TAKDIR

TAKDIR
Bab 47


__ADS_3

"Selamat malam juga my lovely Dodi" Ujar ku mengetik pesan singkat sebagai balasan ucapan selamat malam kepada Dodi sang pencuri hati.


***


Sebulan sudah aku bekerja di tempat magang ku kemarin sebagai honor suka rela. Aku di gaji satu juta setiap bulan nya. Namun terkadang aku sering mendapatkan uang tips dari kepala-kepala ruangan di kantor itu. Yah bisa di bilang uang tips itu bisa di jadikan sebagai uang jajan ku. Sedang kan uang gaji ku, ku sisihkan lima ratus ribu setiap bulan nya untuk membayar uang dengan kakak ku. Yah aku sekolah kursus memakai uang dari kakak ku. Awal nya para abang-abang ku semua sepakat menyekolahkan ku dan patungan memberikan aku uang sebesar seratus ribu perbulan setiap bulan nya. Namun, entah mengapa hanya beberapa bulan saja mereka melakukan itu. Ya aku juga mengerti, perekonomian mereka juga sulit. Jadi nya kakak ku lah yang terus-terusan memberikan ku uang untuk ongkos pulang pergi. Setelah aku lulus dan mendapatkan pekerjaan aku pun membayar kembali uang sekolah ku itu.


"Kak ini gaji pertama ku, aku membayar hutang sekolah ku secara kredit ya sama kakak lima ratus ribu" Ucap ku menyerahkan uang itu kepada kakak ku.


"Benar nih kamu mau membayar uang sekolah mu, kakak gak minta ya. Nanti kamu jangan bilang kakak yang minta"


"Iya gak apa-apa kak, soal nya aku gak enak aja sekolah kemaren semua pakai uang kakak. Secara kakak gak kerja, yang mencari itu suami kakak" Ucap ku lagi.


"Ya sudah kakak terima ya" Ucap kakak ku lagi.


"Oh ya kak, ini uang untuk buat acara syukuran. Aku mempunyai niat untuk membuat acara syukuran karena telah mendapatkan pekerjaan ini" Ujar ku.


"Oke, nanti kita bahas lagi sama yang lain ya. Kapan bagus nya kita buat acara itu" Ujar kakak ku.


"Baik lah kakak ku. Tapi bagusnya kita buat acara itu hari Sabtu atau Minggu Soalnya di hari itu orang pada libur semua"


"Ya bener juga apa kata kamu. Nanti kita akan mengadakan rapat keluarga kapan hari yang tepat untuk membuat acara ini. Dan siapa tahu ada juga yang mau menyumbangkan sebagian rezekinya untuk acara ini" Ujar kakak ku.


Karena aku tidak mempunyai motor untuk pergi bekerja, maka ibu ku meminta adik dari abang iparku untuk mencarikan ku motor bekas yang murah sebagai alat transportasi itu untuk berangkat ke kantor tempatku bekerja.


Untung saja waktu itu Ibuku mendapatkan arisan sebesar tiga juta rupiah. Dan ayah ku pun ikut menyumbangkan sebagian uang tabungannya untuk membelikan ku motor.


Banyak motor yang dibawa oleh adik abang iparku itu untuk diperlihatkan kepadaku dengan harga yang bisa dijangkau oleh kedua orang tuaku. Namun pilihanku jatuh kepada motor bermerek Beat berwarna putih karena memang sudah lama aku menginginkan motor itu.


Sungguh aku merasa sangat senang sekali karena mendapatkan motor yang aku ingin kan selama ini.


Acara syukuran berjalan dengan lancar. Akhir nya niat ku terlaksana lah sudah.


***


"Mah, Obat ibu tersisa satu tablet saja lagi. Gimana ni? Nanti malam juga habis obat nya. Ibu lupa ngasih tau kamu karena sibuk menyiapkan acara syukuran kamu itu" Ujar ibu ku saat pagi itu aku sedang bersiap-siap berangkat ke kantor.


