TAKDIR

TAKDIR
Bab 79


__ADS_3

Aku pulang dari Jakarta dan tiba di Pakning tepat pukul sepuluh malam. Saat Dika masih memberikan pesan singkat nya kepada ku, aku sudah tertidur pulas karena rasa lelah di tubuh ku ini.


Meski aku tidak membalas pesan dari Dika, tetap Dika mengucapkan selamat malam kepada ku seperti biasa nya. Laki-laki itu pun mengerti bahwa aku lelah dan mau istirahat.


***


Aku tersenyum di pagi itu saat melihat pesan dari Dika yang mengucapkan selamat malam kepada ku seperti biasa nya.


"Ternyata kamu mengirim kan pesan kepada ku. Maaf ya Dika aku ketiduran. Rasa ngantuk menyerang ku dan tidak bisa ku tahan" Ujar ku dalam hati.


"Maaf ya Dika aku ketiduran tadi malam. Jadi gak bisa deh balas pesan dari mu" Ujar ku melalui pesan singkat ku.


Ku lirik jam di dinding kamar ku sudah pukul tujuh pagi.


"Pasti Dika belum bangun tidur" Batin ku menebak. Yah karena laki-laki itu memang kebiasaan bangun ke siangan kerena selalu bergadang di malam hari nya. Jika tidak ada yang membangunkan nya, bisa jadi dia tidur hingga sore hari.


Untung saja dia sendirian di kantor tersebut. Jika ada honor yang lain, pasti dia sudah di laporin sana atasan nya. Dan aku yakin dia pasti akan di marahi bahkan bisa berhenti karena terus-terusan kesiangan.


"Aduh, memang si bocil satu ini. Jika tidak di bangunin pasti dia akan kebablasan" Ujar ku langsung menghubungi nya.


Sekali, dua kali belum juga si Dika mengangkat ponsel ku.


"Memang ini bocil, jika sudah tidur paling susah di bangunin" Ujar ku terus saja mencoba untuk menghubungi Dika tampa henti.


"Hallo" Pada akhir nya Dika mengangkat telfon dari ku. Bisa ku dengar bahwa suara berat masih terdengar di seberang sana. Yah secara laki-laki itu baru saja bangun tidur. Jelas suara berat nya masih bisa ku dengar kan.


"Baru bangun tidur kamu? Ayo bangun cepat mandi, siapa tahu nanti pak Barat datang lagi ke kantor mu sana. Atau bahkan kepala kantor. Melihat kamu belum bangun seperti ini pasti di marahi sama mereka" Ujar ku lagi.


"Iya cinta sebentar lagi aku bangun dan mandi" Ujar nya.


"Jangan nanti, sekarang. Nanti kamu tidur lagi tuh coba lihat sudah pukul tujuh lewat itu"


"Iya, iya aku bangun" Ucap nya.


"Ya sudah, jangan bohong ya kamu harus bangun" Ujar ku lagi.


"Iya, iya. Oh ya kamu gak kerja?"


"Gak kok, aku minta izin untuk libur hari ini. Kepala ku masih pusing, masih mabuk karena perjalanan semalam" Ujar ku.


"Oh gitu"


"Iya, ya sudah kamu mandi gih sana" Ujar ku lagi.


"Oke cinta aku mandi dulu ya" Ujar nya mengakhiri telfonan kami di pagi itu.


"Kamu beneran gak masuk kerja?" Tanya ibu ku.


"Ya buk aku libur hari ini. Aku masih merasa pusing buk, mabuk masih menghantui ku" Ujar ku.


"Sudah minta izin?"


"Sudah kok, tadi aku sudah mengirimkan pesan singkat kepada ibu nya Nindi. Jadi gak masalah jika aku gak masuk kerja hari ini" Ujar ku lagi.


"Buk, mana sandwich tadi malam buk. Aku lapar" Ujar ku.


"Ada di kulkas. Ambil saja" Ujar ibu ku.


"Ibu mau ke warung dulu. Mau belanja mencari ikan untuk masak di siang ini" Ujar ibu ku lagi.


"Iya buk, beliin jajanan juga ya"


"Jajanan apa? Seperti anak kecil saja kamu"


"Ibu aku kan masih anak kecil buk" Ujar ku dengan nada manja.

__ADS_1


"Kecil dari mana coba sudah segede ini, kalau menikah sudah selunsin anak nya" Ujar ibu ku lagi.


Aku tertawa lepas mendengar ocehan ibu ku itu.


"Ibu ku sayang, selagi aku belum menikah, aku masih kecil ya. Dan harus manja-manja sama ibu. Aku kan putri bungsu ibu yang paling comel sejagat raya"


Mendengar aku berbicara seperti itu membuat ibu ku menjeling memandang ku. Bisa ku baca dari tatapan nya bahwa wanita paruh baya itu muak dengar ucapan ku itu.


"Sungguh geli mendengar ucapan mu itu. Ingin muntah rasa nya"


Kembali aku tertawa lepas mendengar ucapan ibu ku itu.


