
Aku cukup kecewa dengan sikap Dika yang pergi keluar bersama Fitri keponakan salah satu karyawan kantor itu. Padahal aku sedang sakit saat itu. Aku berharap dia datang untuk menjenguk ku malam itu, tapi ternyata dia malah pergi dengan gadis lagi.
***
Yah untuk yang ke dua kali nya aku merasa kecewa. Sehingga membuat ku kembali tidak menghubungi Dika untuk membangunkan nya pagi ini.
"Terserah mau dia bagaimana. Mau nanti dia di marahin sama pak Barat atau apa pun itu aku tidak peduli. Capek menghadapi nya" Batin ku langsung memasukan kembali ponsel yang ku pegang tadi untuk menghubungi nya ke dalam tas kerja ku.
Aku melaju dengan motor ku untuk pergi ke kantor.
Seperti biasa setelah sampai di kantor aku langsung masuk ke ruanganku dan membuka laptop untuk bekerja sambil mendengar lagu-lagu galau karena kekecewaanku kepada Dika.
"Ramah" Tegur pak Barat mengagetkanku dengan secara tiba-tiba dia masuk ke ruangan.
"Astaghfirullahaladzim pak mengagetkan saja" Ujarku mengelus-elus dadaku.
"Ada apa pak?" Tanyaku kepada lelaki paruh baya itu.
"Kamu dan Dika bertengkar? Atau sudah putus?" Tanya Pak Barat dengan kepo terhadap hubungan kami.
"Ya ampun sih bocil itu ngapain juga pakai acara cerita-cerita sama pak Barat?" Batin ku merasa kesal.
Aku hanya diam dan tersenyum mendengar pertanyaan pak Barat tadi.
"Jangan lah kalian sampai putus. Kamu hanya salah paham itu. Dia hanya bermaksud mengantarkan Fitri itu ke rumah saudara nya" Ujar pak Barat lagi.
Lagi-lagi aku hanya tersenyum mendengar nya. Rasa nya aku sedang tidak mood untuk membahas masalah ini.
"Baikan ya sama Dia" Pinta pak Barat lagi.
Senyuman lagi ku ukir kan di bibir ku sebagai jawaban dari pak Barat tadi. Melihat itu, pak Barat pun keluar dari ruangan ku.
"Aduh gaek ini, datang-datang hanya membahas masalah ini. Masa ia di kantor pun membawa urusan pribadi" Batin ku menggeleng-gelengkan kepala ku.
***
"Assalamualaikum" Terdengar suara orang mengucapkan salam dari depan pintu rumah ku.
"Siapa sih?" Batin ku bertanya-tanya. Dengan langkah yang masih lemah aku pun membuka pintu.
"Cinta" Ujar nya tersenyum melihat ku membuka pintu rumah.
Namun aku menyambut nya masih dengan wajah yang datar.
"Ngapain juga dia ke sini. Padahal saat ini aku belum siap ketemu dengan nya. Aku membutuhkan waktu sendiri untuk menata hati ku kembali. Tapi gak mungkin juga aku mengusir nya" Batin ku.
Aku menghela napas berat ku.
"Masuk" Ujar ku.
Dika masuk ke rumah ku.
"Sebentar aku buatin minuman dulu" Ujar ku lagi.
"Gak perlu. Aku ke sini hanya ingin bertemu dengan mu dan melihat keadaan mu" Ujar nya.
"Bagaimana keadaan mu? Apa sudah baikan?" Tanya Dika.
"Sudah kok, sudah mendingan. Kerja juga tadi siang" Jawab ku.
"Masih marah sama aku?"
"Gak, tidak ada yang perlu aku marahkan sama kamu. Kamu bukan hak ku" Ujar ku.
"Kok gitu sih ngomong nya?"
"Memang kenyataan nya seperti itu bukan?"
"Jangan marah cinta. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama"
"Iya, bukti kan saja omongan mu. Aku gak butuh janji mu"
"Oke cinta. Aku akan membuktikan nya" Ujar nya lagi.
