
Aku dan Dika kaget melihat Fida yang secara tiba-tiba hadir di kantor Dika. Tampaknya duduk di hadapan Ari untuk menunggu kepulangan Dika di kantor itu. Yah dia tentu saja kami tidak tahu bahwa dia akan hadir secara dia tidak mengabari Dika karena ponsel Dika rusak.
Dan Dika pun bilang sama Ari bahwa Fida itu adalah pacar nya. Sontak hal itu membuat ku sangat sakit. Tapi memang itu lah yang sebenar nya.
Aku memang mengatakan bahwa di hati ini rela, tapi nyatanya aku tidak rela sama sekali. Aku melaju dengan sepeda motor ku untuk pulang. Kutinggalkan saja mereka bertiga di kantor itu. Hati ku benar merasa sakit menerima kenyataan tadi.
"Ya Allah ikhlas kan hati ini Rela kan diri ini untuk melepaskan nya bersama orang yang berhak atas dia" Batin ku berdoa selama perjalanan pulang ke rumah.
***
"Uti... " Panggil ku kepada keponakanku yang tinggal di samping rumahku ini.
"Iya usu ada apa?"
"Temani usu yuk ke kantor Dika" Ajak ku kepada keponakanku itu di malam harinya.
"Boleh, boleh sebentar ya Su Uti mau siap-siap dulu" Ucap nya langsung bersiap-siap untuk pergi ke kantor Dika bersamaku.
***
"Sudah makan?" Tanya ku kepada Dika saat aku dan Uti sudah berada di kantornya.
"Sudah tadi"
"Sampai pukul berapa cinta mu itu di sini kemarin malam?" Tanya ku.
"Gak lama setelah kamu pulang, dia pun pulang. Aku mengantar nya sampai ke roro" Ucap nya lagi.
Deg...
Satu perbuatan yang berhasil membuat ku cemburu. Yah tentu saja aku cemburu. Secara ketika aku datang ke kantor nya sendirian untuk jalan-jalan dengan nya bahkan sampai jam sembilan lewat, tidak pernah dia mengantar ku pulang ke rumah. Padahal aku juga perempuan.
"Sadar Mah, kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanya teman nya" Batin ku kepada diri sendiri untuk menyadari bahwa aku bukan orang spesial untuk nya.
"Oh ya bagaimanapun kamu harus mempunyai ponsel juga karena pekerjaan kamu itu sangat membutuhkan ponsel agar kamu gampang untuk dihubungi oleh agen kapal dan pak Barat" Saran ku mengubah topik pembicaraan.
"Ya cinta aku tahu, tapi saat ini aku belum mempunyai uang untuk membeli ponsel baru"
"Ya sudah begini saja. Aku mempunyai sedikit uang untuk membelikan kamu ponsel baru. Kamu pinjam saja uangku ini nanti setelah kamu gajian atau mendapatkan uang tips kamu bisa menggantikannya kembali"
"Benar cinta kamu mau memberikan aku pinjaman uangmu? Lagian aku juga merasa bosan karena tidak ada hiburan. Jika ada ponsel, aku bisa berselancar di sosial media dan pastinya aku bisa menghubungi kamu. Namun jika seperti ini pikiranku menjadi kusut tidak tahu apa yang harus aku lakukan" Jelas Dika.
"Iya aku tahu, karena itu aku mau memberikan kamu pinjaman uang agar aku juga mudah untuk menghubungi kamu dan tidak terlalu cemas jika kamu tidak ada kabarnya seperti tadi" Jelas ku lagi.
"Ya sudah ayo kita pergi ke toko ponsel untuk membelikan ponsel baru" Ucap ku lagi.
Aku berboncengan bersama Dika. sedangkan Uti keponakanku itu ia mengendarai motorku sendirian. Terkadang aku juga kasihan sama keponakanku itu yang sering menjadi obat nyamuk antara aku dan Dika.
