TAKDIR

TAKDIR
Bab 62


__ADS_3

Aku sedikit merasa cemburu kepada Dika. Yah tentu saja aku cemburu apa lagi mengetahui bahwa kekasih nya yang di seberang sana lebih dekat dengan keluarga nya. Sedangkan aku, aku hanya tunggul kecil saja yang tidak ada arti nya di hubungan ini.


Dika pun meminta ku untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada ku agar hubungan kami selalu terbuka dan tidak ada rahasia di antara kamu.


Namun aku masih merasa belum saja aku menceritakan masa laluku yang suram itu kepada Dika. Bibir ini masih terasa berat untuk menceritakannya.


***


Dengan langkah lemah karena ada masalah bersama Dika, aku pun masuk ke dalam kantor tempat ku bekerja. Biasa nya aku sengat empat lima untuk memulai hari. Tapi tidak dengan pagi ini. Aku benar-benar lemah di buat kejadian kemaren sore di kantor nya Dika di mana pesan demi pesan dari kekasih Dika di seberang sana.


Aku menghempas kan tubuh ku di atas kursi tempat kerja ku sambil menghela napas barat. Rasa nya aku tidak sanggup untuk bertahan di antara cinta segitiga ini. Tapi hati ini tidak bisa melepaskan nya begitu saja.


Aku membuka laptop di meja kerja ku. Ku buka lagu-lagu di youtobe untuk mengusir kesuntukkan dan kegelisahan ku.. Tak lupa aku berselamcar di sosial media ku untuk mencari hiburan agar bisa mengalihkan pikiran ku.


Ting...


Tiba -tiba pemberitahuan dari facebook ku aktif. Ada seseorang yang menandai ku dengan status nya. Aku mengklik pemberitahuan itu untuk melihat siapa yang menandai status nya kepada ku.


"Raka Satiawan?" Batin ku aku pun membuka status yang menandai ku itu.


"Hay cantik, apa kabar mantan terindah ku. Hingga saat ini aku belum bisa melupakan mu" Ujar nya di status nya.


"Ha? Raka apa-apaan sih dia? Tak malu apa bilang seperti itu di status facebook seperti ini? Seperti aku ini hebat saja. Malu-maluin" Batin ku sedikit kesal. Yah Raka adalah mantan ku sewaktu SMA dulu. Meski pun pacaran, kami tidak pernah jalan bareng. Pernah sekali kami bertemu di acara pembukaan MTQ tingkat kecamatan yang di adakan di tempat ku di sana lah kami bertemu untuk yang pertama dan yang terakhir kali nya. Raka tinggal di desa Lubuk Muda. Desa itu berjarak dua desa dari desa ku di mana tempat Dika bekerja sekarang. Memang dia sering mengajak ku ketemuan dan jalan bersama waktu itu. Tapi aku menolak nya, secara aku masih duduk di bangku SMA. Jika aku keluar bersama laki-laki dan keluarga ku tahu, bisa di eksekusi aku hari itu juga. Karena itu lah aku tidak pernah jalan bersama nya. Mungkin lantaran itu juga yang membuat semua pacar-pacar ku sewaktu SMA kabur dari ku. Tiga bulan kami menjalani hubungan hanya memberi kabar melalui pesan saja. Hingga pada akhir nya dia pun menghilang entah kemana. Dari situ lah hubungan kami berakhir. Namun entah mengapa, setelah sekian lama dia kembali lagi menghubungi ku saat ini.


"Apa kabar kamu kekasih masa lalu ku, baru ku sadari tak ada sehebat kamu" Status nya lagi menandai ku.


"Wah, ternyata ada yang belum bisa move on dari sang mantan" Komentar dari seseorang yang aku pun tidak kenal siapa di status yang di buat oleh Raka.


"Iya, memang tidak bisa move on. Bayangan nya selalu menghantui ku di setiap malam ku" Balas Raka.