"Ya sudah nanti setelah pulang kantor, aku akan nyebrang ke Bengkalis ya untuk membeli obat nya"


"Kamu pulang kantor nya pukul lima, nanti malah pulang ke sini nya malam banget"


"Gak apa-apa kok buk. Nanti aku minta teman ku di sana untuk mencari kan nya. Jadi aku hanya menjemput nya di pelabuhan" Ucap ku lagi"


"Ya sudah jika itu keputusan mu. Lagian ibu memang harus mengkonsumsi obat itu"


"Bagaimana buk? Apa ada perubahan selama Ibu mengkonsumsi obat itu"


"Iya, perut ibu juga nyarinya berkurang. Badan ibu juga terasa enteng"


"Syukur lah jika ada perubahan dari obat itu aku jadi senang mendengarnya"


***


Setiba nya di kantor, masih terlihat sepi di sana. Belum ada satu pun orang yang datang kecuali bang Dian yang berada di ruangan lain. Yah bang Dian memang selalu datang ke kantor pagi sekali. Jika ada reward untuk karyawan kantor yang datang nya pagi, pasti dia lah pemenang nya.


Aku merogoh tas yang kerjaku yang kubawa tadi. aku ambil ponselku yang masih bermerek mito. Ku pencet nomor ponsel Dodi untuk menghubunginya dan meminta tolong kepadanya lagi.


"Hallo cinta. Pagi-pagi begini sudah meneleponku. Kenapa kangen ya sama aku?" Tanya nya.


"Iya kangen sama kamu. Makanya aku menghubungi kamu"


"Sama aku juga begitu"


"Oh ya, apa aku boleh meminta tolong sama kamu?"


"Boleh dong cinta mau minta tolong apa?"


"Obat ibu ku yang kemaren itu sudah habis. Bisa gak kamu membelikan nya dulu di sana. Nanti aku tinggal menjemput nya di rumah mu atau di pelabuhan" Ujar ku kepada Dodi.


"Aduh, gimana ya cinta. Bukan nya aku gak mau membantu kamu, hanya saja hari ini aku mau ikut ayahku kerja bangunan"


Ya karena di tempat magang Dodi kemarin tidak menerima lowongan pekerjaan. Ia pun memutuskan untuk ikut ayahnya kerja bangunan untuk mendapatkan penghasilan. Tidak mungkin juga bukan aku memintanya untuk tidak bekerja hari ini demi mencari obat untuk ibuku. Bisa-bisa dia di marah sama ayahnya.


"Oh, gitu ya. Terus kamu pulangnya jam berapa?"


"Sekitar pukul lima sore"


"Ya sudah kalau begitu nanti sepulang aku dari kantor aku akan ke rumah kamu meminta kamu untuk menemaniku mencari obat ibuku. Bisa kan?" Tanya ku lagi.


"Bisa dong cinta. Tentu bisa" Jawab nya.


"Oke terima kasih" Aku memutuskan ponsel ku.


***

__ADS_1


"Ramah" Tegur ibu nya Nindi kepada ku.


"Iya buk"


"Pergi kamu ke kantin pelabuhan, dan panggil Dewi untuk datang ke sini karena kita akan memesan sarapan dengan nya" Ujar nya lagi.


Seperti biasa tanpa dimintai dua kali, aku pun langsung pergi menemui ke kantin pelabuhan. Yah kantorku terletak di tepi laut di sana terdapat pelabuhan penyeberangan yang menggunakan kapal speed boat.


Setelah kak Dewi datang kami pun memesan makanan kepadanya di mana dia akan mengantarkannya ke ruangan kami. Dulu sewaktu aku masih baru magang di sini, aku sering sarapan di rumah. Dan di kantor aku juga diajak sarapan lagi bersama mereka sehingga membuat perutku terasa penuh. Namun untuk menolak aku tidak bisa. Semenjak itu aku tidak pernah lagi sarapan di rumah karena pastinya orang-orang kantor akan selalu mengajakku sarapan bersama mereka.


