TAKDIR

TAKDIR
Bab 89. Cantik


__ADS_3

Satu Minggu kemudian


Seperti yang pernah dibicarakan oleh Moses, malam ini adalah perayaan ulang tahun perusahaan Januar Group. Sekaligus akan mengenalkan Ozora maupun Azura sebagai putra dari sang CEO.


Perayaan ulang tahun perusahaan kali ini cukup meriah, beda dari tahun-tahun sebelumnya.


Kali ini juga acara diadakan di mansion. Taman luas yang dapat menampung ribuan tamu undangan.


Di sebuah taman dekat kolam renang, Wisely duduk termenung. Pikirannya tak lari dari keputusan Moses yang akan memperkenalkan mereka ke publik.


Entah ketakutan apa yang mendasari dirinya hingga keputusan itu mengganjal dalam hati.


Sementara Ozora maupun Azura, pagi tadi berangkat lebih awal ke Mansion Opa, Oma mereka. Sedangkan Wisely lebih memilih ke sana menjelang sore, tentunya dijemput oleh Moses.


"Hmm, ada apa melamun?" Rafael bertanya sembari mendaratkan bokongnya, duduk di sebelah Wisely.


"Kamu mengangetkan saja," ucapnya sedikit kaget atas kedatangan Rafael yang tiba-tiba.


"Makanya jangan asik melamun, sejak tadi aku panggil-panggil dari arah sana tapi tidak ada tanggapan, makanya aku langsung nyamperin," pungkas Rafael dengan nada sedikit kesal.


Wisely menghela nafas, kembali memusatkan pandangannya ke arah kolom renang.


"Apa yang menganggu pikiranmu?" tanya Rafael, walau dia tahu apa yang menjadi beban pikiran Wisely akhir-akhir ini seusai berlibur dari Bali, namun dia ingin memastikan secara langsung.


"Apakah semuanya baik-baik saja? Entah mengapa perasaanku mengatakan bahwa sesuatu akan__"


Genggaman tangan Rafael membuat ucapan Wisely tercekat, tidak sempat menyelesaikan.


"Apa yang kamu takutkan? Tidak ada yang harus ditakutkan. Aku dan yang lain-lainnya tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada kalian. Ini adalah kesempatan atau saatnya untuk status Ozora, Azura."


Wisely hanya bisa terdiam dengan sejuta pikiran.

__ADS_1


"Apa kamu bersedia menceritakan masa laluku? Tolonglah berbaik hati untuk saat ini," ucap Wisely, memohon.


"Jadi selama ini aku tidak baik?" bukannya menanggapi perkataan Wisely, namun Rafael menanyakan pembahasan yang lain. Ya, dia memang sengaja, menghindari pertanyaan yang selalu dipertanyakan.


"Bosan! Lebih baik kamu tinggalkan aku saja dari pada aku selalu mendapat jawaban yang melenceng dari pembahasan," ucap Wisely dengan kesal, bahkan wanita itu menarik kasar tangannya yang masih digenggam oleh Rafael.


"Kamu marah? Marah saja cantik, apa lagi jika tersenyum." Goda Rafael, tepatnya memuji paras cantik wanita yang mengubah dunianya.


"Hmm!"


Mendengar deheman cukup keras, baik Wisely maupun Rafael saling menoleh ke sumber suara. Seketika Wisely sontak kaget mendapati sosok lelaki yang membuat beban pikiran akhir-akhir ini.


Sementara Rafael mengembangkan senyuman lebar, dia paham dengan ekspresi tidak suka dari lelaki yang ternyata Ayah kandung dari Ozora, Azura yang sudah dia anggap anak sendiri.


"Kamu datang?" ucap Wisely dengan gugup, entah mengapa jantungnya berdebar hanya melihat sekilas sosok tersebut.


"Apakah kedatanganku menganggu?" bukannya menjawab, Moses malah melayangkan pertanyaan dengan nada suara penuh kesal. Sejak tadi dia menyaksikan interaksi antara Wisely dengan Rafael hingga terakhir Rafael memberi pujian, yang membuat darah Moses mendidih tanpa sebab.


"Aku tidak bertanya kepadamu!"


Wisely menelan ludah, lalu berusaha memisahkan perdebatan yang semakin membuat pikirannya kacau.


"Aku akan membuat minuman. Kalian bisa mengobrol lebih leluasa," ucapnya dengan ketus, dia pun bergegas pergi menuju arah dapur dengan langkah terburu-buru.


Sementara baik Moses maupun Rafael saling mengarahkan pandangan mereka pada sosok tersebut hingga tidak terlihat lagi.


"Dia takut!" ujar Rafael, memberitahukan perasaan Wisely kepada Moses.


Dahi Moses mengerut.


"Dia memaksaku untuk menceritakan masa lalunya. Dengan keputusanmu untuk memperkenalkan mereka ke publik nanti malam ada sebuah ketakutan dalam dirinya." Rafael kembali menjelaskan.

__ADS_1


Moses berpikir sejenak.


"Aku percayakan kepadamu!"


"Aku akan menceritakan semua tentang masa lalunya setelah pesta nanti. Aku sudah siap dengan keputusannya kelak. Walau sejujurnya aku takut, takut kehilangan mereka kembali," ujar Moses dengan tatapan sendu.


"Dia mencintaimu, walau kau memperlakukannya dengan tidak adil!"


"Aku tahu tapi itu dulu sebelum ingatannya menghilang." Masih dengan tatapan sendu Moses menjawab perkataan Rafael.


"Sekarangpun dia jatuh cinta padamu!"


"Jangan sok tahu!"


"Buktinya selama ini dia selalu menolak bila didekati bahkan dilamar beberapa pria. Bukankah itu buktinya dia masih menyimpan rasa untuk seseorang?"


Mendengar ocehan demi ocehan Rafael, hingga berhasil membuat Moses tertegun. Hatinya berdenyut mendengar cerita tentang Wisely.


"Karisma yang kau miliki bertahan dalam hatinya!"


Moses menadah wajahnya, menatap Rafael yang tengah tersenyum menatap dirinya.


"Apa kau juga mencintainya? Atau hanya sebuah rasa kasihan, bersalah?" tanya Rafael dengan serius.


"Tentu saja, aku__"


"Maaf menunggu terlalu lama, tadi keasikan ngobrol via telepon dengan Mommy," tiba-tiba saja ditengah perbincangan mereka terdengar suara Wisely dengan jarak beberapa langkah hingga ucapan Moses pun tidak dilanjutkan.


Wisely membawa napan di tangannya melangkah mendekati.


Sangat terlihat cantik dengan rambut panjang tertiup angin.

__ADS_1


"Cantik!" seru keduanya dengan tidak sadar.


__ADS_2