TAKDIR

TAKDIR
Bab 46


__ADS_3

Aku merasa kaget saat Fida pacar nya Dodi memberikan lampu hijau untuk kedekatan ku dan Dodi. Aku gak tahu apa penyebab nya. Yang jelas hati ku berbunga saat mendengar persetujuan itu.


Dari situ lah aku dan Fida mulai dekat. Aku tidak pedulikan status ku apa dengan Dodi. Dan aku tidak peduli juga kalau Dodi dan Fida masih pacaran. Aku hanya menikmati kedekatan kami waktu itu.


***


Sudah tiga bulan berlalu aku magang di kantor salah satu instansi pemerintah itu. Hingga seminggu terakhir saat magang aku merasa gelisah. Yah gelisah karena aku belum mendapatkan pekerjaan.


"Ya Allah selesai dari sini aku harus ke mana? Secara tidak ada tanda-tanda ada lowongan kerja di kantor itu. Mau kerja apa aku ya?" Batin ku bertanya-tanya sambil melamun di kursi tempat magang ku.


"Ramah" Tegur salah satu pegawai yang bernama Epa.


"Iya kak, ads apa?" Tanya ku saat ia duduk di samping ku.


"Bantu kakak ya Ramah buatin surat ini. Tolong di ketik" Pinta nya lagi.


"Oh, oke kak" Ucap ku langsung mengetik surat yang di pinta oleh kak Epa tadi.


Kak Epa terus memperhatikan kerja ku.


"Mah, seminggu lagi kamu selesai ya magang nya"


"Iya kak, gak sadar sudah selesai ya" Ucap ku dengan nada sedih.


"Selesai dari sini, kamu mau kerja di mana Mah?"


"Belum tahu sih kak, masih belum ada terlihat lowongan kerja nya di mana" Ucap ku lagi.


"Semoga kamu mendapatkan pekerjaan ya Mah. Kakak doa kan itu"


"Aamiin, makasih ya kak"


***


Siang hari nya aku masih sibuk mendesposisi surat yang masuk dari para agen kapal.


"Ramah"


"Ya buk, ada apa?" Ucap ku saat salah satu karyawan kantor sebagai orang kanan atau orang kepercayaan kepala TU (tata usaha) memanggil ku.


"Itu kamu di panggil bapak TU ke ruangan nya" Ucap nya.


Deg...


Jantung ku berdetak saat mendengar bahwa aku di panggil.


"Ada apa sebenar nya ini? Apa aku berbuat kesalahan atau bagaimana?" Batin ku gelisah.


"Baik buk nanti saya ke sana" Ucap ku langsung pergi menuju ruangan kepala TU itu.


Aku mengetuk pintu. Terdengar suara orang mempersilahkan ku masuk dari dalam ruangan.


"Bapak memanggil saya?" Tanya ku dengan sopan.


"Iya, silahkan duduk. Ada yang mau saya bicarakan sama kamu" Ucap nya lagi.


Aku semakin merasa deg degan mendengar ucapan nya dengan wajah yang serius itu. Langsung aku duduk di kursi yang berhadapan dengan nya.


"Begini Ramah, selama tiga bulan kamu magang di sini dan saya lihat pekerjaan kamu juga bagus. Para karyawan kantor juga bilang kamu anak yang rajin. Oleh karena Rika sebagai bendahara keuangan masuk sakit, dan dia juga kewalahan untuk kerja sendiri, jadi dia meminta saya untuk mencarikan pembantu untuk membantu nya bekerja. Apa kamu mau?" Tanya pak kepala TU itu kepada ku.


Deg....


Kaget, jelas aku sangat kaget mendengar tawaran pekerjaan itu. Di saat aku bingung mau kerja di mana? Di saat itu lah Allah memberikan aku jalan untuk bekerja di tempat ku magang ini. Tidak peduli lah gaji nya berapa yabg penting saat ini aku kerja terlebih dahulu.


"Bapak serius?" Tanya ku seakan tidak percaya.


