TAKDIR

TAKDIR
Bab 60


__ADS_3

Aku tersentak mendengar ucapan ibu ku yang masih berpikir bahwa aku masih suci dan belum pernah di sentuh oleh siapa pun.


"Maaf kan aku buk. Jika ibu tahu apa yang sebenar nya terjadi kepada ku, pasti ibu akan marah dan kecewa besar terhadap ku. Aku benar-benar minta maaf dengan semua itu. Semua itu terjadi begitu saja tampa aku pinta" Batin ku sedih. Dengan langkah yang lemah aku yang tadi nya ingin menemani ibu ku yang sedang masak di dapur kembali ke kamar ku.


Yah rasa sakit dan hancur itu kembali ku rasakan. Seolah-olah kejadian itu baru saja terjadi lagi. Sungguh tidak bisa aku melupakan kejadian itu begitu saja. Terkadang sering aku menangis sendiri di kamar ketika kejadian itu kembali teringat di pikiran ku dengan sendiri nya tampa ku pinta. Benar apa yang di katakan ibu ku. Dunia ini terasa hancur saat satu-satu harta yang paling berharga yang kelak akan di persembahkan untuk suami ku dengan bangga nya itu kini telah hancur di renggut sama laki-laki bejat itu.


"Kamu enak-enakan di sana bersama keluarga kecil mu. Menikmati hari tampa beban dan merasa bersalah terhadap aku yang sudah kamu nodai. Aku memang tidak pernah ikhlas dunia akhirat dengan apa yang kamu dapat dari ku" Batin ku lagi menitikkan air mata karena kesedihan ini. Aku telah membuat ibu ku yang begitu percaya kepada ku kecewa jika dia mengetahui sebenar nya.


"Ai, kemana pergi nya anak itu. Tadi kata nya mau menemani ku masak dan mau membantu ku. Sekarang malah hilang" Ujar ibu ku saat melihat aku tidak ada di dapur.


"Mah, Ramah" Teriak nya.


"Iya buk" Sahut ku dari dalam kamar.


"Kata nya mau membantu ibu memasak, kok malah hilang?"


"Ya sebentar, sebentar lagi aku datang ya" Ujar ku lagi.


"Ini piring kotor sudah berserakan. Kamu yang cuci ya"


"Iya buk. Biar saja di situ dulu. Nanti aku akan mencuci nya" Kata ku lagi.


"Maaf buk, maaf kan aku" Ucap ku lirih memejamkan mata yang telah mengeluarkan cairan bening sedari tadi.


"Ya Allah ampuni dosa ku Ampuni segala kesalahan ku. Aku takut nanti ibu dan ayah ku di siksa karena ulah ku, karena dosa ku. Ampuni aku ya Allah, ampuni kedua orang tua ku" Batin ku lagi.


Yah sungguh sedih rasa nya. Aku tidak sanggup membayangkan jika nanti di dalam kubur kedua orang tua ku di siksa karena tingkah ku itu.


"Terus jika Dika tahu tentang keadaan ku apa dia masih mau bersama ku lagi?" Tanya ku kepada diri ku sendiri.


"Aku tidak bisa membayangkan betapa kecewa nya hati mereka jika mengetahui kejadian yang ku alami sebenarnya. Mau menuntut pun tidak mungkin karena kejadian itu sudah lama" Batin ku lagi.


"Ya Allah tolong berikan aku seorang hamba yang bisa menerima ku ada nya kelak. Yang bisa menerima keadaan ku yang sudah tidak suci ini lagi tampa mengungkit masa lalu ku itu" Batin ku lagi berdoa.


"Apa aku harus jujur saja ya sama Dika tentang apa yang aku alami ini. Dan jika dia masih bertahan dan masih mau menerima ku hubungan kami akan lanjut. Tapi jika tidak, ya aku harus ikhlas dia pergi meninggalkan ku dan mendapatkan gadis yang lebih baik dari ku. Sebelum rasa ini dalam" Ucap ku lagi meyakin kan hati untuk jujur kepada Dika alias Dodi itu.


***


"Assalamualaikum" Ucap salam terdengar dari pintu depan rumah ku.


"Waalaikumsalam" Jawab ku membuka kan pintu rumah ku. Raut wajah bahagia kini terukir di wajah ku. Aku menyambut kedatangan orang itu dengan hati yang berbunga-bunga. Secara dia lah orang pertama yang ku bawa ke rumah dan ku perkenalkan dengan kedua orang tua ku.


"Ayo masuk" Ujar ku.


Dika masuk ke rumah ku yang memang rumah panggul itu.


"Ya kemaren itu?" Tanya nya kepada ku di mana pertanyaan itu termasuk ketika lebaran tahun itu dia berkunjung ke rumah kakakku bersama teman-temanku yang lain.


"Itu rumah kakak ku, kan sudah ku bilang kemaren" Ujar ku.


"Kenapa kamu gak membawa kami ke rumah kamu aja"


"Kakak ku yang meminta kalian ke rumah nya aja. Lagian, juga membuat makanan soto untuk kalian. Jadi tidak mungkin kan aku mengangkut semua makanan yang dibuat oleh kakakku ke sini" Jelas ku lagi.


