
Karina sungguh terkejut mendengar ucapan Bima. Gadis itu menatap Bima dengan gugup.
"Ma–maafkan aku. Aku tidak bermaksud lancang. Tadi aku sedang berkeliling melihat-lihat rumahmu. Aku tidak tahu kalau aku tidak boleh masuk ke dalam ruangan ini. Maaf!" Tanpa menunggu jawaban dari Bima, Karina meninggalkan pria itu.
Entah bagaimana perasaannya saat ini, yang jelas, ia sungguh kesal sekaligus malu mendengar ucapan Bima.
Memangnya kenapa kalau aku masuk ke dalam ruangan itu? Bukankah, ruangan itu bukan ruang rahasia? Tempatnya saja terletak di bagian ruang terbuka, sama dengan ruangan lainnya. Tapi kenapa dia sangat marah?
Karina melangkah menuju dapur. Rasa lapar yang tadi tertunda, kini justru kembali terasa dua kali lipat. Mendengar kemarahan Bima membuat Karina ingin segera melahap makanan yang banyak.
"Malam Bi Santi." Karina menyapa Bi Santi yang sedang menyiapkan makan malam di atas meja.
"Malam juga, Non. Kelihatannya tidur Non Karina sangat nyenyak, sampai-sampai Non melupakan makan siang." Bi Santi menjawab sapaan Karina sambil tersenyum.
Karina tersenyum kuda.
"Bibi tadi sudah mau bangunin, tapi pintunya dikunci. Bibi nggak berani ketuk pintu takut mengganggu," jelas Bi Santi. Perempuan itu sebenarnya tidak enak karena tidak membangunkan tamu majikannya itu saat makan siang.
"Maafkan aku, Bi. Beberapa hari ini aku tidak bisa tidur secara teratur. Jadi, hari ini aku tertidur pulas sampai lupa makan," ujar Karina dengan senyum yang mengembang pada wajah cantiknya.
"Kalau begitu, makanlah terlebih dulu. Den Bima biasanya makan malam setengah jam lagi," ucap Bi Santi.
__ADS_1
"Setengah jam lagi?" Karina menatap Bi Santi yang mengangguk sebagai jawaban.
Padahal aku lihat dia sudah berada di ruangan itu. Tapi kenapa dia tidak langsung makan malam?
Karina menarik napas panjang. Tebersit keinginan untuk bertanya pada Bi Santi tentang Bima dan ruangan itu. Namun, gadis itu mengurungkan niatnya.
"Kenapa harus setengah jam lagi, Bi? Padahal aku lihat, Bima sudah ada di sana." Mulut Karina akhirnya gatal juga untuk menyebutkan keberadaan pria yang baru saja membuatnya kesal itu.
Mendengar ucapan Karina, Bi Santi tersenyum.
"Jadi, Non Karina sudah melihat Den Bima berada di ruangan itu?"
Mendengar ruangan itu, rasa kesal Karina yang sempat padam kembali naik.
"Memangnya ada apa di ruangan itu? Perasaan nggak ada yang aneh," gerutu Karina.
"Bi Santi, apa Bibi tahu, ada apa dengan ruangan itu? Kenapa dia sangat marah saat aku tidak sengaja masuk ke sana, apalagi saat aku melihat-lihat foto-foto yang terpajang di sana?" Karina akhirnya mengungkapkan kekesalannya.
"Apa wanita cantik dalam foto itu adalah istrinya yang sekarang berada di luar negeri?" Karina menatap Bi Santi seolah sedang menunggu jawaban dari pertanyaannya.
Bi Santi menghentikan kegiatannya saat mendengar pertanyaan dari Karina. Sejenak, hatinya ragu untuk menjawab. Bukannya apa-apa, dulu, saat dirinya baru pertama bekerja di rumah Bima, pria itu juga memarahinya saat dirinya berada terlalu lama dalam ruangan itu.
__ADS_1
Saat itu, Bima mengatakan padanya, kalau ia tidak boleh merubah apapun yang ada dalam ruangan itu. Ruangan itu ternyata adalah ruangan yang sangat disukai oleh istrinya.
Dulu, istrinya senang sekali bersantai dalam ruang keluarga itu sambil menunggui ibunya yang saat itu sedang sakit. Sang istri dengan telaten dan sabar merawat ibunya yang saat itu sedang sakit dan hanya bisa duduk di atas kursi roda dan berbaring saja di atas ranjang.
Ruangan itu adalah ruangan yang berisi semua kenangan tentang istrinya. Tidak ada yang boleh berlama-lama duduk di sana, apalagi, sampai duduk di atas sofa merah yang biasa ditiduri oleh Renata, sang istri yang pergi meninggalkan Bima akibat kesalahan yang laki-laki itu perbuat.
Bi Santi menghela nafas panjang, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Sebaiknya Non, tanya saja pada Den Bima langsung, daripada nanti bibi yang disalahkan karena telah mengatakan sesuatu yang bukan wewenang bibi." Bi Santi menatap Karina dengan raut wajah menyesal. Merasa tidak enak dengan perempuan cantik di depannya itu.
Dalam hatinya, Bi Santi berdoa, semoga gadis cantik itu bisa menaklukkan hati majikannya. Semenjak berpisah dengan istrinya, sang majikan selalu saja menyiksa diri karena terus mengharapkan mantan istrinya.
Laki-laki itu terbelenggu masa lalu yang sangat sulit untuk dilepaskan.
Sebenarnya, kedatangan Karina merupakan sebuah kejutan bagi Bi Santi. Bagaimana tidak mengejutkan, setelah bertahun-tahun semenjak bercerai dengan Renata, baru kali ini majikannya itu membawa perempuan ke rumahnya.
"Apa kau sudah puas menginterogasi Bi Santi?" Suara berat Bima mengagetkan kedua perempuan beda generasi itu.
"Kau pikir siapa dirimu sampai kau berani mencari tahu tentangku dan keluargaku?"
BERSAMBUNG ....
__ADS_1