saat perempuan itu berniat keluar dari kamar.


"Kamu sangat tahu, bukan, kalau kita menikah karena aku ingin membantumu mendapatkan hakmu? Lalu apa masalahnya jika foto itu tetap berada di sana? Toh! Kita tidak akan melakukan apapun!" ucap Bima penuh penekanan.


"Tanpa kamu jabarkan pun aku sudah mengerti, Bima. Hanya saja, aku merasa tidak pantas berada di sini!" Karina membalas tatapan tajam pria di hadapannya.


Tidak! Dia tidak boleh gugup hanya karena perasaan bodohnya. Ia adalah Karina. Perempuan pemberani yang akan melakukan apa pun untuk kebahagiaannya, meskipun sampai saat ini dirinya belum mampu mewujudkan kebahagiaan untuknya sendiri.


"Apa kamu tidak merasa bersalah pada istrimu saat menikahiku? Apa kamu tidak merasa bersalah saat kamu tidur satu ranjang denganku di ranjang yang sama yang biasa kamu tiduri dengan istrimu?"


"Bima, aku tahu, menikah denganmu adalah sebuah kesalahan. Seharusnya aku tidak menyetujuinya, apalagi, aku tahu kalau kamu adalah pria beristri. Bagaimana seandainya istrimu yang di luar negeri itu tahu kalau ternyata dirimu menikah lagi?"


BERSAMBUNG ....


Author kasih novel keren lagi punya temen Author nih! Jangan lupa merapaaattt!!



Dan ini Blurb nya.


Indah adalah seorang gadis yang tinggal di sebuah pedesaan yang jauh dari keramaian kota.


Dia tinggal bersama Ibu tiri dan kakak tirinya, awalnya hidup Indah biasa saja. Sama seperti keluarga pada umumnya, Ibu tirinya Indah menyayangi Indah sama seperti dirinya sayang kepada anak kandungnya. Namun, setelah Ayahnya Indah meninggal, Ibu tirinya menjadi jahat dan memperlakukan Indah layaknya seorang pembantu di rumahnya sendiri.


Indah pernah dijual oleh Ibu tirinya kepada laki-laki hidung belang, untungnya dia bisa melarikan diri dari laki-laki itu dan akhirnya Indah ditolong oleh seorang laki-laki yang bernama Feri.


Siapakah Feri?


Akankah Indah menemukan kebahagiaannya?

__ADS_1


Ikuti terus kisahnya!


__ADS_2