
Aku meminta Dodi untuk menemani ku untuk menunjukan arah kepada ku dimana tempat jual toko obat. Tentu saja Dodi setuju dan mau menemani ku.
Dia memang bisa ku andalkan jika aku meminta nya menemani ku dan menunjuk arah.
Dodi keluar dari kamar nya dengan mengenakan kemeja berwarna hitam dan celana jens. Penampilan nya sangat menarik pagi itu. Yah dia memang laki-laki yang manis, mata coklat dengan bulu mata lentik nya dan juga hidung nya yang mancung menambah kesan bentuk wajahnya yang manis.
Aku cukup terkesan dan terpesona melihat penampilan nya pagi ini.
"Kenapa menatapku seperti itu? Ganteng ya aku" Ujar nya dengan penuh percaya diri.
Aku menaikan sebelah bibir ku. Dan ku tatap sinis ke arah nya. Tentu saja sebagai ungkapan aku tidak mau mengakui nya karena takut nanti nya dia tambah besar kepala.
"Ya sudah ayo kita pergi" Ucap ku mengajak Dodi untuk pergi dari sana.
"Sebentar aku kasih tau ibu mu dulu"
"Ngapain?"
"Ya minta izin lah, aku kan membawa anak orang keluar rumah" Ujar ku.
"Hahaha gak kebalik?"
"Gak apa-apa. Nanti jika kamu di Pakning kamu yang meminta izin kepada orang tua ku" Ujar ku dengan tersenyum.
Aku pergi ke dapur tak begitu lama aku ke depan lagi.
"Ayo" Ucap ku.
Kami pun pergi menggunakan sepeda motor milik kakak ku yang ku pinjam untuk menyeberang tadi.
***
"Selanjutnya mau kemana?" Tanya nya kepada ku setelah kami selesai membeli obat herbal tersebut.
"Kita jalan-jalan aja. Terserah mau ke mana"
"Gimana ke Selat baru"
"Ke Selat baru? Boleh juga. Dari pada aku ke sini gak kemana-mana" Ujar ku lagi.
"Oke kita ke sana"
Kami pun memutuskan untuk pergi ke selat baru bersama Dodi.
"Ya Allah andai saja aku bisa menghentikan waktu, aku ingin momen kebersamaan ini tetap terjadi kepada ku dan Dodi. Aku nyaman bersama nya, hati ini tenang saat berdua dengan nya. Aku tidak mau hari ini cepat berlalu" Batin ku berdoa.
***
Kami duduk di sebuah warung yang menjual makanan di sana. Kami memutuskan untuk membeli mie goreng dan es teh sebagai menu makan siang kami hari ini.
Terlihat ramai para pengunjung di sana. Banyak juga anak-anak yang mandi di sana dengan gembira. Yah karena hari ini hari sabtu bagi yang libur bekerja tentu membawa anak-anak mereka jalan-jalan di sana. Apa lagi di hari minggu pasti akan lebih banyak lagi pengunjung nya.
"Terima kasih ya buk" Ucap ku kepada ibu yang jualan di sana.
"Iya sama-sama"
"Ayo di makan. Aku yang traktir" Ujar ku kepada Dodi.
"Gak kebalik tuh"
"Gak apa-apa karena kamu sudah membantu ku dan jadi pemandu wisata ku. Apa salah nya aku traktir kamu" Ucap ku lagi.
Kami langsung menyodorkan makanan yang kami pesan tadi ke dalam mulut kami.
"Oh ya bagaimana magang mu?"
"Magang ku seperti biasa saja. Yah tidak terlalu banyak pekerjaan di sana. Tapi aku suka magang di sana karena selalu mendapat kan tips" Jelas ku lagi.
Kami menghabiskan waktu bersama di hari itu. Sungguh hari yang sangat menyenangkan bagi ku karena telah bersama orang yang aku cintai itu.
Meski aku tahu aku tidak mungkin bersama nya, tapi apa salah nya aku menumpang kebahagiaan kepada kekasih orang ini. Sungguh menyedihkan nasib ku ya.
