TAKDIR

TAKDIR
Bab 48


__ADS_3

Rio mengantar ku pulang hingga sampai ke pelabuhan. Sebenar nya tidak mangantar sih. Kebetulan aku bertemu dengan nya di jalan waktu pulang tadi dan dia mau pergi menjemput pacar nya. Rio juga bilang bahwa yang menegur kami di jalan tadi adalah Fida pacar nya Dodi.


"Sudah di mana?" Tanya Dodi mengirimkan pesan singkat kepada ku.


"Baru masuk ke dalam kapal peri" Jawab ku.


"Oh ya, tadi kenapa gak mampir dulu ke rumah? Padahal ibu ku masak lebih dan mengajak mu makan bersama tadi" Ujar Dodi lagi.


Deg...


Hati ku merasa tidak enak mendengar ucapan Dodi barusan. Bukan nya apa-apa sih, aku merasa gak enak hati kepada ibu nya Dodi tepat nya calon mertua ku itu hehehe. Di mana sudah capek-capek masak, tapi aku nya malah pulang. Seperti tidak menghargai saja diri nya.


"Maaf ya aku gak tahu. Lagian hari juga sudah pukul segini, takut nya aku tiba di Pakning terlalu malam. Kamu tahu sendiri kan aku sendirian" Balas pesan ku.


"Iya gak apa-apa, sudah aku bilang juga kok sama ibu ku seperti itu. Dia juga mengerti" Jawab nya lagi.


"Oh ya, tadi sewaktu perjalanan pulang aku ketemu sama Rio. Terus lagi ngobrol-ngobrol sama Rio, tiba-tiba ada dua orang cewek melaju dan menyergah kami. Dio bilang itu si Fida. Emang sewaktu aku mengantar kamu pulang tadi, dia ada di rumah mu?" Tanya ku.


"Iya dia ada di rumah ku, dia melihat kita kok. Dia berdiri di samping rumah melihat kita"


Ya aku memang tidak menyadari ada yang mengawasi kami tadi. Lagian di samping rumah Dodi juga gelap. Jadi tidak kelihatan ada orang atau tidak.


"Jadi kamu sudah kenal dong sama Fida?" Tanya nya.


"Belum. Aku gak begitu melihat nya dengan jelas. Dia melaju begitu saja dan hari juga malam. Jadi tidak jelas wajah nya" Jawab ku.


Aku juga tidak tahu kenapa aku malah ikut-ikutan membahas pacar nya Dodi. Padahal itu justru akan membuat ku semakin sakit hati. Tapi apalah daya, hubungan kami ini tidak ada status. Jadi yah anggap saja jika kami membahas tentang hubungan Dodi dan Fida sebagai teman curhat.


"Maaf ya" Ujar ku pada akhirnya.


"Maaf untuk apa?"


"Ya tadi mungkin telah membuat kalian berdua bertengkar karena ku. Sejujur nya selain kamu, aku tidak tahu harus minta tolong sama siapa jika berada di Bengkalis" Ujar ku. Bukan nya aku tidak mempunyai teman lain di Bengkalis itu. Tapi rumah mereka pada jauh semua. Seperti Hambali yang tinggal di Ketam putih yang memakan waktu hampir satu jam untuk ke sana. Mizan yang tinggal di Bantan tua juga rumah nya jauh. Sabrina dan Auri yang tinggal di daerah Penampi juga butuh waktu hampir setengah jam ke sana. Begitu pun Siti Fateha, Nilam, Aswat dan Jasmitaria yang tinggal di daerah Jangkang yang membutuhkan waktu setengah jam ke sana. Jadi hanya Dodi dan Sumira lah yang tinggal di daerah Sungai alam yang tidak jauh dari pelabuhan penyebrangan. Jelas dong aku meminta bantuan sama Dodi. Karena jika sama Sumira, pasti banyak saja alasan nya untuk menolak.


"Gak kok, santai aja" Balas nya singkat.