Terkadang untuk pulang makan siang pun aku tidak. Karena sering di ajak makan siang. Jadi aku tidak pulang ke rumah sama sekali. Belum lagi jika sore hari, selalu saja ada makanan berupa gorengan di ruangan kami sebagai ngemil. Sungguh di sana sangat mewah makanan.


***


"Kamu sudah pulang? Apa ada di rumah?" Tanya ku kepada Dodi saat aku sudah masuk ke dalam kapal peri melalui ponsel ku. Yah ini sudah waktu nya aku pulang dari kantor ku.


"Iya aku baru saja pulang"


"Oke deh, sekarang aku sudah di dalam kapal peri. Kamu siap-siap ya. Nanti aku jemput kamu di rumah" Ujar ku lagi.


"Oke cinta. Hati-hati di jalan ya" Jawab nya.


Yah saat ini aku sudah berganti pakaian menjadi pakaian biasa. Aku sempat pulang ke rumah untuk mengambil baju ganti saat waktu makan siang. Dan aku pun menceritakan kepada ibu ku bahwa Dodi tidak bisa membalikan obat itu karena dia harus bekerja. Mau tidak mau, aku harus menyebrang juga.


Ibu ku pun mengizinkan nya. Yah harus bagaimana lagi. Obat yang di konsumsi sudah habis. Jadi ya harus begini lah jalan nya.


Seperti biasa aku di sambut dengan senyuman manis Dodi. Kami pun pergi untuk membeli obat tersebut. Karena hari sudah terlalu sore, toko yang biasa nya menjual obat itu pun tutup.


"Aduh gimana ini? Kita harus mencari di mana ya?" Ujar ku cemas. Percuma dong aku menyebrang jika obat ku tidak ku dapat kan. Emang sih aku bisa bertemu dengan Dodi tapi tujuan utama ku adalah obat itu.


"Kita coba cari di jalan ini ya" Ujar Dodi mengajak ku keliling kota Bengkalis masuk di gang ini, keluar gang sana. Yah begitu lah kegiatan kami malam itu. Hingga kami menemukan sebuah toko yang pemilik nya orang Chinese. Aku pun masuk dan bertanya dengan pemilik toko itu. Sedang kan Dodi menunggu ku di motor.


"Pak, ada jual obat ini?" Tanya ku sambil memperlihatkan kotak obat tersebut.


"Oh, ada. Mau berapa?"


"Dua pak" Jawab ku.


"Bagaimana? Ada?" Tanya Dodi saat aku keluar dari toko itu.


"Alhamdulillah ada. Terima kasih ya kamu sudah membantu ku" Ujar ku.


"Iya sama-sama. Sekarang kita ke mana?"


aku melihat jam yang ada di tanganku untuk melihat pukul berapa sekarang.


"Baik lah" Ujar Dodi.


Kring...


Ponsel ku berdering ada yang menghubungiku saat kami menuju perjalanan pulang.


Aku mengkerutkan kening ku saat melihat nama yang tertera di ponselku itu yang menghubungiku saat ini.


"Fida. Ngapain dia menghubungi ku" Batin ku.


"Siapa?" Tanya Dodi.


"Pacar mu"


"Ngapain dia menghubungi kamu?"


"Gak tahu"


"Abaikan saja"


"Hallo" Ujar ku mengangkat ponselku itu. bukannya mau mengabaikan panggilan dari Fida malah aku mengangkatnya membuat Dodi kesal kepadaku.


"Apa kakak bersama Dodi? Kaliian di mana?" Tanya nya.


"Iya, kami sedang mencari obat untuk ibuku dan maaf aku nggak tahu ini daerah mana" Jawabku jujur karena aku memang tidak tahu dimana tempat kami saat ini berada.


"Yang bener dong kak kalian di mana?" tanyain lagi saat akan tidak percaya dengan jawabanku.


"Ya memang, Aku nggak tahu ini di mana" Jawab ku lagi.


"Kita di mana sih?" Tanya aku kepada Dodi.