***
"Cinta, malam ini kita gak jadi keluar ya" Pesan nya kepada ku di sore itu.
"Kenapa?"
"Ibu ku datang ke kantor"
"Ibu mu? Sama siapa?"
"Sama Fida, ada guntur juga di sini" Guntur adalah sepupu nya Dika. Yah dulu aku pernah dekat dengan nya saat Dika meminta ku untuk tidak mengganggu kehidupan nya lagi saat kami bertengkar karena aku kirim kan foto screenshot pesannya kepadaku dengan kekasihnya itu.
Tiba-tiba saja nomor guntur masuk ke dalam ponsel ku. Aku juga tidak tahu dia mendapatkan nomor ku dari mana.
Yah dia datang di saat hati ini kecewa kepada Dika.
"Mereka sudah pacaran lama selama tiga tahun" Ujar nya saat itu. Yah saat dia menelepon ku.
"Oh gitu"
__ADS_1
"Iya keluarga nya juga sangat dekat dengan cewek nya. Bahkan cewek nya itu sering menginap di rumah nya"
Deg...
"Menginap?" Batin ku kaget. Itu arti nya memang sangat dekat keluarga Dika sama Fida bahkan Fida menginap di rumah Dika.
"Wajar saja jika dia salah paham dengan ku dan menuduh ku bukan-bukan. Dia meminta ku untuk tidak menganggu nya lagi. Dia sangat sayang sama kekasih nya itu" Ujar ku pulak.
"Iya, dia memang sayang sama Fida. Nama nya juga sudah lama pacaran tentu saling sayang. Fida juga gadis yang sabar. Padahal dia tahu jika Dodi itu playboy masih juga bertahan hingga selama ini"
"Yah nama nya juga cinta. Pasti bertahan" Ujar ku.
Hingga dia pun meminta pin adik sepupu ku Siti. Yah untuk dekat saja sama keluarga ku. Begitu lah kata nya. Saat itu dia kerja di Pekanbaru sebagai security di salah satu perusahaan yang ada di Pekanbaru.
Bahkan saat aku pergi liburan ke Bengkalis dan menginap di sana selama semalam bersama keluarga kakak ku dan juga ibu ku, hati ku merasa kosong.
Aku mengajak keluarga ku untuk menginap di salah satu wisma yang pernah aku, Yus dan Siti menginap di sana saat aku pelantikan kursus ku.
Dika bilang bahwa rumah yang ada di samping wisma tersebut tempat penjualan tuak.
"Aku dan Rio sering membeli tuak di sana" Ujar nya waktu itu.
"Ngapain juga beli tuak. Merusak diri aja" Ujar ku.
"Terkadang pikiran itu kelut apa salah nya jika hanya untuk menenangkan pikiran" Jawab nya waktu itu.
Terdengar suara orang mengucapkan salam di rumah sebelah. Aku mengintai dari balik jendela wisma. Berharap bahwa orang itu adalah Dika yang sedang membeli tuak. Tapi ternyata bukan meski saat itu aku berada di kota yang sama dengan Dika, tapi hati ini tetap terasa kosong. Tentu saja aku tidak bisa menghubungi Dika saat itu meskipun hati ini sangat ingin. Karena semua yang bersangkutan dengannya sudah ku hapus.
Aku dan keluarga ku memutuskan untuk pergi jalan-jalan duduk di pasir sambil menikmati udara malam dengan ditemani secangkir kopi dan beberapa cemilan di sana.
Karena hati ini merasa kosong Guntur selalu menghubungiku dia begitu perhatian kepadaku saat itu. kami pun saling bertukar pesan hingga pada akhirnya hp ku lowbat yang membuat dia tidak bisa lagi menghubungiku melalui chat dan aku pun tidak bisa membalas pesannya itu.
