TAKDIR

TAKDIR
Bab 72


__ADS_3

Dika begitu perhatian kepada ku saat aku sakit perut karena mendapatkan tamu bulan ku. Yah bagaimana mungkin aku tidak baper jika di beri perhatian yang lebih seperti itu. Jelas aku menjadi baper dan sangat sulit untuk melupakan nya.


"Ya sudah kami pulang dulu ya, gak enak juga membawa anak gadis orang keluar hingga malam-malam nanti" Ujar ku kepada Dika. Yah waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat di malam itu. Jelas aku harus pulang untuk mengantarkan adik sepupu ku ke rumah nya. Karena aku meminta izin kepada kedua orang tua nya untuk buka bersama. Jelas jika buka bersama selesai berbuka, langsung pulang. Gak ada kemana-mana lagi.


"Iya, hati-hati ya cinta" Ucap nya melihat kepergian kami.


"Iya" Jawab ku singkat.


***


Hingga pada memasuki malam dua puluh tujuh ramadhan, di kabupaten Bengkalis biasa nya akan di adakan festival lampu colok atah malam tujuh liko. Di mana pada acara festival itu di setiap rumah memasang lampu lentera (pelita) di halaman rumah nya. Dan di setiap desa pasti ada yang membuat gambar mesjid dari lampu lentera tersebut untuk di pertanding kan. Siapa yang gambar nya paling bagus, desa itu lah pemenang nya. dan festival ini diadakan selama memasuki malam dua puluh tujuh hingga lebaran tiba atau malam takbiran. Penilaian terjadi dari malam dua puluh tujuh hingga malam dua puluh sembilan saja. Sedangkan malam takbiran nanti tidak di nilai lagi.


Tentu saja setiap orang sangat antusias dan semangat menyambut malam itu. Harus nya sih di malam itu kita lebih banyak beribadah ya karena memasuki sepuluh akhir ramadhan. Tapi ini malah asyik sendiri hehehe.


"Cinta, malam ini keluar melihat api colok?" Tanya Dika mengajak ku melalui pesan singkat nya.


"Boleh-boleh" Jawab ku. Yah ini lah yang selalu aku impikan. Melihat festival itu bersama seorang laki-laki yang aku sayangi. Selama ini aku tidak pernah melihat festival itu bersama laki-laki. Ini kali pertamanya aku melihat festival itu bersama seorang laki-laki yang spesial dalam hidupku.


Biasanya aku pergi bersama keponakanku ataupun adik sepupu untuk melihat festival tersebut. Tapi berbeda dalam tahun ini.


"Oke nanti selepas isya aku jemput ya"


"Oke, aku tunggu" Sungguh rasa nya senang sekali karena melihat festival yang diadakan setahun sekali itu bersama orang yang spesial dalam hidupku. Terkadang aku tidak pergi untuk melihat festival tersebut karena takut terjadi kecelakaan. Hal itu disebabkan padatnya kendaraan yang lalu-lalang untuk melihat festival itu.


"Oke cinta kita hanya bisa keluar malam. ini cinta. Besok aku mau pulang ke Bengkalis untuk menyambut hari raya di sana" Jelas Dika lagi.


Deg...


Sontak aku merasa sedih mendengar Dika akan pulang. Yah aku berpikir pasti besok malam dia akan keluar bersama kekasih nya untuk melihat festival itu di daerah nya pula.


Namun, apalah daya ku. Aku tidak mungkin menahan nya agar jangan pulang karena dia berhak pulang dan berkumpul bersama keluarga nya untuk menyambut hari bahagia aidil fitri.


"Oh gitu, ya sudah gak apa-apa. Yang penting malam ini kita habiskan waktu bersama untuk melihat festival itu" Ujar ku membalas pesan singkat dari Dika.


***


"Buk, malam ini aku keluar ya bersama Dika. Mau melihat api colok" Ujar ku kepada ibu ku saat aku pulang dari kantor.


