TAKDIR

TAKDIR
PART 37


__ADS_3

Devan menatap wanita di depannya dengan rasa tak percaya. "Kamu benar-benar menerimaku, Ren?" tanya Devan sekali lagi. Lelaki itu ingin memastikan kalau jawaban Renata adalah benar.


Renata mengangguk mendengar pertanyaan Devan untuk kesekian kalinya. Wanita itu mengulas senyum pada wajah cantiknya. Merasa saat melihat Devan yang menatapnya tak percaya karena dirinya menerima lamaran pria itu.


Bukan hanya ketidakpercayaan Devan yang membuat Renata tersenyum. Namun, kebahagiaan yang terpancar dari sepasang suami istri di sampingnya juga merupakan kebahagiaan tersendiri buat Renata.


Bisa membahagiakan orang-orang yang selama ini selalu mendukungnya dan memberinya begitu banyak kebaikan membuat hatinya menghangat.


Sudah lama sekali, Renata tidak pernah merasa sebahagia ini. Semenjak dirinya kehilangan sang ibu tercinta dan juga orang yang sangat dicintainya, wanita itu tidak pernah merasa sebahagia ini.


"Terima kasih, Sayang." Tangan Devan terulur mengusap rambut Renata.


"Aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu. Maaf, karena sudah menungguku terlalu lama." Renata menatap Devan dengan kedua mata berkaca-kaca. Merasa terharu dengan pengorbanan Devan selama ini.


Seandainya tidak ada mama dan papa, rasanya, aku ingin sekali memeluknya.


Devan menatap Renata dengan penuh cinta.


Sementara Dika dan Iren merasa sangat bahagia.


"Ayo kita rayakan kebahagiaan kita." Dika mengangkat gelas berisi jusnya. Begitupun dengan Iren, Renata dan Devan.

__ADS_1


Meskipun mereka tinggal di luar negeri, tetapi, mereka selalu mencari makanan yang berlabel halal. Dika dan Devan adalah dua orang pria beda generasi yang tidak pernah menyentuh minuman beralkohol.


Malam itu, mereka berempat menghabiskan malam dengan perasaan bahagia. Setelah bertahun-tahun, akhirnya kini mereka bisa bernapas lega.


Terlebih Devan. Pria itu sangat bahagia karena akhirnya Renata menerima lamarannya.


Terima kasih Tuhan, karena sudah memberikan jawaban dari setiap doaku.


***


"Terima kasih, Sayang." Devan mengunci tubuh Renata dalam pelukannya. Membisikkan ucapan terima kasih berulang-ulang pada Renata.


Renata hanya tersenyum menanggapi ucapan Devan. Perempuan cantik itu merebahkan kepalanya pada dada bidang Devan.


"Aku mencintaimu." Devan kembali berbisik.


"Aku tahu. Dari dulu aku sudah tahu kalau kamu mencintaiku," ucap Renata percaya diri.


"Sungguh?" Devan menatap wajah cantik Renata yang mendongak ke arahnya.


"Ternyata kamu sangat percaya diri." Devan terkekeh.

__ADS_1


Renata tersenyum. Tidak marah sama sekali dengan ucapan Devan.


"Kalau kamu tidak mencintaiku, kamu tidak akan berbuat sejauh ini untuk menolongku dan mendukungku sampai akhirnya aku sembuh dan bisa kembali berjalan dengan normal." Renata menatap Devan yang menyunggingkan senyum. Wajah tampan itu bertambah berkali-kali lipat saat sedang tersenyum.


"Benarkah?"


"Hmm." Renata mengangguk mantap.


"Apa sangat terlihat jelas kalau aku menyukaimu?"


Devan menarik pinggang Renata agar lebih merapat ke arahnya. Laki-laki itu menghirup dalam-dalam aroma tubuh Renata. Devan sungguh sangat berterima kasih karena Renata mau menerimanya.


"Akhirnya, setelah sekian lama aku bisa memelukmu seperti ini. Bukan hanya sebagai sahabat, tetapi, sebagai seseorang yang sangat mencintaimu." Devan mengecup puncak kepala Renata. Laki-laki itu sungguh sangat bahagia. Sementara Renata tersenyum dalam pelukan Devan.


Kedua mata Renata terpejam menikmati debaran jantungnya. Pelukan Devan sungguh sangat nyaman. Apalagi, saat mendengar kalimat demi kalimat yang Devan ucapkan.


"Sayang, aku sudah mengatakan pada mama dan papa untuk mempersiapkan pernikahan kita. Setelah kamu benar-benar merasa sehat, kita akan pulang ke negara kita."


"Kita akan pulang?" Renata mendongak menatap Devan yang tersenyum manis padanya.


"Iya, Sayang. Kita akan pulang. Sesuai keinginan kamu. Bukankah kamu sendiri yang ingin menikah di negara kita?"

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2