Melihat aku yang terus-terusan melayani pacarnya itu membuat Dodi kesal dan merampas ponselku terus memutuskan sambungan telepon kami.


"Kok dimatiin?" Tanyaku.


"Udah ah, jangan dilayani lagi berisik aja" Ujar dengan ekspresi kesal.

__ADS_1


Melihat ekspresinya itu aku tidak mau melanjutkan pertanyaanku lagi. Aku tidak mau dia semakin kesal kepadaku.


"Maaf ya" Ujar ku setelah lama kami terdiam.


"Maaf untuk apa?" Tanya nya.


"Ya karena masalah tadi. Dan maaf juga jika nanti kalian berdua akan bertengkar karena ku" Ujar ku lagi merasa bersalah.


"Sudah jangan di bahas lagi" Ujar nya.


***


"Makasih ya untuk waktu nya malam ini" Ujar ku saat aku tiba di rumah Dodi. Di mana aku mengantar nya pulang.


"Iya sama-sama. Gak masuk dulu?" Tawar nya.


"Gak usah, sudah malam juga. Aku harus segera menyebrang"


"Ini dia si Dodi. Itu tadi Fida mencari mu" Ujar kak Maya berupa tetangga nya Dodi. Wanita itu menghampiri kami dengan menggendong anak nya yang berusia satu tahun.


Aku menatap Dodi merasa tidak enak hati.


"Dari mana dek?" Tanya kak Maya kepada ku.


"Pakning kak. Tadi meminta Dodi untuk menemani ku untuk menunjukan tempat obat herbal di sini. Soal nya aku tidak tahu daerah sini" Ujar ku.


"Kalian pacaran?"


"Gak kok kak, hanya teman" Jawab ku lagi.


"Tega, benar-benar tega. Ternyata aku kembali tidak di anggap oleh nya" Ujar Dodi.


"Lo, memang benar kok kita temenan. Kapan juga kamu mengungkapkan perasaan mu pada ku" Ujar ku seenak nya.


Kak Maya hanya tersenyum melihat tingkah kami berdua.


"Ya sudah aku pulang dulu. Sudah malam nanti malah kemalaman"


"Ya sudah, hati-hati ya cinta"


Aku menjawab nya dengan senyuman saja.


***


Di perjalanan pulang menuju pelabuhan penyeberangan. Rio teman nya Dodi menghampiri ku menggunakan sepeda motor nya.


"Hay Mah, dari mana kamu?" Tanya nya.


"Dari rumah Dodi ini mau pulang" Jawab ku.


Tiba-tiba ada dua orang gadis membawa motor dengan kecepatan sedang dan langsung membentak kami sekali lewat saja. Sontak hal itu membuat ku kaget.


"Siapa sih mereka?" Tanya ku saat mereka semakin jauh.


"Itu Fida"


"Fida? Pacar Dodi?" Tanya ku meminta kepastian dari sahabat Dodi itu.


"Iya"


"Yang mana?"


"Yang di belakang"


"Serius dong Rio"


"Iya aku serius"


"Aduh, dari mana ya dia? Apa dia masih berada di rumah Dodi saat aku mengantar Dodi pulang tadi?" Batin ku bertanya.


"Apa telah terjadi perang dunia ketika diantara mereka" Tanya ku lagi dalam hati.


"Kenapa?" Tanya Rio melihatku melamun.


"Gak, aku merasa nggak enak saja sama Dodi. Pasti mereka bertengkar gara-gara aku"


"Gak, apa-apa kamu tenang aja walaupun mereka bertengkar pasti nantinya akan baik lagi"


Aku hanya terdiam mendengar ucapan Rio.


"Ini kamu mau kemana?" Tanya ku.


"Aku mau ke pasar, biasa menjemput pacar ku" Jawab nya dengan bangga.

__ADS_1


"Oh gitu, oke deh. Aku duluan ya" Ujar ku berbelok ke arah pelabuhan.


"Hati-hati" Terik Rio.


__ADS_2