"Serius lah Ramah, masa iya saya bohong"


"Alhamdulillah pak, saya mau pak, mau sekali. Saya senang pak di tawari kerja sama bapak. Makasih banyak pak, makasih sudah percaya kepada saya" Ujar ku mencium punggung tangan kepala TU itu yang sekitar berusia Lima puluh lima tahun itu. Yah memang dia kelihatan masih muda. Secara kerja nya gak berat hanya duduk di ruangan berac saja. Coba dia kerja nya berat seperti kuli bangunan pasti juga dia sudah terlihat tua.


"Baik lah jika begitu. Nanti kamu buat surat lamaran nya ya. Dan akan saya kabari lagi kapan kamu mulai bekerja" Ujar nya lagi.


"Baik pa, terima kasih banyak" Ujar ku keluar dari ruangan dengan penuh rasa bahagia di hati. Ukiran senyuman di wajah tidak bisa hilang sepanjang hari.


"Gimana Ramah? Jadi kamu di tawari kerja di sini?"


"Alhamdulillah jadi buk. Makasih ya buk udah percaya sama saya" Ucap ku kepada ibu kepercayaan kepala TU itu. Yah meski terkadang aku sering di minta nya untuk melakukan hal yang di luar dari pekerjaan kantor seperti menjemput anak nya di sekolah, tetap saja dia juga telah memantu ku untuk meminta nilai-nilai tinggi kepada setiap kepala ruangan yang ada di kantor itu.


Yah mungkin dia juga merasa bersalah kepada ku atau tidak enak hati. Secara waktu itu aku pernah menabrak anak kecil saat menjemput anak nya dari sekolah.


Yah waktu itu aku di minta menjemput Nindi anak pertama nya di salah satu sekolah dasar yang tidak jauh dari kantor nya itu. Setelah itu Nindi mengajak ku untuk pergi ke salah satu TK tempat adik nya sekolah untuk menjemput nya juga.

__ADS_1


"Kak, kita jemput adik Nindi juga ya di sekolah TK nya"


"Adik mu mungkin sudah pulang Nindi. Sudah pukul berapa ini. Tidak mungkin masih di sekolah" Ujar ku menolak.


"Coba aja lihat dulu kak, ayo lah kak" Rengek nya.


Yah karena dia itu anak salah satu karyawan kantor, aku turuti saja kemauan nya. Sesampai nya di jalan TK, ada dua anak bermain lari-larian di jalan. Tidak laju ku bawa motor mama nya Nindi itu. Di mana anak berjenis kelamin laki-laki berada di depan dan kakak nya berlari di belakang nya. Sakin ke pelan nya aku membawa motor, aku bersaingan dengan anak laki-laki tadi yang sekitar usia nya empat tahun itu.


Hingga saat itu, dia melintas secara tiba-tiba dan dia menabrak motor yang aku kendarai bersama Nindi tadi. Mungkin di tidak menyadari aku berada di samping nya. Hingga membuat aku kehilangan kendali. Dia pun langsung tergeletak di aspal. Aku yang berboncengan dengan Nindi yang memiliki tubuh yang lebih besar dari ku pun tidak bisa menahan motor itu. Hingga aku membuat kami terjatuh dan kap motor itu pecah.


Para warga yang ada di sana sontak beramai-ramai datang melihat kejadian kami. Orang tua anak itu langsung mengambil anak nya yang terhimpit oleh motor yang ku kendarai tadi ku lihat mulut anak itu berdarah.


"Ini gimana sih, kenapa anak nya di biarin main di jalanan. Tuh malah dia yang menabrak anak ini" Ucap salah satu saksi yang melihat kejadian itu.


"Aduh gimana ini" Ucap ku takut di salah kan.


"Tenang saja nak. Kamu tidak salah, anak nya yang telah menabrak kamu tadi. Dan orang tua nya juga membiarkan anak nya main di jalan" Ucap orang tadi lagi.


Orang tua anak yang terluka tadi langsung membawa anak nya pergi tampa mengeluar sepatah kata pun. Aku yang masih dalam keadaan syok mencoba untuk berdiri.


