TAKDIR

TAKDIR
Bab 81


__ADS_3

Aku menemani Dika bersama adik sepupu ku karena saat itu dia demam waktu itu. Dan sewaktu pulang, aku dan adik sepupu ku berpas-pasan dengan kekasih nya Dika yang juga datang saat itu.


"Kak, itu kan si Fida. Ngapain dia ke sini? Sendirian pulak tu" Ujar Siti menunjuk ke arah gadis itu yang baru saja lewat di samping kami.


"Yah gak tahu lah dek. Mungkin dia datang ke sini karena ingin melihat keadaan Dika juga. Bisa jadi Dika mengatakan kepada nya bahwa dia sakit dan gadis itu khawatir dengan nya. Maka nya dia datang" Jelas ku kepada Siti.


"Iya tapi kan ini sudah hampir magrib kak. Gak seharus nya dia ke sini saat waktu seperti ini" Ujar Siti lagi.


"Biarin saja lah dek. Mau di apakan. Gak mungkin kita usir dia dari sini. Nanti Dika nya malah marah besar sama kita" Ujar ku lagi.


"Ya sudah jika begitu" Ucap Siti.


***


"Dek, jangan terlalu malam ya pulang dari kantor nya Dika. Gak baik di pandang sama orang di sekitar sana" Pesan ku kepada Fida.


"Dika, kamu tahu sendiri kan jika kita sudah di peringati bahwa tidak boleh berduaan di kantor mu itu" Ujar ku pula melalui pesan kepada Dika.


"Jadi kamu tahu kan harus melakukan apa" Ujar ku lagi kepada Dika.


Cukup lama aku menunggu balasan dari Dika. Namun belum juga ada jawaban dari nya. Mungkin dia sibuk dengan urusan nya di sana bersama kekasih nya itu.


Aku mencoba untuk menghubungi Dika agar dia menyadari dan membaca pesan yang ku kirimkan tadi.


"Iya cinta. Aku tahu, kamu tenang saja. Aku dan dia tidak di kantor kok saat ini. Aku membawa nya untuk makan di luar" Balas nya.


"Lo, kamu kan lagi kurang sehat, kenapa malah keluyuran?"


"Gak apa-apa cinta. Aku harus bagaimana? Gak mungkin juga aku suruh dia pulang saat dia baru saja tiba di sani. Seperti aku tidak menghargai dia datang ke sini" Ujar nya membalas pesan ku.


"Iya aku tahu, aku tidak bermaksud kamu untuk mengusir nya pulang. Hanya saja saat ini kamu lagi kurang sehat"


"Gak apa-apa cinta. Aku sudah baikan kok" Ujar Dika lagi.


"Oh ya sudah lah kalau begitu. Syukurlah jika sudah sehat" Ucap ku lagi.


"Layan lah cinta mu itu" Tambah ku lagi mengakhiri percakapan kami melalui pesan singkat itu.


Aku menghempaskan tubuh ku di atas kasur tempat tidur ku. Yah aku sangat sedih mengetahui Dika bersama kekasih nya itu. Rasa gelisah mulai menghantui diri ku.


"Terkadang ini semua tidak adil. Aku menemani kamu dan merawat mu ketika sakit. Tapi setalah sehat, kamu malah mengabaikan ku saat bersama kekasih mu seperti ini. Lihat kamu tidak membalas pesan ku lagi" Batin ku.


Tak terasa beberapa air bening kini mulai membasahi pipi ku. Yah sakit hati ini mengetahui Dika sedang bersama kekasih nya saat ini. Meski di mulut berkata rela menjadi yang ke dua. Tapi tetap saja di hati tidak bisa menerima semua itu.


Setiap menit aku selalu melirik ponsel ku untuk melihat ada kah pesan dari Dika. Namun, hingga pukul delapan lewat tiga puluh menit tidak ada sama sekali satu pesan yang masuk dari Dika.


"Mereka sedang ngapain sih? Gak ada kabar nya sama sekali seperti ini" Batin ku semakin gelisah.


"Mau mengirim pesan atau menghubungi nya gengsi dong. Nanti malah kelihatan aku ini kengejar-ngejar nya dan malah di bilang aku menganggu lagi" Batin ku lagi


"Tapi aku gak bisa seperti ini. Sungguh gelisah di hati ini jika tidak ada kabar. Apa si kekasih nya itu sudah pulang atau belum" Ujar ku lagi. Sungguh perasaan gelisah terus saja menghantui diri ku ini.


"Astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim" Ujar ku di dalam hati untuk menghilangkan rasa gelisah di dada ku. Aku pun menghela napas ku untuk beberapa kali pula agar diri ku merasa sedikit tenang. Untuk beberapa saat aku bisa menghilangkan rasa gundah di hati ini. Namun, perasaan itu kini muncul lagi ketika aku belum mendapati pesan dari Dika.