"Oh iya juga sih" Ujar nya lagi.


Ibu dan ayah ku yang baru datang dari arah dapur karena baru selesai makan malam. Dika yang tadi nya duduk di lantai kini berdiri untuk menyalami ibu ku dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


"Buk" Ujar nya tersenyum.


"Iya" Jawab ibu ku.


"Pak" Ujar nya lagi beralih mencium punggung tangan ayah ku.


Ayah ku hanya menjawab nya dengan senyuman.


"Mau kemana yah?" Tanya ku saat melihat ayah ku menenteng sendal nya dan keluar dari pintu depan yang terbuka tadi.


"Jalan ke warung sana. Mau mencari hiburan" Jawab nya terus berlalu dari hadapan kami.


"Hiburan apa?" Tanya Dika kepo.


"Di warung pojok situ, ada beberapa orang yang sedang bermain domino di situ. Jadi ayahku ke situ. Untuk ya ikut bermain mencari hiburan daripada hanya duduk diam di rumah membuat dia suntuk" Jelas ku kepada Dika.


"Oh begitu"


"Iya, kamu bisa main domino?"


"Bisa kok"

__ADS_1


"Jika suntuk tidak ada kegiatan, ikut saja ayah ku ke sana bergabung dengan bapak-bapak di saja bermain domino" Ujar ku.


"Kamu ini cinta. Gak mungkin dong aku bermain sama bapak-bapak"


"Lo, apa salah nya coba"


"Gak mau cinta, lagian nggak enak aja aku bergabung bersama bapak-bapak di daerah sini karena aku tidak terlalu kenal sama mereka"


"Iya juga sih"


"Oh ya, kamu mau minum apa? Teh atau kopi?"


"Teh aja" Ujar nya.


"Oke sebentar ya aku buatin teh nya" Ujar ku langsung pergi ke dapur untuk membuatnya teh hangat.


"Ini dia teh nya" Ucap ku menyajikan teh hangat di hadapan Dika tadi.


"Terima kasih" Ucap Dika kepada ku.


"Sama"


"Sudah makan kamu?" Tanya ku.


"Belum sih, rencana nya aku mau mengajak mu makan di luar" Ujar Dika lagi.


"Sebentar ya aku tanya ibu ku dulu" Ujar ku lagi.


"Aduh, padahal malam ini rencana nya hanya di rumah karena baru pertama kali nya dia datang ke rumah. Tapi kasihan juga dia kelaparan" Batin ku.


"Buk, aku mau keluar sama Dika boleh? Dia mau ngajak aku makan di luar buk. Boleh?" Tanya ku lagi.


Ibu ku menatap ku dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Tentu saja membuat aku menjadi deg degan karena tatapan nya itu.


"Pergi lah" Ujar ibu ku memberikan izin kepada ku.


Aku pun tersenyum karena mendapatkan izin dari ibu ku.


"Sebentar ya Dika aku siap-siap dulu" Ujar ku masuk ke dalam kamar ku untuk mengganti baju ku.


"Mau makan di luar kalian?" Tanya ibu ku kepada Dika.


"Iya buk, maklum gak ada yang masakin di kantor. Nama nya tinggal sendiri" Jawab Dika dengan senyuman nya.


"Iya buk, kami hanya pergi makan saja" Jawab Dika.


"Sudah, ayo kita berangkat" Ujar ku kepada Dika saat aku sudah siap untuk pergi.


Dia bangkit dari duduk nya.


"Buk, bawa Ramah keluar sebentar ya" Ucap nya lagi.


"Iya, ingat pesan ibu tadi ya. Jangan pulang malam-malam. Jam sembilan batas waktu nya" Ujar ibu ku lagi.


"Iya bu" Jawab kami serentak.


"Cinta mana makanan yang enak?" Tanya Dika kepada ku saat kami di perjalanan.


"Makan ayam penyet di sana gak jauh dari rumah Siti, sambal ayam penyet nya enak banget pokoknya dia juara di tempat ini" Jelas ku.


"Oke deh kita ke sana" Ajak Dika.


***


"Duduk di sini aja. Lebih enak dan lebih nyaman" Ujar ku mengajak Dika duduk di lesehan setelah kami tiba di tempat ayam penyet itu.


"Bang ayam penyet nya dua ya, minum nya teh es aja" Ujar Dika mengatakan pesanan kami kepada abang yang ada di tempat ayam penyet itu di mana abang itu adalah pemilik usaha tersebut.


"Oke sebentar ya" Ucap nya langsung membuat pesanan yang kami pesan tadi.


"Foto yuk untuk kemang-kenangan" Ujar ku mengambil ponsel ku untuk mengabadikan momen kami berdua.


"Ini silahkan di nikmati" Ujar abang pemilik warung ayam penyet itu menyajikan pesanan kami di atas meja.


"Terima kasih" Ujar ku lagi.


"Karena aku sudah mendapat pekerjaan, aku yang mentraktir kamu makan" Ucap Dika.


