
Sesuai permintaan Renata, pernikahan Devan dilakukan secara sederhana di sebuah hotel bintang lima di Bali. Devan hanya mengundang beberapa teman dekatnya sesama dokter. Lelaki itu benar-benar mantap tidak mengundang dua sahabatnya, Bima dan Aldrian.
Begitupun Dika. Pengacara sukses itu juga hanya mengundang beberapa koleganya. Namun, berbeda dengan Iren, perempuan itu mengundang semua orang yang dikenalnya. Termasuk ibu-ibu sosialita yang selama ini selalu memamerkan putrinya untuk dijodohkan dengan Devan.
Suasana pernikahan itu tampak meriah. Devan terlihat sangat tampan dengan tuxedo yang melekat di tubuhnya yang sempurna. Sementara Renata, perempuan itu terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin.
Akad nikah Devan dan Renata dilangsungkan di rumah besar orang tua Devan tadi pagi. Siang sampai malam hari, acara resepsi dilangsungkan di hotel.
Renata tersenyum saat beberapa tamu undangan mendekatinya dan memberikan selamat. Begitupun dengan Devan yang tak menghentikan senyum pada wajah tampannya.
Saat para tamu menjauh, Devan meraih tangan Renata dan menggenggamnya erat. Merasakan bahagia yang merajai hatinya.
"Terima kasih, Sayang. Mimpiku untuk menikahimu akhirnya tercapai." Devan tersenyum sambil mengecup lembut tangan Renata.
"Aku sangat bahagia bisa menikah denganmu, Devan." Renata tersenyum dengan cantik. Kedua matanya berembun menatap haru pada lelaki di depannya yang begitu mencintainya.
"Aku lebih-lebih bahagia menikah dengan bidadari secantik kamu." Devan tersenyum. Wajahnya sangat tampan dengan binar bahagia di matanya.
Kemesraan Devan dan Renata terhenti saat beberapa orang tamu kembali mendekati mereka. Kedua mempelai pengantin itu tersenyum menyambut para tamu yang memberikan selamat pada mereka.
Semakin malam, acaranya semakin meriah. Beberapa artis ibukota yang mereka undang tampil satu persatu memeriahkan acara resepsi pernikahan itu.
Hingga saat acara akan berakhir, seseorang yang sengaja tidak diundang oleh mereka datang bersama seorang wanita cantik yang menggandeng lengan pria itu.
__ADS_1
"Kau memang benar-benar brengsek, Dev!" Aldrian meninju bahu Devan kemudian memeluknya.
"Selamat, Bro! Akhirnya kamu berhasil meluluhkan hatinya." Devan menepuk-nepuk bahu Devan.
"Terima kasih juga karena kamu sudah membuatnya mempunyai kehidupan baru dan kembali berjalan." Aldrian berbisik di telinga Devan.
Devan melepaskan pelukan sahabatnya itu. "Maaf tidak mengundangmu secara langsung. Aku–"
"Aku mengerti, Devan. Tante Iren sudah menceritakan semuanya padaku." Aldrian kembali menepuk pundak Devan.
"Jaga dia dengan baik. Kamu sangat tahu bagaimana hancurnya dia saat bersama Bima, bukan?" Aldrian mengingatkan.
"Pasti! Aku akan menjaganya dengan nyawaku."
Aldrian tersenyum mendengar jawaban Devan. Lelaki itu sungguh sangat bersyukur karena Devan akhirnya bisa menikah dengan Renata.
"Renata."
"Aldrian." Renata menghamburkan dirinya pada pelukan lelaki yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu.
Namun, detik berikutnya seseorang melepaskan tubuhnya dari pelukan Aldrian.
"Sayang, jangan peluk-peluk orang sembarangan. Kamu ini istriku. Kamu tidak boleh deket-deket pria lain selain aku." Devan tiba-tiba mengurai pelukan mereka berdua.
__ADS_1
Renata tersenyum malu dengan sikap posesif Devan. Sementara Aldrian dan Vanya terbahak.
"Dasar bucin! Aku kan hanya memeluk istrimu yang sudah aku anggap sebagai adikku. Kenapa kamu harus cemburu?" Aldrian menatap Devan sambil menggeleng.
"Hatiku sudah milik Vanya. Aku tidak tertarik lagi melihat perempuan manapun selain dia. Apalagi, saat ini sudah ada Adrian junior di sini."
"Apa?" Devan dan Renata terkejut. Apalagi saat melihat tangan Aldrian mengusap perut Vanya yang terlihat rata.
Vanya yang diperlakukan sangat manis oleh Aldrian, tersenyum dengan wajah merona. Tidak menyangka kalau pria dingin itu ternyata bisa juga bersikap romantis di depan sahabatnya.
"Tidak usah kaget begitu. Harusnya kalian seneng karena sebentar lagi kalian akan punya keponakan," ucap Aldrian santai. Sementara wajah Vanya semakin merona.
"Tidak perlu malu, Sayang. Mereka sudah tahu tentang kita," bisik Aldrian membuat wanita itu tersenyum.
"Selamat buat kalian. Semoga kalian berdua bahagia." Aldrian kembali mengucapkan selamat pada pasangan pengantin itu.
"Selamat juga buat kamu, karena sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah." Devan dan Renata berucap bersamaan.
"Terima kasih. Jangan lupa, kalian harus datang ke pernikahan kami nanti." Aldrian berucap sambil memeluk Vanya dan menatap wanita itu penuh cinta.
"Kalian akan menikah?"
"Tentu saja. Memangnya kalian saja yang boleh menikah? Sebentar lagi aku akan menyusul kalian karena calon istriku tidak mau menikah denganku saat perutnya terlihat gendut."
__ADS_1
"Aldrian!"
BERSAMBUNG ....