TAKDIR

TAKDIR
Bab 80


__ADS_3

Pak Barat telah melarang ku untuk kembali ke kantornya Dika. Hal itu di karena kan ada warga yang melapor kepada nya. Kami pun harus mengikuti kemauan pak Barat.


Sudah dua bulan aku tidak pernah lagi berkunjung ke kantornya Dika. Dika lah yang sering datang ke rumahku dan menjemput ku ketika ia ingin mengajakku keluar rumah untuk makan bersamanya.


"Cinta, kata pak Barat sih kantor ku sekarang mau pindah ke tempat yang baru" Ujar Dika saat kami makan malam di warung ayam penyet langganan kami.


"Pindah? Pindah kemana?"


"Pindah di daerah situ juga. Gak jauh lah dari tempat lama itu"


"Kenapa emang nya pindah?"


"Gak tahu juga sih. Kata pak Barat biaya sewa nya mahal. Jadi karena itu pindah mencari tempat yang murah" Ujar nya lagi.


"Oh begitu, jadi kapan pindah nya?" Tanya ku kepada Dika.


"Kata nya akhir bulan ini. Karena hitungan sewa di kantor sekarang habis nya di akhir bulan ini"


"Oh gitu, emang sudah dapat tempat nya?"


"Sudah sih, Tapi rumah nya di bagi dua. Di bagian belakang rumah orang dan bagian depan nya di sewakan untuk kantor" Jelas Dika.


"Oh gitu"


"Mau ke sana melihat tempat kantor ku baru?" Tanya Dika.


"Oh boleh, tapi lewat aja ya. Aku gak mau singgah nanti di bilang bukan-bukan lagi sama orang sana" Ujar ku lagi.


"Iya kita lewat saja di sana. Untuk melihat kantor nya saja" Ujar Dika.


"Oke. Setelah makan ya"


"Iya dong cinta. Gak mungkin kita sana sebelum selesai makan" Ujar Dika sambil tersenyum kepada ku.


Kami pun pergi ke kantor baru nya Dika untuk melihat di mana lokasi kantor tersebut.


***


"Ini dia cinta kantor baru ku" Ujar Dika memperlihatkan kantor baru nya saat kami lewat di kantor itu.


"Kok suasana nya agak buram ya. Agak menyeramkan" Ujar ku.


"Iya, mungkin karena lampu nya tidak terlalu terang kali ya. Nanti setelah di ganti lampu nya pasti gak seperti ini suasana nya" Ujar Dika lagi.


"Iya bisa jadi sih seperti itu" Ujar ku lagi.


***


Hari minggu Dika dan pak Barat di sibukkan dengan mengangkat semua peralatan yang ada di kantor lama ke kantor baru nya. Yah hari ini mereka pindah di kantor yang baru. Sedangkan aku dan juga keluarga ku pergi ke Siak untuk menghadiri pernikahan saudara kami di sana.


Setelah selesai hadir di acara tersebut, kami pun pergi ke tempat bersejarah di kota itu. Seperti di istana Siak, taman singapure, dan lain-lain.


Yah di hari itu aku dan Dika memang tidak pernah saling berkomunikasi. Karena aku tahu dia sedang sibuk dan aku pun begitu. Seharian kami lost kontak.


***


"Seharian tiada kabar dari mu membuat aku rindu" Pesan Dika kepada ku saat malam hari nya.


Yah aku dan juga keluarga ku sudah tiba di rumah pukul lima sore tadi. Kami berangkat pagi ke Siak dan pulang sore nya sekitar pukul tiga. Yah waktu menempuh perjalan di kota Siak jika menggunakan sepeda motor hampir dua jam. Itu pun tergantung dengan kecepatan yang membawa nya.


"Iya sengaja aku gak menganggu mu. Karena aku tahu kamu sibuk pindah ke kantor yang baru" Ujar ku lagi.


"Iya, capek banget cinta seharian gak berhenti mengangkat barang-barang"


"Emang kamu dan pak Barat saja yang memberesi barang-barang itu"


"Gak juga sih, ada juga orang-orang sini membantu kami. Tapi tetap juga lelah karena harus membereskan barang yang telah di bawa ke sini" Ujar Dika lagi.

__ADS_1


"Iya, setidak nya pekerjaan mu ada juga yang membantu bukan. Meski tidak sepenuh nya sih"


"Iya cinta. Oh ya gimana pergi ke Siak tadi enak? Gak ada yang menggoda mu kan di sana?" Tanya Dika.


"Sebentar kamu tanya seperti ini karena takut kehilangan ku, atau karena mengejek ku?"


"Ya takut kehilangan kamu lah cinta. Masa iya aku mengejek mu"


"Jika kamu takut kehilangan ku, apa sekarang kamu sudah bisa memilih antara aku atau kah kekasih mu itu?" Tanya ku. Yah sengaja aku kembali membahas hal itu.


