
"Apa kamu yakin, tidak akan mengundang Bima, Dev?" Iren menatap putranya dengan serius.
Devan menghela napas panjang sambil menatap ke arah wanita yang melahirkannya.
"Aku tidak mau Renata sampai ketemu dengan Bima, Ma."
"Kenapa? Bukankah kamu bilang Bima sudah menikah?" Iren menatap putranya dengan heran.
"Kamu cemburu jika Bima datang dan bertemu dengan Renata?" lanjut Iren sambil menelisik wajah putranya yang terlihat khawatir.
"Bima menikahi perempuan itu karena terpaksa, Ma. Dia tidak mencintainya."
"Benarkah?" Iren menutup mulutnya yang terkejut.
"Benar, Ma. Dia bahkan menikah tidak sampai sebulan setelah kepergian Renata bersama kita." Devan menatap sang mama.
"Lalu? Apa hubungannya pernikahan Bima dengan Renata?" Iren kembali bertanya. Perempuan paruh baya itu ingin tahu apa sebenarnya yang dikhawatirkan oleh putranya itu.
"Walaupun Renata setuju menikah denganku, bukan berarti dia benar-benar sudah mencintaiku, Ma."
"Apa maksud kamu, Dev? Kamu meragukan Renata?" pekik Iren.
"Ma!"
Iren segera menutup mulutnya saat Devan mengingatkannya agar tidak kembali berteriak.
"Aku hanya tidak yakin dengan diriku sendiri. Renata sangat mencintai Bima. Tidak mungkin dia begitu mudah melupakan lelaki itu di dalam hatinya." Devan mendesah panjang.
"Sayang ...." Iren meraih tubuh Devan ke dalam pelukannya. Perempuan paruh baya itu sangat tahu bagaimana sang putra begitu mencintai Renata.
Lelaki itu bahkan rela mengorbankan apa saja demi perempuan itu. Rasanya, akan tidak adil seandainya Renata tidak peka dan hanya berpura-pura mencintai Devan.
"Aku takut Renata akan berubah pikiran saat dia melihat Bima. Aku sangat takut, Ma."
"Kenapa kamu bicara begitu, Dev? Kamu harus percaya diri. Kalau kamu merasa kalau saat ini Renata belum sepenuhnya mencintaimu, kamu harus terus berusaha agar wanita itu benar-benar mencintaimu. Bukan malah berputus asa seperti ini." Iren menepuk bahu Devan.
"Kamu harus berjuang mendapatkan hati Renata. Sebentar lagi dia akan menjadi istrimu. Mama yakin, Renata akan menjadi istri yang baik untukmu." Iren kembali menasihati.
__ADS_1
"Jangan terlalu berpikiran negatif. Sebentar lagi kalian akan menikah. Kalian bicarakan baik-baik. Jangan sampai ada sesuatu yang disembunyikan di antara kalian."
Devan mengangguk mengerti. Apa yang dikatakan oleh sang mama memang benar. Dirinya terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi.
"Mama, Devan, kalian di sini?" Renata tersenyum saat mendapati calon suami dan mertuanya ternyata sedang duduk di dalam gazebo di taman belakang.
Iren tersenyum menatap Renata. "Mama tadinya ingin minum teh, tapi pas lewat taman, aku lihat calon suamimu duduk sendirian di sini kayak orang ilang." Iren terkekeh. Wanita paruh baya yang terlihat masih cantik itu mengambil cangkir berisi teh miliknya.
Satu tangannya menepuk bahu Devan. Memberikan kode pada laki-laki itu agar menceritakan semua masalahnya pada Renata. Devan mengangguk sambil tersenyum.
"Mama pergi dulu. Kalian bersantailah sebentar di sini."
"Iya, Ma." Renata tersenyum menatap kepergian Iren. Wanita itu tersentak kaget saat Devan tiba-tiba menarik tangannya kemudian mengangkat tubuhnya ke atas pangkuan pria tampan itu.
"Devan!" Renata memukul lengan Devan membuat pria itu terkekeh kemudian memeluk perempuan yang sangat dicintainya itu dari belakang.
Semilir angin meniup rambut panjang Renata. Wanita itu menyandarkan tubuhnya membuat Devan semakin erat memeluknya.
"Devan."
"Hmm." Devan memberikan kecupan di pipi wanita itu.
Renata menghela napas panjang. "Janji, tidak akan marah?" Renata berbalik menatap ke arah Devan. Menatap manik mata pria itu dengan seksama.
Devan membelai wajah cantik Renata yang hanya berjarak beberapa centi saja.
"Ada apa? Aku janji tidak akan marah. Apapun yang akan kamu katakan." Devan menatap wanita yang sangat dicintainya itu dengan hati berdebar. Entah kenapa, Devan merasa takut.
Devan memberanikan diri mengecup sekilas bibir merah Renata.
"Jangan membuatku–"
"Bisakah kamu tidak mengundang Bima dalam pernikahan kita?"
"Ap–"
"Aku mohon. Bisakah kamu tidak mengundang Bima saat pernikahan kita?" ulang Renata.
__ADS_1
"Kenapa?" Devan sedikit terkejut sekaligus bersyukur.
"Jawab dulu pertanyaanku." Bibir Renata mengerucut.
"Iya, Sayang, apapun yang kamu mau, aku akan menurutinya." Devan menyambut bibir Renata yang mengerucut dengan bibirnya.
"Benar, kamu tidak akan mengundangnya?" Raut wajah Renata berubah lega. Sungguh! Ia belum siap bertemu dengan lelaki di saat rasa cintanya pada Devan baru saja tumbuh.
Devan mengangguk. Apa yang dikatakan oleh Renata adalah jawaban dari kegelisahannya beberapa hari ini.
"Aku memang tidak ingin mengundangnya."
"Benarkah?"
"Hmm."
"Kenapa kamu tidak ingin mengundangnya?" Renata menatap Devan yang langsung mengalihkan pandangannya.
"Kenapa?"
"Aku takut."
"Takut?" Renata memaksa wajah tampan itu menatapnya.
"Aku takut kamu masih menyimpan perasaan saat bertemu dengannya. Aku–aku minta maaf." Devan menundukkan wajahnya. Tak berani menatap ke arah Renata yang tampak terkejut.
Kedua tangannya yang melingkar pada pinggang perempuan itu mengerat. Devan memeluk perempuan itu dengan erat.
"Maafkan aku." Devan berucap lirih.
"Kamu tidak mempercayaiku, Dev?"
Devan menggelengkan kepalanya.
"Lalu?" Renata mengangkat wajah tampan itu agar menatapnya.
"Aku tidak percaya diri. Aku takut semuanya hanya mimpi. Aku mencintaimu, Ren. Dari dulu sampai akhir nanti. Aku akan selalu mencintaimu. Aku takut setelah ini kamu pergi meninggalkan aku."
__ADS_1
"Devan, apa yang kamu katakan?"
BERSAMBUNG ....