TAKDIR

TAKDIR
Bab 90. Siapa Yang Paling Tampan


__ADS_3

Seketika wajah Wisely bersemu merah. Pujian yang ditunjukkan pada dirinya terdengar begitu jelas.


Wisely menelan ludah, pura-pura tidak mendengar. Meletakkan napan di atas meja dengan wajah tertunduk, sementara baik Moses maupun Rafael saling memandang.


Namun tidak lama keduanya membuang muka. Ada rasa tidak suka dalam hati Moses dengan pernyataan Rafael yang ditunjukkan pada mantan istrinya itu.


"Maaf, kelamaan. Hmm, kebetulan tadi Mama menghubungiku," ucap Wisely, dia bermaksud mengatakan itu untuk mengusir rasa kecanggungan.


"Buat apa Mama menghubungi? Apakah Ozora, Azura baik-baik saja?" tanya Moses dengan ekspresi serius.


Wisely mengangguk. "Mama hanya ingin menanyakan, jam berapa kita ke sana."


Mendengar penjelasan Wisely, hati Moses pun lega. Sebelumnya dia khawatir, khawatir akan kedua putra kembar mereka.


"Sepertinya kau sangat menyayangi mereka!" ujar Rafael seusai menyeruput kopi hitam.


"Tentu saja! Apa maksudmu menanyakan hal seperti itu?" dengan ekspresi sinis.


"Tidak ada maksud apa-apa, hanya sekedar memastikan!" dengan tenang Rafael menjawab.


Sementara Wisely hanya bisa menghela nafas, menjadi penonton tanpa ikut campur. Rasanya keadaan seperti ini ingin diakhiri, namun apa daya dia tetap duduk manis bersama dua lelaki tampan.


"Kita akan berangkat jam enam. Masih ada waktu untukmu beristirahat," ujar Moses sembari melirik Wisely yang sejak tadi diam saja, mengusap kepala Wisely dengan kelembutan.


Wisely sontak kaget, dia pun menanggapi dengan anggukan.


"Baiklah, sepertinya aku menjadi nyamuk di sini. Sampai ketemu di pesta!" dengan bibir melengkung Rafael beranjak dari tempat duduknya. Dia tidak ingin terlalu lama menjadi penonton atas interaksi antara mantan pasangan suami-isteri tersebut.


"Hati-hati," ucap Wisely.


"Oke!" Rafael menoleh dengan memberi kode pada jari tangannya.


Sepeninggalan Rafael.


Wisely membawa Moses berjalan menuju dapur. Saatnya untuk makan siang.


Dengan hati bahagia, Moses duduk menunggu di ruang makan. Wisely sedang menghidangkan makanan yang dia masak sendiri.


"Masak apa?" tanya Moses ketika mantan istrinya itu tengah berdiri di sebelahnya.


"Sudah tahu nanya," sahut Wisely sekenanya.


Bibir Moses tertarik, membingkai senyum mendengar jawaban serta nada Wisely.


"Terima kasih yah?" dengan terharu Moses mengungkapkan rasa berterima kasih karena permintaan dia sebelumnya di kabulkan.


Wisely mengangguk. "Maaf jika cita rasa tidak sesuai dengan lidahmu," ucap Wisely. Ya, siang ini dia memasak request sang mantan suaminya.

__ADS_1


"Apapun yang kau masak aku menyukainya," ujar Moses, namun tiba-tiba saja relung hatinya berdenyut nyeri ketika ingatan masa lalu terlintas begitu saja.


"Ada apa?" tanya Wisely ketika menyadari ekspresi wajah Moses.


Moses menggeleng, kemudian kembali mengubah ekspresinya menjadi tenang.


Mereka pun menikmati sembari mengobrol.


*


Pukul tujuh tiga puluh menit. Taman Mansion yang didekorasi dengan indah, tampak tamu undangan saling berdatangan.


Tuan rumah sudah berada di depan sana beberapa menit yang lalu, kecuali Moses maupun Wisely.


Sementara baik Ozora, Azura masih disembunyikan karena akan menjadi kejutan di kala pembukaan acara nanti.


"Dimana mereka?" sejak tadi Mama Asilla terus saja bergumam dengan pandangan menyapu mencari putra serta mantan menantunya yang tak kunjung menampakkan diri padahal para tamu undangan saling berdatangan.


"Mungkin masih di jalan sayang, tenanglah." Dengan senyuman hangat Papa Fillio menggenggam tangan sang istri tercinta.


"Mereka memang keras kepala. Kenapa sih harus berangkat tidak tepat waktu? Bukankah ini acara mereka?" Mama Asilla masih saja kesal namun sepandai mungkin menyembunyikan kekesalannya di depan para tamu undangan.


