TAKDIR

TAKDIR
Bab 55


__ADS_3

Aku, Siti dan Yus nongkrong di teras depan rumah ku dengan ditemani beberapa cemilan dan juga minuman yang harganya tidak merogoh kocek namun bisa untuk menemani kami di malam itu.


"Aduh woi, betapa sulit nya aku melupakan dia" Ujar ku dengan wajah yang sedih.


"Melupakan siapa?" Tanya Siti dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Dodi lah, siapa lagi"


"Kalian emang nya gak saling berkomunikasi?" Tanya Yus.


"Gak, dia nggak ada menghubungiku sama sekali aku juga begitu. Lagian semua yang berkaitan dengannya sudah ku hapus pin BBM, nomor ponselnya sudah ku hapus semuanya. Ya karena aku tahu jika aku masih menyimpan nomor pin ataupun nomor ponselnya pasti nanti aku nekat untuk menghubunginya duluan. Karena itulah aku menghapusnya" Jelas ku.


"Doain aku ya, semoga aku bisa melupakan dia secepatnya aku sangat tersiksa seperti ini menahan rindu kepadanya yang sudah tahu tidak bisa ku gapai seperti pungguk merindukan bulan" Jelas ku lagi.


"Ini karena ada kalian aku sedikit terobati. Jika tinggal sendirian pasti rasa rindu itu menghantui ku lagi" Ujar ku sambil menghela napas berat ku.


"Kenapa aku seperti ini. Terlalu bucin kepada nya? Tapi woi jika dia memang di takdirkan untuk ku, maka dia pasti kembali lagi kepada ku" Ucap ku dengan penuh harapan.


"Masih mau mengharapkan dia? Padahal sudah tahu tersakiti Terus yang dibohongi seperti itu" Ujar Yus.


"Aku gak tahu Yus. Tapi hati ini sangat mengharapkan dia. Entah kenapa aku gak bisa lepas dari dia. Aku gak bisa move on Yus" Ujar ku lagi.


"Aduh, lama-lama aku bisa gila seperti ini" Tambah ku lagi.


"Ya ampun sabar kak, sabar kami berdua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kakak agar kakak bisa bahagia" Ucap Siti.


"Makasih ya kalian memang bisa ku andalkan sebagai penghibur hati ini yang telah luka" Ujar ku lagi.


Ting...


Ponsel ku berdering pertanda pesan singkat dari seseorang masuk ke dalam ponselku.


Nomor baru tidak ada nama nya. Namun bisa pastikan aku mengenali nomor itu. Seketika wajah yang tadi murung kini mengukir senyuman kebahagiaan. Dengan hati yang berdebar aku membuka isi pesan tadi.


"Cinta, aku kangen" Isi pesan yang tak lain dari Dodi. Laki-laki yang baru saja kami ceritakan saat itu.


"Woi, dia kirim pesan kepada ku katanya kangen" Ujar ku memperlihatkan isi pesan itu kepada Yus dan Siti dengan hati yang berbunga-bunga.


"Aduh, aku harus bagaimana? Apa harus aku jawab jika aku juga rindu. Tapi gengsi dong. Atau ku cuekin saja. Tapi nanti dia malah menjauh lagi. Aduh gimana ini" Ujar ku tak karuan.


Siti dan Yus melihat ku seperti itu menggelengkan kepala nya.


"Ya ampun kakak, jangan di layan lagi kak. Nanti malah sakit hati lagi" Ujar Siti.


"Iya aku tahu, tapi aku kangen sama dia. Hari-hari ku suram tampa dia" Jelas ku lagi.


"Biarkan aku menumpang kebahagiaan kepada mereka ya" Jelas ku dengan hati yang penuh harapan.


"Terserah kakak saja"


"Sebentar ya aku balas dulu pesan nya"


"Benar itu kangen? Atau hanya rasa kangen itu muncul kepada ku hanya sebagai pelarian saja" Pesan ku kepada laki-laki yang ada di seberang sana.