"Di mana kamu sekarang?" Tanya orang tadi yang mungkin teman nya Raka.


"Di Batam, kerja mencari uang untuk melamar diri nya" Balas nya.


Bukan nya merasa bangga atau bagaimana mendengar Raka seperti itu kepada ku, aku malah merasa malu karena perbuatan nya itu. Entah lah saat ini yang aku inginkan hanyalah Dika bukan Raka. Dan jelas aku malu jika Raka seperti itu. Karena aku ini tidak pantas untuk di jadikan mantan terindah karena keadaan ku sekarang.


"Apaan sih nih anak, aneh-aneh saja" Batin ku lagi. Ku akui Raka juga laki-laki yang tampan dengan memiliki hidung mancung wajahnya yang oval serta kulitnya yang sawo matang menunjang ketampanannya. Pasti banyak wanita yang tergila-gila kepadanya karena ketampanannya itu. Tapi tetap saja aku hanya mengharapkan Dika bukan Raka.


Sedang asik-asiknya membaca komentar di statusnya Raka yang menandai ku, tanpa kusadari ternyata satu persatu karyawan kantor telah hadir di kantorku itu. Hingga semua meja kerja telah terisi dengan penuh oleh karyawan yang hadir.


"Ramah" Tegur pak Barat yang tiba-tiba masuk ke ruanganku. Tentu saja aku memiliki ruang yang satu ruangan dengan kak Rika sebagai bendahara pemasukan karena aku bekerja di sana sebagai pembantu bendahara.


"Iya pak" Jawabku kaget.


"Kenapa Dika tidak mengangkat telepon bapak dari tadi? Kemana dia?" Tanya pak Barat kepadaku yang membuat ku bingung.


"Ha? Dika gak mengangkat telfon nya?" Ulang ku.


"Iya, dia sama sekali gak mengangkat telfon ku. Sudah beberapa kali bapak mencoba menghubunginya tapi tidak diangkat juga. Apa jangan-jangan dia pingsan ya di kantor"


Deg....


Ucapan pak barat barusan membuat jantungku berdetak begitu cepat. Tentu saja hal itu membuat aku gelisah karena memang dari pagi tadi aku tidak ada menghubungi Dika. Biasanya aku membangunkannya setiap pagi sebagai alarmnya sebelum aku pergi ke kantor. Karena takut agen kapal datang ke kantornya untuk meminta surat jala. Namun dia belum bangun juga dari tidurnya bisa-bisa dia di marahi sama pak Barat. Sebab itulah aku selalu membangunkannya setiap pagi.

__ADS_1


Tapi tidak dengan pagi ini.. Karena peristiwa semalam membuat aku enggan untuk menghubungi lebih dulu karena hati ini masih terasa kacau.


"Kamu tahu dia kenapa Ramah?" Tanya pak Barat lagi kepada ku.


"Ya ampun bapak, mana saya tahu pak. Saya kan tidak tinggal satu rumah dengan nya. Mungkin dia masih tidur" Ujar ku.


Yah Dika memang sulit bangun pagi jika dia sudah tidur itu. Di bangunin paling sulit. Jika aku menghubungi nya itu harus sampai berkali-kali dengan pesan dan juga telfon nya baru lah membuat nya sadar dari tidur nya. hal itu disebabkan karena dia selalu bergadang hingga sembuh baru dia tidur. Itulah sebabnya kenapa dia sulit untuk bangun pagi.


"Aduh, coba deh kamu hubungin dia lagi. Bilang sama dia bapak meminta nya untuk datang ke kantor sini. Hari ini kepala kantor datang. Jadi bapak mau memperkenal kan dia dengan kepala kantor. Agar dia tidak di bilang pekerja gelap nanti" Ujar pak Barat kepada ku kemudian dia pergi kembali keruangan nya.


"Iya pak" Jawab ku langsung mengambil ponsel ku untuk menghubungi Dika. Hati ku merasa cemas karena perkataan pak Barat tadi.