Ku lihat ternyata baju ku robek. Butang baju ku lepas karena jatuh tadi hingga menampak kan tubuh ku. Untung saja aku pakai baju dalam. Jika tidak, mungkin bra ku akan terlihat.


"Aduh Nindi gimana ini? Pasti ibu mu akan marah" Ucap ku.


"Sudah, kakak Ramah tenang saja. Nanti biar Nindi yang jelasin sama ibu" Ujar nya lagi.


Aku pun langsung menghubungi ibu nya Nindi yang masih berada di kantor itu.


"Hallo buk"


"Iya Ramah ada apa?"


"Buk, tadi kami tabrakan dengan anak kecil buk" Ujar ku langsung menceritakan semua nya tampa ada yang ku tutupi.


"Sudah Ramah tenang dulu ya, nanti ibu yang tangani. Ramah kembali saja ke kantor" Perintah ibu tadi.


"Baik buk" Aku pun langsung pergi mengantar Nindi pulang ke rumah nya. Setelah itu aku pun kembali ke kantor.


Jam istirahat sudah tiba, ibu nya Nindi pun pergi ke puskesmas untuk melihat keadaan anak yang tertabrak dengan ku tadi.


Mungkin karena luka nya tidak begitu parah, hanya pecah sedikit di bagian bibir nya karena terbentur dengan motor, jadi nya anak tadi di persilahkan pulang.


"Gak ada orang nya Mah, mungkin sudah di perbolehkan pulang karena luka nya tidak parah" Ucap buk tadi lagi.


"Baik lah buk kalau gitu. Terus motor ibu gimana?"


"Gak apa-apa jangan di pikirkan, nanti akan ibu perbaiki" Ucap nya. Yah dia pun merasa bersalah karena menjemput anak nya lah kecelakaan ini terjadi.


"Baik buk. Maaf ya" Ucap ku memutuskan hungan telfon kami.


Dari kejadian itu lah ibu nya Nindi itu bersikap baik kepada ku. Dan dia lah yang meminta kepada setiap kepala ruangan untuk memberikan ku nilai tinggi di lembaran nilai untuk ku antarkan ke tempat kursus ku. Dan pada akhirnya aku di tawari pekerjaan di tempat ku magang itu.


***


"Ibu, ibu" Teriak ku memanggil ibu ku saat pulang dari magang.


"Kenapa sih Mah, berisik aja seperti tidak pulang aja kamu teriak nya dari jalan sana" Celoteh ibu ku.


Aku berlari masuk kerumah dan memeluk ibu ku dengan erat nya.


"Apaan sih ni anak. Kesambet setan mana kamu?" Tanya nya lagi.


"Aduh ibu, anak nya senang dan bahagia seperti ini di bilang nya kesambet setan. Gimana sih?" Protes ku.


"Terus kenapa? Apa sudah dapat jodoh?"


"Malah jodoh pergi nya" Jawab ku kesal.


"Lalu apa? Udah deh jangan buat ibu makin pusing"


"Kan seminggu lagi aku sudah selesai magang nya, jadi aku di tawari kerja di tempat magang ku itu buk"


"Ha serius kamu?"


"Iya buk. Aku gak nyangka buk aku ditawari pekerjaan. Bukan aku yang melamar tapi aku di tawari buk. Ya Allah, senang sekali hati ku buk. Mungkin ini hasil dari perjuangan ku selama ini buk dan tentu nya doa dari ibu dan ayah" Ucap ku lagi dengan rasa senang di hati.


"Alhamdulillah, ibu jadi senang mendengar nya"


"Iya buk alhamdulillah, makasih ya buk untuk doa nya selama ini. Aduh susah mau ku ungkapkan melalui kata-kata rasa bahagia ini buk" Ucap ku lagi.


"Tapi buk, aku gak tahu berapa gaji ku"

__ADS_1


"Gak apa-apa, yang penting kamu dapat kerja aja dulu"


"Iya buk, dengar-dengar kabar sih dari karyawan di sana gaji ku sekitar satu juta gitu"


"Gak apa-apa, nanti lama-lama juga gaji mu akan naik" Ucap ibu ku memberi semangat.