"Beneran lah cinta. Masa ia aku bohong sama kamu" Jawab nya.


"Oke makasih sudah kangen sama aku" Balas ku dengan cuek nya"


Yah berlagak sok cuek padahal hati berbunga-bunga.


"Sudah, aku cuekin saja dia. Jual mahal sedikit jangan terlalu kelihatan jika sedang bahagia karena pesan dari nya" Ujar ku kepada Siti dan Yus.


"Tapi kamu seriusan mau kembali sama dia?" Tanya Yus meminta kepastian dari ku.


"Aku juga gak tahu Yus.. Saat ini hati ku benar-benar kosong.. Hanya dia yang bisa mengisi kekosongan di hati ini" Jelas ku lagi.


Yah, memang saat ini aku juga sedang dekat dengan bang Mazlan dan bang Iskandar yang bekerja di kapal peri yang sama dengan bang Dodi dulu yaitu kapal peri Bahari Nusantara. Hanya saja bang Mazlan itu tidak jelas, hilang timbul terhadap ku begitu juga bang Iskandar. Jadi nya yah begitu lah aku kembali mengharapkan Dodi yang jelas selalu bisa mengisi kekosongan di hati ku.


Ini bukan bang Iskandar yang kerja di kapal peri Tasik gemilang itu ya. Karena abang itu tidak tahu entah bagaimana kabarnya hingga saat ini. Ini bang Iskandar yang berbeda hanya namanya saja yang sama.


"Ya sudah kami tidak bisa memaksa kamu. Yang jelas kamu sendiri yang tahu apa yang terbaik untuk mu" Ujar Yus lagi.


"Doa kan saja semoga aku mendapatkan laki-laki yang bisa menerimaku apa ada nya sehingga aku bisa melupakan Dodi" Ujar ku lagi.


"Aamiin" Jawab mereka serentak.


Malam ini aku bisa tidur dengan tenang karena Dodi kembali menghubungi ku. Meski kami hanya bertukar pesan sebentar, tapi itu sudah cukup membuat hati ini kembali berwarna.


"Aku kangen kamu Dodi. Tapi aku tidak mau memaksa mu untuk memilih aku sebagai pendamping hidup mu kelak. Aku juga tidak mau memaksa kamu untuk memutusi Fida. Karena kita jauh seperti ini biarlah dia yang menemani mu di sana. Dan aku juga sadar siapa lah aku ini. Status ku sekarang tidak bisa membuat ku untuk menuntut mu lebih. Kamu lebih berhak mendapatkan gadis yang lebih baik dari pada aku" Batin ku sambil memejamkan mata ku dan membayangkan wajah Dodi yang tersenyum manis di hadapan ku.

__ADS_1


"Mah, sudah tidur?" Tegur ibu ku membuat lamunan ku buyar seketika.


"Belum buk ada apa?" Tanya ku lagi.


"Tolong pijitin punggung ibu nak. Seperti nya ibu masuk angin deh. Pegal-pegal soal nya" Jelas ibu ku sambil memberikan ku minyak angin untuk di gosok di punggung nya.


Aku pun bangkit dari rebahanku. Aku gosok minyak angin itu di punggung Ibuku dan ku pijat seperti biasanya.


"Emangnya ibu makan apa sih sampai masuk angin seperti ini?" Tanya aku sampai terus memijit ibuku.


"Makan ibu seperti biasa kok. Ya kalau sudah penyakit itu mau datang mau bagaimanapun tetap juga akan sakit" Jelas ibuku lagi.


Benar sih apa yang dikatakan Ibuku tadi. Jika penyakit itu mau datang mau, bagaimanapun kita mengontrol makanan yang kita konsumsi, tetap saja dia akan datang tanpa diundang.


***


"Hallo" Ujar ku saat ponsel ku berdering. Yah tertera nama bang Iskandar di sana yang menghubungi ku.


"Dek, sibuk?" Tanya nya kepada ku yang memang masih di kantor karena belum waktu nya pulang.