"Sudah pukul dua siang, ayo kita pulang. Nanti malah pulang nya kemalaman aku" Ujar ku mengajak Dodi pulang. Yah perjalanan menempuh dari selat baru ke pelabuhan penyebrangan memakan waktu kurang lebih satu setengah jam.
Belum lagi perjalanan untuk menyebrang ke Sungai pakning yang memakan waktu kurang lebih satu jam. Oleh karena itu kami harus bergerak sekarang.
***
Tepat tanggal tujuh belas agustus di mana hari kemerdekaan ibu pertiwi. Jadi nya banyak pertandingan-pertandingan yang di lakukan oleh para warga negara indonesia. Tidak ketinggalan di tempat ku. Di setiap desa ku pasti ada saja masyarakat nya yang mengadakan lomba.
"Yus kita pergi melihat lomba panjat pinang yuk" Ajak ku kepada Yus melalui pesan singkat ku.
"Oke, nanti jam tiga aku jemput ya" Balas nya.
"Oke"
Aku dan Yus pergi ke tempat perlombaan yang di adakan di desa ku terlebih dahulu. Kami bersorak meriah memberi dukungan kepada para pengikut lomba.
"Ya Allah aku lupa Yus"
"Apa?"
__ADS_1
"Aku janji mau pergi melihat Khey yang ikut lomba panjat pinang di tempat nya"
"Ya sudah ayo kita ke sana" Ajak Yus pada akhir nya.
Terlihat para pemain panjat pinang dengan tubuh yang bermandikan lumpur. Aku tidak tahu di mana Khey saat ini. Karena banyak orang di sana dan Khey pun bermandikan lumpur. Yah aku juga sungkan mencari nya. Jadi aku memutuskan untuk menunggu di motor saja bersama Yus.
"Gak ke sana mencari Khey?"
"Gak ah, ramai orang. Aku malu ke sana mencari dia" Ucap ku.
Lama kami menunggu dan pada akhir nya kami memutuskan untuk pulang saja.
"Pulang saja lah Yus. Kelihatan nya pertandingan panjat pinang nya juga sudah selesai"
"Iya ayo pulang saja. Hari juga semakin sore"
Aku dan Yus memutuskan untuk pulang. baru setengah jalan ponselku berdering ada yang menghubungiku. aku menghentikan motor Yus dan merogoh saku celanaku untuk mengambil ponselku di sana yang sedang berdering.
"Hallo Khey" Sahut ku.
"Kenapa pulang? Gak dengar ya aku teriak-teriak panggil kamu tadi. Ku kejar ternyata kamu nya sudah jauh" Ujar Khey.
"Oh, maaf aku gak dengar dan gak tahu tadi. Aku pikir kamu gak ada di sana"
"Ada kok, kamu nya saja yang gak melihat ku"
"Maaf Khey, hari juga sudah sore jadi kami memutuskan untuk pulang saja"
"Ya sudah gak apa-apa. Hati-hati di jalan ya. Dan terima kasih sudah mau datang tadi" Ucap nya lagi.
"Iya sama-sama Khey" Jawab ku memutus sambungan ponsel ku.
***
"Tumben Khey tidak menghubungi ku. Biasanya dia tidak pernah absen menghubungi ku meski kami hanya ngobrol ringan tapi cukup nyambung ngobrol sama bocil satu itu. Yah beberapa hari ini Khey emang jarang menghubungi ku. Jika pun sms hanya satu atau dua patah saja. Setelah itu hilang entah kemana.
Jelas aku merasa lain di hati ku karena perubahan sikap Khey itu. Dan selalu bertanya-tanya ada apa sebenar nya.
Lama aku melirik ponsel namun tidak ada satu pun panggilan mau pun pesan dari nya.
"Kemana ya Khey. Padahal aku ingin mendengar lagu-lagu nya yang membuat hati ini tersentuh" Batin ku lagi.
"Apa aku harus menghubungi nya terlebih dahulu ya?" Ujar ku.
"Tapi gengsi dong. Masa ia aku harus menghubungi nya dulu. Secara selama ini dia yang selalu menghubungi ku" Ucap ku lagi.