Aku menghela napas berat ku. Begini lah nasib seorang insan penggarap cinta kekasih orang. Yah cinta ini bertepuk sebelah tangan. Rela tersakiti demi kebahagiaan orang yang kita cintai. Mendengar curhat dari hati nya meski hati kita terluka.


Aku membuka sosial media berupa Facebook untuk menghilangkan kesuntukkan selama di perjalanan pulang.


Ting...


Notifikasi inbox ku berbunyi. Ada pesan dari seseorang. Aku mengkerutkan kening ku melihat pesan itu.


"Hy dek" Sapa nya dengan ku di inbox facebook ku itu.


"Hy juga" Balas ku.


"Tinggal di mana sih?"


"Pakning bang"


"Sama, abang juga. Pakning nya di mana nya?"


"Sejangat bang"


"Kalau abang di jln Nusantara. Oh ya adek lagi ngapain?"


"Lagi duduk-duduk aja ni bang"


"Adek masih sekolah, kuliah atau kerja?"


"Kerja bang" Jawab ku.


"Oh... Dimana?"


"Kerja jaga ponsel aja bang" Bohong ku.


"Dari tadi kita ngomong panjang lebar tapi gak tahu siapa nama nya. Nama adek siapa?"


"Sesuai di facebook bang, Ramah"


"Nama abang Ridho. Boleh minta nomor ponsel nya?"


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Ya untuk sms atau telfon. Yah sekedar kenalan agar lebih dekat lagi" Jawab nya.


Aku berpikir dua kali untuk memberi nomor ponselku kepada bang Ridho orang yang baru ku kenal melalui sosial media.


Setelah berpikir agak lama, aku pun memutuskan untuk memberikan saja nomor ponselku kepada bang Ridho. Yah Apa salahnya jika aku mencoba untuk dekat dengan bang Ridho. Secara hingga saat ini hubungan aku dan Dodi tidak jelas. Aku selalu menutup hati untuk berkenalan dengan laki-laki lain demi menjaga perasaannya dan berharap suatu saat nanti dia mengungkapkan perasaannya kepadaku. Namun sudah berbulan-bulan aku menunggu ungkapan perasaan itu. Hingga detik ini dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya dan status hubungan kami masih tidak jelas.


Aku pun mengetik nomor ponsel ku untuk ku berikan kepada bang Ridho.


"Terima kasih ya manis" Ujar nya lagi.


Aku pun keluar dari aplikasi facebook itu.


Ting...


Ponsel ku berdering tanda pesan singkat masuk.


"Hy dek. Ini bang Ridho yang chat adek di inbox" Pesan nya.


"Save ya nomor abang"


"Oke bang" Jawab ku singkat.


"Cinta, sudah tiba di rumah?" Pesan dari Dodi kembali masuk.


"Belum, sebentar lagi juga kapal nya mau merapat" Balas ku.


"Nanti kalau sudah tiba di rumah, kasih tahu ya cinta. Sejujurnya aku khawatir sama kamu karena pulang sendirian" Ujar nya lagi.


"Aduh dodi, perasaan apa sih yang sebenar nya ada di hati mu ini? Aku berhasil membuatku baper dengan sikap mu yang seperti mencintai ku. Tapi terkadang kamu juga membuat aku kecewa karena telah berhadap cinta mu yang kini telah menjadi milik orang lain" Batin ku.


"Iya nanti aku kabari jika sudah tiba di rumah" Balas ku lagi.


***


"Lagi ngapain kak?" Pesan Fida pacar nya Dodi tiba-tiba masuk ke ponsel ku.


Aku mengurutkan keningku melihat pesan tersebut.


"Ngapain juga ini anak sms aku pagi-pagi begini?" Batin ku.


"Mau pergi ke kerja" Ujar ku.


"Tanya apa?"


"Kalian kemana saja tadi malam?"


"Kami hanya pergi untuk mencari obat ibuku. Setelah itu kami pulang" Jawabku dengan jujur.


"Emang nya ada apa?" Tanya ku.


"Gak, hanya tanya aja"


"Oh" Jawab ku lagi.