"Aduh, kemana sih kamu Dika? Jika ia belum bangun dari tidurnya sih nggak apa-apa. Tapi jika terjadi sesuatu kepadanya bagaimana? Aduh.....Kenapa sih kamu terus-terusan saja membuat aku merasa cemas seperti ini? Bagaimana bisa aku lepas dari kamu jika kamu seperti ini? Baru saja mau melupakan malah kamu kembali membuat aku cemas seperti ini" Batin ku lagi sambil menekan nomor ponselnya Dika untuk menghubunginya.


Yah seperti biasa sekali, dua kali belum ada jawaban sama sekali dari Dika. Tidak menyerah sampai di situ aku pun kembali menghubungi.


"Hallo" Jawab nya dengan suara berat karena baru bangun tidur.


"Alhamdulillah akhirnya kamu aku juga telepon dariku. Kamu ke mana saja sih dari tadi pak Barat menghubungi kamu. Tapi kamu nya tidak menjawab panggilannya" Aku mengomel.


"Maaf cinta. Aku baru bangun tidur. Semalaman aku gak bisa tidur karena terus-terusan mimpi buruk" Jelasnya kepada ku.


"Sudah adzan subuh berkumandang aku baru bisa tidur" Tambah nya lagi.


"Mimpi apa sih?" Tanya ku.


"Mimpi orang hitam yang mau menyakiti ku" Ujar nya lagi.


"Orang hitam? Maksud kamu hantu?"


Deg....


Jantung ku berdebar mendengar penjelasan dari Dika barusan.. Tiba-tiba bulu kuduk ku merinding.


"Apa jangan-jangan kantor yang ditinggali oleh Dika itu ada hantunya?" Batin ku bertanya-tanya.


"Secara bukankah setiap tempat tinggal kita itu ada penghuninya juga berupa makhluk halus" Tambah batin ku lagi.


"Kok bisa? Bukan kah kamu sudah lama tinggal di sana. Masa iya baru kali ini kamu bermimpi buruk seperti itu" Ujar ku.


"Aku juga tidak tahu si cinta kenapa tadi malam aku bermimpi buruk seperti itu. Nama nya juga mimpi cinta mana bisa ku kontrol mimpi itu datang begitu saja. Apa jangan-jangan karena aku mengamalkan doa-doa yang diberikan oleh ayahku sebagai pelindungku disini. Yah ibarat kata pendinding ku agar aku terlindungi dari makhluk halus yang tidak kasat mata" Jelas Dika.


"Ya sudah nanti kita bahas itu lagi ya. Sekarang kamu bangun terus mandi. Kamu diminta sama pak Barat untuk datang ke kantor. Pak barat bilang Kepala Kantor akan datang hari ini dan dia mau kamu bertemu dengannya agar kamu tidak dibilang pekerja gelap nantinya" Jelas ku.


"Apa sekarang kepala kantornya sudah datang?"


"Belum sih, ini kan baru jam delapan mungkin dia datang nya sekitar jam sembilan gitu. Pokoknya kamu siap-siap aja. Terus telepon pak barat bilang minta maaf kepadanya" Ujar ku lagi.


"Oke cinta, aku akan ke kantor. Aku mandi dulu ya" Ujar nya.


"Oke" Jawab ku mengakhiri panggilan ku.


"Ya ampun, kebiasaan banget sih nggak bisa bangun pagi. Tapi ngomong-ngomong masalah mimpinya itu kok tiba-tiba aku menjadi merinding ya. Jadi semakin khawatir deh membiarkan dia tinggal sendirian di sana takutnya terjadi apa-apa nantinya sama dia. Tapi jika tidak di sana dia tinggalnya, terus tinggal di mana? Gak mungkin kan dia tinggal di rumahku bisa mengamuk nanti ibu dan ayahku" Ucap ku pelan seolah-olah sedang berkata kepada diriku sendiri.

