TAKDIR

TAKDIR
Bab 45


__ADS_3

Aku merasa pusing setelah pulang dari rumah Hambali. Saat di rumah Rio Dodi pun memijat kepalaku agar pusingku terasa berkurang.


Teman-temanku yang hadir di sana merasa heran melihat kedekatan kami di mana kami dekat selayaknya seperti orang pacaran.


"Bagaimana apakah pusing mu sudah berkurang?" Tanya Dodi kepadaku sambil terus memijit kepalaku.


"Sudah kok, Sudah agak mendingan karena minum obat tadi. Jadi berkurang rasa pusing nya" Ujar ku.


"Ha? Apa kamu lupa siapa yang memijit kepalamu tadi? Karena pijit ku itulah yang membuat pusing mu terasa berkurang" Ujar Dodi berharap untuk di puji.


"Iya iya, makasih ya my lovely Dodi udah memijit kepala ku" Ujar ku bangkit dari rebahan ku tadi


"Cie, cie.... Swet swet... " Ujar teman-teman ku serentak menggoda kami.


Aku tersipu malu mendapati di goda oleh teman ku.


"Memang ya jika jatuh cinta dunia terasa milik berdua, dan yang lain nya pada ngontrak" Ujar Rio membuat semua yang ada di saan tertawa lepas.


"Jadi benar Yus mereka pacaran?" Bisik Siti Fateha mulai kepo.


"Gak tahu juga sih, tanya aja sama mereka. Menurut pandangan mu gimana?" Tanya Yus balik.


"Ya seperti pacaran, tapi gak tahu juga ya" Ujar Siti mulai menerka-nerka.


"Ha itu lah dia seperti apa yang kamu pikirkan" Ucap Yus lagi.


Yah sebenar nya Yus juga bingung dengan hubungan kami. Status kami sama sekali tidak jelas. Di katakan pacaran, tapi tidak ada mengungkapkan rasa. Dan di katakan tidak pacaran, tapi seperti orang pacaran saja. Jangan kan Yus, aku pun bingung namun aku hanya menjalani dan menikmati hubungan tampa status ini bersama orang yang bisa membuat diriku nyaman.


"Ya sudah, Ayo kita lanjutkan perjalanan kita ke daerah Jangkang" Ajak ku kepada teman-teman ku.


"Beneran kamu sudah hilang pusingnya. Perjalanan kita masih jauh. Nanti terjadi apa-apa lagi sama kamu" Ujar Dodi penuh perhatian.


"Iya, aku sudah tidak apa-apa kok. Aku sudah merasa baikan" Ujar ku meyakinkan Dodi agar tidak khawatir dengan keadaanku.


"Ya sudah jika begitu, aku yang akan menyetir motor untuk kamu dan Yus boncengan sama Rio ya" Ujar Dodi lagi.


"Gak apa-apa. Aku bisa kok nyetir motor nya. Aku sudah gak merasa pusing lagi"


"Gak usah membantah! Dengerin saja apa yang aku katakan ini semua demi kebaikan kamu juga. Nanti jika terjadi apa-apa sama kamu bagaimana?"


Mendengar perkataan Dodi aku terdiam dan tidak jadi membantah. Aku menuruti saja kemauan laki-laki itu. Lagian aku juga senang di boncengan sama dia. Gadis mana coba yang gak baper jika di perhatiin seperti itu sama seorang laki-laki. Terlebih gadis itu sedang terluka dan sedang menata hati nya yang di hianati oleh seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Tidak salah bukan jika aku menaruh harapan yang tinggi kepada nya karena perhatian-perhatian itu.


***


"Aswat, banyak sekali burung-burung mu, apa ini kamu beli atau gimana sih?" Tanya ku melihat burung-burung dalam sangkar yang ada di rumah Aswat.


"Di tangkap dong Mah, dengan cara di pasangkan jerat untuk menangkap nya"


"Terus kamu jual?"


"Iya, ada yang aku jual kalau ada orang yang mau membelinya"


"Oh gitu, jika gak salah tahun kemaren waktu kita masih kursus dan jalan ke rumah mu belum ada deh burung-burung ini"


"Ya belum, ini aku baru saja mulai mencari nya setelah kita tamat kursus. Yah sebagai mencari hiburan di waktu luang" Ujar nya lagi.