"Sudah ibu mau pergi dulu. Mendengar cerita mu yang konyol itu sudah nya membuat ikan pada habis di beli sama orang nanti di warung" Ujar ibu ku meninggalkan ku sendirian di rumah.


***


Aku sudah janjian bersama Dika untuk keluar malam ini. Aku yang menjemput Dika di kantor nya malam ini. Yah ku bawa baju yang ku belikan sewaktu aku masih di Jakarta kemarin.


"Ini baju untuk mu" Ujar ku memberikan baju kepada Dika.


"Wah, aku dapat hadiah baju juga?"


"Iya, kamu orang asing yang aku belikan baju. Berarti kamu benar-benar orang yang spesial di dalam hidup ku" Ujar ku lagi.


"Terima kasih ya" Ujar nya menyambut baju yang ku berikan tadi.


"Iya sama-sama. Sebagai kenang-kenangan toh belum tentu aku bisa pergi ke Jakarta di lain hari bukan" Ujar ku lagi.


Dika membuka bingkisan baju tersebut dan langsung mencoba nya.


"Suka?"


"Suka, terima kasih" Ujar nya.


"Sama-sama. Ya sudah ayo kita pergi sekarang, gak enak lama-lama aku berada di kantor ini. Nanti malah di pikir kita melakukan apa-apa lagi di kantor ini. Secara kita hanya tinggal berdua di sini" Ujar ku.


"Oke aku tunggu di luar kantor aja ya" Ucap ku menunggu Dika dan duduk di motor ku.


Sekian menit kemudian Dika pun keluar dengan berpakaian rapi.


"Ayo" Ujar nya.


Kembali kami memilih warung makan pecal lele yang tidak jauh dari kantor Dika itu. Yah meski makanan favorit kami adalah ayam penyet, yang letak nya tidak jauh dari rumah Siti adik sepupu ku, namun kami harus mengubah selera waktu itu. Hal itu di karena kan aku yang menjemput Dika. Perjalanan ku ke kantor Dika hampir lima belas menit, terus aku kembali lagi ke warung makan ayam penyet tersebut yang berada di desa ku itu yang jelas kembali memakan waktu lima belas menit juga. Belum lagi waktu kami makan, terus aku mengantar Dika kembali ke kantor nya. Serta waktu ku kembali dari kantor Dika. Aduh bisa menghabiskan waktu satu jam setengah itu. Dan jelas hari sudah semakin larut di buat nya. Bisa-bisa aku di omelin sama ibu ku karena pulang lewat dari waktu yang telah di tentu kan.


"Hallo" Ujar Dika mengangkat ponsel nya saat berdering. Yah salah satu agen kapal menghubungi nya waktu itu karena meminta surat keberangkatan kapal.


"Aku lagi di luar ini pak. Lagi makan" Ujar Dika.


"Aduh kapal nya harus berangkat saat ini Dika. Ini saya sudah berada di depan kantor mu" Ujar orang tadi.


Dika menatap ku.


"Gak apa-apa pergi saja dulu selesaikan tugas negara mu. Lagian makanan yang kita pesan juga masih di masakin sama orang ini. Masih sempat kok" Ujar ku lagi.


"Ya sudah kamu tunggu di sini sebentar ya. Aku kembali kekantor" Ujar nya lagi.


"Iya jawab ku"


Tak. Begitu lama Dika pun kembali tepat pada saat makanan kami pesan telah terhidang di meja kami. Tampa menunggu basa basi lagi kami pun langsung menyantap makanan itu.


***


"Ramah, kamu sering ya pergi ke kantor nya Dika?" Tanya pak Barat kepada ku.


Deg...

__ADS_1


Sontak hal itu membuat jantung ku berdebar begitu cepat.


"Iya pak. Tapi kami tidak melakukan apa-apa kok pak. Dan kalau aku lama di sana, aku sering membawa keponakan atau pun sepupu ku pak. Agar tidak jadi fitnah.. Terus jika pun aku sendirian di sana, itu aku hanya menjemput nya dan kami keluar untuk jalan-jalan gak mau kami berduaan di kantor itu pak. Karena tadi aku takut orang-orang sekitar sana memikirkan kamu berbuat hal yang bukan-bukan" Ujar ku lagi.


"Oh gitu, bapak percaya sama kamu. Tapi ini warga di sana ada melapor sama bapak. Mereka tidak suka kamu ke sana terus. Jadi bapak harap kamu jangan ke sana lagi ya" Ucap pak Barat kepada ku.


"Iya pak, aku gak akan ke sana lagi" Ujar ku pula.


"Maaf ya Ramah, ini semua untuk kebaikan kalian juga. Dari pada nanti kalian di grebek dan di bilang melakukan hal yang aneh, kalian juga yang akan rugi nanti. Karena itu lebih baik bapak memperingati kalian terlebih dahulu" Ujar pak Barat.


"Iya pak, terima kasih nasehat nya" Jawab ku.