Sementara baik Moses maupun Wisely baru turun dari dalam mobil.


Moses membawa Wisely masuk melewati akses rahasia. Tidak mungkin juga dia membawa Wisely dalam terang-terangan.


"Aku ingin mengusulkan. Bisakah aku berdiam di sini saja? Aku belum siap. Hmm, cukup Ozora, Azura saja." sungguh raut wajah cantik itu menyimpan banyak keraguan bahkan Moses sendiri dapat membaca ekspresi yang dipancarkan oleh mantan istrinya tersebut.


Tidak ingin wanitanya ragu, Moses meraih tangan Wisely, lalu menggenggamnya begitu erat. "Tidak perlu takut. Kau adalah Mommy dari putra-putraku dan patut mendampingi mereka!"


Wisely menarik nafas, jika hal menyangkut kedua putranya maka itulah kelemahannya. Mau tidak mau dia lebih mengalah. Ozora maupun Azura adalah nafas hidupnya.


Wisely akhirnya mengangguk, walaupun keraguan merajalela dalam hatinya.


Moses tersenyum kemudian mereka melanjutkan langkah menuju dimana ada Ozora, Azura ditempatkan.


Membuka pintu ruangan.


"Sayang," seru Wisely ketika mendapati kedua putra mereka tengah menonton kartun favorit.


"Mommy," balas mereka serempak. "Daddy," sambung mereka kembali.


Baik Moses maupun Wisely melengkungkan senyuman, melangkah semakin mendekat kemudian memberi kecupan manis pada kedua putra tampan mereka.


"Kalian tampan sekali," puji Wisely, kagum dengan pakaian formal yang dikenakan oleh kedua putranya.


"Iya dong. Coba tebak siapa diantara kami yang paling tampan? A atau Kakak atau Daddy?" ucap Azura dengan semangat. Sementara baik Moses maupun Ozora mengernyitkan dahi atas pertanyaan Azura.

__ADS_1


Wisely terdiam. Kemudian memandang tiga lelaki tampan itu, walau beda usia tapi sungguh sangat sulit dibedakan.


"Mom."


Wisely tersadar. Kini tiga lelaki tampan yang harus dia unggulkan itu tengah berdiri sejajar.


Tiba-tiba pandangan Wisely tertuju pada Moses hingga membuat lelaki tampan itu salah tingkah. Apa lagi tatapan mantan istrinya itu begitu teduh, cantik dan mempesona.


"Semuanya tampan," ucap Wisely.


"Tentu saja ada yang lebih tampan Mom. Ayo lah," Azura kekeh.


"Semuanya tampan, Mom tidak dapat membedakannya."


"Mommy kalian tidak adil!" mendengar ucapan Moses membuat Wisely mengumpat dalam hati karena ikut serta dalam pertanyaan konyol.


Ya, Moses sengaja karena dia sendiri ingin tahu bagaimana pandangan Wisely terhadap ketampanannya.


Walau tidak dipungkiri bahwa dia adalah lelaki tampan yang terkenal tapi pengakuan atau penilaian Wisely saat ini sangat penting.


Wisely menghembus nafas kasar. Desakan Azura membuatnya mengalah.


"Daddy!"


Deg!


Kalimat singkat yang tak terduga itu membuat dunia seorang Moses Januar dipenuhi bintang yang tak berhenti berkelap-kelip, seakan jiwa raganya ikut melayang-layang.


"Huh tidak adil. Kenapa Mom milih Daddy?" Azura protes dengan cemberut.


Sementara Wisely mengalihkan pandangannya ke arah lain. Rasanya malu sekali mengatakan itu tapi itulah kenyataannya sesuai kata hatinya.


"Tentu saja Mom milih Daddy karena Daddy orang dewasa. Tentu saja saat ini kita kalah karena masih kecil. Lihat saja dua puluh tahun kemudian, maka O lah yang paling tampan!" tiba-tiba Ozora berkomentar, sejak tadi hanya jadi pendengar saja.


"Itu menurut mu Kakak!" Azura kembali protes karena tidak terima.


"Kakak adalah fotocopy Daddy!" kali ini Ozora kembali merespon.


"Sudah, sudah." Wisely meleraikan.


Sementara Moses tak lepas dari senyumannya. Pengakuan beberapa menit tadi membuatnya mabuk kepayang.


Tidak ingin melewati kesempatan dia pun mendekat kemudian memberi bisikan lembut.


"Terima kasih atas pujiannya, hmm."


Wisely menelan ludah, apa lagi tanpa disangka-sangka mantan suaminya itu mengecup pipinya hingga membuat wajahnya merona merah.

__ADS_1


__ADS_2