"Tapi ya sudah lah aku hubungi saja dia dulu. Apa salah nya jika aku duluan yang menghubungi nya" Ucap ku lagi langsung menekan nomor ponsel Khey.
"Hallo" Terdengar suara dari seberang.
"Ya aku sedikit sibuk"
"Ya sudah jika begitu. Maaf ya jika aku mengganggu"
"Gak kok, gak ganggu sama sekali. Aku juga mau curhat sama kamu" Ujar nya.
"Curhat apa?"
"Aku saat ini bingung harus bagaimana. Mantan ku kembali menghubungi ku dan meminta ku untuk kembali kepada nya. Aku harus bagaimana?" Tanya nya kepada ku.
"Mantan nya kembali lagi? Pantas saja akhir-akhir ini dia berubah. Berarti benar jika dia hanya menjadikan ku pelarian karena di tinggal dengan pacar nya" Batin ku lagi.
"Jadi bagaimana?" Tanya ku.
"Bagaimana apa nya?"
"Ya kamu sama mantan mu. Apa mau balika atau gak?"
"Aku belum tahu sih. Aku bingung harus bagaimana. Karena itu aku mau meminta saran dari kamu"
"Aku gak tahu sih harus kasih saran apa sama kamu. Itu sih tergantung kamu nya lagi. Jika kamu masih cinta sama dia, ya silahkan kembali bersama nya. Jika tidak ya jangan" Ujar ku lagi.
"Aku bingung harus bagaimana nih" Ujar nya lagi.
"Ya terserah kamu Khey, yang menjalani nya kamu bukan aku"
"Aku takut nanti nya dia akan menyakiti ku lagi."
"Keputusan ada di tangan mu Khey"
"Ya sudah aku mau pergi dulu bersama teman-teman ku"
"Oke" Aku memutuskan sambungan telpon ku dan Khey.
***
Yah lima hari lagi akan menyambut lebaran. Aku mendapatkan dua kes minuman kaleng beserta uang lima ratus ribu rupiah sebagai THR. Betapa senang nya hati ku karena mendapatkan semua itu. Baru magang saja sudah semewah ini apa lagi nanti ketika aku beneran kerja di sana. Yah uang lima ratus ribu itu sudah cukup besar untuk aku yang hidup sederhana ini.
"Mah" Tegur kakak sepupuku.
"Iya Fia ada apa?" Tanya ku saat Fia datang berkunjung ke rumah ku.
__ADS_1
"Lebaran besok kita kemana?"
"Aku belum tahu sih mau kemana. Aku juga belum ada rencana mau pergi kemana"
"Bagaimana kita pergi ke Selat baru saja"
"Selat baru? Wah pasti ramai itu ngantri di roro" Ujar ku lagi.
"Iya, tapi aku pengen ke sana. Aku belum pernah jalan-jalan ke sana. Ayo dong kita ke sana. Aku pergi bersama pacar ku dan kamu pergi nya sama pacar kamu gimana?"
"Pacar? Aku gak ada pacar Fia. Ya sudah nanti aku coba minta bantuan sama teman aku ya yang tinggal di sama untuk membawa kita ke pantai Selat baru. Secara aku gak tahu jalan menuju ke sana" Ujar ku lagi.
"Kamu sekolah di Bengkalis tapi kamu gak tahu jalan di sana"
"Ya harus gimana, secara aku pp (pulang pergi) mana sempat aku pergi ke jalan-jalan. Kalau aku ngekos mungkin aku bisa menjelajahi daerah sana" Jawab ku.
"Iya juga sih ya"
"Kapan kita ke sana nya?"
"Hari raya ke tiga bagaimana?"
"Oke, nanti akan aku kabari lagi ya" Ucap ku.
Yah semenjak magang, aku sudah tidak begitu aktif lagi di tempat ku yang ikut dengan Yus kemaren menjadi marketing di perusahaan obat-obatan yang ku ikuti.