"Gak sih bang, gak terlalu sibuk sih. Emang nya ada apa sih bang?"


"Dek, boleh abang tanya sama kamu dek?"


"Tanya apa sih bang? Tanya aja" Ujar ku.


"Jika abang melamar adek, apa adek menuntut hantaran dengan uang empat puluh juta?" Tanya nya lagi.


"Ha? Kenapa ngomong nya gitu sih bang?"


"Iya, ini lo si Ema. Abang mau serius sama dia. Abang mau menikahi nya, tapi orang tua nya malah meminta abang untuk hantaran empat puluh juta. Emang sih dia sudah bergelar sarjana, tapi dia masih nganggur. Kecuali seperti adek kan sudah mendapat kerja" Ujar bang Iskandar lagi.


"Menurut adek gimana sih?"


"Aduh, gak tahu juga sih bang ya. Kalau Mah sih meminta hantaran semampu nya saja. Gak harus menuntut seperti itu" Jawab ku.


"Nah itu dia dek, adek tahu juga kan dia itu pernah melakukan apa sama mantan nya. Secara mantan kalian kan sama"


Deg...


Jantung ku langsung bergetar mendengar ucapan bang Iskandar itu. Kenapa laki-laki itu bisa mengatakan hal seperti itu? Apakah dia tahu apa yang terjadi antara aku dan bang Dodi dahulunya? Pikir ku.


"Aku nggak tahu sih bang harus ngomong seperti apa. Yang jelas begitulah jika ada yang ingin melamar ku, aku tidak menuntutnya. Semampunya saja dia mengantar hantaran kepadaku. Mungkin karena kedua orang tuanya kak Ema itu memikirkan banyak pengeluaran biaya kuliah putrinya makanya dia seperti itu atau mungkin dia tidak tahu apa yang terjadi kepada putrinya sehingga dia bisa meminta abang untuk mengantarkan hantaran sebanyak itu Jika mereka tahu pasti mereka tidak akan menuntut sebanyak itu sama abang" Jelas ku panjang lebar.


"Iya sih bang bener juga apa yang abang bilang tapi. Ya itu tadi tergantung individunya. Mah tidak bisa bilang apa-apa. Itu sih tergantung diri abangnya aja lagi. Jika abang memang cinta dan sayang sama dia, ya harus bilang sama kedua orang tuanya untuk meminta keringanan. Pasti mereka juga mau kok untuk memberikan keringanan kepada abang"


"Entah lah dek. Abang juga gak tahu. Yang jelas abang bingung saat ini"


"Yang sabar ya bang. Hanya itu yang bisa Mah ucapkan. Sekarang Mah mau pulang dulu sudah waktu nya pulang juga ini" Ujar ku lagi.


"Iya dek, terima kasih ya karena sudah mendengarkan keluh kesah abang"


"Iya sama-sama bang" Aku pun menutup ponsel ku.


"Ya ampun, beruntung nya kamu kak Ema karena ada laki-laki yang bisa menerima mu apa ada nya. Semoga saja kelak ada laki-laki seperti bang Iskandar yang bisa menerima aku apa ada nya mesti dia tahu masa laluku seperti apa" Batin ku.


***


"Cinta, lagi ngapain sudah makan?" Tanya Dodi penuh perhatian kepada ku malam hari nya.


"Sudah kok" Jawab ku masih dengan cuek nya.


"Tadi gimana kerja nya, oke?"


"Oke-oke aja"


"Cuek banget sih cinta. Masih marah sama aku? Maaf ya cinta" Ujar nya lagi.


"Maaf kan aku tidak bisa memilih antara kamu dan dia. Aku sayang sama kalian berdua. Aku tidak mau kehilangan kalian berdua"


"Egois banget sih kamu jadi orang. Aku tidak mau di duakan" Ujar ku.


"Aku masih bertahan bukan karena aku mau untuk di duakan. Jika kita berjodoh, maka kita akan bersama. Tapi jika tidak, ya tentu kita terpisah. Jadi aku saat ini hanya menikmati momen itu saja" Jelas ku lagi.