"Kak, kakak mana sih?" Tanya Siti setelah ponselku aktif kembali karena aku sudah sampai di Wisma tempat kami menginap dan mengecas ponselku itu.
"Baru pulang dari pasir"
"Itu ko bang Guntur tanyain kakak sama aku. Khawatir sekali dia sama kakak"
"Oh kirain apaan. Hp kakak lowbat"
"Oh gitu, pantesan saja nomor nya gak aktif"
"Ya sudah nanti aku kabari dia ya" Ujar ku lagi.
"Oke kak"
Tapi kedekatan aku dan Guntur tidak bertahan lama. Setelah beberapa hari kami dekat aku pun mencoba untuk menghindar. Yah karena aku tidak mau ada sangkut pautnya lagi dengan Dika. Secara Guntur itu adalah sepupunya Dika. Hingga pada akhirnya kami lost contact dan Dika kembali menghubungiku.
Kembali ke masa kini.
"Apa mereka nginap di sana?" Tanya ku kepada Dika.
"Iya cinta"
"Mereka nya sudah tiba?"
"Baru saja tiba"
"Oh gitu"
"Iya cinta"
Hati ini sangat sakit mendengar kekasih nya datang bersama ibu nya Dika di kantor. Tapi apa lah daya ku, Dika bukan lah hak ku, jadi aku hanya bisa pasrah saja dengan semua ini.
Beberapa kali aku menghela napas berat ku untuk membuang perasaan yang galau ini.
"Dek, malam ini temani kakak ke kantor Dika ya. Ibu nya datang ke sana" Ujar ku lagi.
"Oke kak" Jawab Siti.
***
Aku pergi ke kantor Dika dengan perasaan yang sulit untuk ku jelas kan. Tentu saja hati ini sakit ketika Fida pun turut serta hadir di sana.
"Assalamualaikum" Ujar ku saat tiba di kantor Dika. Ku lihat Guntur sedang duduk di kursi. Fida memakai baju tidur nya duduk di lantai beralaskan tikar bersama ibu nya Dika.
"Waalaikumsalam" Jawab mereka.
Jelas Guntur kaget dengan kehadiran ku di sana.
"Ramah?" Ucap nya.
Aku hanya bisa membalas nya dengan senyuman. Aku dan Siti mencium punggung tangan ibu Dika.
"Ini buk roti bakar" Ujar ku memberikan sebungkus roti bakar yang aku beli tadi sebelum datang ke kantor Dika.
"Dek ambil piring di belakang" Ucap ku. Siti pun langsung pergi ke belakang untuk mengambil piring sebagai tempat wadah roti bakar yang dibawa tadi.
"Kapan nyebrang nya?" Tanya ku basa basi.
"Tadi sore. Dika nya di samping lagi main ps" Ujar ibu Dika lagi. Yah di samping kantor nya itu memang terdapat rumah rumah ps.
"Guntur panggil Dika"
__ADS_1
"Gak perlu buk, biarkan saja dia main di sana" Ucap ku. Aku jadi sedikit lega mendengarnya bermain PS di sana daripada berada di kantor bersama kekasihnya nanti.
Lama ku menatap gadis yang ada bersama ibu nya tadi.
"Oh ini sepupu nya Dika" Ucap wanita paruh baya itu lagi.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar wanita paruh baya itu berkata seperti itu.
Ternyata Guntur memanggil Dika tampa sepengetahuan ku.
Dengan senyuman nya Dika masuk ke kantor sambil menepuk bahu ku. Sontak aku kaget dengan sikap nya itu.
"Bawa apa?"
"Roti bakar, sudah makan belum?" Tanya ku.
"Sudah kok, tadi kami sudah membeli makan dan makan di sini" Jelas nya dengan tersenyum.
"Oh gitu, ya sudah kami pulang dulu ya"
"Kok cepat banget sih" Ujar Dika.
"Gak apa-apa, mau jalan-jalan juga sama Siti. Ya kan dek?"
Siti mengangguk.