"Iya buk. Senang nya hati ku buk. Nanti gaji pertama ku, kita buat acara syukuran ya buk karena aku mendapatkan pekerjaan ini" Ucap ku.


"Iya, terserah kamu saja nak, ibu ikut-ikut saja mau mu"


***


"Selamat ya cinta. Seperti nya tidak ada lowongan di tempat ku magang" Ujar Dodi saat kami saling bertukar pesan singkat di malam harinya. Di mana aku menceritakan bahwa aku telah ditawari pekerjaan di tempatku magang.


"Yang sabar ya, aku doain semoga kamu mendapatkan pekerjaan yang enak secepatnya" Ujar ku lagi.


"Aamiin makasih ya cinta. Kamu jangan lupain aku di sini"


"Lupain gimana maksud kamu?"


"Ya siapa tahu kamu akan melupakanku ketika sudah mendapat pekerjaan enak seperti ini dan kamu akan meninggalkanku"


"Ya gak lah, aku akan selalu bersama kamu" Ucap ku lagi.


"Mana bisa aku melupakan kamu dan jauh dari mu. Secara hati ini telah terikat oleh mu dan tidak bisa lepas begitu saja dari diri mu. Selama ini kamu yang selalu hadir dan memberikan ku kenyamanan" Batin ku lagi.


"Cinta" Panggil nya.


"Iya"


"Aku rindu. Mau dengar nyanyian rindu buat kamu"


"Boleh, ayo nyanyikan" Ucap ku.


"Lagu dari Roma irama-Bulan bintang"


"Bulan di manakah kini


Jangan kau sembunyi tampakkan lah diri


Bintang sepi menyendiri


Berselimut sunyi selalu mencari


Malam semakin kelam tanpa kau sang rembulan


Bintang sedih bermuram tanpa kau sang rembulan


Bulan di manakah kini


Jangan kau sembunyi tampakkan lah diri


Naluriku berkata bulan masih ada


Dan menanti bintang dengan penuh damba


Ku yakin bulan juga gelisah merana


Dan menanggung rindu dalam penantian


Bulan bintang pun merindukanmu" Satu lagu berhasil di nyanyikan oleh Dodi membuat aku tersenyum senang.


Dulu, aku sering di nyanyikan oleh Khey setiap malam sebagai hiburan ku. Tapi semenjak Khey bilang bawa mantan yang memintanya untuk kembali, dia pun sudah tidak ada kabar hingga saat ini. Aku pun tidak tahu gimana keadaannya saat ini. Apakah dia itu kembali bersama mantannya atau tidak. Sudah lama antara aku dan dia tidak saling berkomunikasi. Aku memutuskan untuk menjauh darinya saat mengetahui bahwa mantannya memintanya kembali. Karena aku tahu aku hanyalah sebagai pelarian di saat dia kesepian.


"Bagaimana bagus?" Tanya Dodi membuyarkan lamunanku.


"Bagus kok, aku jadi tersentuh"


"Itu lagu spesial untuk orang yang spesial yang aku rindukan. Di mana saat ini dia berada di seberang sana" Ucap nya.


Deg...


Lagi-lagi mendengar kata spesial membuat jantungku berdebar. Ada getaran-getaran halus di hati ini mulai muncul kembali. Sungguh laki-laki satu ini mampu menyihir ku dengan seribu pesonanya. Meskipun aku tahu dia sudah memiliki kekasih tapi entah mengapa aku tidak bisa terlepas darinya padahal waktu aku tahu Hambali juga mencintaiku dan dia juga sudah memiliki kekasih. Tapi aku menolaknya mentah-mentah begitu juga dengan Khey. Tapi entah kenapa dengan Dodi aku tidak bisa melakukan hal yang sama. Malahan aku menikmati hubungan tanpa status ini.


"Ya sudah tidur gih sana. Sudah malam juga" Ujar Dodi.


"Oke aku juga sudah ngantuk"


"Oke deh cinta. Selamat malam"


"Selamat malam kembali my lovely Dodi" Ujar ku mengetik pesan itu dengan senyuman kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2