__ADS_1


"Ah sudah lah jangan terlalu di pikirkan. Bikin kepala ku pusing saja" Ujar ku lagi.


"Ramah" Panggil kak Rika kepada ku yang baru masuk ke ruangan kami.


"Iya kak" Jawab ku.


"Tolong dong fotokopi dokumen ini. Hari ini Kepala Kantor akan datang ke kantor dan dia mau mengecek keuangan kita pada hari ini. Jadi kamu tolong fotokopi kan ini ya sebanyak dua rangkap untuk diserahkan nanti kepada Kepala Kantor laporan keuangan ini" Ujar nya lagi.


"Baik kak" Jawab ku langsung pergi ke ruangan fotokopi untuk mengkopi dokumen yang di minta oleh kak Rika tadi.


"Ramah" Panggil pak Barat lagi saat kami berpas-pasan. Di mana aku baru keluar dari ruangan fotokopi sedangkan dia mau masuk ke ruangan nya.


"Iya pak" Jawab ku kaget.


"Gimana? Sudah bisa menghubungi Dika? Ada jawaban dari nya?"


"Sudah pak, sebentar lagi dia akan datang ke sini" Jawab ku.


"Aduh, gimana sih anak itu. Kesiangan bangun nya. Jika ada agen kapal yang mau meminta surat jalan pagi-pagi gimana?" Ujar pak Barat kepada ku.


Aku hanya bisa nyengir mendengar ucapan pak Barat barusan. Sejujurnya aku merasa tidak enak hati mendengar keluhan dari pak Barat itu. Secara akulah yang mencari karyawan untuk pak Barat. Sedangkan karyawan yang kucari itu selalu bangun kesiangan jika tidak dibangunkan olehku.


Aku kembali ke ruangan ku.


"Ini kak dokumen nya" Ujar ku memberikan dokumen yang diminta oleh kak Rika tadi.


"Terima kasih ya dek" Jawab nya dan sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya.


"Iya kak"


"Ramah" Terdengar suara seseorang memanggil ku dari ruangan sebelah.


"Iya bang" Jawab ku langsung menuju ke ruangan sebelah di mana ruangan tempat bendahara pengeluaran itu berada.


"Tolong kamu masuk ke ruangan pak kepala kasubag TU. Carikan dokumen atas nama saya ya" Ujar bang Adi yang menjabat sebagai bendahara pengeluaran di kantor itu.


"Oke bang" Jawab ku langsung pergi ke ruangan yang diminta oleh bang Adi itu dan mencari dokumen yang ia minta.


"Aduh, dimana ya dokumen nya?" Batin ku setelah tiba di hadapan rak yang berisi dokumen berupa data-data karyawan yang ada di kantor itu.


Sungguh hari ini aku sangat tidak fokus dalam menjalankan pekerjaanku. Dari peristiwa kemarin sore yang membuat aku merasa cemburu kepada Dika, hingga memikirkan Dika yang bermimpi buruk tadi malam, dan yang terakhir membuat aku merasa tidak enak hati kepada pak barat karena Dika bangunnya kesiangan.


"Ya ampun Ramah, fokus, fokus. Jangan pikiran kamu itu ke mana-mana. Kamu harus fokus pada pekerjaan" Ujar ku kepada diri ku sendiri.


"Ayo, ayo, fokus-fokus tralala" Ujar ku lagi seolah-olah memberi semangat kepada diriku sendiri yang saat ini pikirannya sedang kacau.


Aku pun kembali mencari dokumen yang diminta oleh bang Adi tadi.


"Alhamdulillah akhirnya ketemu juga" Batin ku merasa lega karena dokumen yang diminta oleh bang Adi telah ku temukan.


"Ini bang dokumen yang abang minta tadi" Ujar ku menyerahkan dokumen itu tadi kepada bang Adi.


"Terima kasih ya" Ucap nya.

__ADS_1


"Iya bang sama-sama" Aku pun keluar dari ruangan itu dan kembali ke ruanganku.


__ADS_2