"Oh ya sudah ingat, pulang nya jangan malam-malam"


"Iya buk. Malam ini ibu tarawih?"


"Tarawih lah, malam sepuluh terakhir ini lah sangat bangus untuk mencari amal ibadah dari Allah" Jelas ibu ku.


"Iya ya buk"


"Iya, iya tapi kamu gak tarawih"


"Hehehe... Kan lagi gak puasa buk dapat tamu istimewa (halangan)" Ujar ku lagi.


"Iya, jam mendapat tamu istimewa (halangan) bilang nya seperti itu Tapi ketika kemaren tamu istimewa (halangan) nya belum datang, kamu malah gak solat tarawih"


Aku hanya bisa nyengir mendengar ocehan ibu ku itu.


"Buk, ibu buat apa untuk bukaan nanti?"


"Gak ada buat apa-apa untuk bukaan. Palingan cuma beli pecal aja nanti untuk sayur"


"Buk, besok buatin aku mie sagu kuah kacang ya buk. Rindu dengan mie sagu buatan ibu" Rengek ku.


"Nanti ibu buatin kamu gak menghabiskan nya"


"Ya ampun ibu, kan aku mau nya cuma sepiring. Ibu buat nya sampai berkilo-kilo. Mana muat perutku untuk menerima makanan sebanyak itu bu" Ujar ku lagi.


"Ya harus bagaimana lagi, ibu Buat sebanyak itu karena untuk tidak mau memberikan mie sagu tersebut kepada saudara-saudaramu"


Yah begitu lah ibu ku. Jika membuat makanan yang aneh, dia pasti akan membagikan nya dengan semua anak-anak nya. Bahkan ketika masak gulai ayam kampung saja, dia seperti itu. Hingga kami yang berada di rumah ini hanya mendapatkan bagian tulang saja. Itu lah ibu ku, tidak pernah lupa kepada anak-anak nya meski sudah mempunyai keluarga sendiri.


"Mau kan buk buatin nya"


"Iya besok ibu buatin"


"Makasih ya ibu ku sayang" Ujar ku memeluk wanita paruh baya itu.


"Iya sama-sama. Sudah pergi mandi sana. Sebentar lagi berbuka"

__ADS_1


"Oke ratu ku" Ujar ku langsung pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


***


"Assalamualaikum" Terdengar suara seseorang yang mengucapkan salam dari pintu depan rumahku.


"Waalaikumsalam" Jawabku semua membuka pintu rumah ku itu.


Terlihat Dika tersenyum manis melihat ku membuka pintu rumah ku itu.


"Ibu ada? Mau meminta izin terlebih dahulu"


"Gak perlu, gak ada orang di rumah. Ibu dan ayah ku sudah pergi ke mushola untuk solat tarawih" Jelas ku.


"Ibu mu tahu kan kita pergi. Nanti malah marah lagi anak gadis nya ku bawa tampa izin" Ujar Dika.


"Udah tenang aja. Aku sudah meminta izin sama ibu sore tadi. Jadi dia gak bakalan marah kok" Ujar ku lagi.


"Bagus lah jika begitu. Ayo kita berangkat" Ajak nya.


"Oke" Jawab ku langsung naik di boncengan Dika.


Seperti dugaan ku, jalanan raya yang hanya huruf alif (hanya memiliki satu jalur saja) di daerah ku ini padat dengan para umat manusia yang melihat festival api colok itu.


"Jika gak ada kamu yang membawa ku keluar, aku pasti gak akan keluar seperti pada tahun-tahun sebelum nya. Jika keluar pun hanya dengan keponakan ku dan juga adik sepupu ku. Itu pun mereka yang nyetir. Aku gak berani jika sudah ramai seperti ini" Ujar ku saat kami di atas motor sambil melihat api colok tersebut di antara desa-desa.


"Terkadang kakak aku juga keluar nya bersama kakak ku" Tambah ku lagi.