Namun aku bisa apa jika aku tidak mengajaknya untuk menemaniku ke kantornya Dika. Pasti nanti warga di sana akan berpikir kami melakukan hal yang tidak-tidak jika kami berduaan di dalam kantor tersebut. Karena itulah aku sering mengajak keponakanku ataupun adik sepupuku untuk menemani aku ke kantornya Dika agar tidak terjadi fitnah diantara kami nantinya. Tapi jika kami hanya ingin pergi sekedar makan malam tanpa singgah di kantor seperti malam kemarin, maka aku hanya datang sendiri saja untuk menjemput Dika. Tapi terkadang Dika juga menjemput ku jika mau mengajak mu jalan.
Di perjalanan kami pulang menuju ke kantornya Dika Setelah membeli ponsel baru Dika. Tiba-tiba hujan turun begitu saja tanpa ada peringatan sama sekali.
Uti yang sendirian pun sudah kembali ke kantor Dika duluan karena dia membawa motor ku dengan lajunya meninggalkan kami berdua di belakangnya.
"Berlindung di belakangku Cinta jangan sampai kamu terkena hujan nanti kamu bisa sakit" Ucap Dika. laki-laki yang berada di depanku itu pun memegang tanganku dan ia pun memasukkan tanganku ke dalam saku jaketnya agar aku tidak kedinginan.
Hal yang sederhana ia lakukan itu membuat aku semakin klepek-klepek dan baper kepadanya. Bagaimana bisa aku dengan mudah melupakan memori-memori Indah bersamanya seperti ini.
"Sebenar nya apa bagaimana sih perasaan kamu kepada ku Dika? Terkadang kamu membuat seakan-akan aku lah cinta sejati mu. Kamu membuat ku berpikir bahwa kamu mencintai ku. Tapi terkadang kamu juga membuat aku seperti orang asing oleh mu" Batin ku lagi menatap Dika yang ada di depan ku dan fokus mengendarai sepeda motor nya.
***
Kami bertiga tiba di kantor Dika dengan keadaan kebasahan. Untung saja aku membawa uti ketika malam ini. Jika tidak, pasti aku di grebek sama warga karena berada di dalam kantor berduaan dalam keadaan hujan-hujan seperti ini lagi kan.
"Aduh, basah deh kita" Ujar ku mengibas-ngibas pakaian ku di kantor.
"Dingin Ti?" Tanya ku kepasa keponakan mu itu.
"Dingin Su" Jawab nya.
"Aduh kasihan keponakan ku satu ini. Gara-gara menemaniku jadi kehujanan seperti ini" Batin ku lagi.
"Ya sudah sebentar lagi kita pulang ya tunggu hujan nya reda" Ujar ku.
"Dika, coba di lihat ponsel baru mu itu. Oke gak?" Ucap ku.
Dika pun mengotak atik ponsel nya itu. Aku dan Uti hanya duduk melihat nya sibuk dengan ponsel baru nya itu.
Tanpa terasa hujan pun mulai berhenti. Hanya gerimis halus yang turun membasahi daerah itu.
"Ayo Ti kita pulang. Sudah pukul sembilan kurang ini. Bisa-bisa kita di hajar jika pulang kemaleman" Ujar ku.
__ADS_1
"Dika, kami pulang dulu ya" Ucap ku lagi.
"Kedinginan cinta? Bawa jaket ku ini agar kamu tidak kedinginan nanti nya"
"Wah jika aku membawa jaket ini terus ibu ku melihat nya, bisa-bisa aku di bunuh hidup-hidup sama ibu ku.. Tadi aku bilang nya jalan sama Uti bukan datang ke kantor Dika" Batin ku.
"Gak usah deh Dika. Gak apa-apa kami pulang seperti ini saja. Lagian hanya gerimis halus kok.. Kami pun sudah basah seperti ini" Jelas ku lagi.
"Ya sudah jika itu keputusan mu. Hati-hati di jalan ya kalian berdua" Ujar Dika.
"Iya" Jawab ku singkat.
