
Bima pulang dengan wajah yang terlihat lelah. Karina yang baru saja turun dari lantai atas saat mendengar deru mesin mobil Bima, langsung menyambut kedatangan lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya itu.
Terlepas dari surat perjanjian pernikahan yang dibuat oleh Bima, Karina tetaplah menganggap Bima sebagai seorang suami karena biar bagaimanapun, mereka menikah sah secara agama dan negara.
"Kamu baru pulang?" Pertanyaan bodoh yang jelas-jelas Karina sudah tahu jawabannya. Karina kembali merutuki dirinya yang selalu gugup saat berhadapan dengan Bima semenjak pria itu menjadi suaminya.
Akan tetapi, bukankah pertanyaan itu memang pertanyaan wajar yang bisa diucapkan seorang istri terhadap suaminya?
Konyol! Bahkan saat batinnya berperang hanya karena kalimat sepele yang diucapkannya pada Bima, wanita itu hanya bisa melongo saat laki-laki yang membuatnya gugup itu hanya menjawab dengan satu kata.
"Hmm."
Rasanya Karina ingin sekali menampar wajah datar pria itu. Di saat dirinya mati-matian menahan gugup karena pertanyaan sepele yang ia anggap suatu kebodohan, lelaki di depannya itu justru dengan wajah datar tanpa meliriknya sama sekali hanya menjawab pertanyaannya dengan kalimat serupa gumaman.
"Hmm." Karina menirukan suara yang keluar dari mulut pria itu dalam hati.
Dengan perasaan dongkol, Karina membawa tas kerja Bima ke ruang kerjanya. Sementara lelaki itu langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Bima ingin segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Hari ini, pekerjaan di kantor sungguh sangat menyiksanya. Pekerjaan yang sangat menumpuk di mejanya membuat Bima kelelahan.
Bima menghela napas panjang. Sebuah senyuman tersungging pada wajah tampannya saat dirinya baru saja membuka pintu kamar.
Wajah Renata dalam sebuah bingkai besar yang terpajang di dinding kamar seolah menjadi obat lelahnya.
Selamat malam sayang ... aku pulang.
Bima tersenyum menatap bingkai foto di dinding kamarnya. Foto itu memang sengaja Bima pasang tepat menghadap pintu kamarnya agar setiap dirinya pulang dan masuk ke dalam kamar itu, wajah Renata dalam bingkai besar itu langsung menyambutnya.
Bima mengembuskan napas kasar. Sebelum akhirnya ia memutuskan melangkah ke kamar mandi. Saat ini, bukan hanya tubuhnya saja yang lelah.
__ADS_1
Tetapi, hatinya juga lelah.
Apalagi, saat dirinya kembali mengingat semua nasihat Aldrian.
Jangan *melakukan kesalahan yang sama seperti kesalahan yang pernah kamu lakukan pada Renata.
Dulu, kamu juga tidak pernah mencintai Renata. Kamu menyakitinya sampai batas akhir. Namun, setelah dia pergi darimu, kamu justru hampir gila karena cintamu yang datang terlambat.
Ingat, Bima. Penyesalan selalu datang di akhir*.
Bima berdiri di bawah shower yang menyala. Membiarkan air mengalir membasahi rambut dan seluruh tubuhnya. Rasanya, Bima ingin sekali mendinginkan kepalanya yang terasa panas dan penuh.
Sejenak, ia menyesali karena dengan gegabah telah mengambil keputusan untuk menikahi gadis itu. Aldrian benar, seharusnya ia tidak menolong Karina dengan cara menikahinya.
Masih banyak cara untuk menolong gadis itu agar bisa mendapatkan haknya. Namun, entah mengapa, saat itu yang terpikir dalam kepalanya adalah menikahi gadis itu.
Sial! Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Setelah meletakkan tas kerja Bima di ruang kerjanya, Karina naik ke lantai atas menuju kamar Bima yang sekarang juga sudah menjadi kamarnya. Seperti apa yang diucapkan oleh Bi Santi, Karina akan belajar melayani Bima sebagai seorang istri.
Perempuan itu mempersiapkan pakaian ganti untuk Bima saat pria itu sedang di kamar mandi. Setelah menyiapkan pakaian Bima, Karina kembali turun menuju dapur. Karina ingin membantu Bi Santi menyiapkan makan malam.
Setelah siap, Karina kembali naik ke lantai atas untuk mengajak Bima makan. Wajah cantik gadis itu tersenyum lebar saat melihat Bima ternyata memakai pakaian yang telah disiapkannya tadi.
"Aku dan Bi Santi sudah menyiapkan makan malam." Karina menatap wajah tampan Bima yang tampak segar dengan rambut masih setengah basah.
Lelaki itu memang sengaja tidak mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer seperti biasanya. Biasanya, setiap pagi, setelah keramas, Bima pasti mengeringkan rambutnya dengan alat pengering rambut.
"Hmm."
__ADS_1
Lagi-lagi hanya jawaban itu yang keluar dari mulut Bima. Lelaki itu bahkan melewatinya tanpa melirik ke arahnya sedikitpun.
Karina mendengus kesal sambil menatap punggung Bima. Lelaki itu meninggalkannya tanpa menoleh ke belakang. Benar-benar menyebalkan!
*Apa dia menganggapku patung? Kalau tahu setelah menikah dengannya sikapnya bertambah dingin, aku lebih memilih menolaknya.
Huh! Menolaknya? Bagaimana bisa kamu menolaknya kalau kamu sendiri sangat terpesona setiap melihatnya Karina*?
Karina menutup pintu kamar. Namun, sebelum menutup kamarnya, wajah cantik Renata yang sedang tersenyum dalam bingkai besar yang terpajang di dinding itu seolah menatapnya.
Seketika, wajah kesal Karina berubah melunak.
"Apa kamu akan marah dan menganggapku sebagai pelakor saat tahu suamimu menikahiku?" ucap Karina lirih. Tiba-tiba saja rasa bersalah menyelimuti hatinya.
Seharusnya kemarin aku menanyakan pada Aldrian tentang istrinya Bima. Aku sungguh merasa bersalah karena diam-diam telah menikah dengan pria yang sudah beristri.
"Tenanglah! Aku janji, aku hanya meminjam suamimu sebentar saja. Setelah aku mendapatkan semua hakku, aku akan bercerai dengannya. Tetaplah di luar negeri agar kamu tidak mengetahui kalau suamimu menikah lagi di sini." Karina menutup pintu kamar dengan suasana hati yang tiba-tiba berubah.
Entah apa yang dirasakan oleh gadis itu sekarang. Diam-diam menikah dengan suami orang. Sungguh! Dalam mimpi pun, Karina tidak berani membayangkannya.
BERSAMBUNG ....
Sambil nunggu update, yuk, kepoin novel temen Author juga. Dijamin penasaran setelah kalian baca.
Adrian Pratama terpaksa harus menikah dengan adik angkat yang selama ini selalu ia jaga dan ia lindungi. Putri kandung dari ibu angkatnya. Mak Alisa.
Semua itu terjadi karena calon istri Adrian Pratama berselingkuh di belakangnya tepat saat hari pernikahan mereka.
__ADS_1
Sanggupkah Adrian Pratama menjalani pernikahan terpaksa dengan adik putri dari ibu angkat nya?