"Ternyata kamu penakut juga ya"


"Iya dong. Banyak terjadi kecelakaan saat seperti ini. Jelas aku takut karena sebentar lagi lebaran. Masa ia orang bahagia menyambut lebaran dan jalan-jalan ke sana kemari. Kita hanya duduk di rumah meratapi nasib karena kecelakaan itu" Balas ku lagi.


"Iya juga sih" Jawab Dika membenarkan.


***


"Terima kasih untuk malam ini. Dan kita akan bertemu lagi setelah aku pulang dari Bengkalis" Ujar Dika kepada ku saat kami ia mengantar ku pulang.


"Iya, kamu hati-hati besok di jalan ya.. Oh ya kamu pulang nya kapan?"


"Mungkin sore setelah pulang dari kantor" Jawab Dika.


"Terima kasih ya cinta"


"Iya sama-sama. Nanti setelah tiba di kampung mu, jangan melupakan aku yang di sini"


"Ya gak lah cinta. Masa ia aku melupakan kamu yang selalu menemani ku di sini"


"Yah, siapa tahu saja kan kamu sibuk dengan kekasih mu hingga lupa dengan ku. Secara di sini hanya aku orang yang kamu kenal. Dan tidak ada sanak saudara mu di sini. Jelas kamu sangat tergantung kepada ku. Tapi di sana, sudah banyak orang terdekat mu. Jelas aku akan di lupakan"


"Gak lah cinta. Jangan ngomong seperti itu. Aku gak akan pernah melupakan kamu di mana pun aku berada" Ujar nya lagi.


"Semoga saja ya seperti itu" Ujar ku lagi.


"Sudah pulang kalian?" Tanya ibu ku saat diri nya baru saja pulang dari mushola untuk melaksanakan salat tarawih. Dimana saat itu kami sedang duduk bersantai di teras depan rumahku.


"Eh ibu" Ujar Dika mencium punggung tangan ibu ku.


"Ya nak. Ibu masuk ke dalam dulu ya" Ujar ibu ku berlalu dari hadapan kami dan masuk ke rumahku.


"Ya sudah aku pulang dulu ya. Sudah malam juga gak enak juga bertamu hingga larut malam" Ujar Dika.


"Ya, kamu hati-hati di jalan ya"


"Iya" Dika pun melaju dengan sepada motor nya.


"Ya ampun, besok kita tidak ketemu lagi. Sungguh aku pasti akan merasa rindu kepada nya. Selama seminggu ke depan dia berada di daerah nya" Batin ku sedih melihat kepergian Dika.


***


"Ya bang Ijon ada apa?" Tanya ku ketika atasan ku menghubungi ku di pagi itu.


"Datang ke rumah dinas ya Ramah, ini ada minuman kaleng sebagai THR mu"


"Oke bang segera kesana"

__ADS_1


"Oke cepat ya. abang mau pulang kampung soal nya" Ujar nya lagi.


"Oke, oke ini aku ke sana" Jawab ku.


"Uti... " Teriak ku kepada ponakan ku itu.


"Iya su ada apa?"


"Temanin usu yuk ke rumah dinas bang Ijon karyawan kantor usu. Mau ambil minuman" Ujar ku.


"Oke, sebentar ya su uti siap-siap dulu"


"Oke cepat ya, soal nya bang Ijon mau pulang ke Dumai"


"Oke, oke" Ujar gadis belia itu langsung bersiap-siap untuk ikut dengan ku.


"Ayo su" Ajak Uti setelah selesai bersiap-siap.


"Ayo" Ujar ku langsung menancap gas sepeda motor ku melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan raya menuju ke rumah dinas atasan ku itu.


***


"Ha, Ramah sudah sampai pun" Sambut bang Ijon melihat ku tiba di rumah dinas nya. Ternyata laki-laki itu sudah bersiap-siap untuk berangkat. Dia hanya menunggu ku tiba saja untuk mengambil minuman kaleng bagian ku itu. Setelah itu dia langsung pergi pulang kampung.