"Oh gitu ya" Aku pun kembali bergabung dengan teman-teman ku yang ada di ruang tamu.


Melihat aku duduk sendirian, Dodi datang dan duduk di samping ku.


"Masih pusing?" Tanya nya kepada ku penuh khawatir.


"Gak, sudah baikan kok" Jawab ku.


"Ya ampun si Dodi, takut banget sih terjadi apa-apa sama kekasih nya. Udah di bilangin baik-baik saja juga" Protes Nilam.


"Iya nih, takut banget dia" Jawab Jasmitaria pula.


"Ya iya lah woi, nama nya juga cinta" Jawab Dodi seenak nya.


Deg....


Sontak kembali kata-kata itu membuat jantung ku berdegup kencang.


"Cinta? Maksud nya apa? Apa dia cinta sama aku? Atau ini hanya sekedar harapan palsu?" Batin ku mulai menerka-nerka. Aku menatap Dodi dengan tatapan heran penuh tanda tanya.


"Kenapa menatap ku seperti itu? Apa aku salah ngomong?" Tanya nya kepada ku.


"Gak sih, hanya heran saja"


"Heran apa?"


"Gak, bukan apa-apa lupakan saja" Ujar ku.


"Aduh Ramah, tolong dong jangan terlalu berharap sama dia. Nanti kamu kecewa lagi. Ingat dong dia itu sudah punya pacar." Batin ku menyadarkan diri ku sendiri.

__ADS_1


"Ini woi silahkan di nikmati mie goreng buatan ibu ku" Ujar Aswat menyajikan makanan di hadapan kami.


"Terima kasih ya..." Ucap kami serentak.


"Cinta, apa kamu bisa makan sendiri? Atau mau aku suapin?" Tanya Dodi.


"Ya ampun Dodi, lebai banget sih. Yang sakit kan kepala nya, bukan tangan nya" Ujar Siti dengan ketus.


"Ya tetap saja dia lagi sakit. Apa salah nya jika aku memanjakan dia yang sedang sakit" Jawab Dodi.


"Ya ampun Dodi, kenapa sih pintar sekali kamu mengambil hati ku. Semakin sulit aku terlepas dari kamu nanti nya" Batin ku menatap Dodi dengan penuh perasaan tersentuh.


***


Aku tersenyum sendiri saat membayang kan betapa perhatian nya Dodi tadi siang sewaktu kami bersilaturahmi di rumah teman-teman kami Bengkalis.


"Ya Allah jika dia benar di takdirkan untuk ku, maka satukan lah kami. Jika tidak, jangan kecewakan hati ini yang terlalu mengharapkan nya" Batin ku berdoa.


"Ya ampun, malah tersenyum-senyum sendiri. Bukan nya pergi makan, malah menghayal di sini" Tegur ibu ku membuat lamunan ku buyar.


"Yah ibu, ngagetin aja"


"Kamu itu ngapain juga senyum-senyum begitu malah duduk di teras rumah lagi malam-malam begini. Nanti kesambet baru tahu" Ucap ibu ku lagi.


"Ibu kok ngomong nya gitu sih? Bikin orang takut aja" Ujar ku cemberut.


"Habis nya kamu itu lo sudah jam segini masih juga di luar, makan malam juga dari tadi belum. Entah apa yang di lakuin nya di sini" Celoteh ibu ku lagi.


"Sedang membayang kan someone buk"


"Someone, someone masuk sekarang terus makan. Atau mau ibu kunci pintu nya biarin kamu tidur di luar"


"Tega banget sih buk membiarkan anak gadis nya yang bungsu ini tidur di luar" Ucap ku lagi dengan manja.


"Maka nya masuk. Ngapain juga kamu masih di sini"


"Iya, iya buk. Ini aku masuk ya" Ucap ku langsung masuk ke dalam rumah ku


"Buk, apa menu lauk malam ini buk?" Tanya ku setelah masuk ke rumah ku.