Sebenarnya hati ini sakit ketika pacar Dodi mengirim pesan kepadaku tadi. Jika di turut rasa hati, aku sama sekali tidak mau membalas pesan dari sainganku itu. Namun, aku harus membalasnya karena aku tidak mau dia berpikir aku sombong.


***


"Hallo" Ujar ku saat ponsel ku berdering tanda telfon masuk.


"Assalamualaikum dek" Bang Ridho mengucapkan salam saat teleponnya terhubung denganku.


Deg...


Kaget jelas Kaget aku mendengar ucapan salam dari bang Ridho itu. Secara aku hanya menyapanya dengan sebutan hallo.


"Waalaikumsalam" Jawab ku.


"Lagi ngapain dek? Sudah solat magrib?"


"What? Baru kali ini ada seorang laki-laki yang mengingatkanku tentang salat"


"Sudah kok bang" Jawab ku jujur.


"Alhamdulillah, Adek sudah makan"

__ADS_1


"Belum bang, belum lapar soalnya"


Aku dan bang Ridho ngobrol-ngobrol ringan. Terkadang kami juga membahas tentang agama kebetulan dia dulunya sekolah di Madrasah Aliyah. Yang tahu sedikit banyaknya tentang agama. Dia juga sering berceramah dan mengajak anak-anak mengaji di mushola yang tidak jauh dari rumahnya. Yah bisa di katakan bang Ridho ini ustad desa di desa nya.


Karena kami saling sharing tentang agama, sehingga membuat hati ini merasa nyaman ngobrol bersamanya. Kami pun menjadi dekat. Dan saking curhat satu sama lain. Kami juga pernah ketemu sewaktu aku ingin membeli sate di sebuah warung sepulang dari kantor. Yah kebetulan warung sate itu milik orang tua nya.


Dia memang bukan orang yang ganteng. Tapi cukup manis jika di lihat. Orang nya dewasa, tubuh nya lumayan berisi dan yah dia bekerja di kebun sawit yang berada di desa Dompas.


***


"Dek, abang sebenar nya suka sama adek dari pertama ketemu" Satu ungkapan perasaan di luahkan kepada ku malam itu. Yah kami sudah dekat hingga satu bulan.


Jelas aku kaget dengan ungkapan rasa itu. Aku hanya diam mendengarkan ungkapan rasa itu. Aku tidak tahu harus memberi jawaban apa.


"Dek, kok diam? Apa abang salah ngomong?" Tanya nya.


"Maaf bang aku bingung. Abang orang yang baik, rasa nya aku ini tidak pantas untuk mu" Ujar ku.


Yah tentu saja aku berpikir begitu, secara bang Ridho adalah seorang ustad desa. Sedang kan aku, tidak ada yang layak untuk ku persembahkan untuk nya lagi. Aku bukan lah gadis yang suci lagi. Lagian aku masih mengarapkan kekasih orang yang bernama Dodi itu.


"Kok ngomong nya gitu sih dek?"


"Ya aku bukan gadis yang baik bang. Lebih baik abang mencari gadis yang lebih baik dari ku. Aku hanya manusia hina bang. Tidak ada yang lagi yang bisa di banggakan dari ku" Ujar ku lagi dengan menitikkan air mata.


"Apa maksud mu dek?"


"Apa aku harus menceritakan semua nya kepada bang Ridho? Sejujur nya aku nyaman berbicara dengan nya. Dan dia selalu bisa menenangkan hati ini yang sedang gelisah" Batin ku lagi.


Aku menghela napas berat ku untuk menceritakan apa yang sebenar nya terjadi kepada ku.


"Aku tidak perawan lagi bang. Perawan ku telah di rampas secara paksa oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab" Ujar ku kembali menitikkan air mata ketika mengenang peristiwa yang menyakitkan itu.


Mendengar itu bang Ridho terdiam. Sepertinya dia kaget mendengar pengakuanku itu.


"Kok bisa? Bagaimana bisa? Siapa orang nya?"


"Bang Dodi. Kenal?"


"Dodi? Dodi yang rumah nya dekat SMA itu? Bukan kah sekarang dia telah menikah?"