Aku dan Uti langsung pergi melaju dengan sepeda motor ku membelah jalan raya untuk pulang ke rumah. Dan di perjalan pulang, hujan tadi semakin lebat. Ternyata di daerah Pangkalan Jambi hujan nya lebat membuat aku dan Uti kembali kebasahan.
"Lebat Ti. Kita berhenti atau lanjut saja?"
"Lanjut saja lah Su, sudah pukul sembilan ini. Lagian kita juga sudah basah kok" Jawab gadis itu lagi.
"Oke" Ujar ku menancap gas motor ku agar bisa segera tiba di rumah.
***
"Sudah tahu hari hujan berteduh lah dulu. Ini gak, di terobos juga hujan nya. Nanti sakit baru tahu" Celoteh ibu ku menyambut kepulangan ku saat aku tiba di rumah.
"Ya harus bagaimana buk, menunggu hujan reda juga sudah pukul berapa ini. Nanti ibu malah marah karena pulang nya ke lamaan"
"Aduh anak ku ini, dalam pinter mu ternyata ada bodoh nya juga ya. Lihat situasi nya dong. Masa ia hujan-hujan begini harus di paksakan pulang juga"
"Gak apa-apa lah buk. Sudah tiba juga di rumah kan" Ucap ku lagi mengambil baju ganti untuk mengganti baju ku yang basah.
"Ya sudah tidur lah lagi. Sudah malam juga besok malah kesiangan kerja nya"
"Iya buk" Jawab ku berbaring di samping
ibu ku.
"Sudah tiba di rumah?" Pesan dari Dika masuk ke ponsel ku.
Mata yang tadi nya mulai terpejam kini kembali terbuka mendengar notifikasi pesan masuk di ponsel ku itu.
"Sudah kok" Jawab ku.
"Kehujanan tadi?"
"Basahin rambut nya pakai sampo biar gak pusing nanti" Pesan Dika lagi terdengar perhatian.
"Iya sudah ku lakukan kok" Jawab ku berbohong padahal aku hanya mengganti pakaian ku tadi.
"Baguslah cinta. Oh ya, terima kasih ya atas ponsel nya. Aku akan membayar ini secara kredit nanti"
"Iya sama-sama. Ya sudah aku mau tidur dulu ya sudah malam juga"
"Oke cinta, selamat malam hadir kan aku di dalam mimpi mu ya"
"Iya" Jawab ku singkat.
"Kamu gak tidur? Sudah pukul berapa ini?"
"Sebentar lagi cinta. Aku masih mengotak atik ponsel ini"
"Besok kan masih ada waktu"
"Iya sih, tapi aku belum ngantuk"
"Ya sudah jangan tidur nya sampai larut malam. Jaga kesehatan"
"Oke cinta. Kamu kan ada sebagai penawar sakit ku" Ujar nya.
"Ya ampun ini bocil pinter sekali menggombal nya" Batin ku.
"Oh ya aku mau tanya sama kamu boleh?"
"Apa?"
"Sebenarnya kamu ini menganggap ku apa?" Tanya ku mencoba untuk meminta kepastian.
"Kamu kan pacar ku cinta"
"Jika begitu, apa kamu bisa sekali saja menganggap ku ada"
"Maksud kamu apa cinta?" Tanya nya tidak mengerti.
__ADS_1
"Kemarin kamu bisa memajang foto kekasih mu di status fb mu, terus di wallpaper BBM mu juga terdapat foto kekasih mu. Apa kamu bisa melakukan hal yang sama kepada ku?" Tanya ku mencoba untuk menguji Dika.
"Maaf cinta. Aku tidak pandai membuat hal begituan"
"Apa susah nya hanya memajang foto aja kok di fb nya atau di story BBM nya" Pesan ku lagi.
"Iya aku gak bisa cinta"
"Kenapa? Apa kamu takut kekasih mu marah atau sakit hati? Itu artinya kamu tidak adil"
"Bukan begitu cinta"
"Terus apa? Sudah lah aku hanya menguji mu saja. Aku sudah tahu kamu tidak akan mau melakukan hal itu karena kamu gak mau membuat yang di sana terluka. Tapi kamu rela melukai perasaan ku di sini" Pesan ku lagi.