"Seperti itu lah kebiasaan mu.. Jika mau makan, pasti tanya lauk nya apa. Maka nya bantuin ibu nya masak biar tahu dan tidak bertanya lagi. Besok kalau suda punya suami gampang karena sudah bisa masak"


"Iya buk, nanti aku akan belajar masak ya jika sudah mempunyai suami" Jawab ku lagi.


"Sudah punya suami baru mau belajar masak. Makan apa suami mu nanti?" Ujar ibu ku.


"Masak apa?"


"Masak gulai asam pedas" Jawab ku.


"Terus, setiap hari lah kamu masakan gulai asam pedas untuk suami mu. Alamat diare lah suami mu nak, nak" Ujar ibu ku lagi.


"Haha...Gak kok buk, kan aku masak nya dengan cinta. Pasti tidak akan sampai diare suami ku nanti" Ujar ku.


"Sudah ah, jangan banyak bicara pergi makan sana" Perintah ibu ku.


"Baik tuan ku yang mulia paduka terjelita" Ucap ku berlaga seperti hormat kepada ratu.


"Entah apa yang kamu kata nak. Ibu jadi bingung, Aduh waktu mengandung kamu ibu ngidam apa sampai dapat anak seperti ini"


"Ibu, aku kan menghormati ibu maka nya aku memanggil ibu dengan kasta tertinggi seperti itu"


"Udah ah sana makan, berisik aja"


Aku pun pergi ke dapur untuk makan malam.


Ting....


Ponsel ku kembali berdering tanda ada pesan singkat yang masuk. Aku mengambil ponsel ku yang tergeletak di atas meja makan.


"Mah, kamu pasti tidak percaya dengan apa yang terjadi" Ujar Yus melalui pesan singkat nya.


"Apa sih say? Emang nya ada apa?"


"Bang Dodi menghubungi ku lo Mah"


"Ha? Bang Dodi? Dodi mana sih?"


"Dodi biawak itu lo. Sang penghianat cinta" Ucap Yus lagi.


"Ha? Ngapain juga si penghianat itu menghubungi mu?"


"Dia bilang kangen sama kamu. Minta aku bantuin dia untuk ketemu sama kamu lagi."


"Ha? Serius kamu Yus. Kenapa gak langsung saja menghubungi ku?"

__ADS_1


"Kata nya sih gak enak hati mau menghubungi mu secara langsung. Gimana? Apa kamu mau bertemu dengan nya lagi?" Tanya Yus kepada ku lagi.


"Gak ah, aku gak mau ketemu sama dia. Jangan di hiraukan lagi dia Yus. Jika perlu blokir saja nomor nya. Aku gak mau ada urusan apa pun sama dia" Balas ku.


Yah tentu aku tidak mau berhubungan lagi dengan nya. Meski dia telah mendapatkan segala nya dari ku, tetap saja aku tidak mau bertemu dengan nya. Secara dia itu sudah mempunyai istri dan anak. Dia sudah mempunyai keluarga nya sendiri. Aku tidak mau menjadi perusak di rumah tangga nya. Lagian aku juga heran kata nya sih sudah berubah, terus ngapain juga masih menghubungi Yus untuk bertemu dengan ku? Urus saja keluarga nya itu.


"Ya sudah jika begitu, aku akan melakukan apa yang kamu bilang tadi. Aku tidak akan menghiraukan nya lagi dan akan memblokir nomor nya"


"Bagus sobat. Kamu lah sahabat ku yang paling bisa aku handal kan" Ujar ku lagi.


***


Aku pergi ke pelabuhan penyebrangan Sungai pakning untuk menjemput kedatangan Dodika Saputra. Yah karena masih suasana hari raya, jadi nya teman-teman ku yang dari Bengkalis berkunjung ke tempat kami di rumah ku, rumah Yus, dan bang Rizen.


Memang sih tidak semua yang datang. Hanya Nilam, Sumira, Siti Fateha, Aswat, Jasmitaria dan yang paling terpenting adalah Dodika Saputra juga ikut hadir karena aku yang minta. Dia pun meminta ku untuk menjemput nya di pelabuhan karena dia pergi nya jalan kaki saja tampa membawa motor takut lama mengantri.


