TAKDIR

TAKDIR
Bab 88. Saling Cemburu


__ADS_3

Di kala sore mereka memutuskan untuk pergi ke pantai.


Dengan semangat empat lima, Azura mengandeng tangan kedua orang tuanya ketika mereka tiba di pesisir pantai, sementara Ozora memilih berjalan sendiri.


"Hati-hati sayang," peringatan Wisely ketika mendapat tingkah aktif Azura, dia takut terjadi sesuatu kepada putranya itu.


"Haus, Mom." Tiba-tiba Azura merasakan tenggorokannya terasa kering, namun ternyata mereka lupa membawa air minum.


"Kalian tunggu di sini. Dad, beli minuman dulu di sana," ujar Moses bertindak cepat, di tidak ingin putranya menahan haus dan memutuskan membeli sendiri air mineral yang berada cukup jauh dari tempat mereka saat ini.


Semuanya mengangguk, dan memilih duduk di atas pasir. Pengunjung seperti turis asing memadati lokasi pantai yang paling ramai di kunjungi saat berlibur ke Bali.


Wisely bersama kedua putranya, memainkan bola yang memang sengaja di bawakan oleh Azura. Di iringi dengan tawa canda mereka melempar bola dan berusaha menangkap.


Sesekali pandangan Wisely tertuju pada letak cafe yang menjual berbagai macam jenis makanan yang tadi di pilih oleh mantan suaminya.


Namun karena padatnya area tersebut, sosok itu tentu saja sulit di tangkap.


Sepuluh menit kemudian.


"Hot Mom!"


"Super beautiful!"


"Apakah itu anak-anaknya?"


"Sungguh mempesona!"


"Wanita yang unik!"


Bisikan demi bisikan kekaguman dari beberapa pria asing maupun lokal membuat telinga maupun wajah Moses memanas hingga botol minum yang berada dalam genggamannya tidak berbentuk.


Beberapa pria-pria itu sedang asiknya mengagumi wanita yang menjadi ibu dari kedua putra kembarnya.


Karena sudah terlalu panas serta murka, Moses bergegas berlari untuk bergabung dengan mantan istri dan kedua putranya.


Dengan sengaja Moses spontan merangkul pinggang ramping itu, seakan menunjukkan bahwa wanita yang sedang menjadi pusat perhatian mereka adalah miliknya. Perlakuan tiba-tiba itu sontak saja membuat Wisely kaget sekaligus membeku tanpa sadar sedang menjadi pusat perhatian para pria buaya darat menurut Moses.


Ya, hatinya sangat merasa cemburu, walau dengan hal sekecil itu.


Seketika itu juga para pria-pria tadi menghela nafas kecewa. Mereka kecewa dengan kenyataan yang sebenarnya, bahkan sedikit mendengar percakapan diantara mereka, terutama suara Moses yang disengaja dengan nada suara cukup keras.


Moses membawa mereka untuk duduk, memberikan botol kemasan air mineral.


"Daddy, kok lama?" tanya Azura setelah meneguk air hingga setengah botol.

__ADS_1


"Maaf sayang, menunggu antrian di kasir," jawab Moses sembari mengusap kacau rambut milik Azura.


"Sayang, ada apa?" Wisely melontarkan pertanyaan kepada Ozora yang tengah menekan perutnya berkali-kali, seperti sedang menahan sesuatu.


Hal itu juga menjadi pusat perhatian Moses maupun Azura.


"Perutku mules Mom," jawab Ozora dengan nada suara penuh kesakitan.


Mendapat jawaban Ozora tentu saja sebagai orang tua mereka panik hingga membuat Moses dengan sigap memberi pijitan tepat di perut putra sulungnya itu.


"Aku butuh toilet," ucap Ozora.


"Biar Daddy yang antar," ujar Moses.


Ozora menggeleng, menolak.


"Mom saja," ucapnya.


Moses pun mengangguk, tidak mempermasalahkan hal itu yang penting baginya, Ozora baik-baik saja.


"Dad, akan tunggu di sini. Jika ada sesuatu, hubungi."


Wisely mengangguk, mereka pun bergegas menuju toilet terdekat. Azura juga ikut karena ingin buang air kecil hingga lelaki tampan itu menunggu seorang diri.


"Bukankah itu sang CEO!"


"So cool!"