"Tidak seperti itu cinta"
"Tidak apa-apa, pelan-pelan tapi pasti aku akan belajar tampa mu" Ucap ku lagi.
"Kok gitu sih cinta ngomong nya. Aku gak bisa kehilangan kamu" Pesan nya lagi.
"Gak bisa kehilangan aku juga gak bisa kehilangan dia bukan? Biar lah aku yang mengalah" Ucap ku lagi.
"Jangan seperti itu cinta"
"Terserah lah. Yang jelas aku hanya ingin mengikuti alur cerita ini" Jawab ku lagi.
"Ya sudah aku mau tidur"
"Selamat malam cinta"
"Malam" Jawab ku singkat mengakhiri pesan kami di malam itu.
***
Di hari sabtu ini aku memutuskan untuk ke kantor ku. Yah aku piket di sana untuk mendeposisi surat dari kapal.
Sunyi sepi di ruangan ku itu. Secara hanya dan bang mohan yang masuk kantor. Di ruangan lain juga terdapat hanya satu atau dua orang saja yang masuk secara ini hari libur.
Aku menyibukkan diri dengan laptopku untuk memutar lagu-lagu yang mampu mengusir kesunyianku di pagi itu.
Ting...
"Cinta" Pesan dari Dika lagi.
"Iya"
"Sakit perut cinta" Pesan nya lagi.
"Sakit perut? Kenapa? Emang nya makan apa sih kamu?" Tanya ku lagi.
"Mungkin karena terus-terusan makan mie instan"
"Ya ampun Dika. Sudah tahu mie itu gak bagus untuk kesehatan masih juga terus di konsumsi" Ucap ku lagi.
"Ya harus bagaimana lagi cinta. Nama nya juga tinggal sendiri jadi mau masak yang cepat dan praktis saja"
"Kan kamu gak masak di sana. Beli saja nasi bungkus bukan nya bisa" Jawab ku.
"Mau keluar terkadang malas cinta. Gimana ini cinta sakit sekali perut ku" Ujar nya.
"Aduh ini anak. Bagaimana bisa aku terlepas dari nya jika dia selalu membuat ku khawatir seperti ini. Tidak mungkin kan aku memikirkannya sakit seperti ini" Batin ku lagi.
"Kamu masih bisa bertahan kan? Sebentar lagi aku ke sana untuk mengantar kan obat mu" Ujar ku lagi.
"Emang nya sakit nya bagaimana?"
"Perih cinta. Dan buang air besar pun tidak lancar"
"Oke, nanti aku akan membeli obat di apotik ya. Kamu tunggu di sana" Ujar ku.
"Ya ampun bocil satu ini. Ada-ada saja kelakuan nya" Ujar ku.
Aku segera pergi ke apotik untuk membeli obat sakit perut untuk Dika. Tak lupa aku pun membeli obat sakit kepala untuk nya agar nanti jika dia sakit bisa dia langsung mengonsumsi obat tesebut.
***
"Masih sakit?" Tanya ku setelah tiba di kantor Dika dengan obat yang ku bawa. Dika terbaring di tempat tidur nya sambil meringis kesakitan.
"Masih cinta"
"Ya sudah sekarang kamu makan dulu. Setelah itu kamu minum obat nya" Ujar ku membuka nasi bungkus yang ku belikan tadi untuk Dika.
__ADS_1
"Oh ya kamu bisa ke depan gak. Kita duduk di ruangan depan saja ya. Jangan di tempat tidur mu ini. Aku takut nanti di kirain kita lagi ngapa-ngapain lagi" Ujar ku. Yah tentu saja aku takut di grebek oleh warga karena kami berada di satu ruangan apalagi di tempat tidur seperti ini. Secara hari ini aku tidak membawa keponakanku ataupun adik sepupuku untuk menemaniku. Karena aku terlalu fokus memikirkan Dika yang sakit sehingga aku lupa membawa mereka bersamaku seperti biasanya.