"Ya Allah sudah pukul sembilan? Dan Dika juga belum memberikan kabar kepada ku. Apa mereka sedang.... " Ujar ku dalam hati memikirkan hal yang buruk mereka lakukan.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim, Apa sih yang aku pikirkan? Kenapa aku bisa pergi ke seperti itu? Ya Allah buang kan lah pikiran buruk ini terhadap diriku" Batin ku berdoa sambil memejamkan kedua mataku.


"Sudah ah lebih baik aku tidur. Ngapain aku menunggu kabar dari orang yang gak jelas seperti ini. Dia enak-enakan di sana sama kekasih nya. Bisa jadi mereka sedang bercanda ria dan tertawa bersama. Sedangkan aku? Aku hanya bisa menunggu kabar yang tidak jelas seperti ini. Bisa-bisa aku yang gila di buat nya" Ucap ku pelan kepada diri ku sendiri.


Aku pun berusaha untuk memejamkan mataku agar aku bisa terlelap dengan tenang di malam itu tanpa memikirkan mereka yang ada di sana.


Ting...


Pukul sepuluh malam ponsel ku baru saja berbunyi. Yah, karena saat itu aku sedang menunggu kabar dari Dika di sana, Hingga hal itu membuat aku tidur tidak tenang bisa dikatakan aku ini antar tidur dan bangun. Jadi sebelum apapun ponselku berdering bisa membangunkan aku di malam itu. Pasti kalian pernah juga mengalami hal yang sama seperti diriku bukan ketika sedang menunggu kabar dari seorang yang spesial dalam hidup kalian.


Dengan cepat aku pun mengambil ponsel yang ada di sampingku saat itu dan melihat pesan dari siapa yang mengirimkan pesan kepadaku malam itu.


"Sudah tidur cinta?" Tanya nya kepada ku melalui pesan singkat nya. Yah bisa kalian tebak bahwa pesan itu dari Dika.


"Sudah malam begini baru memberi kabar. Tadi kemana saja?" Balas ku dengan ketus.


"Maaf cinta, tadi ada masalah sedikit di kapal jadi nya aku dan pak Barat harus ke kapal untuk memeriksa kapal tersebut" Jelas Dika.


"Oh, apa iya itu? Gak sibuk saat bersama kekasih nya itu yang rela-rela nyebrang sore hari demi bertemu dengan mu" Kata ku terdengar menyindir dan tidak percaya dengan penjelasan dari Dika tadi.


"Benar kok cinta. Aku bersama pak Barat tadi. Jika tidak percaya, kamu bisa telfon pak Barat kok untuk menanyakan hal ini"


"Ngapain juga aku menanyakan hal itu sama pak Barat? Bisa-bisa besok aku di ejek sama pak Barat saat di kantor" Ujar ku dalam hati.


"Terus jika kamu sama pak Barat, kekasih mu itu di mana? Ikut kamu juga naik kapal nya?" Ujar ku lagi.


"Gak cinta, tadi setelah makan, dia langsung pulang kok. Sekitar pukul tujuh gitu dia sudah ku antar ke pelabuhan. Pak Barat juga mau ke sini kan karena itu lah aku ada alasan untuk menyuruhnya pulang" Jelas Dika lagi.


"Bagus lah, untung saja pak Barat mau datang sehingga membuat gadis itu pulang. Jika tidak, yah bisa jadi mereka masih bersama saat ini" Batin ku tersenyum puas membaca pesan dari Dika.


Jika dia sudah bisa memilih kekasih nya itu, aku pastikan aku tidak akan pernah mengganggu kehidupan mereka lagi dan aku akan menjamin keagenan hubungan mereka karena tidak kehadiranku sebagai orang ketiga.


"Kenapa belum tidur cinta?"


"Sudah tidur kok tadi, hanya saja terbangun karena mau buang air" Ujar ku berbohong. Padahal aku gelisah tidak mendapatkan pesan dari nya. Yah jelas aku tidak mau mengatakan hal yang sejujurnya karena aku tidak mau Dika besar kepala kepada ku.


"Oh ya bagaimana demam mu. Apa benar-benar sudah sembuh? Terus kamu sudah minum obat belum?" Tanya ku kepada Dika.


"Alhamdulillah sudah sangat merasa baikan. Terima kasih ya cinta kamu telah merawat ku dengan baik. Dua kali aku sakit parah, dua kali juga kamu merawat ku dan membuat ku merasa sehat seperti ini. Sungguh aku beruntung memiliki kekasih seperti mu" Ujar nya terdengar memuji.


Sontak untuk sesaat aku tersenyum dengan tersipu malu mendengar pujian dari Dika. Tapi senyuman itu kembali hilang saat aku membayang kan kekasih Dika yang tadi baru saja datang mengunjungi nya.


"Ah gombal kamu, jika kamu beruntung memiliki ku, kenapa masih mendua?" Batin ku. Yah ingin sekali aku mengatakan hal itu. Tapi aku urung kan niat ku karena aku tidak mau Dika tersinggung nanti nya.