Aku tersenyum menyambut kedatangan nya keluar dari kapal peri itu dengan berjalan kaki.


"Demi cinta ku pada, lautan akan ku sebrangi walau pun harus ku telan lautan bara" Satu lagu di persembahkan untuk ku.


"Lagu untuk mu cinta. Lautan sanggup aku sebrangi hanya mengejar cinta mu" Tambah nya lagi.


"Iya, iya aku paham" Jawab ku.


"Udah ayo naik" Tambah ku lagi mundur ke tempat boncengan agar Dodi yang menyetir motor milik kakak ku.


Yah aku membawa teman-teman ku di rumah kakak ku. Bukan karena aku malu dengan keadaan rumah ku. Hanya saja kakak ku membuat makanan soto untuk menyambut kedatangan teman-teman ku ini. Dan dia juga yang meminta ku agar teman-teman ku di bawa ke rumah nya saja. Tentu saja aku setuju dengan rencana kakak ku.


"Setelah ini kita ke rumah Yus dulu ya, kemudian ke rumah bang Rizen. Dan kita pergi ke pantai Tenggayun ya" Ucap ku.


Yah di tempat ku juga ada wisata pantai di daerah Tenggayun. Dari tempat ku ke tempat pantai itu memakan waktu kurang lebih satu jam.


***


"Selamat datang di pantai Tenggayun. Selamat menikmati wisata pantai ini" Ujar Yus berlaga seperti pemandu wisata.


"Ayo kita turun dan foto-foto" Ujar ku lagi mengajak teman-teman ku untuk turun ke pantai.


Kami turun ke pasir pantai itu, tak lupa kami pun berfoto sebagai kenang-kenangan.


"Mah" Tegur seseorang dari arah belakang. Aku pun menoleh melihat siapa yang menegurku tadi.


"Fia" Ujar ku setelah mengetahui siapa yang menegurku tadi.


Aku punya teman dekati Fia.


"Kamu di sini? Ngapain" Tanya ku.


"Lagi liburan bersama teman satu kampusku"


"Tadi aku melihat cowok mu. Aku pikir dia ke sini sama cewek lain. Ternyata sama kamu" Ujar Fia lagi.


"Gak lah, dia ke sini bersama ku"


"Ya sudah aki ke sana dulu ya, kasihan dia menunggu ku" Ucap ku langsung pergi menuju ke tempat Dodi yang memang ku tinggalkan sebentar tadi.


Fia hanya mengangguk memberi izin.


***


"Kak, kakak masih ada hubungan sama Dodi?" Pesan singkat dari pacar nya Dodi kini masuk ke ponsel ku.


"Iya kami masih berhubungan. Tapi hanya sebatas teman tidak lebih" Ujar ku.


"Kak coba kakak jujur apa hubungan kalian ini sebenar nya?"


"Aku sudah jujur kami hanya sebatas teman"


"Tapi kenapa teman pakai panggilan cinta, cinta gitu?"


"Hanya panggilan sayang sebagai teman saja kok itu dek" Jawab ku.


"Jika kalian ada hubungan spesial juga nggak apa-apa yang penting kalian jujur kepadaku"


Deg...


Aku kaget membaca pesan dari Fida pacarnya Dodi itu Itu arti nya dia mau di duakan oleh Dodi. Entah gadis itu bodoh atau terlalu baik aku juga tidak tahu.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Kamu mau di duakan?" Tanya ku.


"Jika kami berjodoh, sebanyak apa pun gadis yang dekat dengan nya pasti dia akan kembali bersama ku lagi" Ucap nya terdengar bijak.


Ungkapan dari Fida tadi memberikan lampu hijau untuk ku lebih dekat lagi dengan Dodi. Aki tidak bisa jauh dari nya, aku ingin selalu dekat-dekat dengan nya yang telah membuat ku nyaman dan aman itu.


"Jangan ngomong sembarangan. Nanti jika aku dekat beneran sama dia kamu malah nangis" Ujar ku lagi.

__ADS_1


Lama aku menunggu balasan dari gadis itu. Mungkin gadis yang duduk di kelas dua SMA itu sedang berpikir dengan apa yang aku katakan tadi.


__ADS_2