Sering juga aku di ajak para member dan laider untuk ngumpul. Namun aku selalu menolak nya karena aku putus asa. Yah aku sudah berusaha untuk mencari member baru untuk bergabung, namun hasil nya tetap susah. Hingga aku menyerah untuk mencari member lagi. Aku hanya berharap kepada yang pasti-pasti saja yaitu di tempat ku magang.
***
"Hallo Dodi" Ujar ku saat Dodi mengangkat telfon dari ku.
"Ya Cinta"
"Hari raya ke tiga besok rencana nya aku mau ke sana bersama kakak sepupu ku dan juga pacar nya untuk jalan ke pantai Selat baru. Bisa kamu membawa kami ke sana? Tapi aku gak bawa motor ya. Soal nya nanti malah lama ngantri nya. Jika jalan kaki tidak perlu antri lagi langsung masuk saja ke dalam kapal peri. Kamu bisa kan menjemput ku?" Tanya ku kepada Dodi.
"Oh hari raya ketiga ya. Bisa kok bisa. Besok kabari aja jadi tidak nya" Ujar nya.
"Oke"
***
"Mah"
"Iya Fia" Fia datang lagi berkunjung ke rumah ku besok hari nya untuk menanyakan rencana kami kemaren.
"Gimana? Apa teman mu bisa membawa kita ke pantai Selat baru?"
"Bisa kok. Dia itu memang bisa di andalkan jika aku meminta tolong pada nya pasti dia selalu bisa membantu ku" Ucap ku.
"Syukurlah jika begitu. Aku jadi senang mendengar nya. Pada akhir nya aku bisa melihat pantai Selat baru itu" Ujar Fia tersenyum senang.
***
"Woii... Raya ke empat pada kemana?" Pesan dari Siti Fateha masuk ke ponsel ku.
"Belum ada rencana kemana-mana"
"Bagaimana jika kita jalan-jalan raunian ke rumah teman-teman kursus kita dulu"
"Wah rencana bagus itu. Aku setuju. Tapi nanti kalian juga. Datang lah ke Pakning. Masa ia hanya kami yang dari Pakning ini yang terus-terusan ke rumah kalian" Ucap ku.
"Oke hari raya ke empat kita bersilaturahmi ke rumah teman-teman kita yang ada di Bengkalis dan hari raya ke lima baru kami yang di Bengkalis ini nyebrang ke rumah kalian yang di Pakning" Saran nya.
"Bagus juga itu. Aku setuju. Ya sudah kabari teman-teman yang lain biar kita bisa kompak nanti nya. Lebih ramai, pasti lebih seru"
"Oke" Kami pun langsung mengirim pesan kepada teman-teman kami yang lain untuk menyampaikan rencana kami itu.
Aku pun menghubungi Dodi terlebih dahulu.. Jelas dong dia yang ku utamakan nama nya juga orang spesial hehehe.
"Masih juga sibuk dengan ponsel nya. Bukan nya solat taraweh malah sibuk sendiri" Tegur ibu ku saat pulang dari mushola yang tak jauh dari rumahku.
"Tadi udah solat kok buk" Jawab ku.
"Solat apa?"
"Solat isya buk"
"Kan ibu bilang solat taraweh. Apa lagi ini sudah minggu terakhir. Tahun depan belum tentu bisa ketemu" Ucap ibu ku.
"Iya buk, besok aku taraweh ya" Ucap ku tersenyum.
"Besok-besok. Dari kemaren kamu bilang besok nya tapi hingga mau habis puasa tahun ini kamu juga tidak ada melakukan solat taraweh itu"
Aku hanya bisa menjawab dengan nyengir seperti kuda nil.
"Buk, apa ada makanan di dapur lagi? Aku lapar" Ucap ku menggosok-gosok perut ku yang mulai keroncongan.
"Coba saja kamu lihat di dapur sana. Pakai acara tanya-tanya lagi"
"Ya kan cuma tanya buk. Itu pun marah"
__ADS_1
"Habis nya sudah besar seperti ini masih juga seperti anak kecil"
"Iya ibu ku sayang. Ini aku mau lihat ke dapur ya" Ucap ku langsung memeriksa makanan yang ada di dapur.