"Kalian berdua sama berarti nya untuk ku cinta"


"Egois dan rakus ya kamu jadi orang"


"Cinta jangan menilai ku seperti itu. Sejujurnya keadaan ku saat ini pun serba salah"


"Yah, terserah lah yang penting aku hanya bisa mengatakan jika aku sudah lelah jangan panggil aku kembali" Ujar ku lagi.


Dika tidak memberi balasan tentang pesan singkat ku yang tadi. Aku juga tidak tahu kenapa, apa dia sibuk membuat surat izin berlayar atau memang sengaja tidak di balas nya.


Aku hanya bisa menghela napas berat ku.


"Ya sudah lah terserah. Lebih baik aku tidur" Ujar ku tidak mau memikirkan hal itu lagi. Yah aku tahu jawaban Dika sama seperti biasa nya. Tadi aku hanya bermaksud untuk menguji nya saja.


Ternyata apa yang aku pikirkan itu benar ada nya. Bahwa Dika pasti tidak akan bisa memilih di antara aku dan kekasih nya itu.


***


Aku menggosok-gosok mata ku saat alarm ku telah berbunyi dengan suara ocehan nya yang terkadang mengagetkan ku namun bisa ku pastikan aku akan merindukan suara nya itu.


"Ayo Mah bangun sudah jam berapa ini. Bukan kah hari ini hari senin. Dan akan di adakan apel di kantor mu nanti. Nanti kamu malah telat lagi" Ujar ibu ku di pagi hari itu.


"Iya buk ini aku sudah bangun" Jawab ku lagi. Aku duduk di tempat tidur ku berusaha mengembalikan separuh nyawa yang masih belum terkumpul sepenuh nya.


Aku meraih ponsel mu untuk melihat sudah pukul berapa sekarang. Namun pandangan ku teralihkan saat melihat pesan Dika tadi malam. Yah ternyata laki-laki itu memberikan pesan singkat kepada ku tadi malam. Aku langsung membuka pesan dari Dika.


Karena aku tidak membalas pesan dari nya karena aku telah tidur, Dika pun kembali mengirim kan pesan singkat kepada ku.


"Sudah tidur cinta. Selamat malam, hadir kan aku di dalam mimpi indah mu" Ujar nya.


"Ku pikir dia tidak membalas pesan ku lagi. Ternyata di balas nya" Ucap ku dalam hati sambil tersenyum sendiri.


"Tuh kan, tuh belum juga bangun dan mandi. Malah tetap main ponsel nya itu sambil tersenyum sendiri lagi" Tegur ibu ku mengagetkan ku.


"Iya buk, ini aku mau mandi" Ujar ku. Bergegas bangun dari tempat tidur ku dan pergi mandi.


***


"Sudah rapi, sudah wangi, Sekarang waktu nya berangkat ke kantor" Ujar ku kepada diri ku sendiri.


"Eh, tapi apa aku harus menghubungi Dika ya untuk membangun kan nya di pagi ini?"


"Ah lebih baik aku diamin aja dia dulu. Cerita nya aku masih marah sama dia" Ucap ku lagi.


"Buk, aku pergi ke kantor dulu ya" Aku mencium punggung tangan ibu ku.


***


"Dika sudah bangun belum ya? Siapa tahu pak Barat atau kepala kantor mendadak pergi ke kantor nya. Secara mereka pindah ke kantor baru. Yah siapa tahu mereka ingin melihat kantor baru itu kan" Ujar ku berbicara kepada diri ku sendiri.


Aku pun kembali merogoh tas kerja ku untuk menghubungi Dika di pagi itu. Dan yah seperti biasa, sekali, dua kali belum juga di angkat telfon dari ku.


"Ya Allah kenapa sih ini anak kalau sudah tidur paling susah mau di bangunin" Ujar ku lagi. Yah setiap hari aku yang membangun kan nya dari tidur. Bisa di hitung berapa kali nya dia bangun sendiri. Ujar ku. Kembali menekan nomor ponsel nya Dika dan menghubungi nya.


"Hallo" Kembali terdengar suara berat dari seberang sana.


"Susah banget sih di hubungin. Bangun kamu, susah pukul berapa ini, ayo bangun" Ujar ku.

__ADS_1


"Kamu ini ya coba lah tidur nya jangan larut malam agar bangun nya gak kesiangan" Ujar ku.


"Pengen nya sih gitu cinta. Tapi apa lah daya ku karena mata ini tidak bisa mendukung ku tidur cepat Yah paling cepat juga pukul dua belas malam"


"Aduh, gimana mau tidur cepat coba jika ponsel selalu di tangan mu"


"Iya sih cinta. Tapi harus bagaimana lagi, hanya ini lah hiburan ku di sini"


"Ya sudah lah pergi mandi sana. Siapa tahu nanti pak Barat mau ke sana sama kepala kantor. Secara kalian baru pindah kantor nya. Yah mana tahu kepala kantor mau melihat kantor baru kalian" Ujar ku lagi.