"Ini minuman mu, bisa kalian membawa nya?"


"Bisa kok bang" Ujar ku.


Bang Ijon pun menyusun minuman-minuman itu di motor ku. Di mana minuman itu di letekkan di depan motor ku dan di tengah-tengah di antara aku dan Uti. Minuman sebanyak 5 kas membuat motor ku berat untuk mengangkat nya.


"Oke bang, terima kasih ya. Kami pulang dulu" Ujar ku.


"Iya hati-hati ya" Ucap lelaki itu langsung masuk ke dalam mobil nya setelah kami menjauh dari nya.


***


"Buk, ayah" Teriak ku saat tiba di rumah.


"Ada apa sih teriak-teriak begitu" Ucap ibu ku.


"Ini tolong angkat minuman ini. Aku dan Uti gak bisa turun nanti bisa jatuh ini semua" Ujar ku.


"Ya Allah banyak sekali minuman nya nak"


"Iya buk, alhamdulillah ternyata THR minuman nya banyak. Dulu hanya dua kes Sekarang lima kes. Mungkin karena sekarang aku sudah kerja di sana. Kalau dulu kan masih magang" Jawab ku.


"Iy alhamdulillah" Jawab ibu dan ayah ku mengangkat satu persatu minuman itu masuk ke dalam rumah ku.


"Buk ini terlalu banyak. Kita kan gak minum minuman bersoda. Kita bagi-bagi ya, kasih bang Edi satu, Dika satu ya buk" Ujar ku lagi.


Yah bang Edi adalah abang pertama ku yang tinggal di teluk mesjid. Dan Dika memang sengaja aku ingin memberi nya agar dia semakin semangat bekerja nanti.


"Ya sudah terserah kamu saja" Ujar ibu ku setelah selesai kami memasukan semua minuman itu ke dalam rumah.


"Alhamdulillah, tahun ini rejeki kita lumayan ya buk" Yah seperti biasa pada orang-orang kerja. Di mana aku panen penghasilan mendekati lebaran ini. Dimana aku mendapat THR dari setiap kepala ruangan di kantor ku dan juga minuman sebanyak ini. Ini adalah masa kejayaan ku. Tak lupa sebagian uang ku, ku hadiah kan kepada kedua orang tua ku. Dan juga aku juga membagikan untuk adik sepupu ku dan juga para keponakan ku. Tak lupa aku juga mau memberikan kepada para anak-anak yang datang ke rumah ku nanti untuk bersilaturahmi.


"Alhamdulillah ya Allah, aku mendapatkan rezeki yang lebih sehingga aku bisa membagikan sebagian rezeki ku kepada anak-anak ini" Ujar ku mengucapkan syukur kepada sang pencipta.


"Dika nanti datang ke rumah ya. Ambil minuman kaleng sebelum kamu pulang ke Bengkalis" Pesan ku kepada Dika.


"Oke" Jawab Dika.


Sore itu sebelum pulang ke Bengkalis Dika pun mampir ke rumahku untuk mengambil minuman yang ku katakan tadi.


"Ini minuman kaleng untuk mu. Titip salam ya kepada kedua orang tua mu" Ujar ku.


"Iya terima kasih ya cinta" Ucap Dika.


"Iya sama-sama"


"Eh, ada Dika" Ujar ibu ku yang baru saja dari dapur.


"Buk" Ujar jika mencium punggung tangan ibuku.


"Kalau begitu aku pulang ke Bengkalis dulu ya" Ujar nya lagi.

__ADS_1


"Ya, hati-hati di jalan ya. Nanti kalau sudah tiba di rumah kabari ya" Ujar ku.


"Oke" Jawab nya langsung melaju dengan sepeda motornya menuju pelabuhan penyeberangan.


__ADS_2