"Gombal kamu" Hanya pesan itu yang mampu aku kirimkan untuk nya.


"Beneran kok cinta. Aku gak gombal sama sekali"


"Terima kasih atas pujian nya"


"Ya sudah cinta hari juga sudah larut. Kamu tidur ya"


"Terus kamu gak tidur? Harus nya kamu juga tidur secara kamu baru saja sembuh dari demam mu"


"Iya cinta, nanti juga aku pasti akan tidur. Lagian tadi siang aku juga sudah puas tidur nya cinta" Jelas Dika kepada ku.

__ADS_1


"Oh ya tadi pertanyaan ku yang kamu sudah minum obat belum di jawab"


"Oh iya cinta. Lupa aku belum minum obat. Untung kamu ingatin aku"


"Tuh kan lupa lagi kamu nya. Kebiasaan deh seperti itu. Jika sudah merasa enakan pasti tidak mau meminum obat nya lagi" Ujarku.


"Iya cinta, maaf ya ini aku mau minum obat nya"


"Ya sudah minum obat sana setelah itu istirahat. Secara kamu baru sembuh. Aku gak mau kamu sakit lagi" Ujar ku penuh perhatian.


"Iya cinta, aku akan menuruti semua kemauan kamu" Ujar nya mengakhiri pesan singkat kami di malam itu.


***


Para honor yang di bayar oleh kantor kini terancam akan di berhenti kan.. Hal itu membuat aku merasa gelisah, yah karena jelas Dika akan terancam di berhentikan. untung saja aku sudah menjadi honor pemda dan tentu nya gaji ku pun naik.


"Ya Allah baru saja aku dan Dika mau meniti karir bersama-sama, Dika malah terancam di berhenti kan" Batin ku sedih mendengar berita yang kurang mengenakkan ini.


"Apa yang harus aku lakukan ya Allah. Apa memang kami tidak di takdir kan untuk bersama? Dan pada akhirnya kami akan terpisahkan lagi" Batin ku lagi.


"Baru saja aku merasakan kebahagiaan saat dia berada bersama ku di sini, eh kini malah terancam LDR lagi kami. Di mana kami di pisahkan oleh lautan"


Aku menghela napas berat ku. Dengan langkah yang berat aku masuk ke dalam rumah ku. Yah aku sangat sedih dan tidak mood mau ngapa-ngapain.. Meskipun kabar itu baru simpang siur dan belum jelas benar atau tidak nya? Tetap saja berita itu membuat aku kepikiran tentang laki-laki yang aku cintai itu. Rasa nya aku tidak sanggup untuk berpisah dengan nya lagi dan menjalan kan hubungan LDR seperti dulu.


"Kenapa kamu loyo seperti itu?" Tegur ibu ku.


"Lagi gak ada mood buk untuk ngomong" Ujar ku.


"Ya sudah gak usang ngomong kalau begitu. Diam saja kamu selama nya tampa mengeluarkan suara" Ibu ku mengeluarkan omelan nya.


"Ibu kok gitu sih ngomong nya?"


"Habis nya di tanya malah gitu jawaban nya"


"Aku lagi sedih lo buk. Hibur kek anak nya yang sedang gundah gelana ini"


"Mau hibur gimana? Mau ibu seperti badut gitu untuk menghibur mu?"


"Gak gitu juga sih buk. Ya keluarin dong kata-kata mutiara yang memotivasi diri ini"


"Bagaimana ibu mau mengeluarkan kata-kata mutiara jika kamu tidak menceritakan hal yang membuat kamu seperti ini"


Aku menghela napas berat ku dan mulai menceritakan apa yang saat ini sedang berlaku.


"Jadi kamu gak terancam di berhentikan bukan?" Tanya ibuku kepada ku.


"Ya gak lah buk. Aku sudah honor dari pemda. Si Dika ini yang terancam berhenti. Kasihan dia baru juga mendapatkan pekerjaan" Ujar ku kepada ibu ku.


"Ibu juga gak tahu harus ngomong apa dan memberikan kata motivasi apa untuk kamu. Secara ibu bingung juga saat ini" Jelas ibu ku.


"Ya sudah deh buk. Kita berdoa saja semoga berita ini tidak benar dan semoga semua honor kantor tidak di berhentikan.. Jika hal itu terjadi, maka akan terjadi pengangguran masal di negara kita ini. Otomatis kejahatan akan semakin meningkat" Jelas ku. Yah tentu saja kejahatan semakin meningkat karena tidak ada nya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari


"Iya Aamiin semoga saja begitu ya" Ujar ibu ku.


"Ya sudah buk aku mau mandi dulu. Sudah bau asam badan ku ini" Ujar ku langsung berlalu dari hadapan wanita paruh baya itu.

__ADS_1


__ADS_2