"Emang nya kamu ada uang? Kan belum awal bulan juga untuk gajian" Ujar ku.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, pak Barat sudah mengatur semua nya" Ujar Dika dengan percaya diri nya.


"Ya sudah kalau begitu" Ujar ku lagi.


Kami pun menyantap makanan yang terhidang di depan meja kami tadi.


"Gimana? Enak kan?" Tanya ku kepada Dika.


"Iya benar apa yang kamu bilang, enak juga makan di sini ya. Sambal terasi nya pas di lidah"


"Iya, tapi aneh nya tempat ini tidak terlalu ramai oleh pengunjung ya. Padahal makanan nya top banget" Ucap ku lagi.


"Iya ya, benar apa kata kamu"


Memang terlihat di warung ayam penyet itu tidak terlalu ramai pengunjung. Saat kami makan di sana saja hanya ada satu atau dua orang yang makan di tempat itu. Bahkan setiap kali aku pulang kerja saja di mana aku lewat di depan jalan warung ayam penyet tersebut juga tidak terlalu ramai yang makan di sana.


"Sekarang kita ke mana?" Tanyaku setelah kami selesai makan di warung itu.


"Pulang aja ya, tadi kan aku minta izin sama ibu kamu hanya untuk keluar makan"


"Oh ya sudah jika begitu" Ujar ku.


"Eh, tapi ibu mu suka makan apa ya? Kita belikan makanan untuk kedua orang tua mu yuk" Ujar nya kepada ku.


"Atau gak beli ayam penyet ini aja" Ujar Dika lagi.


"Jangan beli ayam penyet lagi deh. Soalnya tadi ibuku sudah makan. Nanti malah membajir nggak dimakan" Jelas ku lagi.


"Terus kita mau beli apa untuk Ibumu dan juga ayahmu?"


"Bagaimana kalau kita beli bakso bakar aja untuk mereka. Karena bakso bakar itu kan termasuk makanan yang tidak berat. Sehingga mereka pasti akan memakannya nanti meskipun sudah makan nasi tadi"


"Oke, sekarang ayo kita pergi membeli bakso bakar untuk kedua orang tuanya. Di mana mereka adalah calon mertuaku nanti" Ucap Dika tersenyum menggoda ke arahku.


Aku hanya menjawab perkataannya dengan senyuman sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Ayo naik kita pergi mencari bakso bakarnya" Pinta Dika kepadaku saat aku masih berdiri di samping motor nya.


"Oke" Aku pun langsung naik di boncengan motor Dika itu.


"Dimana cinta tempat jual bakso bakar nya yang enak?"


"Di samping kantor polisi. Di sana bakso bakar nya enak banget" Jelas ku saat kami di perjalanan mencari bakso bakar untuk kedua orang tuaku.


"Wah kamu ini, ternyata selalu tahu ya tempat makanan yang paling enak di tempatmu ini.


"Iya dong. Jika masalah kuliner, tanya aja sama aku aku mengetahui semuanya. Tapi hanya batas kuliner saja ya kalau yang lainnya mah aku nggak tahu" Jelas ku lagi.


"Aku dan kakak ku selalu pergi berwisata menjelajahi kuliner makanan yang ada di tempat ini. Jadi tentu saja aku tahu di mana-mana saja tempat makanan yang enak" Jelas ku lagi.


"Ternyata kamu sangat dekat ya sama kakak mu"


"Iya dong. Secara hanya aku dan kakakku saja perempuan di rumah kami itu. Meski kakakku sudah menikah dia selalu kemana-mana mengajakku. Ya karena dia nggak punya teman untuk pergi ke sana kemari dan sebagai teman ngobrol karena itulah dia mengajakku" Jelaskan kepada Dika.


"Oh gitu, enak juga ya"


"Iya dong. Apapun yang aku minta pasti dia akan membelinya untukku. Tapi yang sewajarnya saja. Apalagi kalau masalah kuliner pasti dia akan selalu cepat membelinya untukku"


***


"Assalamualaikum" Ucap ku setelah kami tiba di depan pintu rumahku yang tertutup karena ibuku tinggal sendirian di rumah.


"Waalaikumsalam dorong aja aja nggak dikunci" Jawab ibu ku dari dalam.


Aku pun mendorong pintu rumahku sehingga terbuka lebar.


"Ini buk" Ujarku memberikan sebungkus bakso bakar kepada ibuku.


"Apa ini?"


"Bakso bakar buk. Dika yang belikan" Jawab ku.


"Ya ampun repot-repot saja sih. Ibu juga masih kenyang"


"Gak ngerepotin kok Bu apa salahnya sekali-sekali, lagian tidak banyak juga kok bu" Ujar Dika.


"Ya terima kasih ya"


"Iya buk, kalau begitu aku pulang dulu ya" Ujar Dika sambil mencium punggung tangan ibuku berpamitan untuk pulang ke kantornya karena hari sudah mulai larut.

__ADS_1


"Oh iya, kamu hati-hati di jalan" Ujar ibu ku.


"Iya buk"


__ADS_2