"Iya cinta, aku ngerti maksud kamu. Dan aku juga mau menikmati momen itu bersama kalian" Ucap nya.


"Terserah, yang jelas jika aku sudah lelah, jangan salah kan aku jika aku hilang dari hidup mu"


"Aku tidak memaksa mu untuk bertahan di atas situasi ini. Tapi aku sangat mengharapkan kehadiran kamu sebagai penyemangat hidupku" Pesan nya lagi kepada ku.

__ADS_1


"Aku gak yakin mampu Dodi. Secara dia itu sudah begitu dekat dengan keluargamu dan sepertinya keluargamu sangat menerimanya dengan tangan yang terbuka. Sedangkan aku? Siapalah aku? Aku hanya pungguk merindukan bulan"


"Masalah keluarga ku, kamu gak perlu khawatir. Dengan beriringnya waktu mereka pasti akan bisa menerima kamu. Hanya saja saat ini kita hanya menunggu waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu"


"Entah lah Dodi, aku tidak tahu harus bagaimana. Jujur aku sudah berusaha untuk melupakan mu. Tapi tetap saja tidak bisa. Aku sayang sama kamu, tapi aku sadar siapa lah aku. Kamu lebih berhak mendapatkan gadis yang lebih baik dari ku" Ujar ku lagi.


"Kau gadis yang baik untuk ku kok cinta"


"Tidak aku tidak baik untuk mu"


"Maksud kamu apa?"


"Kelak, jika waktu nya sudah tepat, aku akan menceritakan nya kepada mu" Jelas ku lagi.


"Jangan terlalu di pikirkan cinta. Nikmati saja kebersamaan kita ini" Jelas nya lagi.


"Iya, sedang ku nikmati" Ujar nya.


"Ada satu lagu untuk mu cinta. Mau dengar?" Tanya nya.


"Apa?"


"Sebentar ya aku buat paket telfon dulu"


"Mau dengarkan lagu nya?" Ujar nya lagi setelah selesai membuat paket telfon dan langsung menghubungi ku.


"Judul nya Setia ku di sini-Faisal Asahan"


Dodi mulai menyanyikan lagu untuk ku.


"ku tuliskan lagu ini


sebagai bukti kerinduanku


yang telah lama bersemayam


di dalam cerita kehidupan


dinginnya sapaan angin malam


menyatu sedingin kalbu ini


apakah dirimu akan datang


menghapus segala kerinduan


kasihmu melekat dalam jiwaku


hadirmu gelora dalam dadaku


bagaikan bulan dan cahaya


tak mungkin terpisahkan cinta


begitu kasihku padamu


selamanya.....


engkau yang ada di sana


masih adakah setia


aku yang ada di sini


menanti sepenuh hati


berilah aku kebenaran


hakikat cinta yang sesungguhnya


setia atau telah berpaling arah" Kembali seperti dulu satu lagu membuat ku baper terhadap nya. Aku tersenyum sendiri mendengar lagu itu di lantunkan. Meski aku tahu dia tidak setia di sana. Tapi lagu itu cukup membuat ku terbawa suasana di malam yang sepi ini.


"Aku rindu kamu cinta. Kapan kita bisa bertemu?"


"Gak tahu juga sih. Jika benar kangen datang dong ke sini lagi" Ucap ku.


"Oke cinta malam minggu ya aku akan ke sana sama Rio. Pasti Rio mau, secara Rio sudah jadian sama Siti. Pasti dia senang di ajak ke sana" Ujar Dodi lagi.


"Oke ku tunggu kedatangan nya ya. Ya sudah aku tutup dulu telfon nya. Sudah malam juga aku mau tidur" Ujar ku lagi.

__ADS_1


"Oke deh cinta. Selamat malam, hadir kan aku di dalam mimpi indah mu ya cinta"


"Iya" Jawab ku singkat.


__ADS_2