"Iya, sebelum dia menikah kami pacaran bang. Dia merampas nya secara paksa dari ku" Aku menceritakan semua yang terjadi kepada ku secara detail kepada bang ridho dan tidak ada yang aku sembunyikan. Dia laki-laki pertama yang mengetahui apa yang terjadi kepadaku saat ini.


"Begitu lah kejadian nya bang. Lebih baik abang cari gadis lain. Aku tidak layak untuk abang" Ujar ku lagi.


"Abang bisa menerima adek apa ada nya. Bagaimana pun keadaan mu dek abang bisa menerimanya. Dan itu adalah masa lalu mu dek abang bisa menerima itu" Ujar nya lagi mencoba meyakinkanku.


"Maaf bang, untuk saat ini lebih baik kita berteman saja. Aku belum siap untuk membuka hati untuk siapapun" Bohong ku. Yah tentu saja aku belum bisa membuka hati. Secara aku sedang mengharapkan seseorang untuk mengungkapkan perasaannya kepadaku.


Aku juga tidak tahu entah mengapa aku tidak bisa menerima bang Ridho yang telah mengetahui masa laluku. Dan dia menerimaku apa adanya.


Mungkin karena dia orang yang bisa di katakan alim sedang kan aku, siapa lah aku ini seorang gadis tapi rasa janda. Sungguh aku tidak bisa melakukan hal itu.


"Ya sudah, abang tidak akan memaksamu dek untuk menerima abang. Abang akan menunggu kamu sampai kamu siap" Ujar nya lagi.


"Terima kasih ya bang atas pengertian nya" Ujar ku.


"Maafkan aku bang Ridho karena aku telah berbohong kepadamu. Sejujurnya aku sedang mengharapkan Dodi untuk menjadi kekasihku. Karena aku mencintainya dan rasa cinta ini tidak bisa dipaksakan" Batin ku lagi.


"Sudah dulu ya bang, aku mau makan sebentar" Ujar ku mencoba mencari alasan untuk memutuskan sambungan telfon kami.


"Iya, Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" Aku menutup ponsel ku.


Aku menghela napas berat saat mengingat kembali kata-kata bang Ridho barusan.


"Apa ini doa ku yang telah Allah kabulkan? Di mana dulu aku pernah berdoa jika bang Dodi tidak berjodoh dengan ku, maka kirimkan lah aku seorang laki-laki yang bisa menerima ku apa ada nya. Dan bang Ridho telah menerima ku apa ada nya. Dia bahkan mengajak ku untuk ta'aruf. Tapi kenapa hati ini tidak bisa menerima nya?" Batin ku gelisah.


"Padahal bang Ridho orang yang baik, Soleh, guru ngaji sering ceramah lagi. Kenapa aku gak bisa membuka hati untuk orang sebaik itu?" Tambah ku lagi.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Bantu aku ya Allah, berikan petunjuk mu.. Di hati ini masih mengharap kan Dodi yang berada di seberang sana. Hati ini sangat mencintai nya meski dia sudah memiliki pacar. Bahkan aku rela menjadi yang kedua. Aku juga tidak tahu kenapa aku seperti ini. Padahal masih banyak laki-laki di dunia ini. Tapi kenapa? Kenapa hati ini hanya mengharap kan dia" Batin ku lagi.


"Ha, melamun lagi. Makan gih sana" Tegur ibu ku membuyarkan lamunan ku.


"Terus saha melamun nya. Kesambet setan baru tahu" Ujar nya lagi.

__ADS_1


"Iya buk ini aku mau makan. Sudah lapar juga" Jawab ku langsung mengambil nasi dan lauk untuk ku santap malam itu.


"Tumben dia tidak menjawab kata-kata ku? Biasa nya ada saja ocehan nya. Ini langsung nurut saja. Apa dia lagi ada masalah ya? Ah sudah lah.l, nanti dia juga pasti akan cerita kalau sudah tenang" Ujar ibu ku masuk lagi ke kamar untuk istirahat.


__ADS_2