"Iya cinta. Ini aku mau mandi ya" Ujar Dika mengakhiri pesan singkat kami di pagi itu.


***


Hampir setengah bulan Dika berada di kantor baru nya. Aku dan adik sepupu ku pergi ke kantor Dika untuk mengantar nya makanan. Yah laki-laki itu sedang demam waktu itu. Jelas aku merasa khawatir kepada nya. Jadi aku meminta adik sepupu ku untuk menemani ku ke kantor Dika untuk memberikan makanan dan juga obat. Untung saja hari ini adalah hari minggu jadi aku libur kerja.


"Ini makan dulu, setelah itu minum obat nya ya" Ujar ku.


"Mau aku suapin?" Tanya ku. Aku langsung menyuapi Dika makan setelah itu memberikan nya obat. Dari pagi aku dan adik sepupu ku berada di kantor itu. Karena kepala Dika masih terasa pusing saat di bawa bangun. Jadi jika ada agen kapal meminta surat izin berlayar, aku lah yang akan membuat nya.


Tapi untung saja hari itu tidak ada agen yang meminta di buatkan surat izin berlayar. Jadi nya aku tidak perlu membuat itu dan Dika bisa beristirahat dengan tenang. Aku dan adik sepupu ku membiarkan Dika beristirahat. Hingga waktu menunjukkan pukul dua sore. Dika pun bangun dari tidur nya.


"Sudah bangun?" Tanya ku melihat Dika menghampiri kami di meja kerja nya.


"Iya cinta. Terima kasih ya cinta. Sekarang aku sudah merasa agak mendingan"


"Iya sama-sama. Sekarang kamu makan siang ya. Itu tadi sudah dibelikan makanan untuk kamu" Ujar ku menunjuk nasi bungkus yang adik sepupu belikan tadi untuk makan siang kami.


"Setelah makan kamu minum obatnya lagi agar rasa demam di tubuhmu cepat hilang"


"Iya cinta" Ucap Dika, langsung menyadarkan makanan yang dibelikan oleh adik sepupu ku tadi untuknya.


"Apa ada agen kapal yang meminta surat izin berlayar hari ini?"


"Gak ada, Tapi untung juga gak ada. Jika ada aku juga tidak tahu bagaimana" Ujar ku nyengir.


"Tadi kata nya tahu dan dengan percaya diri nya mengatakan bisa"


"Iya bisa sih, hanya saja aku takut salah. Yah nama nya juga ini dokumen untuk negara" Ujar ku lagi.


"Ya sama saja itu gak bisa" Ujar Dika tersenyum menatap ku. Aku pun membalas nya dengan senyuman malu.


"Oh ya kenapa kamu bangun? Sudah merasa baikan?"


"Sudah kok cinta. Demam ku seperti nya sudah membaik. Ini aku lagi keringetan. Terima kasih ya atas perhatian kamu kepada ku cinta. Belum jadi istri saja kamu begitu perhatian nya kepada ku. Apa lagi sudah menjadi istri mu nanti" Ujar Dika.


"Ah kamu bisa saja. Jangan terlalu memuji ku seperti itu. Nanti aku nya terbang lo"


"Jika kamu terbang, nanti biar ku tangkap dan ku kurung di hati ku agar kamu tidak bisa lepas dari ku" Ujar Dika terdengar menggombal.


"Aduh, mulai deh gombal nya. Aku yang jomblo ini hanya bisa menyaksikan drama musikal para bucin-bucin ini" Ujar Siti.


"Hehehe maaf ya dek, sedangkan ada kamu di sini saja kami di pikir berbuat hal yang bukan-bukan. Apa lagi saat kamu gak ada dek" Ujar ku lagi.


"Ha? Maksud kakak apa?"


"Iya, kami di tegur dek. Kakak di larang datang ke kantor Dika karena kata nya kami berbuat hal yang bukan-bukan. Padahal kalau kakak berada di kantor ini dalam keadaan lama pasti membawa kamu atau pun ponakan kakak si Uti" Jelas ku.


"Aduh aneh juga ya kak. Iya, karena itu lah sebenar nya kita gak bisa lama-lama di kantor ini. Tapi karena Dika lagi sakit ya kita harus berada di sini untuk sementara" Ujar ku lagi.


"Gitu ya kak. Aneh juga ya kak"


"Iya dek, rambut boleh sama hitam tapi hati dan pikiran orang gak ada yang tahu ya dek"


"Ya sudah kita pulang saja yuk Sudah pukul lima sore juga. Lagian si Dika sudah kelihatan membaik juga. Gak apa-apa kan kami pulang"


"Ya gak apa-apa cinta. Terima kasih ya" Ucap Dika. Aku dan Siti langsung pulang. Belum sempat separuh jalan, kami berpas-pasan dengan kekasih Dika. Yah si Fida datang sendiri ke kantor nya Dika.

__ADS_1


"Ya Ampun, kak itu buka nya si Fida ya. Ngapain di ke sini? Sendirian pula" Ujar Siti.


__ADS_2