"Tampan sekali!"


"Oh dewa, tidak menyangka bisa bertemu di sini!"


"Bulu Roma ku langsung merinding!"


Ocehan penuh ocehan manja terdengar sangat jelas dalam pendengaran Wisely. Bukan ocehan manja sih tapi sebuah pujian kekaguman yang dilontarkan oleh beberapa wanita dengan penampilan kurang bahan tengah fokus memandangi lelaki tampan yang tengah duduk dengan gaya asal-asalan.


Dengan wajah cemberut, Wisely mempercepat langkahnya hingga berakibat juga kepada kedua putranya yang sedang jalan beriringan saling bergenggaman tangan.


Wisely ingin lebih mendahului wanita-wanita penggoda menurutnya.


"Kasian Daddy, maaf ya sedikit lama," seru Wisely dengan suara lantang hingga tiba-tiba saja wanita-wanita tadi mengurungkan langkah mereka.


"Lama ya Dad?" tanya Azura sembari mendaratkan bokongnya, duduk di pangkuan sang Daddy yang tengah bengong akibat perkataan Wisely.


Dalam hati Wisely girang karena sikap Azura. Dengan hati cemburu yang tak beralasan dia mengutuk para wanita tersebut. Sementara baik Moses maupun ke-dua putranya tidak tahu menahu bahwa lelaki tampan itu menjadi pusat perhatian banyak wisatawan khususnya perempuan.

__ADS_1


"Tidak masalah sayang. Hmm, Ozora. Bagaimana, apa masih sakit? Atau kita kembali saja ke villa dan kau butuh pemeriksaan dokter?"


Ozora menggeleng, bahwa sekarang perutnya kembali normal setelah buang air besar dengan durasi cukup lama.


"Sayang, apa yang dikatakan Daddy benar. Besok kan masih ada waktu untuk menyaksikan sunset," timpal sang Mommy masih khawatir walau Ozora sudah menjelaskan.


"Aku baik-baik saja," sahut Ozora menyakinkan.


Kedua orang tua mereka pun menjadi lega.


Ujung mata Wisely masih saja menangkap kepada sosok-sosok wanita yang pastinya mengenali Ayah dari anak-anaknya.


Sepertinya mereka penasaran.


Dengan sengaja Wisely mengulurkan tangannya, merapikan rambut Moses yang tengah terbang akibat angin.


Tentu saja Moses membeku sesaat karena perlakuan itu, namun seketika dia sadar dan paham hingga bibir itu tertarik.


Tidak ingin melewatkan kesempatan. Kecupan manis pun mendarat di keningnya.


"Kau cemburu pada wanita-wanita itu?" Moses berbisik tepat di telinganya.


Glek!


Wisely menelan ludah, seketika itu juga wajahnya merona merah.


"Dad, Mom, ayo kita ke sana." Ajak Azura seraya menunjuk ke arah yang dimaksudkan.


"Mom, lelah sayang. Mom, tunggu di sini saja ya?" entah apa maksudnya Wisely, sepertinya wanita ini memiliki maksud yang tersembunyi. "Apa?" dengan dahi mengerut Wisely bertanya karena tiba-tiba Moses berjongkok, memberikan punggungnya.


"Biar aku gendong, anak-anak ingin menyaksikan sunset dengan jarak lebih dekat."


Hah!


Tentu saja Wisely melongo tak percaya. Dengan malu-malu dia menurut namun karena pandangan dari banyak para wanita membuatnya lebih bersemangat.


Melihat tontonan romantis bak drakor itu membuat mata memanas hingga mereka memilih untuk pergi.


Walaupun berjuta pertanyaan dalam enak mereka. Publik tahunya bahwa sang CEO terkenal itu masih menyandang status duda.


Sementara Wisely berteriak dalam hati karena mengerti hal itu. Tanpa ragu-ragu tangannya melingkar pada leher mantan suaminya itu.


Tentu saja Moses merasa bahagia, sangat terlihat dengan sangat jelas. Lelaki itu tersenyum penuh arti sembari mengandeng kedua tangan putra mereka.


Sungguh sebuah keluarga yang tampak harmonis. Sangat manis serta menjadi panutan bagi keluarga lainnya. Namun tanpa mereka sadari bahwa itu bukanlah kenyataannya.

__ADS_1


__ADS_2