"Hati-hati ya" Ujar nya.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman kecut.
"Pulang dulu ya buk" Ucap ku mencium punggung tangan ibu nya Dika.
"Iya, hati-hati ya"
***
Aku dan Siti duduk di jembatan leton yang tak jauh dari kantor Dika untuk menghilangkan kesuntukan di hati.
"Kak, kenapa masih bertahan sih? Kakak memintaku untuk putus dari Rio karena tidak mau aku tersakiti. Tapi kenapa kakak masih bertahan dengan dia yang jelas-jelas perasaan kakak terus terluka dibuatnya"
"Pengen pergi sih dek. Tapi gak bisa, terlebih saat ini dia berada di tempat kita. Hanya aku teman nya di sini. Tidak tega rasa nya setelah ku bawa dia di sini dan ku tinggalkan" Ucap ku.
"Lagian ibu nya ngapain juga memperkenalkan kekasihnya itu dengan bilang bahwa dia itu sepupunya"
"Mungkin ibunya itu tidak tahu kalau aku ingin tahu hubungan Dika dan Fida" Jelas ku.
"Lelah rasa nya dek. Ingin rasa nya pergi, tapi hati ini tidak mampu. Apa lagi melihat kedekatan Fida dengan keluarganya"
"Kamu tahu gak sih dek, kemaren kakak pernah melihat foto yang di kirim Fida pada Dika. Dika telah memberikan sebuah boneka besar panda berwarna pink kepada Fida" Ujar ku sedih.
"Sedangkan dengan ku, sama sekali tidak pernah memberikan ku hadiah apa pun. Sedih dek, sebenar nya dia menganggap ku apa?" Karena itu aku sering bilang sama dia bahwa aku tidak ada hak nya atas dia" Ujar ku dengan sedih.
"Jika begitu pergi saja dari hidup nya kak. Biarkan saja dia sendirian di sini"
"Gak bisa, gak semudah itu" Ujar ku lagi.
"Entah lah, yang jelas aku tidak bisa melakukan hal itu" Tambah ku lagi.
Ting...
Pesan chat masuk di ponsel ku.
"Sudah tiba di rumah?" Pesan Dika.
"Belum masih di luar sama Siti"
"Kenapa gak langsung pulang saja sih?"
"Mau mencari angin sebentar"
"Pulang lah, bukan nya badan mu itu belum terlalu pulih" Ujar nya lagi.
"Sudah mendingan. Oh ya kenapa ibu mu bilang bahwa Fida itu sepupu mu?"
"Aku yang minta cinta. Jika ada yang bertanya bilang saja sepupu. Takut nya nanti orang-orang sekitar sini jadi salah anggap jika di bilang pacar"
"Oh gitu. Oke lah" Ujar ku lagi.
"Besok pagi mereka akan pulang cinta"
"Oh gitu. Ternyata ibu mu dan kekasih mu sangat dekat ya. Wajar lah jika kalian kelak berjodoh"
"Kok gitu ngomong nya?"
"Iya melihat kedekatan itu membuat aku minder"
"Jodoh tidak ada yang tahu cinta"
"Entah lah Dika. Yang jelas aku tidak bisa menuntut lebih dari kamu. Karena itu aku rela di duakan seperti ini. Aku bukan yang terbaik untuk mu"
"Apa maksud kamu cinta"
"Aku sudah tidak suci lagi. Aku pernah melakukan kesalahan yang besar dalam hidup ku. Karena itu lepaskan lah aku, lupakan aku. Kamu kembali lah bersama nya. Dia gadis yang baik. Sedangkan aku hanya bekas dan sisa laki-laki yang tak bertanggung jawab" Ujar ku.
__ADS_1
Aku yakin di sana Dika sangat kaget karena mendengar kenyataan kepada itu. Yah lebih baik aku jujur dari pada aku menyembunyikan hal ini dari Dika. Itu terserah dia mau terima aku lagi atau tidak.