Aku keluar dari ruangan laki-laki paruh baya itu dan kembali ke ruangan ku.


Aku menghempaskan tubuhku di atas kursi tempat kerja ku. Untuk beberapa kali aku menghela napas berat.


"Ya Allah, padahal kami tidak melakukan apapun ternyata mereka di sana memikirkan kami melakukan hal yang bukan-bukan. Itu aku sudah membawa keponakanku atau adik sepupu ku agar membuat mereka berpikir hal yang aneh terhadap kamu dan di sana kamu tidak berduaan. Tapi ternyata mereka masih juga memikirkan hal yang sama. Ya rambut boleh sama hitam tapi hati dan pikiran orang mana sama dengan apa yang kita pikirkan" Ujar ku berkata kepada diri ku sendiri.


Aku merogoh tas kerja ku untuk memberi kabar kepada Dika tentang apa yang di katakan oleh pak Barat tadi kepada ku.


"Dika, kamu sudah bangun tidur" Pesan ku.


"Sudah kok, sudah mandi juga" Jawab nya.


"Tumben bangu nya cepat tidak menunggu ku menghubungi mu dulu" Ujar ku.


"Tadi ada agen kapal yang mengetuk pintu kantor ku meminta di buatkan surat izin berlayar. Karena itu aku terbangun" Jelas nya kepadaku.


"Oh begitu, bagus lah jika begitu oh ya ada yang mau aku katakan sama kamu"


"Apa?"


"Itu tadi pak Barat memanggil ku ke ruangan nya. Dia meminta ku untuk tidak datang lagi ke kantor mu. Karena ada warga yang tidak suka melihat ku terus-terusan ke sana" Jelas ku melalui pesan singkat ku.


"Lo kok bisa begitu? Padahal kan kita tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Kamu selalu membawa keponakan mu dan juga adik sepupu mu agar tidak timbul fitnah kepada kita. Dan jika kamu datang sendiri pun kita keluar untuk jalan-jalan buka di kantor ini" Ujar Dika sama seperti apa yang aku katakan saat kepada pak Barat tadi.


"Iya, itu kan pikiran kita Dika, mana sama dengan pikiran mereka di sana. Yah jika mereka tidak nyaman dengan keberadaan kita, kita bisa apa. Mau tidak mau, suka tidak suka ya kita harus menuruti nya. Dari pada nanti kamu juga yang kena imbas nya. Secara kamu perantau di sini" Ujar ku lagi.


Yah bagaimana pun aku harus menjaga Dika dan memikirkan keselamatan nya di sana. Secara dia sendirian di sana dan tidak ada teman nya. Tentu aku takut terjadi apa-apa kepada laki-laki yang aku cintai itu.


"Ya sudah lah jika begitu. Mau di apakan jika kita di larang bertemu lagi. Harus di turuti saja bukan"


"Iya, jadi kamu lah yang harus sering datang ke rumah ku ya" Ujar ku pula.


"Oke gak masalah jika begitu" Jawab nya dengan penuh keyakinan.


"Sudah sarapan kamu?" Tanya ku.


"Sudah kok bisa tinggal sendiri bujangan pula lagi. Masak mie instan saja" Ucap nya lagi.


"Ya Allah makan mie lagi, mie lagi. Sudah tahu perut mu bermasalah jika makan makanan seperti itu, masih juga di makan ya"


"Sesekali cinta. Lagian gak tahu juga mau makan apa pagi ini. Hanya terpikir dan seleranya di mie saja. Lagian sudah lama kok cinta aku gak mengonsumsi mie. Sekarang baru ku konsumsi lagi" Ucap nya.


"Ya sudah jangan terlalu sering-sering mengonsumsi itu gak baik" Nasehat ku.


"Ramah, ayo kita sarapan" Ajak bang Ijon kepada ku.


"Oke bang" Jawab ku.


"Dika sudah dulu ya, aku mau pergi sarapan bersama bang Ijon" Ujar ku lagi.


"Oke cinta" Jawab nya.


Sejujurnya hati ini masih merasa tidak enak karena pak Barat berkata seperti tadi. Aku tidak habis pikir kenapa mereka bisa berpikir hal seperti itu. Padahal tidak ada bukti sama sekali kami melakukan hal itu. Tapi apa lah daya jika mereka sudah berkata seperti itu kami harus terima. Toh kami hanya berdua jelas dimana-mana kami akan salah di buat nya. Karena kami melawan warga buka perorangan.

__ADS_1


"Ya Allah sungguh kejam mereka bisa berpikir buruk tentang kami seperti ini, jika mereka ada bukti atau kami pernah melakukan hal itu, wajar jika mereka marah karena telah merusak desa mereka dan membuat desa mereka tercemar. Tapi masalah nya, mereka tidak ada bukti sama sekali. Itu lah yang membuat aku merasa sedih.


"Apa aku serendah itu di mata mereka hingga mereka berpikir aku melakukan hal yang sangat terhina seperti itu" Ujar ku dalam hati. Kembali aku menghela napas berat ku.


__ADS_2